
Putri Fangyin memejamkan mata dan menggigit bibir merahnya dalam. Pikiran negatif akan terjadinya pertarungan berdarah terus melintas di benaknya. Pria di depannya ini seharusnya sudah cukup kuat untuk mengalahkan iblis bertanduk hitam itu dengan pedang Naga Abadi yang memberikan kekuatan melebihi tingkat De Quan, lantas mengapa sekarang terlihat kekuatan yang berimbang.
Itu semua dikarenakan Kazuki belum mampu menguasai kekuatan besar pedang Naga Abadi secara penuh. Dan Seizen juga tidak selemah yang kita pikir.
"Apa?" gumam Seizen terkejut namun dia sembunyikan ekspresinya mengetahui spiritual hitam miliknya yang tunduk pada diri Kazuki. Jelas-jelas waktu menelan pil darah sudah menghancurkan pondasi Ki Kazuki mengapa dia malah berbalik menguasai spiritual hitamnya.
Kazuki melakukan kuda-kuda ala ninja bersiap menyerang, "Aku lihat kau terkejut Seizen. Puluhan ribu tahun memang tidak akan pernah cukup untuk mengalahkan takdir." Kazuki melesat menendang Seizen, namun mengenai perisai iblis itu. Retak dan seterusnya hancur, tendangannya menembus perisai Seizen, disusul tinju dari tangan kirinya yang dibantu tekanan kekuatan putih. Seizen terpental jauh membelah awan malam yang gelap.
Kazuki menengok kebelakang melihat keadaan keluarga Kekaisaran kemudian menurunkan Putri Fangyin dengan kekuatan tangan transparannya dari tebing ke kereta kuda. Pemuda itu menghampiri Empress Xiang seraya bertanya, "Di mana para pangeran atau prajurit yang lebih kuat Empress Xiang?" Terlihat Kazuki bergegas dalam berbicara sebelum kembali Seizen datang. "Dalam perjalanan kembali, karena Seizen mengutus banyak monster tingkat tinggi Kekaisaran harus memecah kekuatan inti ke berbagai provinsi," terang Empress Xiang memberikan informasi sesuai janjinya pada Kazuki. Wanita berumur itu memandang dengan tatapan kekhawatiran.
"Baiklah, Empress lanjutkan saja perjalanan Anda, tempat ini semakin tidak aman, tapi saya mohon izinkan saya menyembunyikan Putri Yi," pinta Kazuki amat memohon, sorot mata menunjukkan keseriusan ucapannya.
"Kenapa? Iblis itu bukannya mengincarmu?" tanya Empress seakan enggan berpisah dari keluarganya, tidak lagi. Setelah kematian sang suami.
"Hah..., karena kunci dinding spiritualnya masih ada dalam tubuh Putri Yi." Empress berpikir sejenak kemudian menatap Kazuki tajam, "Kamu sudah berjanji akan menyembuhkan Putri ku, apa yang kamu maksud dengan tugasmu belum selesai!?" Empress meninggikan suaranya, para prajurit beraksi dengan menodongkan senjata mereka pada Kazuki. Dia mengangkat tangan lelah, "Spiritual hitam yang menyerang Putri Yi sudah saya ambil jika itu yang Anda maksud. Masalahnya Putri akan berada dalam bahaya jika tidak bersama saya. Hanya saya yang mampu melindungi Putri dan kuncinya dari kekuatan Seizen, Empress Xiang," ujar Kazuki sepelan mungkin agar sang Empress mengerti. Saat junjungan Kekaisaran itu hendak bersuara Putri Yi memotong ibunya, "Ibu biarkan Putri ini ikut bersamanya, Putri ini percaya apa yang dikatakan Yang terpilih benar, jika tidak mengikutinya takutnya Ibu dan kakak ketiga akan berada dalam bahaya." Putri Yiran menahan lengan Empress Xiang.
