Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Masa 100000 Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Kazuki dan yang lainnya mendarat di bangunan tinggi ibukota Yan atas instruksi Qixuan. Gadis itu menangkap selebaran terbang tentang pelaku pembunuh kaisar yang menghilang dan wajah Kazuki terpampang di sana.


"A-apa?! Aku tidak aku-"


"Iya aku percaya padamu," potong Qixuan melegakan Kazuki.


Pemuda itu kebingungan kenapa dia bisa menjadi tersangka pelaku pembunuhan Kaisar, bahkan menjadi buronan di Ibukota. Bisa-bisa dia langsung dipenggal ketika tertangkap. Padahal selama ini dia jelas-jelas disibukkan oleh kegiatan akademi.


"Ibu kota masih aman dari invasi Seizen. Kita sebaiknya bagaimana? Kalau soal menjaga diri, aman lah!" tanya Kazuki pada Jingyi yang menjadi burung kecil bertengger pada pundaknya.


"Lebih baik kamu selesaikan dulu permasalahan pembunuh itu. Atau akan membebani mu kedepannya," saran Jingyi yang diangguki mereka semua.


Hao Jin mengatakan pada Kazuki, bahwa dia adalah adik dari pengurus akademi Jing. Kazuki terkejut karena Hao Jin terlihat lebih tua dari pengurus Jing. Hao Jin lalu mengatakan jika dia baru saja ber telepati dengan kakaknya itu yang mengatakan jika Kekaisaran Yan dalam kondisi siaga akhir.


"Siaga akhir. Formasi pertahanan terkuat di ibukota Kekaisaran, apabila kekaisaran dalam keadaan terancam. Mereka terancam, oleh?" Ujar Qixuan.


"Seizen pastinya. Dia mungkin tidak hanya menyerang provinsi Hang tetapi juga provinsi-provinsi lain.... Bisakah aku menemuinya dan langsung menghabisinya dengan pedang Naga Abadi?!" pinta Kazuki kesal akan kelakuan Seizen.

__ADS_1


"Jangan, kau hanya akan menghabiskan tenaga untuk mengalahkan bawahannya yang jumlahnya sangat banyak," larang Qixuan.


"Ssst.... Kakakku menggunakan telepati lagi."


"Huh, dia berkata jika kamu bertemu Kazuki yang membawa pedang Naga Abadi. Minta dia untuk menemukan di ruang penelitian guru Lee."


Pengurus Jing pasti telah melihat cahaya sang pedang Naga Abadi. Hebat sekali cahayanya bisa mencapai ibukota.


"Aku akan kesana sendiri. Kalian semua beristirahatlah sebelum pertempuran terakhir nanti melawan Seizen." Kazuki pergi berpisah dari kelompok meloncati atap-atap dengan waspada.


..."Kazuki, jangan takut. Kamu ingin mengalahkan Seizen tidak, Aku bisa mendengar hatimu."...


"Ba-bagaimana bisa?!"


..."Kita sudah terkoneksi setelah kontrak jiwa yang kamu lakukan dengan pedang ini. Lupakan, yang harus kamu lakukan sekarang adalah memperingatkan semua orang tentang Seizen. Yang diketahui manusia di sini hanyalah pasukan kegelapan menyerang, mereka tidak tahu jika Seizen mencoba mengambil kunci terakhir dinding spiritual."...


"Apa yang kamu bicarakan, kunci apa yang kamu maksud?!" tanya Kazuki tak mengerti.

__ADS_1


..."Dengarkan baik-baik, aku akan menceritakan kisah panjang. Dulu ketika orang tuamu Kazuki, menyegel dua potongan jiwa Seizen di dua benua yang berbeda, mereka mengambil kunci penghancur dinding spiritual dari tempatnya. Kunci tersebut di simpan ke dalam inti jiwa dua insan berbeda benua. Salah satunya ada dalam tubuhmu."...


"Tunggu sebentar, aku pusing. Seizen adalah kegelapan yang telah lama dihapuskan sekitar ribuan tahun yang lalu. Apa maksudmu dengan orang tuaku menyegelnya. Mereka hanyalah orang biasa yang tidak peduli denganku!" ujarnya tidak terima.


