
❤ Happy reading ❤
***
"Masuk Mi," ucap Asma pelan sembari menyingkir dari pintu. Mempersilakan wanita yang memakai cadar itu masuk.
"Makasih Nak." Matanya menelusuri kamar minimalis Asma. Membuat sedikit curiga karena merasa itu hal yang tak wajar karena bukankah wanita ini pemilik kamar kost ini?
"Hmm Ummi ...." wanita paruh baya itu tersentak dan tersenyum di balik cadarnya.
"Maaf, Ummi datang cuma mau berbagi ini dan sedikit memeriksa kamar kamu. apa ada kerusakan?" Wanita itu menyodorkan sebuah wadah besar. Asma membuka wadah itu dengan mata berbinar. Kue bolu yang berwarna hijau dan dari aroma yang Asma cium ini adalah rasa pandan. Kesukaannya!
"Makasih Mi, ya ampun ngerepotin banget deh."
"Gak merepotkan sama sekali sayang, kalau ada apa-apa segera hubungi Umi ya. Kalau bisa bantu, akan Umi bantu ...." tutur wanita itu sembari menelusuri garis wajah Asma yang imut karena tak memakai cadarnya.
"Makasih Mi, oh iya masalah kerusakan. Cuma kamar mandi aja sih ada keramik yang retak dan beberapa pecah. Itu sama sekali bukan kerusakan parah bagi Asma." senyumannya merekah indah. Menatap wanita di hadapannya. Merasa sangat senang, ada lagi yang perhatian dengannya selain Ida.
"Ya sudah, nanti Ummi minta orang perbaiki." Asma mengangguk.
"Ummi mau minum?" tawar Asma
"Gak perlu, oh iya tadi Ummi denger ada suara orang ngaji. Itu Asma?"
Asma mengangguk dengan semburat merah di pipi. Merasa sedikit malu karena tak menyadari suaranya mungkin cukup nyaring saat mengaji.
"Suara Asma bagus. Makhroj huruf dan tajwidnya juga lumayan," ucap wanita itu dengan senyuman. Karena beliau sudah hafal surah yang Asma tadi baca, beliau jadi tau bagaimana makhroj huruf dan tajwidnya. Ada sorot mata bangga di matanya. Membuat mata Asma menyipit. Berusaha mengingat karena merasa bahwa ia pernah melihat sorot mata itu tapi di mana?
"Jadi, mau gak bantuin anak-anak ngaji di pesantren Ummi?" Asma tersentak dari lamunannya lalu mengangguk di iringi dengan senyuman.
"Alhamdulillah, ya sudah Ummi pulang dulu ya."
Asma mengantar hingga ke depan pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Sekali lagi makasih Ummi."
***
Sebuah mobil silver memasuki halaman salah satu rumah besar di komplek elit yang terlihat sangat sunyi. Ida turun dengan sedikit tergesa. Menatap Bi Ayu yang berjalan ke arahnya.
"Tuan datang non, dari tadi nyari non Ida," ucap Bi Ayu dengan wajah sedikit khawatir. Karena tak biasanya tuannya sedari tadi nampak gelisah ingin segera bertemu dengan putrinya.
__ADS_1
"Tumben," gumam Ida sembari menautkan alisnya. Wanita itu berjalan bersisian dengan Bi Ayu menuju ke rumah. Masuk ke dalam dan di lihatnya. Papanya sudah duduk dengan kaki satu di topang pada kaki lainnya. Sambil mengisap rokoknya, lelaki itu melirik putrinya.
Merasa suasana berubah dingin dan tak nyaman Bi Ayu undur diri ke belakang. Ida menatap Papanya sekilas dengan acuh lalu berjalan melewati ingin ke kamar.
"Ay!" Ida tak menyahut. Masih berjalan dengan elegan.
"Ayduha!"
Ida masuk kamar. Mencuci muka lalu kemudian bersiap kembali karena ada pengajian lagi. Wanita itu keluar kamar dan saat di ruang keluarga langsung mendapat hujaman tatapan tajam dari Papanya. Entah sejak kapan Papanya sudah berpindah dari ruang tamu ke ruang keluarga.
Karena tak ingin papanya berteriak lagi. Wanita itu segera duduk di sofa sebelah lelaki paruh baya itu.
