Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Pelayaran Dimulai


__ADS_3

Perbatasan Kekaisaran Yan--- Rombongan bawahan Seignior Ning yang nantinya memimpin pelayaran ke barat mengumumkan kepada Kazuki dan Shinjiro bahwa mereka akan berlayar saat senja.


Kedua pemuda itu sudah bersiap untuk menjalankan rencana penyebaran rumor sebelum berpisah dari kekaisaran Yan. Mereka berdua pergi ke daerah perbatasan seperti Provinsi Rong dan dan lainnya menggunakan jurus teleportasi secara bergantian karena Cakra Kazuki masih terbatas setelah koma. Dan Jingyi si burung pergi entah ke mana.


Rupa-rupanya Kazuki pingsan akibat menghirup asap hitam yang dikeluarkan oleh iblis hitam dari dalam diri Seizen. Efeknya menurunkan arus Cakra dan volumenya dan melemaskan massa otot. Kazuki pun sementara harus bergantung kepada Shinjiro. Tapi tidak seperti sebelumnya ninja kurusan itu sudah bisa diandalkan kali ini.


Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di perbatasan antar kekaisaran. Yang mereka lakukan ketika sampai adalah memanfaatkan rumor iblis yang muncul dalam peperangan di kekaisaran Yan di ubah menjadi Kazuki lah iblisnya. Kekaisaran Dong sudah mengetahui informasi kemunculan iblis Seizen, mereka sudah membentengi kekaisaran mereka agar iblis yang menyerang kekaisaran sebelah tidak menyerang Kekaisaran mereka juga.


Dan rumor yang mengatakan iblis berkeliaran di perbatasan akan sangat membantu Kekaisaran Yan agar tidak diserang sementara waktu. Rumor tetaplah rumor, sebelum ada fakta yang membuktikan orang-orang hanya akan was-was. Jadi Kazuki sudah berpesan kepada Putri Yi agar tidak berharap banyak.


"Apa dengan menempel selebaran akan membuat orang-orang percaya?" tanya Shinjiro, mereka tengah menempelkan selebaran berisi peringatan iblis berkeliaran di hutan yang sering dilalui petualang dari Kekaisaran sebelah.


"Tentu saja, kekaisaran Yan dan kekaisaran Dong sama-sama bisa kita manfaatkan mudahnya mereka termakan rumor. Aku sudah berpengalaman," ujar Kazuki menggosok hidung mancungnya.


"Aha..hahaha. Ngomong-ngomong bagaimana dengan temanmu yang kau ceritakan, Kazuki? Aku yakin kau tidak tega meninggalkan mereka," ujar Shinjiro sambil menoleh kanan kiri memastikan keadaan sekitar.


"Tidak apa-apa, aku tidak ingin mereka terseret masalah hukum karena berurusan denganku ."


"Oh, begitu ya. Tentang Seignior Ning sekarang, kenapa kau mempercayainya, bukannya kau bilang sudah trauma dikhianati?" Kazuki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana ya, Seignior Ning itu sebenarnya ... tangan kanan Kaisar Gaozo. Dia mempercayai kalau aku bukan pelaku pembunuh Kaisar karena dekat dengan mendiang dan tahu siapa sebenarnya musuh Kaisar. Jadi mempercayai orang dengan kekuasaan tinggi dan pandai sepertinya akan berdampak baik di masa depan."


Kazuki tersenyum tipis pada Shinjiro. "Bagaimana keadaan ibu dan ayah?"


Shinjiro menyilangkan tangannya ke dada, "Baik, ku rasa, ku harap," lirih Shinjiro. Kazuki menepuk pundaknya pelan. "Pasti mereka baik-baik saja. Ayo kita selesaikan ini."


Setelah memasang peringatan di sepanjang jalan setapak Kazuki dan Shinjiro membagi bayangan jurus mereka beberapa tugas. Satu mengawasi para petualang yang lewat, kedua menakuti mereka dengan gerakan misterius, ketiga mengeluarkan suara aneh dari dalam hutan dan menumpuk mayat hewan di beberapa titik membuat seolah sesuatu yang ganas sedang mengamuk.

__ADS_1


Di percobaan pertama Kazuki mencontohkan pada Shinjiro dan berhasil, mereka percaya seekor mahluk menyeramkan mendiami hutan.


Di percobaan kedua Shinjiro berhasil menakuti supir wagon yang membawa beberapa budak anak-anak di dalamnya hingga lari ketakutan meninggalkan wagon nya begitu saja. Sepertinya para budak berjumlah belasan di dalam wagon akan dijual si supir ke pasar budak di desa selatan. Mereka langsung kebingungan hendak di bawa ke mana para anak kecil ini. Akhirnya dengan jurus teleportasi Kazuki membawa mereka ke desa terdekat dengan sembunyi-sembunyi. Desa yang letaknya di timur laut, desa tempatnya pertama kali menginjakkan kaki di benua ini, desa Liu. Pemuda itu membawa para anak kecil itu ke sebuah panti asuhan yang melatih anak asuh mereka bekerja, sehingga jika jumlahnya banyak sekali pun pengurus panti tidak akan keberatan.


Kazuki masuk lebih dulu dan berbincang dengan seorang wanita ramah. Dia pun kembali di depan pagar panti tempat para anak itu menunggu.


