Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Menundukkan Pedang Legendaris


__ADS_3

Kilas Balik


Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dan seorang pria dewasa bercaping duduk bersanding di atas sebuah pohon di puncak bukit. Si pria dewasa menunjukkan kepada si anak laki-laki teknik lemparan dua shuriken. Senjata tajam itu tertancap tepat di titik sasaran dari kayu yang benda serupanya tersebar di seluruh bukit. Si anak laki-laki terkagum melihat gurunya yang melakukan teknik itu dengan santai dan tenang seakan tidak sulit sama sekali. Si pria dewasa meminta murid mudanya itu untuk mempraktikkan tekniknya sama persis. Namun menguasai suatu teknik ninja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anak laki-laki itu menghabiskan 3 hari hingga ia mengenai titik tengah target.


"Bagus sekali. Dulu saat guru melatih teknik ini sendirian, guru memerlukan waktu 10 hari. Kamu mungkin akan melampaui guru suatu hari nanti," ucap si pria dewasa mengusap sayang rambut hitam muridnya. Anak laki-laki itu tersenyum senang kemudian dengan semangat dia meminta gurunya untuk mengajarinya sebuah ninjutsu baru yang cukup hebat. Kepalanya pun di sentil oleh sang guru.


"Kamu pikir ninjutsu kuat tidak mengeluarkan cakra yang banyak. Dengan kemampuanmu saat ini bisa-bisa kamu pingsan berhari-hari mempraktikkan nya. Cukup lihat saja, ya."


Sang guru mengajak anak laki-laki itu menuju sebuah danau tak jauh dari bukit, danau yang tenang dan penuh ikan air tawar.


Sang guru memperagakan segel tangannya kemudian menggunakan jurus kehampaan di depan danau. Seketika volume air di danau itu berkurang drastis, menghilang entah kemana membuat Anak laki-laki yang bernama Kazuki itu memekik kagum. Dia memberikan tepuk tangan kepada gurunya. Sang guru pun tersenyum melihat antusiasme muridnya.


"Ingatlah segel tangannya. Baru saat kamu dewasa nanti praktikkan sendiri."


"Eh, bukannya guru akan selalu mengajariku?" tanyanya heran menatap mata merah sang guru.


"Tentu saja tidak bodoh, seperti kurang kerjaan saja gurumu ini mengajarimu terus!" Kazuki menunjukkan cengiran khasnya.


"Kalau begitu sebelum guru pergi, guru harus mengajarkanku semua jurus andalan guru agar aku bisa menjadi ninja terkuat seperti Yakunin Ninja dan guru!" pintanya, membuat sang guru tertawa.


"Ada-ada saja, Yakunin Ninja ... memangnya kamu pernah melihat mereka?" Bocah itu menggeleng pelan. Tapi auranya tetap bersemangat, "Aku yakin mereka ada dan sedang menjaga kedamaian dunia ninja!" Guru bercaping melemparkan batu ke danau yang sudah surut.


"Ingatlah Kazuki, jurus terbaik seorang ninja adalah ketika kamu dapat menggunakan hati sejalan dengan pikiran. Jangan biarkan egomu menguasai dirimu," pesan sang guru. Kazuki menatap sang guru yang termenung.


"Ayo kita memancing ikan dengan jurus baru!"


"Ayo!"

__ADS_1


Kilas Balik Habis


\=\=\=\=\=\=


"JURUS PENGIKAT RAGA!"


Kazuki menarik semua petualang yang terlepas dari tarikan hewan spiritual nya dengan jurus tangan transparan. Tangannya membesar, tak terlihat dan memiliki cengkraman kuat sehingga kelima petualang itu dapat dia genggam. Melupakan tentang pedang Naga Abadi karena mengingat pesan gurunya dan keadaan mengatakan menyelamatkan nyawa lebih penting dari sebuah pedang yang nantinya tidak berguna untuknya.


"Kazuki, Pedang Naga Abadinya!" Peringatan dari Qixuan.


"Tarik, Jingyi! Biarkan saja! Jika aku bahkan tidak bisa menyelamatkan lima nyawa, maka aku tidak layak untuk menyelamatkan yang lebih banyak dan tidak layak menjadi Yakunin Ninja!!" teriak Kazuki menggema.


