
Pagi hari di depan balai kesehatan Kazuki meregangkan otot-ototnya setelah beristirahat sehari penuh. Wajahnya terpancar semangat membara. Tekadnya untuk kembali ke dunia asalnya sudah bulat. Langkah-langkah kedepannya juga sudah diketahui. Tinggal bagaimana dia membuat semua itu kenyataan, satu persatu.
"Dimulai dari sini."
Mata pria muda itu mengamati dengan detail corak-corak bangunan dengan interior unik di depannya. Bertuliskan dengan bahasa asing, tapi tidak salah lagi tempat inilah yang dimaksud oleh Perdana Menteri Longwei kemarin. Sambil memegang erat token identitas di tangannya Kazuki melangkah masuk menemui seseorang berjubah putih yang disebutkan oleh tuan Longwei sebagai seorang pengurus akademi kultivasi dan spiritualis di sana. Dia membungkuk perlahan kemudian mengatakan maksud kedatangan nya. Seperti ajaran Perdana Menteri Longwei.
"Yang ini datang kemari dengan maksud ingin berguru di akademi ini, Tuan Jing." Jing adalah nama kehormatan pria berkarisma di depannya.
"Oh, siapa nama Yang ini?" tanyanya ramah. Dia memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya mencatat sesuatu.
"Yang ini bernama Han ... Ishi."
"Tidak ada nama kehormatan, hm..baiklah Yang Han bisa mengikuti pelayan ini menuju ke dalam." Kazuki mendongak.
"Saya sudah boleh ikut pengajaran?" tanyanya melupakan sesuatu. Pria tampan itu mengangguk, aura kebijaksanaan sangat terpancar darinya. Matanya tajamnya mengekor pergerakan Kazuki yang menjauh. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Kazuki pun memasuki lorong-lorong dan melewati banyak kelas. Pria muda itu terkesima dan takjub akan luas dan besarnya akademi itu. Hanya di pintu masuk saja terlihat sederhana. Di dalam ternyata interiornya lebih mewah dan berkelas.
"Tuan muda Ishi silahkan masuk ke kelas ini."
Tertulis di atas pintu. Kelas Bermasalah.
Namun Kazuki tidak menghiraukannya, dia membuka pintu dan...
Bugh
"Oh astaga!" pekik si pelayan.
Sepiring tepung mendarat di wajah pria muda itu, seisi kelas yang melihatnya tertawa terbahak-bahak tak menyadari jika mereka salah sasaran.
__ADS_1
Seorang pemuda berbadan gempal lebih pendek dari Kazuki menghampiri pemuda itu dengan tersenyum remeh.
"Wajah anda terlihat lebih sempurna dengan itu, pak guru! HAHAHA!"
"HAAAA!" teriak Kazuki sangat kencang membuat semua orang menutup telinga mereka. Matanya memerah menahan amarah kemudian dia mengambil piring yang masih ada sisa tepungnya lalu dengan kuat menampar-melemparkannya ke wajah pemuda gendut itu. Tidak ada yang berani bersuara dan berkutik melihat amarah pria itu. Kazuki baru menyudahi aksinya ketika seseorang mengetuk pintu. Seorang pria yang terlihat lusuh mengenakan semacam kacamata namun tidak terlalu bening. Pria itu adalah wali kelas di sini. Kazuki dan wali kelasnya saling pandang. Wali kelasnya menunduk takut membuat Kazuki heran.
"Anda guru di sini?" tanya Kazuki memperhatikan penampilan pria itu. Pria itu mengangguk pelan.
'Pantas saja mereka membully guru ini. Penampilannya saja kurang mengintimidasi mereka,' batin Kazuki melirik perbedaan penampilan murid dan guru yang mencolok.
"Sensei silahkan masuk dan kalian semua, duduk di tempat masing-masing!" Perintah Kazuki kepada seluruh murid. Karena tidak ada yang berani mereka semua hanya menurut. Aura Kazuki terasa tidak biasa bagi mereka.
Sang guru pun terkagum dengan keberanian pemuda itu. Dia melangkah menuju mejanya dan membuka pelajaran yang tenang pagi itu. Kazuki duduk di sebelah seorang gadis berambut pendek yang terlihat pendiam dengan wajah dingin.
