Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Membulatkan Tekad


__ADS_3

Di dalam alam bawah sadar Kazuki


"Sialan, keluar kau dari tubuhku!" teriak Kazuki penuh amarah menatap sosok bayangan hitam yang mengelilinginya.


Bayangan bermata merah itu terus-menerus tertawa licik. Kazuki melayang di alam bawah sadarnya mencoba memukul bayangan hitam itu.


Sebuah kegelapan menyeruak, tak terdapat sedikit pun cahaya kecuali yang bersumber dari mata Kazuki sendiri. Pemuda itu terus mencoba mendaratkan pukulannya pada sosok itu namun tidak kena-kena.


"Tuan Naga Abadi! Jingyi! Qixuan!" teriak Kazuki memanggil teman-teman kepercayaannya. Namun, tidak ada yang menyahut. Gelap gulita menekan napas Kazuki. Seakan terasa sesak dadanya, Kazuki terengah-engah mencoba menetralkan napas. Sosok bayangan itu menjelmakan tubuhnya di hadapan Kazuki yang membungkuk sambil terbatuk.


"Heh ... rupanya kau tidak sekuat yang Aku kira, Adikku," ujar sosok yang tak lain adalah Seizen dengan senyum iblis, terwujud dari spiritual hitam yang ditelan Kazuki. Gigi pemuda itu bergemelatuk merasa geram mendalam. Tak habis-habisnya mahluk yang tidak ia akui sebagai kakaknya itu membuat masalah.


"Cepat keluar dari tubuhku," perintah Kazuki dengan nada rendah.


Sosok jelmaan Seizen menggunakan pedang spiritual hitamnya menusuk punggung Kazuki bertubi-tubi hingga bersimbah darah, ninja muda itu terbaring mengenaskan. Seizen tidak berhenti di situ, dia mengendalikan tubuh Kazuki agar melayang dan mencengkram rahangnya.


"Betapa malangnya nasib adikku ini, dikhianati oleh orang yang dia percayai, dipermainkan takdirnya berulang kali. Hingga bersusah payah menyelamatkan bumi yang rusak sekarang ini. Kenapa kau begitu peduli pada orang asing. Biarkan saja mereka, karena tidak ada salahnya menggunakan mereka sebagai tumbal penyeimbang bumi. Apa yang harus kukatakan untuk menghentikanmu dengan pedang Nagamu itu?" ujar Seizen sambil menekan rahang adiknya.


"Akkhhn!"


Darah keluar bercucuran dari mulut Kazuki, wajahnya sangat pucat dan seperti kehilangan jiwanya. Seizen cukup kesal dirinya tidak direspon membanting perwujudan jiwa Kazuki ke tanah berulang kali. Jiwa Kazuki meronta-ronta kesakitan, tetap tidak menyerah berusaha meraih Seizen untuk menghajarnya.


"Kenapa kau sama saja seperti mereka?" tanya Seizen terengah.


Brak


"Kenapa semua orang yang kucintai tidak ada yang mempercayaiku?"


Brak brak


"Kenapa harus keluargaku sendiri yang aku hapuskan!" Seizen mencekik leher Kazuki tinggi-tinggi dengan kuat. Matanya nyalang menatap tajam Kazuki penuh kebencian.


"Apa aku juga perlu memakan jiwamu, seperti jiwa ayah dan ibu!" bentaknya.


BUGH

__ADS_1


"Kou..ukhuk, kou ... su-sudah gila!" Kazuki menendang perut Seizen dengan tenaga tersisa, membuat jiwanya terjatuh.


Brak


Seizen menyerang Kazuki lagi, membanting kuat tubuh Kazuki hingga menciptakan lubang besar di alam bawah sadar itu.


"Ck, beraninya kau menendangku, dasar anak tidak berguna!" cecar Seizen.


Di dasar lubang besar, Kazuki melihat langit-langit, setitik cahaya putih terlihat di netranya, "Memangnya kenapa kalau aku tidak berguna? ... aku tidak merugikan mu sedari awal. Ini semua terjadi karena dirimu sendiri! Dasar lelaki tua baru puber!" teriak Kazuki sekuat tenaga dengan menahan kepedihan luar biasa.


'Dia ... benarkah dia memakan jiwa ayah dan ibu...?'


"Dasar penghambat!"


Bragggk


Seizen menimpakan kakinya jatuh dari atas lubang ke wajah Kazuki. Tengkorak Kazuki retak menerima serangan itu.


"Hanya tinggal selangkah lagi hingga aku berhasil menciptakan dunia ideal semua orang dan mengehentikan hukum bodoh para penjahat roh nenek moyang."


"Orang yang hanya bisa merengek kepada gurunya tidak usah mengajariku!"


Srek


BUGGHH


"BERANINYA KOU MEMBAWA-BAWA GURUKU!!" Tinju dengan seluruh sisa kekuatan jiwanya berhasil menghilangkan sosok Seizen dari alam bawah sadarnya.


Alam bawah sadar Kazuki pun pulih menjadi semula berikut jiwanya yang membaik perlahan-lahan. Sebegitu besarnya efek perwujudan roh Seizen.


