Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Tiba di Akademi


__ADS_3

Matahari sudah terbit dari ufuk timur. Kazuki dan Shinjiro bangun dari tidur mereka di geladak depan kapal. Ninja berambut coklat membangunkan satu sosok lagi yang tidur di sampingnya.


"Dou Zhi, bangunlah ... sudah pagi." Shinjiro menggoyangkan punggung pemuda itu dan tak butuh waktu lama Dou Zhi terbangun. Meregangkan tubuhnya hingga pergelangan tangannya mengenai muka Shinjiro.


"Tidak bisakah lebih lembut," gumam Shinjiro jengkel sambil mengusap pipinya.


Kazuki yang bangun sudah berdiri memperhatikan depan kapal berteriak pada dua pemuda itu, "Kalian berdua, lihat!"


Daratan atau lebih tepatnya sebuah pelabuhan besar memiliki dinding beton pembatas berjarak 20 meter dari tepi pantai terlihat. Beberapa dermaga yang tak jauh jaraknya dipenuhi banyak kapal-kapal model asing yang menurunkan angkutan mereka atau akan berangkat. Kapal Bianfu segera parkir di salah satu dermaga yang masih kosong.


TRREEENGGG


Jangkar sudah diturunkan, Kapten Ang Bei menurunkan tangga samping kapal untuk turun, namun Kazuki dan Shinjiro sudah meloncat ke bawah dengan semangat. Kru Bianfu turun ke dermaga membawa banyak kotak-kotak besar berisi barang berharga.


Banyak di pelabuhan ini orang-orang berperawakan seperti kru Kucken yang mengawal perjalanan mereka tadi, memakai pakaian asing namun cantik. Bau pantai di sini juga khas, angin berhembus ke selatan, tidak terlalu amis karena tidak ada penangkapan ikan. Sebab mereka di bagian utara pelabuhan yang menjadi ruang khusus untuk berlabuhnya kapal-kapal besar, baru di bagian selatan khusus untuk nelayan ikan dan nelayan garam.


"Indah sekali tempat ini, sekarang kita harus ke mana?" tanya Kazuki pada Kapten Ang Bei yang terkekeh melihat semangat pemuda itu.


"Sekarang kita cari kereta untuk kalian menuju kota. Pendaftaran Akademi baru saja di buka kata Kapten Jack, nahkoda kapal Titan."


Kapten Ang Bei pun mengarahkan mereka pada suatu tempat yang dipenuhi kereta kuda baris berderet. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pelabuhan, Kapten memanggil salah satu Kusir yang sedang duduk dengan temannya lalu menerangkan suatu tujuan pergi tiga pemuda di belakangnya. Setelah menerima lima keping perak dari sang Kapten si Kusir pun menyuruh tiga pemuda naik ke dalam kereta.


Kazuki dan Shinjiro diam di depan pintu kereta terlihat kebingungan, karena tidak ada pegangan untuk membuka pintu, tapi tiba-tiba pintu kereta terbuka sendiri.


"Woah, ajaib."


Kapten dan si Kusir langsung tertawa terbahak melihat reaksi itu. Batin mereka Kazuki belum pernah berpetualang terlalu jauh, sehingga hal simpel seperti ini saja takjub. Ada mekanisme di pintu yang terhubung dengan tombol di tempat kemudi, menggunakan sistem hidrolik tekanan udara membuat pintu terbuka.


Ketiga pemuda sudah duduk dengan Kazuki dan Shinjiro di kursi belakang yang memiliki pegangan dari besi, sama seperti kursi di depan yang diduduki Dou Zhi seorang.

__ADS_1


"Pegangan yang erat," ujar si supir memperingati.


"Sampai jumpa, bocah, Dou Zhi, hati-hati di sana belajarlah yang rajin," ujar Kapten Ang Bei sambil tersenyum, tangannya melambai mengiringi perpisahan antara ayah dan anak.


"Sampai jumpa Kapten Ang," balas Kazuki dan Shinjiro, sementara Dou Zhi sudah berpegang erat di besi karena perintah si Kusir.


"Kereta kuda terbanglah!" sentak si Kusir melafalkan mantra.


Belum sempat tiga pemuda bereaksi kaget kereta kuda langsung melaju terbang di udara dengan kecepatan tinggi, hampir menerbangkan syal Kazuki lewat jendela belakang tanpa kaca. Wajah Kazuki dan Shinjiro sudah awut-awutan karena angin berhembus kencang. Sementara si pemuda malang Dou Zhi malahan mendapat tekanan angin dari segala arah hampir saja memuncratkan ikan bakar sambal merah semalam keluar dari perutnya. Mereka tidak akan bisa menikmati pemandangan indah kota Nadel dari sana jika begini, mata mereka harus tertutup agar tidak kering tertiup angin.


Kereta kuda terbang tidak terlalu tinggi di atas kota Nadel yang sudah ramai aktivitas penduduk. Mereka menuju arah barat daya tempat akademi yang Kapten Ang Bei maksud.


