Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 19


__ADS_3

Tolong dilike dulu sebelum baca, please >_<


โค Happy reading โค


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Udah dilike belum? ๐Ÿ˜‚


.


.


.


.


Udah belum? ๐Ÿ˜ก


.


.


.


Udah yaa? ๐Ÿ˜œ


.


.


.


Happy reading๐Ÿ˜˜


***


"Tadi Ummi nelpon. Maaf Da, Aku lancang." Asma menatap Ida yang sedang duduk sembari melepaskan hijab dan kaos kakinya.


"Gak papa Asma," sahut Ida sembari tersenyum.


"Ummi bilang, lagi di jalan mau kesini." Ida menatap Asma dengan alis yang bertaut. Untuk apa Ummi menelponnya hanya untuk memberi tahu hal itu?


"Sama Reno." Ida manggut-manggut. Menandakan sudah mengerti. Tak ada respon selain itu, karena baginya itu tak penting. Jika yang akan datang adalah calon suami yang ia cintai, mungkin ia akan sangat semangat dan bahagia. Karena akan bertemu dengan sang pujaan hati.


Berbeda dengan Asma. Perasaan tak nyaman menghampiri hatinya. Pertama, Zidan dan Fatimah juga ada disini. Ia takut, setiap masa lalunya justru akan bertemu disini. Dalam satu titik yang membuatnya bingung harus bertindak bagaimana. Ia takut, bagaimana Reno Dwija Sanjaya adalah lelaki yang sama dengan pelanggan terakhirnya. Asma menarik napas dalam. Berusaha menetralkan perasaan gundah yang menghampirinya.


"Kenapa sih?" Ida menatap Asma. Ia bisa melihat sorot mata Asma yang seolah sangat ketakutan dan bingung.


"Jangan terlalu dipikirkan Asma, 'kan kamu pakai Khimar juga. Lagian, jika memang dia adalah Reno yang sama. Untuk apa dia mengingat kamu?"


Asma terdiam. Ida benar. Sedangkan Ida, matanya membesar.

__ADS_1


"Maaf Asma, maksudku bukan begitu," ucap Ida dengan nada tak nyaman. Bukan maksudnya mengingatkan sahabatnya sendiri bahwa ia tak pantas diingat karena hanya seorang wanita panggilan. Tapi mulutnya memang selalu ceplas-ceplos meluncurkan dengan tak berperasaan apa yang ada di hatinya. Ida sebenarnya berusaha agar kebiasaan tak baik seperti ini hilang dari dirinya. Tapi untuk mengubah sifat yang mendarah daging bukan hal yang mudah.


"Gak papa kok, kamu bener." Asma berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu disana. Ida benar, Seorang lelaki terhormat seperti Reno tak akan mengingat wanita sepertinya kan? ada sedikit rasa sakit yang tak ia mengerti saat mengambil kesimpulan sendiri tentang hal ini.


***


Adzan isya berkumandang tepat saat mobil Reno memasuki area pesantren. Selain karena jarak yang lumayan, ia juga sering beberapa kali singgah di berbagai toko. Membeli berbagai macam hal, dari makanan hingga pakaian. Sehingga ia baru saja sampai dan langsung memarkirkan mobilnya.


Ummi menggandeng mesra tangan Reno, setiap santri atau Ustad Ustadzah yang bertemu mereka sudah tau. Bahwa Reno adalah putra sulung keluarga Sanjaya. Sebenarnya, nama Sanjaya tak terlalu di kenal di daerah ini. Jadi lebih tepatnya mereka hanya tau Reno adalah putra Abi juga. Pimpinan pondok pesantren ini.


Ummi dan Reno terus berjalan menuju sebuah rumah sederhana yang dikenal sebagai rumah pimpinan pondok pesantren. Saat memasuki rumah itu, Reno tak mendapati Abinya.


"Abi lagi rapat sama ketua yayasan." Ummi menjelaskan sembari tersenyum.


"Masih lama gak rapatnya?" Ummi menggelengkan kepala.


"Gak tau pasti." Reno berdecih pelan. Menyadari ia seperti seorang bocah lelaki yang tak mengerti bagaimana biasanya kalau Abinya rapat. Meski pesantren ini didirikan dengan uang pribadi Dimas Dwija Sanjaya. Tapi beliau tetap menjalin kerja sama dengan yayasan pesantren yang terkenal di seluruh tanah air. Hal itu adalah hal lumrah dalam dunia pendidikan.


