Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Akhirnya Tumbang


__ADS_3

Duarrr


Sesuatu meledak di antara Lordeus dan tubuh Kazuki. Pengambilan kunci dinding spiritual oleh Lordeus harus gagal karena dia menghindari ledakan. Lingkaran spiritual hitam miliknya yang sudah setengah selesai pun hancur.


Kazuki berdiri kembali bangkit dengan tegap mencengkram erat pedang Naga Abadi yang dia keluarkan dari tubuhnya sambil berkata, "Tak ada waktu untuk bermain."


Kazuki mengeluarkan tranformasi putih dan melesat menghantam kepala Lordeus dengan pedangnya. Kulit iblis itu cukup tebal tidak bisa ditembus begitu saja oleh Kazuki. Dengan gerakan memutar seperti gangsing kulit keras Lordeus berhasil sedikit ia robek. Lordeus menghempaskan Kazuki dengan tinjunya yang bertekanan angin, tapi secepat kilat Kazuki berteleportasi kebelakang Lordeus dan menusuk titik di punggungnya tepat pada kulit kerasnya yang robek.


Monster bertanduk itu mengerang kesakitan, Lordeus menggait tangan kanan Kazuki dan membantingnya ke tanah. Namun iris Ninja yang berwarna kebiruan itu menyala terang. Gerakannya semakin cepat dalam menghindar dan menyerang. Lordeus yang juga di serang para Jenderal dan pendekar jadi kewalahan.


Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan fisik melebihi batas. Kulitnya mulai mengelupas sedikit demi sedikit.


"Itu dia," teriak Kazuki dan Agon bersamaan.


Jleb


"A...a.akkh...kau!"


Tusukan pedang Naga Abadi tertancap dalam di punggung Lordeus, mahluk iblis itu ambruk ke tanah tak begitu lama kaku tak bergerak. Kazuki membiarkan pedang Naga Abadi tetap tertancap di sana.


..."Dia belum mati, tapi dia tidak akan bangkit jika kau tak mencabutnya, Kazuki," ujar sang Naga....


"Aku sudah tahu, kok."


Kazuki yang menetralkan napasnya melirik ke arah prajurit yang memandang dirinya. Tatapan kebencian mendalam mereka layangkan. Ninja itu tidak peduli, dia mengaktifkan Hankyu miliknya dan menerawang jauh ke depan alias arah timur.

__ADS_1


Dibalik bebatuan bongkahan meteor, puluhan barisan pasukan berzirah besi datang mendekat, bahkan ada satu mahluk beraura lebih gelap dari Seizen di balik para pasukan itu. Siapa mereka? Seizen kah, seperti ucapan Kilin dan pendekar lainnya.


Kazuki segera berbalik hendak melaporkan hal itu pada Jenderal Zuan sebelum terlambat. Tapi begitu melihat sorot mata yang sama itu dia berpaling. Kazuki terbang mendekati Putri Qiaofeng yang menangani banyak prajurit terluka, beberapa prajurit menodongnya tombak. Mereka siap menusuk Kazuki jika Putri memberikan perintah, bagaimanapun Putri Qiaofeng sudah berpesan pada mereka bahwa, "Yang berpakaian hitam itu bukanlah musuh." Tapi mereka sendiri tahu Kazuki adalah buronan karena membunuh Kaisar Gaozo.


"Turunkan senjata kalian," perintah Putri Qiaofeng membuat mereka mau tidak mau menurut.


Kazuki pun mendekati putri dan memberikan informasi yang baru dia dapatkan. Mengenai pasukan berzirah berat berjumlah sekitar 3 batalyon. Lengkap dengan senjata pelontar yang di seret di belakang barisan, mereka sudah dekat. Para prajurit mendengus melihat Kazuki yang tidak memiliki etika ketika berbicara dengan Putri mereka.


Putri Qiaofeng tentu saja terkejut dan hampir tidak percaya. Karena pembunuh sang ayah ini bisa saja berbohong, tapi pemuda di depannya ini baru saja mengalahkan salah satu musuh yang menumbangkan kekasihnya, jadi ada kemungkinan dia jujur.


Informasi yang di dapatkan Kekaisaran lebih minim dari Kazuki karena kabut tebal yang menutupi hutan.


"Aku jujur, ini keadaan genting, Putri, percayalah," ujar Kazuki meyakinkan.


Setelah pertimbangan beberapa saat akhirnya putri Qiaofeng mengangguk percaya. Lagipula beberapa spiritual yang mampu terbang tak akan mampu melihat terlalu jauh hingga berkilo-kilo seperti Kazuki menggunakan penglihatan Agon. Putri memberikan aba-aba pada pasukan medis untuk menggunakan teknik spiritual ketiga mereka. Dan tanpa banyak basa-basi segera mereka sampaikan hal itu juga di kompi lain. Hingga seluruh prajurit yang terluka diberikan teknik pamungkas penyembuhan tingkat menengah itu sembuh seketika. Yang tersisa di tubuh mereka hanya bekas dari lukanya.


