Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Sebelum Hari Terakhir


__ADS_3

'Seignior Ning benar-benar membantu kami. Tadinya ada penjaga yang ingin menggeledah kamarnya. Tapi dengan sedikit campur tangan ala orang berkuasa, akhirnya kami berdua selamat,' batin Kazuki dan Shinjiro yang berada di atap penginapan tinggi yang ditinggali Seignior Ning.


Kazuki sudah menceritakan semuanya pada Shinjiro, dia bisa dipercaya. Tentang awal mula dia datang ke benua ini, kenapa dia dipenggal, pedang apa yang dia bawa, kenapa Seizen mengincarnya, apa maksud dari dua benua terpisah. Dan masih banyak lagi cerita hingga mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur.


Cahaya terang memancar secara horizontal pada garis cakrawala di timur. Terbit nya fajar redupnya bulan. Kazuki dan Shinjiro dihampiri oleh Seignior Ning yang datang membawa Roubou panas sambil tersenyum tanpa henti. Di pagi itu suasana damai tentram hingga kau dapat mendengar kicauan burung sikatan.


"Makanan favoritku, terima kasih Seignior Ning," ujar Kazuki ramah menerima Roubou nya dibalas anggukan Seignior.


Shinjiro mengambil gigitan pertama, uap panas mengepul dari mulutnya, "Hah...hah panas!" Kazuki tertawa terpingkal. Itu adalah kelucuan yang sama saat dia pertama kali memakan Roubou.


"Hm, enak...ini seperti Nikuman," ujar Shinjiro makan dengan lahap.


"Memang Nikuman, bodoh."


"Percaya tidak aku belum makan tiga hari?"


"Tidak."


"Shinjiro, ini ada lagi ambillah." Seignior Ning menyodorkan satu ikat daun berisi Roubou karena melihat pria muda itu makan dengan lahap dan dia bilang belum makan tiga hari. Shinjiro tersenyum memperlihatkan giginya yang penuh kacang dan kulit Roubou.


"Terima kasih, Anda baik sekali."


"Hahaha, baik... terima kasih kembali," balas Seignior Ning menatap langit kemerahan.


"Jadi bagaimana tentang pelayarannya, Seignior. Apa memang harus secepat itu?" tanya Kazuki.


"Ada apa, apa kamu belum siap, terlalu cepat, ya?" tanya Seignior Ning balik.


Kazuki baru saja sadar dari koma, tubuh nya bisa beraktifitas tapi tidak selincah dulu. Dia memerlukan waktu untuk istirahat. Dia juga perlu mengaktifkan kembali pedang Naga Abadi. Kulit aneh membungkus pedangnya, energi di dalam bisa keluar tapi energi di luar tidak bisa ke dalam jadi dirinya tidak bisa menghubungkan diri. Faktanya Kazuki masih bisa berkomunikasi dengan Agon, tapi Naga berumur tua itu enggan bersuara.


Kazuki juga ingin berbicara sesuatu dengan seseorang sebelum benar-benar pergi dari kekaisaran ini untuk waktu yang tidak pasti.


Melihat Kazuki yang diam Seignior Ning tersenyum dengan pemahamannya. Pria muda butuh waktu memutuskan suatu hal, sama seperti dirinya. "Kazuki, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan terlebih dahulu. Jangan pergi dalam keadaan menyesal karena tidak sempat melakukan apa-apa."


Kazuki memasukan perkataan itu dalam kepalanya. "Anda benar, Seignior Ning." Kazuki memandang jalanan di bawah.


"Aku perlu melakukan sesuatu lebih dulu," ujar Kazuki beranjak memasang syal merah yang dia panjangkan menutupi dada.


"Mau kemana kau, Kazuki?" tanya Shinjiro ikut-ikutan berdiri.


"Mau buang air, kau mau ikut?"

__ADS_1


"Uh, tidak."


Kazuki pergi dari sana berteleportasi.


'Itu kemampuan yang hebat, aku rasa dia tidak perlu meracun jika ingin membunuh Kaisar, teknik bertarungnya pasti tinggi. Maaf Kazuki, Aku belum bisa melepaskan mu dari daftar tersangka,' batin Seignior Ning merasa bersalah.


"Seignior Ning bisakah saya bertanya?" ujar Shinjiro.


"Silahkan."


"Apakah sebelum peperangan dengan Seizen Kekaisaran sudah pernah berperang dalam jangka waktu berdekatan?" Seignior Ning berpikir sejenak.


"Iya, dengan Kekaisaran Dong di timur."


"Oh..., kalau begitu di mana arah benua yang akan kami tuju?"


"Benua Knight, cukup susah untuk mengejanya. Berada di seberang barat, di sana memiliki teknologi canggih, kerajaannya jauh lebih makmur dari pada kekaisaran ini," ujarnya terkekeh di akhir.


"Hehe, begitu, ya. Semoga kekaisaran ini menjadi lebih baik kedepannya." Seignior Ning mengangguk sambil menepuk-nepuk punggung lebar Shinjiro.


"Kamu juga harus bersiap untuk pergi ke sana."


"Eh?"


Setelah membuang cairan tubuh Kazuki menyusup di istana kekaisaran lewat lereng bagian atas gunung. Prajurit bayangan berada di mana-mana, penjagaan lebih ketat dari sebelumnya, apalagi di kediaman Putri Yi padahal Kazuki hendak pergi ke sana.


'Langsung masuk ke kamarnya atau bagaimana ya?' batin Kazuki menimang-nimang. "Masuk saja, ah."


