Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Teman Sejiwa Lama


__ADS_3

Alur semesta tidak berjalan mengikuti skenario dari Kazuki dan Putri Fangyin. Namun sang Putri tetap berpegang teguh pada rencana. Rencananya sang Putri sudah menyiapkan gulungan hijau yang nantinya akan jatuh dari langit saat eksekusi Kazuki telah usai. Dan gulungannya tetap jatuh walaupun tidak ada seorang pun yang terpenggal. Gulungan hijau itu langsung di ambil oleh Pangeran Yaoshan yang terlihat dari ekspresinya murka besar. Setelah membaca isinya pangeran Yaoshan menyerahkannya kepada Empress Xiang sedikit enggan. Karena di dalamnya berisi peringatan sekaligus ancaman.


...\=\=\=***\=\=\=...


...Apabila Kekaisaran Yan tidak mengubah tatanan pemerintahan dan tatanan hukum menjadi lebih baik dan bijaksana dalam setahun ke depan. Maka hukuman dari sang Ilahi telah menanti. Kehancuran akan merambah mulai dari istana dalam. Melewati Piramida kasta tertinggi menuju ke bawah, hingga akar-akarnya....


^^^--Syal Merah^^^


...\=\=\=***\=\=\=...


Ancaman dalam gulungan tersebut sangat mengenai titik kelemahan Kekaisaran Yan. Dalam proses reformasi seperti ini, masukan dari pihak luar terkadang membantu. Apalagi di mana masyarakat belum begitu teratur dan hanya mendapat pengetahuan dasar dari kekaisaran. Tapi sebuah ancaman di hadapan keluarga kaisar, berarti ancaman bagi seluruh kekaisaran.


Pangeran mahkota memerintahkan kepada prajurit penjaga agar menyisir daerah pusat segera demi menangkap tahanan yang kabur. Jenderal Zuan dan Jenderal Wu saling pandang, mengangguk satu sama lain. Mereka harus mengikuti alur demi menjaga keseimbangan rapuh kekaisaran. "Tangkap semua orang yang mencurigakan. Prajurit bayangan, cari lebih teliti."


"Siapa yang menculik bayanganku, aku harus segera mengejarnya, mengacaukan rencana saja," ujar Kazuki yang kesal meloncati atap demi atap. Dia berpapasan dengan Qixuan di tengah jalan yang sibuk makan daging tusuk sambil mengusung benda panjang di punggungnya. Gadis itu bahkan tidak menyadari ketika Kazuki diam-diam mengambil pusaka sakti dari punggungnya. Dia terus berjalan santai menikmati malam yang indah di pasar ibukota.


"Hei berhenti!" teriak Kazuki yang berlari sedikit lebih cepat, tangan kirinya memegang pedang Naga Abadi. Pria itu memasuki sebuah ruangan bangunan mewah, di mana jendelanya terbuka lebar. Merasa terpojok pria misterius itu pun bersembunyi di balik bayangan Kazuki yang terlihat linglung, "Ke-kenapa kamu bisa mengejarku. Aku yakin aku sudah cukup cepat di sini!" teriaknya.


"Hah?" Kazuki menggaruk kepalanya yang memang gatal, "Kamu bukan penduduk kekaisaran ini, ya. Baiklah." Kazuki menutup jendela lebar tempat mereka masuk agar tidak ketahuan penjaga yang pastinya sudah mulai mencari mereka.


"Hei, kenapa kau menculik bayanganku?" pemuda itu bergetar takut, bahkan matanya sulit terbuka. Namun begitu mendengar suara tak asing di telinganya dia pun membuka matanya.


"Kazuki!" "Shinjiro!?"


"Kenapa kau ada di sini?!" tanya mereka bersamaan, "Apa yang kamu maksud, aku di sini lebih dulu!" ujar mereka kembali bersamaan. Mereka berpelukan ala ninja, beradu kening sambil tertawa.

__ADS_1


"Aku dulu," ujar Kazuki menahan senyum, "Ya, kau dulu," ujar Shinjiro.


"Mh, kau terlihat lebih kurusan.."


"Dasar, memberi pertanyaan tidak berguna!" Shinjiro berdecak mendekati Kazuki. "Aku kemari setelah menggunakan jurus dalam gulungan ungu." Kazuki terkejut mendengar penjelasan Shinjiro, "Ya, benarkah, aku juga begitu."


"Wah, eh, yang lebih penting, kenapa mereka hampir memenggalmu? Aku sudah baca tentang selebaran yang gambarnya dirimu jadi buronan telanjang. Tapi itu tidak mungkin kau, jadi apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ceritanya panjang, mau dengar?"


"Nanti." Kazuki pun bersungut.