Karena daya tarik yang kuat para spritual itu tidak bisa terbang begitu saja. Apalagi lubang hitam itu menyerap aura yang keluar dari tubuh. Dengan berlinang air mata Kazuki mengingat nasib yang akan menimpa semua orang jika mereka melepaskan pedang Naga Abadi begitu saja. Satu-satunya senjata yang dapat mengalahkan Seizen, menyelamatkan benua kultivasi dan benua ninja.


"Tarik!!!" teriaknya menyemangati.


Sedotan lubang hitam semakin kuat namun tubuh yang melewati batas Cakra, dengan hidung berdarah dan tangan yang tertarik kuat tidak mematahkan semangatnya untuk membebaskan mereka semua dari lubang hitam.


...Ngung...


Tiba-tiba saja sedotan kuat lubang hitamnya berhenti. Beberapa saat kemudian tanah yang tadinya hancur tersedot kedalam lubang hitam muncul lagi ke permukaan menutupi lubang hitam hingga tak bercelah beserta pedang Naga Abadinya juga muncul kepermukaan kembali.


Mereka semua terjatuh ke tanah, lemas kehabisan tenaga. Kazuki sendiri pingsan kehabisan cakra juga Jingyi yang ikut pingsan.


Sang Naga yang tadinya sudah tumbang kembali bangkit, namun dia tidak lagi agresif. Mahluk raksasa itu mendekati mahluk kecil lemah di bawahnya.


"Selamat yang terpilih. Kau sudah berhasil menjinakkan pedang Naga Abadi. Pedang ini...."

__ADS_1


"Dia pingsan...," terang Qixuan yang masih sadar. Sang naga tak lagi berbicara malah seperti menggerutu.


"Lagi-lagi penerus pedang Naga Abadi yang sama. Tidak bisa di percaya aku sedang berurusan dengan mahluk yang akan mengalahkan kegelapan. Ya sudah akan ku pulihkan dia!" Sang naga mentransfer sejumlah energi pada si pemuda yang baginya sedikit namun bagi Kazuki sangat besar dan terlalu banyak.


Pemuda itu belum juga terbangun malahan kejang-kejang membuat Qixuan khawatir. Dia menyalahkan sang naga yang hanya diam menatap tubuh itu meronta dan mengeluarkan sebagian besar energinya pada hewan spritual nya. Jingyi langsung bangkit dengan kesadaran sempurna sementara Kazuki dengan lemas membuka kelopak matanya yang berat.


"Uh ... langit-langitnya ... berbeda?" gumam pemuda itu membuat semua yang ada di sana menyesal mengkhawatirkannya.


"Anak muda yang sudah tua, bangunlah. Ambil hak dan kewajiban mu!" perintah sang Naga pada Kazuki.


"Naganya, masih hidup?" gumam Kazuki keheranan.


"Ah, tahu begini di lepas saja dari tadi pedangnya ke lubang hitam!" ujar salah satu petualang menggerutu.


"Iya, apa yang kami dapatkan hanya sebagian harta dari kotoran Naga Abadi!" ujar yang lainnya.


"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Kazuki meminta penjelasan pada Qixuan.


"Mereka kesal karena pada akhirnya pedangnya tunduk padamu. Cepat penuhi panggilannya!" perintah Qixuan.


Kazuki dengan lemas menyeret kakinya mendekati pedang Naga Abadi yang tertancap kembali di batu putih kemudian menariknya perlahan.


"Pedang Naga Abadi hanya tunduk pada seseorang yang terpilih dengan alasan kuat. Kebaikan hati, keputusan yang teguh, dan pengorbanan harus di miliki oleh sang pengguna. Dan Pedang ini, sudah menentukannya."


Sriiing


Pedang itu langsung bersinar terang keatas membelah awan mendung, membebaskan cahaya matahari masuk menerangi bumi dan dengan cahayanya memperbaiki efek kehancuran pada bumi dari serangan sang Naga Abadi. Pedang Naga Abadi secara langsung meningkatkan tingkat kultivasi dan spiritual Kazuki dengan membangun sel-sel tubuh baru, merekayasa dna dalam. Sel, jaringan sel, organ, sistem organ hingga fisik terluar Kazuki diperkuat oleh pedang itu.

__ADS_1


"WOAAH, aku merasa seperti terlahir kembali!" Senyuman percaya diri akhirnya muncul di wajahnya.


"Mari kita kalahkan konflik di benua ini,"


__ADS_2