"Kalian semua tinggal di sini ya. Aku sudah berbicara dengan ibu panti, mereka akan memberikan kalian makanan dan tempat tinggal. Aku tidak bisa berada di sini lebih lama jadi sampai jumpa," ucap Kazuki yang mengenakan masker mengusap kepala mereka satu persatu dengan sayang, dia jadi teringat dirinya sendiri yang juga tidak memiliki orang tua dan dibuang ke panti.


'Aku tidak membuang mereka, aku menitipkan sejumlah uang pada ibu panti, semoga baik-baik saja,' batin Kazuki merasa sedikit bersalah.


Saat akan pergi seorang anak perempuan setinggi pahanya menarik syalnya yang panjang. Kazuki sedikit tercekik sebelum akhirnya menoleh ke belakang dengan wajah ramah. "Ada apa adik kecil?" tanya Kazuki, 'Kamu hampir membuatku pingsan bocah,' batinnya tak sampai hati karena wajah imut si anak. Pipinya begitu berisi dari pada tawanan yang lain. Dia berbicara dengan volume suara yang cukup kecil hingga Kazuki harus mendekatkan telinganya dan jongkok.


"Kakak tampan siapa namamu, kakak orang yang baik, terima kasih." Mata Kazuki berkedip beberapa kali mencerna ucapan sederhana itu.


'Hanya itu yang ingin dia ucapkan? Ku pikir dia akan merengek mengikuti ku,' batin Kazuki menghela napasnya dan tersenyum lebar.


"Dadah kakak! Terima kasih kakak!"


Mereka pun berpisah karena Kazuki langsung berteleportasi kembali ke hutan perbatasan menemui Shinjiro. Sesampainya di sana si ninja kurusan sedang sibuk memakan kelinci bakar yang mereka tangkap. Dia duduk di lahan kosong antara pepohonan tinggi.


"Sudah selesai?" tanya Shinjiro, tapi Kazuki hanya diam dan duduk di sebelahnya dekat perapian.


"Mh?"


"Tidak terima kasih," balas Kazuki saat Shinjiro menawari dagingnya.


"Ada apa, anak-anak itu ... mereka baik-baik saja, kan?" tanya Shinjiro penasaran sambil membungkus beberapa daging kelinci setengah matang untuk dia bawa saat pelayaran. Dia menyimpannya di dalam cincin dimensi yang diberikan Seignior Ning secara cuma-cuma, nampaknya Seignior menyukai si ninja kurusan.

__ADS_1


"Iya, mereka sangat baik ... baik saja." Shinjiro termangu beberapa saat ketika dia mulai menyadari penyebab saudaranya ini bersikap aneh.


Shinjiro merangkul leher temannya yang sedikit lebih tinggi, "Hei, tidak apa kawan. Mereka akan dijaga oleh ibu panti dengan baik, dirawat dengan baik dan tumbuh menjadi anak-anak baik suatu hari nanti. Lagi pula kalau kau ingin memeriksa kondisi mereka kita bisa melakukannya kapan pun." Kazuki menoleh sambil terkekeh geli. "Kau tahu saja," ujar Kazuki. "Tentu saja, kita saudara sepopok."


"Menjijikkan."


"Yeee, hahaha!"


\=\=\=\=\=\=


Pelabuhan Cheng, Provinsi Gu, sore hari--- Kazuki dan Shinjiro sudah bersiap dengan peralatan dan barang-barang yang mereka tersimpan di dalam cincin dimensi, yang mana cincin dimensi milik Kazuki memiliki kapasitas normal setelah miliknya yang sudah tingkat tinggi disita oleh Kekaisaran.


Mereka berdua duduk di dermaga menggantungkan kaki ke laut menunggu kapal milik anak buah Seignior Ning bernama kru Bianfu (Kelelawar) datang.


Kapal angkutan barang besar sedang menempati dermaga, mengisi ulang perbekalan mereka membuat kapal Bianfu berlambang kepala kelelawar di layarnya harus mengantri di belakang dengan jangkar tertancap.


Di pelabuhan ini banyak orang selain nelayan datang, di mana kebanyakan adalah pedagang lokal yang membeli barang-barang dari para pedagang laut untuk dijual ke pasar.


Sebagian besar lalu lintas perdagangan di sini dikuasai oleh keluarga besar penguasa pesisir, keluarga Cheng. Mungkin nama pelabuhan Cheng diambil dari nama keluarga ini karena saking berpengaruhnya


Tak berapa lama tiba saatnya Kazuki dan Shinjiro menaiki Kapal kru Bianfu, ukurannya sedikit lebih kecil dari kapal yang baru saja berlayar. Tapi terlihat cukup luas dapat dinaiki maksimal 15 orang karena termasuk kapal angkutan barang, jumlah kru Bianfu 7 orang ditambah Kazuki dan Shinjiro menjadi 9 orang.


Tengg Tengg


Beberapa burung pelikan bertengger di tiang kapal yang terdapat dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Kazuki dan Shinjiro berdiri di geladak depan melihat pemandangan matahari terbenam yang terpampang indah di hadapan. Kapal pun melaju perlahan mendatangi matahari dengan sang kapten kapal menahkodai, Gong Ang Bei.


"Petualangan kita mengalahkan kegelapan baru saja di mulai."

__ADS_1


__ADS_2