Sret


Kazuki sudah berada di dalam kamar Putri Yi. Dan kebetulan Putri Yi langsung berada di hadapannya memandangnya datar, Putri Yi tidak memakai cadarnya. Wajah ninja itu memerah, "Ma-ma-ma-maaf-"


Plak


"Aduh...tidak ibu tidak anak sama saja, suka menampar," gerutu Kazuki memunggungi Putri Yi sambil mengusap-usap pipinya. Bekas tamparan sangat amat jelas di sana.


Kazuki pun berbalik menghadap Putri Yi, dia sudah memakai cadarnya. "Maafkan aku tapi penjagaan di kediaman ini sangat ketat aku tidak bisa mendekati pintu," bisik Kazuki menyesal. Putri Yi berdesis pelan kemudian meminta Kazuki duduk di kursi dekat sana. Sebenarnya memasuki kamar Putri adalah hal yang sangat terlarang untuk pria asing sepertinya, di mana banyak peralatan pribadi Putri di dalam. Tapi Kazuki sudah terlanjur masuk dengan segala alasannya dan benar seperti yang dibicarakan, prajurit bayangan semakin ketat mengawasi gerak-gerik di kediaman.


"Saya tidak punya banyak waktu," ujar Putri Yi dingin. Itu adalah bahasa lain dari Cepat katakan apa tujuanmu kemari.


"Mh, jadi seperti rencanamu aku akan pergi dari kekaisaran Yan dan menyebarkan rumor pembunuh berdarah dingin untuk mencegah pergerakan asing masuk. Akan kulakukan, tapi aku tidak tahu akan pergi berkelana sampai kapan, dan tujuanku adalah benua Knight di seberang barat," ujar Kazuki mengusap lututnya gugup, kata-katanya pun hampir terbelit.

__ADS_1


"Jika kau berada dalam bahaya gunakan saja batu roh ini untuk memanggilku, sudah kuberikan Cakra ku, maksudku Ki ku. Kalau ada yang mendesak alirkan Ki mu ke dalam saja," ujar Kazuki memberikan batu kristal kecil berwarna putih yang di tengahnya hitam.


Diam beberapa saat sang Putri pun bersuara, "Iya, baiklah. Berhati-hatilah karena konon beberapa petualang pernah mencoba berlayar ke sana namun tidak pernah kembali," ujar sang Putri memandang vas bunga mawar di meja.


"Eh, tapi kata Seignior Ning, beliau satu-satunya yang pernah pergi ke sana," ujar Kazuki sambil kebingungan.


Tidak diketahui Kazuki di balik cadar Putri Yi mencoba menahan malu, dia menggigit bibirnya dan pipinya yang lembut itu kemerahan. Dia hanya berkata demikian karena mengkhawatirkan perjalanan Kazuki.


"Terima kasih sudah memperingatkan ku. Aku ingin bertanya satu hal lagi," imbuh Kazuki tersenyum. Putri Yi mengangkat pandangannya.


"Bagaimana cara mengelupas kulit yang menempel di pedang Naga Abadi?" Kazuki tidak membawa pedangnya, dia menaruhnya di kamar Seignior Ning.


"Kulit yang dibuat alkemis Kekaisaran. Saya hanya punya beberapa pengetahuan tentang hal itu, tapi mencari bahan untuk menghancurkannya kamu harus mencarinya di beberapa daerah khusus.


Perdagangan antar negeri sering melibatkan jual beli bahan ini namun belakangan ini karena peperangan, perdagangan antar negeri menjadi terhambat." Kazuki mengangguk puas.


"Aku bisa mencari bahannya sendiri, sebutkan saja namanya."


"Eum, tunggu sebentar saya akan mengambil catatannya di atas lemari," Putri Yi beranjak.


"Tunggu, biar aku saja yang ambilkan."


"Tidak, ada sesuatu yang saya sembunyikan jadi saya tidak mengizinkanmu," tolak Putri Yi menaiki kursi untuk meraih bagian atas lemarinya. Kazuki hanya menyaksikan sambil terkekeh tanpa suara melihat tingkah yang lain dari Putri Kaisar yang dingin.


"Ini...," Putri menyodorkan sebuah kertas lalu diam berdiri di kursi sejenak kemudian turun.


'Kenapa dia tidak menawariku bantuan seperti sebelumnya, padahal aku tidak ingin dia merasa gugup karena ku tolak, dasar pria.' batin Putri Yi.


'Apa dia menungguku membantunya turun, tapi dulu dia menolak karena etika kekaisaran, dasar wanita,' batin Kazuki tidak enak.


Mereka berdua tidak lagi bersuara satu sama lain. Suasana menjadi sunyi, Kazuki mengusap tengkuknya tanpa sadar.


"Apa kamu tidak memiliki pakaian yang tersisa?" tanya Putri Yi menyadari Kazuki yang tidak menutupi badannya dengan baik. Bagian pusar keatas sedikit terlihat.


"Eeh, tidak.. aku lebih suka begini," ujar Kazuki sedikit malu.


"Oh, benarkah," ucap Putri Yi dingin. Menyadari perubahan ucapan Putri Yi Kazuki berkata, "Tapi sepertinya cuaca akan sangat dingin. Jadi sebelum pergi mungkin aku akan membeli beberapa pakaian."


"Hm, bagus kalau begitu."


Kazuki pun pamit pulang, katanya titip salam untuk seluruh rakyat kekaisaran membuat Putri Yi terkekeh.

__ADS_1


Hari ini akan Kazuki dan Shinjiro habiskan untuk menikmati waktu terakhir mereka di ibukota kekaisaran sebelum mereka berlayar menuju benua Knight di belahan bumi lain besok.


__ADS_2