
Sayembara telah berakhir keesokan pagi. Di pelataran ibukota Yan anggota kekaisaran, bangsawan dan jenderal-jenderal besar kembali berkumpul duduk di kursi kehormatan mereka. Para rakyat ibukota juga ikut menantikan pengumuman hasil sayembara yang akan segera dimulai. Putri Fangyin ikut hadir namun tidak menampakkan dirinya ke publik dan hanya memperhatikan situasi dari dalam tandu kereta kuda mewah.
Kazuki sang ninja Ishikawa berdiri di tengah pelataran dengan tubuh bagian atasnya limbung beberapa kali ke depan seperti akan jatuh. Saking letihnya, hasil buruannya pun tidak sebegitu banyak dari pada milik pria banci kalau kata Kazuki, si Minjing. Pria itu menggunakan bantuan berupa anak buahnya yang menyumbangkan hasil buruan atas nama Minjing.
'Sialan, kalau begini ya sudah jelas aku kalah!' batin Kazuki melirik Kaisar Gaozo yang meliriknya tak bersahabat. Wajah angkuh itu seakan meremehkan, membuat ninja muda itu menahan kesal.
"Perhatian! Perhatian! Pengumuman hasil pemenang sayembara bunga istana akan segera disampaikan oleh Tuan Menteri Perdagangan Kekaisaran Yan, Gong Wong," ujar seorang prajurit dengan lantang.
Masyarakat memusatkan perhatiannya pada seorang pria berusia sekitar 40 tahun yang menaiki pelataran yang lebih sedikit lebih tinggi hanya seluas empat kubik. Pria berkarisma dengan jubah keemasan mewah itu membuka gulungan yang dibawanya. Dengan suara lantang dia menyebutkan peringkat buruan para peserta, pandangannya ke atas lalu ke bawah menyusuri tiap kata.
Di sisi lain seorang wanita 30 tahunan mengenakan hanfu hijau mewah yang duduk sedikit jauh dari Kaisar membisikkan sesuatu kepada pelayannya yang si pelayan mengangguk begitu perintah majikannya sudah jelas. Hal itu tidak luput dari pandangan Perdana Menteri Longwei yang mengamati, beliau menyuruh salah seorang Kasim kepercayaannya untuk mengikuti pergerakan pelayan itu. Wanita itu adalah selir Wang matanya menatap tajam tandu mewah yang di dalamnya terdapat Putri Fangyin. Siasat buruk terbaca dari netra itu.
"Dan pada peringkat pertama di duduki oleh-"
DUAAARRR
Suara ledakan besar terdengar dari balik bangunan penginapan besar di dekat pelataran tempat pengumuman. Para pangeran dan Jenderal segera berdiri dengan kewaspadaan tinggi akan sesuatu yang mungkin terjadi.
Jenderal Zuan dan beberapa prajuritnya terbang memeriksa di area ledakan yang menimbulkan asap. Sementara itu seorang pria gagah pemimpin batalyon kavaleri Kekaisaran Yan, Jenderal Wu. segera menyuruh beberapa prajurit bersiaga di sekitar area ledakan melindungi keluarga Kekaisaran dan rakyat.
Kazuki yang melihat orang-orang panik pun berusaha menenangkan suasana dengan menggunakan jurus bayangannya. Sementara Putri Fangyin yang hendak turun dari kereta untuk melihat keadaan di luar terhentikan oleh seseorang yang mengunci pintu tandunya dan membuatnya terkunci di dalam.
__ADS_1
Brak brak!
'Siapa yang merencanakan semua ini?' batin putri Fangyin sambil mencoba mencari celah keluar. Di tengah pencarian sebuah kertas kecil terselip diantara pintu tandu, sang Putri pun memungutnya.
...Nyawa dibalas Nyawa...
Alis simetris nya mengkerut membaca kalimat itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang merasakan kematian seperti mengelilinginya. Fangyin meremas kertas itu dan membuangnya jauh-jauh ke pintu seakan-akan benda itu adalah sesuatu yang terkutuk.
Bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya dimana dia melihat seorang pemuda dibunuh dengan jasadnya yang dimutilasi di depan matanya sendiri. Putri Fangyin memegangi dadanya merasakan perasaan menyeruak yang sangat tidak nyaman itu.