"Lama yaa Pa? Kalau lama boleh Ay ikut pengajian dulu? Baru habis itu kita sepuasnya ngobrol. Yaa?" tanyanya betubi-tubi. Papanya menghembuskan napas kasar. Lalu mengamati wajah putrinya yang terlihat menenangkan. Wajah duplikat dari wanita yang hingga saat ini menempati hatinya. Wanita yang sudah melahirkan wanita cantik seperti putrinya.
"Boleh ya Pa? Nanti Ay telat?" mata itu penuh harap. Papa dan mamanya memang biasa memanggilnya dengan sebutan Ay atau Ayduha.
Lelaki di hadapannya kemudian mengangguk dengan raut wajah terpaksa. Ida tertawa kecil lalu mencium punggung tangan papanya. Pamit dengan senyum yang masih terangkat dengan sempurna.
***
Pukul tujuh malam Ida datang dan mencoba mencari papanya. Berpikir mungkin papanya pergi lagi karena urusan mendadak.
"Tuan di kamar non. Ketiduran kayaknya. Belum makan malam."
Beberapa saat kemudian tercium Ida aroma maskulin khas papanya. Ia berbalik dan mendapat Papanya menatap ia dengan penuh tanya.
"Bi Ayu kemana?"
"Ada kok, tapi Ay aja yang mau masak buat Papa." Ida menata beberapa makanan kesukaan papanya di meja makan.
"Ayo Pa," ajaknya di sertai senyum manis. Lelaki paruh baya itu kemudian duduk. Sejenak ragu memakan makanan itu tapi sorot mata berbinar dari putrinya membuatnya tak tega.
"Gimana Pa? Enak?" Ida menatap papanya yang baru saja memakan masakannya. Wajah itu terlihat sulit di mengerti. Lalu matanya berkaca-kaca.
"Gak enak ya?" Binar di mata Ida meredup sembari menatap makanan yang sangat banyak ia masak. Menyadari bahwa ia baru saja mubazir.
"Enak sayang ...." papanya menatapnya dengan lembut. Ida lalu memakan masakannya dan papanya benar. Tapi mengapa mata ayahnya nampak berkaca-kaca?
"Masakan kamu mirip sama masakan mamamu."
Ida menatap ayahnya yang sibuk melahap makan malamnya. Jadi itu alasannya? apa mungkin masih ada cinta yang tersisa untuk mamanya? diam-diam hatinya sedikit berharap keluarganya kembali utuh. Tapi apa itu mungkin?
***
__ADS_1
Kedua ayah dan anak itu bercengkrama dengan obrolan nostalgia di selingi canda tawa. Mengingat masa lalu menyenangkan ketika keluarga mereka masih bersama. Ida terus tersenyum bahagia karena merasa sudah lama tak berbicara seperti ini dengan papanya.
"Papa mau bicara serius." raut wajah serius nampak menghiasi wajah papanya. Ida diam. Menunggu kalimat selanjutnya.
"Papa ingin menjodohkan Ay dengan anak dari teman papa. Apa Ay mau?" Ida tersenyum lalu mengangguk. Membuat Papanya terkesima karena tak menduga respon yang ia dapat. Putrinya langsung menyetujui yang ia kehendaki.
"Tapi ada syaratnya." sorot mata Papanya nampak bingung.
"Apa Ay?"
"Ay ingin Papa lebih dulu menikah."
Sekali lagi Papanya terkesima. Bukankah biasanya seorang anak tak suka memiliki ibu tiri? Bahkan Ida juga memproklamirkan itu saat masih kecil.
"Dengan wanita yang benar-benar Papa cintai. terserah wanita itu mama atau wanita yang lainnya." nada lembut dan senyuman manis dari Ida. Papanya menatap mata putrinya dengan lekat.
"Bahkan Ay gak mau nanya dulu siapa yang akan Papa jodohkan sama putri Papa yang cantik ini?" Ida tersenyum miring. Ia tau. Papanya sedang mengalihkan pembicaraan.
"Pa ...."
"Dia putra dari Pak Sanjaya."
Mata Ida membesar.
"Sanjaya yang mana Pa?"
Papanya tertawa kecil mendengar keantusian putrinya.
"Maunya yang mana?" tanya lelaki itu dengan nada menggoda.
"Ih Papa! Serius ...." ucap Ida dengan memelas.
"Dimas Dwija Sanjaya."
"Jadi? "
"Iya Ay—du—ha. Ay akan menikah dengan putra sulungnya."
Mata Ida membulat sempurna.
Bersama
Tap jempolnya yaa❤
__ADS_1
Kalau suka tolong like, komen dan rate bintang 5 juga😘🌹