"Eh, aku hampir dibunuh oleh Seizen. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kau harus percaya!" pekik Shinjiro menggoyang pundak Kazuki histeris. Sementara pemuda telanjang dada hanya mendengarkan dengan senyuman lebar, "Iya aku percaya. Seizen sudah bangkit, tapi bagaimana kau masih hidup, bukannya Seizen sudah memakan jiwamu? Apa kau datang kemari sedari dulu?" tanya Kazuki bertubi-tubi.


"Aku baru tiga hari di sini. Setelah melakukan teleportasi dengan jurus bernama Mokuhyo, bisa memindahkan diri sendiri atau objek lain, keren tidak. Sekarang aku menguasai teknik andalanmu.


"Sepertinya kita belum mengatakan permisi pada tuan kamar."


"Selamat datang, saudara-saudara," ujar pria dewasa tersebut ramah.


Pakaian putih yang mewah, rapi, duduk ala seseorang bermartabat, janggut hitam yang panjang. Mata tajamnya menatap lurus Kazuki dan Shinjiro bergantian, pria ini sangat mengintimidasi sehingga dua pria muda itu hanya berani bersimpuh.


"Apa kalian mengenalku?" Kazuki dan Shinjiro menggeleng keras. Dia mengelus janggutnya, ekspresinya seperti mengamati.


"Kalian bisa memanggilku, Seignior Ning, Kazuki, Shinjiro." Dua pria muda itu terkekeh perasaan mereka tidak enak, jangan-jangan pria dewasa ini memang mendengar semua percakapan mereka sedari tadi.

__ADS_1


Seignior adalah gelar bangsawan diberikan oleh Kaisar kepada rakyat biasa yang mencapai kehormatan tertentu. Gelar ini cukup spesial karena sejauh ini hanya Seignior Ning dan Ayahnya yang mendapatkan gelar Seignior.


"Saudara Kazuki memangnya tidak sibuk, bukannya ada acara ramai di pusat ibukota menunggu Saudara." Kazuki mengeratkan genggaman pada pedang Naga Abadi. Pria ini mencoba memancing sarden di rawa buaya, dia hanya akan mendapatkan biaya. "Yah, itu bukan urusanku sih. Aku ingin membicarakan hal lain, seperti syal merah yang anda curi Saudara Kazuki." Shinjiro menoleh pada Kazuki meminta penjelasan, pemuda 20 tahun itu mengira jika syal yang dilemparkan di hadapan bayangan Kazuki saat eksekusi tadi adalah syal miliknya makanya sekarang Shinjiro memegangnya.


Pupil Kazuki memandang langit-langit kamar, gerak-gerik ingin berbohong, kamarnya serius mewah dan kesan artistik mahal sangat terasa. "Ku rasa Aku memang mencurinya ... ah, malahan di hari pertama aku berada di benua ini."


"Sebenarnya kalian berdua berasal dari mana, aku tidak akan mempermasalahkan syalnya lagi, kau bisa memilikinya. Tapi aku perlu tahu, apa masalah sebenarnya buronan kekaisaran ini." Kazuki menunduk berpikir sejenak. Seignior Ning tidak terlihat seperti orang sembarangan, gelar Seignior bukanlah gelar main-main yang diberikan pada orang main-main. Mempercayakan beberapa informasi penting bagi keselamatan diri di masa depan adalah langkah yang bagus. Kazuki pun menceritakan sebuah kisah yang disensor sedikit.


"Begitu kah..." Kazuki mengangguk.


'Memang versi ceritanya lebih masuk akal dibandingkan kesimpulan dari para ahli hukum' batin Seignior Ning.


"Jadi, kau ingin pergi dari kekaisaran ini?"


"Benar. Seizen kini bukanlah legenda masyarakat lagi, Seignior Ning. Aku perlu memperkuat diri, dan berkelana ke negeri lain untuk mencari ilmu lebih luas."


"Kamu sudah menghabiskan ilmu di provinsi Fu?"


"Belum, aku tidak ingin Seizen mengincar kekaisaran ini lagi. Setidaknya untuk sekarang saya dan Putri Yi sudah terhubung. Dalam keadaan paling buruknya aku akan datang menyelamatkan kunci spiritualnya... dan Putri Yi tentu saja," Shinjiro mengikuti lengan Kazuki dan menaik-naikkan alisnya. Bagian dialog ku mana?


"Maksudku kami berdua akan menyelamatkannya." Kazuki menjulingkan matanya.


"Kalau begitu kalian sudah memutuskan ingin pergi berpetualang ke mana?" tanya Seignior Ning tersenyum menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Belum...," Shinjiro menggeleng.

__ADS_1


"Saya punya saran bagus, tempatnya sangat indah. Seperti halnya negeri dongeng, dan seumur hidup hanya sekali dan hanya saya yang pernah ke sana," ujar Seignior tersenyum misterius.


__ADS_2