Brak
DUARRR
Kazuki yang hendak menyelamatkan gadis di dalam tandu itu terpelanting masuk kedalamnya karena efek ledakan besar di dekatnya. Saking kuatnya hingga tandunya pun ambruk kesamping.
Brak
Beruntungnya putri Fangyin karena pemuda itu berada di bawahnya sehingga ia mendapat benturan yang tidak terlalu keras. Kazuki berusaha bangkit ketika dia merasakan beban berat di atas tubuhnya. Sang putri dan Kazuki saling bertatapan, pemuda seperti terpana ketika memperhatikan tiap inci bagian wajah sang putri yang tidak sengaja terlepas cadarnya cantik yang tak terlukiskan dan sangat sempurna. Putri Fangyin yang ditatap sedemikian rupa menjadi bingung. Dan ketika ia menyadari cadarnya lenyap seketika itulah dengan panik dia bangkit dan menyingkir dari badan Kazuki. Dengan tudung panjang nya dia menutup wajahnya yang sudah terlanjur dilihat pemuda itu. Mereka berdua terdiam kikuk, namun suara ledakan berulang kali memecahkan keheningan itu.
Untuk keluar dari tandu hanya bisa di raih dengan naik ke atas. Putri Fangyin keluar dengan terbang sendiri, namun karena tidak terbiasa menggunakan teknik tersebut sang Putri pun terjatuh di rerumputan. Kazuki mendekati nona itu lalu mengulurkan tangannya. Namun, sang putri tidak menerima uluran dengan maksud baik itu, dikarenakan etiket kekaisaran mengharuskan seorang gadis hanya diperbolehkan bersentuhan fisik yang dibatasi beberapa bagian dengan laki-laki, jika dia satu keluarga dengannya seperti ayahnya atau saudara laki-lakinya atau suami jika memiliki. Kazuki hanya mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Nona sebaiknya anda pergi ke sana, di sana terdapat tempat pengungsian yang di jaga Jenderal Wu, tenang saja. Apakah perlu ku antar ke sana? Sepertinya para peledak itu adalah pemberontak kekaisaran. Jadi mereka harus segera dihentikan. Nona kenapa kamu diam saja, aku harus bagaimana?" Kazuki berkacak pinggang karena gadis itu hanya diam sambil memegangi tudung agar menutup wajah cantiknya.
'Apa dia marah karena aku melihat wajahnya?' batin Kazuki sedikit menyesal.
"Nona maafkan aku jika kamu marah tentang insiden tadi, mari kita anggap tidak pernah terjadi apa-apa," tawar Kazuki.
Putri Fangyin terkejut kemudian tangannya meremas syal merah Kazuki, pemuda itu pun heran. Merasakan genggaman erat pada syalnya semakin membuatnya bingung.
"Jangan kabur dari tanggung jawabmu, kamu harus menikahi ku!" ucapnya dengan mata yang terlihat kemerahan menahan tangis. Padahal dia hanya kelilipan abu pembakaran.
"Ya-ya-ya...jangan menangis baiklah-baiklah aku menurutimu. Hei, lihat aku tidak lari kemana-mana sudah ya. Nona anda terlihat lebih cantik jika tidak menangis, jadi ee...cup cup..., nona aku bisa dimarahi orang tuamu nanti," bujuk Kazuki yang panik mencoba menenangkan nona itu. Pria muda itu tidak pernah membuat seorang gadis menangis sebelumnya dan entah kenapa hatinya tersentil mengetahui gadis cantik itu menangis karenanya. Putri Fangyin mengangguk kecil, sebenarnya sang putri juga sedikit terpaksa mengatakan hal memalukan itu, daripada dia terkena dampak negatif nantinya di masa depan.
'Apalah ini?!' batin Kazuki menangis.
"Baiklah Nona, di sini tidak aman untukmu. Sebaiknya anda segera pergi ke sana!" pinta Kazuki. Putri Fangyin pun pergi dari sana menuju arah yang di sebut pria muda itu dengan wajah merah padam di balik tudungnya.
'Ada apa denganku. Jantungku berdetak kencang!' batin putri Fangyin.
Kazuki mengeluarkan pedang dan menyalakan mode seriusnya.
Shinigami no kikku Raifupura!
__ADS_1