"Mereka tidak mempercayai saya putri," ujar Kazuki sambil memalingkan mukanya.


Putri Qiaofeng mengangguk, mereka pasti tidak akan percaya. Tapi jika dilihat begini, hatinya jadi bimbang, apakah Pria di depannya ini adalah pembunuh sang Ayah?


"Jenderal Zuan, perintah dari Putri ini." Segera Jenderal Zuan bertekuk lutut di depan Putri pertama Empress ini. Memasang telinganya baik-baik.


"Kumpulkan kembali prajurit Jendral Zuan, bariskan mereka di sini." Jendral Wu datang mendekat sebelum Putri Bersuara, dia sudah mengira hal ini ketika memperhatikan Putri berbicara dengan Kazuki.


Jendral Wu berlutut di samping Jendral Zuan. "Kumpulkan pasukan kavaleri anda Jendral Wu. Bergegaslah, pertempuran berikutnya akan segera di mulai."

__ADS_1


Putri meninggalkan dua Jendral dalam keadaan bertanya-tanya, pertempuran apakah gerangan hingga Putri menyuruh mereka bergegas? Bukannya hanya beberapa monster tingkat dan menengah yang jumlahnya lebih sedikit dari prajurit kita.


Jendral Wu merasa perintah ini tidak akan jadi senjata makan tuan jikalau ini jebakan Kazuki, yang dia awasi gerak-geriknya. Jadi dua Jendral langsung melaksanakan tugas dengan mengumpulkan seluruh pasukan yang telah tersebar membasmi monster air.


Sementara dua Jendral dan pasukan medis sibuk Kazuki didatangi prajurit penjaga gerbang perbatasan, "Kau buronan sialan tidak tahu sopan santun. Beraninya kau membunuh Kaisar kami, apa tujuanmu!? Bahkan kau bersikap tidak sopan pada Putri kami! Setelah ini semua selesai, kekaisaran akan menangkap mu dan memastikan hukuman mati untukmu!" bentak mereka disusul umpatan-umpatan. Kazuki tidak menoleh dan tetap berdiri tegap menghadap utara. Tapi telinganya mendengar semuanya.


..."Kazuki, lebih baik kamu meminta bantuan teman-teman mu."...


"Teman?" dahi Kazuki mengernyit tapi sesaat kemudian dia ingat, "Oh, iya benar" balasnya lirih.


Saat dirinya hendak pergi tiba-tiba seorang pria babak belur mendatanginya. Itu adalah Kilin, dia memegang pundak Kazuki namun segera dihempaskan oleh pemuda itu.


"Ma-maaf, Kazuki ... Aku percaya padamu, jangan pergi. Kudengar dari penjaga gerbang bahwa pasukan musuh yang sebenarnya sedang perjalanan kemari. Sementara pasukan Kita belum siap untuk memberangkatkan pasukan. Kami kekurangan pasukan khusus kekaisaran karena mereka semua sedang berlatih intens di provinsi Fu dan dalam perjalanan kembali. Kau Wanquan yang sangat kuat, Kekaisaran ini kini jelas membutuhkanmu" Kazuki melongo mendengar penjelasan senpainya itu kemudian tertawa sinis. Ingat beberapa menit yang lalu betapa orang kekaisaran yang sama mengucapkan kata-kata terbalik.


Kazuki tersenyum tak terlihat, "Baik, aku tidak akan pergi. Tapi Aku tidak peduli kau percaya atau tidak tentang Aku yang membunuh Kaisar. Kuluruskan saja, Aku bukan pembunuh Kaisar kalian. Untuk apa aku membunuhnya, bukannya dapat untuk malah rugi," ujar Kazuki yang dibalas anggukan sembarang Kilin.


"Siapa tahu kau punya sesuatu rahasia, ya kan?" sahut seseorang dibalik Kilin.


"Qixuan, Hao Jin, dan burung merah!" ujar Kazuki berseri lalu mendekati teman-temannya itu.


Qixuan mengusap lengannya gugup, "Bagaimana keadaanmu? Pertempurannya bagaimana?" tanyanya. Kazuki tersenyum tipis dan mengatakan semuanya baik, "Kalau begitu apa musuhnya sudah dikalahkan. Mereka akan membawanya kemana?" tanya Hao Jin menolehkan wajah Kazuki, pria itu sudah sembuh dari lukanya. Tubuh Lordeus yang tertancap pedang Naga Abadi dibawa pasukan pertahanan. Kazuki hanya membiarkan mereka melakukan pekerjaannya, lagipula jika tetap berada di sini akan lebih berbahaya.


"Kalian sendiri dari mana kenapa la-"


Bragggkkraak

__ADS_1


"Apa ini, gempa!?" semua orang kocar-kacir saat tanah bergetar hebat. Benteng pertahanan mulai rubuh tak kuat menahan gaya berbeda arah dari tanah.


"Lihat!" tunjuk Hao Jin pada sesuatu di balik kabut bongkahan batu meteor.


__ADS_2