Beberapa saat kemudian kereta kuda berkurang kecepatannya, akhirnya ketiga pemuda itu bisa bernapas lega. Mereka memandang ke luar jendela, taman, langit biru dan bangunan-bangunan tinggi nan indah dengan arsitektur yang belum pernah mereka lihat sebelumnya berjejer teratur. Beberapa orang terbang di sana melayang dengan sapu di mana-mana seakan bukan hal yang sulit di sini, sebagian yang lain bermain kembang api raksasa hampir mengenai kereta si Kusir. Kondisi makmur yang berbeda dari yang ada di kekaisaran Yan.


Tak begitu lama terbang di langit kereta kuda ajaib turun menapak tanah hijau rerumputan pendek membentang. Kazuki, Shinjiro dan Dou Zhi pun menuruni kereta dengan perut mereka yang terasa mual hampir memuntahkan muatan. Kusir kereta meminta maaf atas pengalaman pertama perjalanan mereka naik kereta yang kacau, "Maaf, tapi begitulah kebiasaan sehari-hari paman. Sebagai gantinya ini. Paman berikan kalian permen."


Mereka bertiga menerima benda bulat kecil yang terbungkus sesuatu mengkilap tiap orang satu. Setelah dibuka dan mencium bau manis, mereka langsung memakannya.


"Permen, kamu bisa membelinya di toko mana pun. Sudah ya, paman akan bekerja lagi ... sampai jumpa!" Kereta kuda pergi meninggalkan area lapang akademi tersebut.


Tiga pemuda itu pun kebingungan, "Serius kita hanya akan dibiarkan di sini?" tanya Dou Zhi tak enak.


"Hm..," Kazuki memakai Hankyu-nya melihat sekeliling mencari daerah yang sekiranya paling banyak orang berkumpul, tak berselang lama akhirnya dia menemukan tempat tersebut.


"Aku akan membeli toko permen suatu hari nanti," celetuk Shinjiro.


"Ikut aku," ujar Kazuki jalan memimpin.


Jalanan yang mereka injak dan lalui ini terbuat dari batu-batu yang disusun rata membentang panjang entah sampai mana ujungnya. Namun lagi-lagi mereka dibuat takjub oleh keindahan tempat ini.

__ADS_1


Mereka memasuki sebuah gerbang putih yang terhubung dengan pagar mengelilingi bangunan tinggi penuh bunga di semak belukar. Tak sengaja lengan Kazuki menabrak sesuatu ketika fokus mengamati eksterior bangunan mewah itu.


"Ma-maaf.., eh..eh..eh~" Kazuki memandangi sekitar yang kosong tak ada seorang pun.


"Kau bicara dengan siapa, saudara Kazuki?" tanya Dou Zhi menoleh ke segala arah mencari sumber reaksi Kazuki.


"Ba-barusan ada yang menyenggol lenganku, tapi..." Dia menggaruk tengkuknya ragu.


Shinjiro mendesah jengkel, "Ah, kau pasti masih lapar dan mulai mengigau, sudah kita datangi tempat yang kau maksud."


'Benarkah aku mengigau? Tapi yang kusenggol terasa lembut, mungkin Shinjiro benar,' batin Kazuki mengedikkan bahunya. Mereka pun pergi melanjutkan langkah.


Tak disangka setelah kepergian ketiga pemuda, sesuatu tidak terlihat yang dimaksud oleh Kazuki benar adanya dan menampakkan dirinya. Ternyata seorang gadis berambut perak panjang dengan sorot mata tajam menelisik ketiga pemuda, ciri fisik yang asing pikirnya.


Gadis yang memakai seragam khas Akademi ini bertuliskan di lengan kanan Magescher Academy, dan ban lengan kiri bertuliskan STAF berlalu acuh.


Kazuki dan kawan-kawan sudah sampai di lapangan luas yang dimaksud. Berupa hamparan rumput pendek yang luas, alias lapangan berbukit. Di sana sudah terdapat puluhan calon murid baru akademi yang berbaris rapi memakai pakaian bebas seperti mereka, dan sepertinya ketiga pemuda itu datang terlambat karena seorang pria yang terlihat berwibawa sudah berpidato kata sambutan di podium yang sedikit lebih tinggi dari tanah. Berjejer pula 8 guru masing-masing 4 sisi kiri dan kanan orator, mereka berdiri tegap dengan pakaian yang berbeda satu sama lain.


"Se-selamat siang," Kazuki menyikut perut Shinjiro setelah pemuda itu berujar, karena temannya ini bersuara semua orang di lapangan menjadi memperhatikan mereka.


"Siapa itu, murid baru?" Murid 1.


"Murid baru yang terlambat, mereka akan merusak nama baik akademi." Murid dua.


"Ada apa dengan mencari perhatian seperti itu?" Murid tiga.


"Wajah mereka terlihat asing, ya." Murid 4.


Kazuki merutuki Shinjiro dalam batin, 'Awas saja kau bayar makan siangmu sendiri nanti, gendut!'

__ADS_1


"Kalian rupanya, baru datang?" Ketiganya menoleh pada sumber suara.


__ADS_2