"Tapi Yin'er-" Putri Yi kembali bersuara dengan pandangan kuat, "Sebagai keluarga Kekaisaran Yan kita selalu mengemban tugas mensejahterakan dan melindungi rakyat Yan Yang Mulia Empress, sekarang adalah saatnya Putri rendahan ini dan Yang Mulia menjalankan tugas masing-masing. Putri harap Yang Mulia Mengerti." Bukan mengapa Putri Yi mengubah bahasanya menjadi formal, sebab sang ibu mulai tidak objektif karena kekhawatirannya. Dan sudah tugas bagi seorang Putri untuk mengingatkan kelalaian itu.
Bagaimana pun Ibu tetaplah seorang Ibu, seorang yang tidak akan pernah tega meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan berbahaya. Empress Xiang menahan ekspresinya dan terdiam beberapa saat kemudian berbalik memasuki kereta kuda lalu pergi.
Putri Yi memandang sendu kereta yang semakin menjauh tersebut, Kazuki melirik Putri Yi yang terdiam di hadapan membelakanginya, sedikit lebih pendek darinya,
"Sebutkan rencanamu," ucap Putri Yi berbalik memperlihatkan iris abunya. Kazuki tersenyum tipis.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
"Pasukan bantuan datang, serbu!" teriak prajurit berkuda mengibarkan panji Yan datang dari segala arah pertempuran. Pasukan berzirah dan monster Seizen yang jumlahnya ratusan hingga terlihat seperti kerubungan semut porak poranda di depan mereka.
Para pangeran Kekaisaran yang baru tiba segera menumpaskan monster-monster tingkat menengah itu dengan kekuatan spiritual tingkat langit mereka. Qixuan dan Hao Jin menjadi saksi pembantaian brutal di medan perang, banyak darah monster menggenangi tanah hingga sepanjang Ibukota. Dua orang tersebut ikut membantu sambil kebingungan di mana keberadaan Kazuki serta Jingyi yang lagi-lagi menghilang tanpa jejak.
"Pangeran kelima, bagaimana keadaan Pangeran?" tanya Jenderal Zuan mendekat begitu pula Jenderal Wu selesai membabat habis para monster.
"Baik paman Jenderal, kami mengalami sedikit kendala dalam perjalanan kemari. Ada pembunuh bayaran yang menghadang, bahkan kakak keempat juga demikian. Maaf atas keterlambatannya." Pangeran kelima menunduk pada prajurit yang dibalas kikuk karena pangeran jenius spiritual itu juga sudah berjuang membantu mereka.
"Pangeran Ming sudah datang membawa kemenangan adalah hal baik bagi kami, tidak perlu sampai merendahkan kemuliaan Pangeran kepada kami," ujar salah satu prajurit memuji diangguki yang lain.
Jenderal Zuan dan Wu menjauhi kerumunan lalu Jenderal Zuan berucap, "Kasus monster dan pembunuh bayaran jelas punya tujuan yang sedikit berbeda, Pangeran mungkin menghadapi penyerangan dari pelaku yang sama dengan kasus pembunuhan Yang Mulia Kaisar." Jenderal Wu mengangguk setuju, "Tapi kita harus merahasiakan ini terlebih dahulu, karena musuh utama belum dikalahkan."
"Paman Jenderal, Pangeran ini dengar Yang Mulia Empress sudah pergi ke utara benarkah demikian?" Jenderal Wu mengangguk, "Tapi Jenderal ini ragu apakah perjalanan mereka akan baik-baik saja. Penjaga kuat rombongan Yang Mulia Empress hanya Panglima Kong dan Seignior Ning."
"Semoga keluarga Kaisar baik-baik saja."
\=\=\=\=\=\=
Seizen kembali setelah perjalanan jauh, dia terpental 30 km dan perlu memakai portal untuk kembali secepat ini. Area pertempuran sangat sunyi, kereta Empress sudah tidak ada, Kazuki entah kemana.
Seizen mencari keberadaan Putri Yi yang bersembunyi di balik bebatuan. Hankyu Spiritualis Keabadian Surgawi itu sangat berguna di saat-saat seperti ini. Seizen meledakkan bebatuan yang menghalangi Putri Yi lalu melayang mendekat. Dia menemukannya.