"Ada yang ingin bertanya?" tanya pak Guru dengan kalimat yang setiap hari ia lontarkan setelah pelajaran usai. Dan pada hari biasanya tidak ada yang bertanya. Berbeda dengan hari ini, Kazuki mengangkat tangannya kemudian bertanya.
"Sensei, bagaimana cara mengetahui tingkat kultivasi kita?" tanyanya, semua murid menoleh padanya.
"Perkenalkan nama saya Han Ishi, sensei bisa memanggil saya Ishi saja," ujarnya. Walaupun kebingungan dipanggil sensei, guru yang bernama Tian itu mengangguk.
"Baiklah, tuan Ishi."
"Jangan panggil saya tuan!" ujar Kazuki tak terima.
"Tapi...," pak Tian melirik murid-murid lainnya yang memasang wajah tak suka kepadanya.
"Jangan hiraukan mereka, hiraukan lah murid baru setiamu," ujar Kazuki dengan senyum bersahabat.
"Baiklah, Ishi ... cara mengetahui kultivasi kita adalah dengan menggunakan bola peramal. Bola itu dapat memberitahukan mu seberapa tinggi tingkat kultivasimu. Memangnya Ishi belum memeriksa tingkat kultivasi mu?" tanya pak Tian balik.
__ADS_1
"Belum sensei, saya belum memiliki kultivasi sama sekali." Semua orang pun kaget mendengar kejujuran itu. Para murid pembully yang berasal dari keluarga bangsawan pun tertawa sinis. Rupa-rupanya pahlawan kesiangan sang guru hanya murid baru pecundang batin mereka.
"Hei, kau lemah tidak punya kultivasi beraninya menamparku tadi. Memangnya kamu berani padaku, tingkat kultivasiku bumi tingkat 4. Aku bisa saja menghajar mu sekarang hingga kau sampai babak belur." Pemuda pimpinan geng pembully berjalan dengan angkuh mendekati meja Kazuki. Kepalanya menengadah dengan senyuman percaya diri yang mengerikan.
"Katakan sesuatu dasar pecundang!"
Brak
"Huh...," helaan nafas dan gebrakan meja gadis di samping Kazuki mengalihkan perhatian semua orang. Mereka semua menatap horor si ketua pembully seakan melihat sasaran empuk kambing hitam.
"Qi-qixuan ... dia memang keterlaluan karena-...hiii!" Mata dingin itu mengintimidasi keras si pemuda gempal ketua pembully. Si gempal jatuh terduduk, tulang-belulangnya terasa lemas seperti tak lagi kokoh melihat mata bercahaya dari gadis dingin itu. Kazuki yang melihat semuanya keheranan, dia merasa penasaran siapa gadis itu. Si gempal pun berlari keluar kelas, pak Tian juga sudah undur diri sedari tadi saat semuanya sibuk berdialog.
Suasana kelas pun hening setelah si gempal kabur. Kazuki beberapa curi-curi pandang kearah gadis itu yang sangat jelas dia ketahui namanya Qixuan.
Gadi itu balik melirik Kazuki yang terlihat kelabakan aksi curi pandangnya ketahuan, "Berhenti melirik dan katakan apa maumu!" suara itu terdengar dingin dan tidak bersahabat. Kazuki menggaruk kepalanya bingung. Apa yang hendak ia tanyakan.
"Bisakah kita berkenalan, siapa namamu? Namaku-"
"Aku tidak tanya. Namaku Lie Qixuan, kamu adalah bocah yang mempermalukan Jenderal Zuan, aku tahu itu." Kazuki menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum getir.
"Bocah yang tidak punya tata krama," lanjutnya dingin kemudian berdiri pergi dari kelas.
"Dia mengataiku?" Kazuki jadi mengingat kejadian tempo hari di mana dia datang terlambat dan mengacaukan acara pembukaan sayembara bunga istana. Tidak ada rasa bersalah sama sekali.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Yang kini mari kita hadapi, cih, hahaha!" ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak karena diksinya yang sempurna.
Kazuki keluar kelas lalu mencari seorang pelayan dan menanyakan kepadanya tentang bola peramal seperti petunjuk Tian sensei.
"Bola tersebut berada di dalam ruang penelitian. Tetapi berhati-hatilah Tuan muda karena di dalamnya terdapat guru Lee."
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan guru Lee?"