..."Kamu salah paham, Kazuki. Orang tuamu sebenarnya adalah pasangan kultivator yang telah hidup lebih dari 100.000 tahun yang lalu. Mereka berdua telah melanggar peraturan yang dibuat oleh Roh nenek moyang yang melarang dua benua saling berhubungan. Ayahmu berasal dari desa mu di benua mu dan ibumu berasal dari benua ini. Ayahmu yang telah menaklukkan ibumu, mereka menikah dan hidup bersama hingga mereka menguasai kultivasi spiritual tingkat langit Abadi. Mereka telah menentang keras peraturan nenek moyang. Mereka berdua tetap hidup bahagia karena ternyata kekhawatiran nenek moyang belum terjadi. Belum. Sampai ketika keluarga ibumu mencetuskan untuk membuka dinding spiritual, hingga peradaban dua benua dapat bertemu. Dua benua tersebut hidup berdampingan beberapa ratus tahun hingga ketakutan nenek moyang terjadi. Dua kekuatan yang tidak seimbang dan perbedaan pemikiran yang mencolok memulai permasalahan antar benua itu. Perang besar terjadi di teluk-teluk, pegunungan dan seluruh perairan, hingga menyebabkan banyak orang menjadi korban. Para roh nenek moyang pun murka, mereka kembali membangun dinding spiritual, dan melakukan kemampuan terlarang. Seluruh umat manusia dicuci otaknya dan dihapuskan semua memori dari benua satu sama lain. Saat itulah kakakmu lahir."...


"Tunggu dulu, sejak kapan aku punya, kakak! Ternyata orang tuaku sama saja dengan Seizen, pembuat masalah. Mereka juga kultivator, astaga!" Kazuki mulai merasa gila mendengar penjelasan Sang Naga Abadi.


..."Setiap manusia diciptakan kesalahan selalu menyertai, Kazuki. Dan orang tuamu, mereka menebusnya ketika kesalahan kedua terjadi. Kakakmu adalah seorang jenius kultivasi, dia mencapai tingkat De Quan dalam waktu 50 tahun. Dan entah apa yang terjadi aku tertidur dua puluh tahun saat itu. Kakakmu menjadi manusia setengah iblis saat dia dan keluarganya dihukum ke benua para Ninja. Roh nenek moyang melarang mereka kembali ke benua kultivasi selama-lamanya. Namun saat kegelapan hampir menguasai kakakmu dan menghancurkan dinding spiritual dengan kunci yang dia dapatkan dari iblis, ayah dan ibumu mencegahnya. Hukuman dewa dijatuhkan, entah kepada siapa. Kakakmu semakin memberontak dan dengan pedang Naga Abadi, ayahmu berhasil menghentikan amukannya. Jiwanya terpisah menjadi dua dan dikurung di alam bawah dua benua. Sementara kunci dinding spiritual, di letakkan padamu oleh orang tuamu dan satunya lagi pada gadis cantik di kota ini. Untuk mengamankan penjara alam bawah, orang tuamu mengorbankan jiwa mereka melindungi tempat itu." Mengetahui rahasia kelam orang tuanya dan kakaknya seketika Kazuki tersadar, jika Seizen mahluk setengah iblis dengan ambisi luar biasa kuat ternyata adalah kakaknya sendiri. Yang menjadi musuh dua orang tuanya sendiri....


Tubuhnya merosot, rasa kesalnya bertumpuk seakan hendak meledak. Kazuki berteriak histeris memukul-mukul besi di dekatnya berulang kali meluapkan perasaannya yang meluap-luap. Selama ini dunia telah menipunya. Kazuki mengacak rambut hitamnya hingga tak lagi rapi. Dia menggigit bibirnya yang bergetar hingga berdarah. Matanya berkaca-kaca hingga ia ingin menangis deras. Namun, mencoba terlihat kuat Kazuki menahan perasaannya dan berdiri menatap langit, matanya menerawang jauh, tetapi air matanya tetap mengalir keluar dengan tenang ikut membawa perasaannya menuju kelegaan. Semua rahasia di hidupnya terjawab, kecuali...


"Hei Tuannya Pedang, siapa nama orang tuaku?" tanya Kazuki dengan tenang.


"Kamu lah tuannya pedang! Nama orang tuamu, Minamoto Daiji dan Yan Meili."


Mulut pemuda itu bergumam dan matanya membelalak, "Yakunin Ninja pertama...."

__ADS_1


__ADS_2