__ADS_1
"Kena kau!" Putri Yi pasrah ditangkap oleh Seizen, ditambah saat iblis itu mulai menarik kunci dinding spiritual dari tubuhnya. Seizen tertawa jahat, "Seharusnya kau melakukan ini lebih awal jika tidak ingin ada yang mati!"
Brong
Sosok Putri Yi berubah menjadi Kazuki yang menyamar, ninja itu meninju rahang Seizen dan dengan beberapa rekan bayangannya.
Bugh bugh bugh!
"Saatnya kau kalah, Seizen!" teriak Kazuki yang asli bersembunyi di balik tebing kecil memfokuskan kekuatan pedang Naga Abadi yang dia tingkatkan batasnya menjadi 40%, jadi kini dia memakai 30% kekuatan pedang karena dibantu oleh teknik spiritual unik Putri Yi.
Energi yang dikumpulkan Kazuki sudah mencapai puncak kapasitas batasnya, Seizen hampir menghindar tapi saat ledakan spiritual itu bersinar membentang menerangi langit malam kelabu dia tidak bisa menghindar, ukuran ledakan sangat besar membakar objek di sekitarnya, bahkan sangking kuatnya angin hasil ledakan memutar badai kabut hingga ke ibukota kekaisaran.
"Haaa, lenyaplah!" Kazuki merasakan tangannya terbakar pedang Naga Abadi karena menahan sinar panasnya. Tapi demi mengalahkan Seizen dia terus menekan batas spiritual senjata itu.
"Mati kau Seizen!"
DUAAANNHGB
Letupan besar melontarkan Kazuki dan Putri Yi, namun tangan sang Putri sempat dia tangkap. Kazuki menapakkan kaki berdiri sambil terengah-engah, serangan itu sangat menguras energi. Jika Seizen belum juga kalah maka itu akan menjadi berita buruk.
Tanah yang membentuk cekungan panjang mengepul menunjukkan keberadaan Seizen. Di ujung utara tepatnya dia tak sadarkan diri. Kazuki meninggalkan Putri Yi dengan bayangannya lalu memeriksa keadaan musuh.
Seizen tergeletak, tubuhnya menguapkan kulitnya yang terbakar, matanya terpejam kaku. Seakan akhirnya sudah mencapai batas pertahanannya. Kazuki memunculkan perwujudan pedang Naga Abadi dari energi alam, lalu dengan kedua tangannya dia menusuk dada Seizen hingga benar-benar tertancap dalam. Sinar putih menerangi gelapnya tempat tersebut, namun tak begitu lama. Karena hawa spiritual putihnya segera tertelan hawa spiritual hitam yang muncul keluar dari dahi Seizen di mana terdapat kristal ungu di sana. Hawa hitam yang ini jauh lebih pekat dan kuat dari milik Seizen, energinya merambat ke pedang Naga Abadi. Terpaksa Kazuki melepaskan pedangnya dan mundur sebelum terpengaruh hawanya. Kazuki akhirnya melepaskan perwujudan pedang Naga Abadinya agar tidak terinfeksi spiritual hitam itu.
__ADS_1
Sosok Seizen masih pingsan tak sadarkan diri, tapi mahluk yang keluar dari kristal di dahi Seizen memancarkan aura kematian yang sangat kental. Mahluk itu mewujudkan tubuhnya seperti manusia, memiliki kepala, tangan tanpa kaki, seluruh tubuhnya hitam gelap matanya merah keseluruhan, tinggi sekitar 10 kaki. Dari bagian perutnya yang mirip seperti gua, Kazuki dapat melihat jiwa-jiwa manusia tumbal Seizen meraung hendak keluar, dan betapa mengerikannya dia melihat jiwa seseorang yang dia kenal di sana. Sahabatnya di dunia Ninja yang sangat menyayanginya dan menganggapnya saudara, "Shinjiro!"
Brak