Di dunia nyata Kazuki membuka matanya pelan, mengedarkan pandangan. Kamar yang rapi dan nyaman. Matanya menangkap sosok yang tertidur di sampingnya dan memegang telapak tangannya, Qixuan. Sudah sejak sore tadi Qixuan menemani Kazuki hingga kini bulan sudah menerangi gelapnya malam.


"Apa aku benar-benar bisa mengalahkan Seizen?' batinnya bimbang memegang erat tangan Qixuan dengan sedikit gemetar. Gadis berambut pendek itu tertidur sangat lelap hingga tak terganggu sama sekali. Kazuki menatap telapak tangan kanannya yang bercahaya putih, kemudian tangan kiri yang memegangi Qixuan berwarna hitam gelap.


"Ini adalah efek pil yang diberikan oleh pengkhianat itu? Apa aku telah melakukan sesuatu saat tidak sadar," gumamnya lirih, karena sadar dirinya sudah tidak lagi berada dalam penjara yang gelap.

__ADS_1


"Tubuhku sudah diobati. Siapa yang membebaskan ku?" lirih Kazuki.


'Aku harus segera menyelamatkan kunci terakhir. Aku tidak bisa hanya diam di sini. Tapi....'


..."Kunci dinding spiritual yang terakhir masih dalam keadaan aman, Kazuki. Lebih baik kamu tetaplah beristirahat sebentar," saran sang Naga bersuara setelah dalam keadaan tidak sadar pula....


Di balik pintu Zhou Yu masuk mengejutkan Kazuki. Pemuda itu terlihat panik dan melirik Qixuan yang masih tidur sambil memelototinya.


Zhou Yu tersenyum tipis mengetahui kepanikan muridnya itu. "Aku sudah mengetahui semuanya dari sang Pedang Naga Abadi. Suatu kemuliaan dapat berbincang dengannya," ujar Zhou Yu.


"Jadi... Anda tidak lagi mencurigai ku, kan?" tanya Kazuki. Pemuda itu bersandar pada dipan menyeka keringat dinginnya.


"Tentu saja, karena guru ini sudah hidup ratusan ribu tahun, mana mungkin tidak mengerti."


"Apa...?"


"Guru ini sepantaran seperti kakakmu. Kami generasi yang mengikuti masa setelah kehancuran dinding spiritual yang pertama kali. Dan kini ingatanku telah pulih," ujar Zhou Yu.


"Ja-jadi usia guru sudah.... Kalau begitu Hao Jin?"


"Benar juga kita begitu mirip. Hao Jin masihlah kultivator pemula dengan usia yang sebenarnya, sama sepertimu. Tapi, sepertinya sekarang tidak lagi karena kamu sudah tingkat De Quan."


..."Kazuki, bagaimana keadaanmu?" tanya sang Naga Abadi dari dalam tubuhnya....


"Baik, hanya saja saya merasa beban saya bertambah lagi, padahal beban yang sebelumnya saja belum tentu bisa saya topang," ujarnya ragu sambil menunduk memandang tangan kirinya.


..."Jangan putus asa Kazuki, aku sudah menundukkan spritual hitam itu untukmu. Jadi kau bisa menggunakan dua kombinasi spritual nantinya," ujar sang Naga meyakinkan....


"Bagaimana bisa? Tapi, walaupun begitu aku ini dari awal hanyalah Wanquan tingkat rendah. Mendapatkan kekuatan besar secara tiba-tiba membuatku tidak bisa mengendalikannya. Dan sekarang ditambah ini, jika semua kacau maka akan jadi salahku," lirihnya pesimis.


..."Jika kau ingin mengelak maka seharusnya kamu tidak perlu mencari kekuatan dari awal. Maka seharusnya kamu tidak berpetualang hingga bisa menundukkan pedang Naga Abadi dan juga diriku. Ini semua terjadi bukan tanpa alasan Kazuki. Takdir telah memilihmu. Siapapun tidak akan mampu selain dirimu. Bertahannya tubuhmu setelah letupan spritual berulang kali adalah buktinya. Kamu layak, dan kamu harus bertanggung jawab karena semua yang kamu gariskan di masa lalu, harus kamu lanjutkan di masa depan. Masa depan kekaisaran ini bergantung padamu, Kazuki. Tidak hanya ayahmu, ibumu, Qixuan, Jingyi, Hao Jin saja teman-teman yang mendukungmu Kazuki. Para roh orang-orang terdahulu yang memperjuangkan hal yang sama juga bergantung padamu, mereka mendukungmu. Kau tidak diijinkan untuk menyerah hanya karena tekanan iblis baru puber itu, teman!" Kata-kata Naga Abadi begitu merasuk pada hati Kazuki....


Sang Naga benar, dirinya harus bisa mengemban tanggung jawab perbuatannya sendiri. Semua orang mendukungnya dari belakang. Masa depan tidaklah gelap seperti yang ia bayangkan. Seizen tidak bisa ia biarkan tertawa begitu saja setelah semua kehancuran yang dia perbuat. Kazuki membulatkan tekad terakhirnya, kedamaian harus dicapai dengan cara apapun. Musuh harus dikalahkan, dengan cara apapun.


"Demi menyelamatkan semua orang." Bara semangat di matanya merambat pada Qixuan, Zhou Yu, dan Hao Jin, sang Naga yang tersenyum bangga.

__ADS_1


..."Ini baru semangat."...


__ADS_2