"Ummi tadi nelpon Ida ya?" Ummi mengangguk. Bibirnya tersenyum saat sorot mata putra di hadapannya terlihat berbinar dan bertanya tentang calon istrinya dengan semangat.


"Terus?"


"Yang jawab telpon Ummi, temennya," sahut Ummi sembari duduk melepaskan khimar dan hijabnya. Reno menatap wajah cantik meski dengan kerutan yang terlihat jelas itu dengan bibir tersenyum manis.


"Siapa nama temennya Mi?" Ummi menatap Reno.


"Assalamualaikum!"


"Abi!" Reno mendekat dan menyalami Abinya. Balasan dari Abinya bukan pelukan tapi tangan kanannya terangkat menempuk pundak putranya pelan.


"Kok ngobrol. Ayo siap-siap sholat isya dan taraweh di mushola." lelaki yang sudah berumur hampir kepala enam itu mendekat pada istrinya. Ummi mencium khidmat punggung tangan suaminya. Lalu yang ia dapat sebuah kecupan mesra di keningnya.


"Kalau capek istirahat aja, gak perlu taraweh dulu. Sholat isya di sini." Ummi tersenyum lalu mengangguk.


"Iya, capek banget," keluh Reno lalu duduk di lesehan di lantai. Ummi menggelengkan kepala dan menahan tawa.


"Reno!" Abi menarik lengan putra sulungnya. Sedikit menyeret menuju mushola.


"Kamu itu laki-laki. Masih muda lagi. Jangan malas beribadah!" gerutu Abi dengan wajah yang berwibawa. Reno terkekeh pelan. Ia memang hanya menggoda Abinya yang selalu mengajarkan padanya. Bahwa laki-laki itu harus sholat di masjid.


Sebenarnya, para ulama sepakat bahwa menegakkan shalat lima waktu di mesjid termasuk ibadah teragung. Namun, mereka masih berselisih pendapat tentang hukumnya, apakah wajib atau tidak bagi lelaki.


Akan tetapi, pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah yang menyatakan wajib, namun bukan sebagai syarat sah shalat tersebut.


sebuah Hadits Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, yang berbunyi,


ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฃูŽุนู’ู…ูŽู‰ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ููŠ ู‚ูŽุงุฆูุฏูŒ ูŠูŽู‚ููˆุฏูู†ููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑูŽุฎู‘ูุตูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ููŽุฑูŽุฎู‘ูŽุตูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูˆูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฏูŽุนูŽุงู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุณู’ู…ูŽุนู ุงู„ู†ู‘ูุฏูŽุงุกูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฃูŽุฌูุจู’


โ€œSeorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan dia berkata, โ€˜Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.โ€™ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, โ€˜Apakah kamu mendengar azan shalat?โ€™ Ia menjawab, โ€˜Iya.โ€™ Beliau pun menyatakan, โ€˜Maka datangilah!โ€™โ€


Jadi, berdasarkan hadits diatas, Hal itu menunjukkan bahwa pemuda buta saja diwajibkan apalagi ia dan seluruh umat islam di dunia yang lahir dengan indera yang sempurna dan tak cacat apapun pada anggota tubuhnya.

__ADS_1


***


Semua santri nampak duduk santai di teras mushola dengan raut wajah bahagia. Kebiasaan mereka sehabis sholat taraweh adalah duduk berbincang seperti ini. Beberapa dari mereka nampak tak bersemangat. Karena malam ini adalah malam terakhir mereka I'tikaf.


Para santri pada umumnya di bagi menjadi beberapa kelompok selama bulan ramadan. Bisa 4 kelompok atau lebih. Tahun ini hanya 4 kelompok. Yang berarti setiap orang hanya diwajibkan i'tikaf selama seminggu. Sebenarnya sangat dibolehkan untuk I'tikaf lebih dari kewajiban yang ada dipondok. Tapi ada beberapa santri yang harus pulang karena beberapa alasan.


"Ayah pergi lagi, makanya harus nemenin Ibu," ucap Husein dengan mata pasrah. Ayahnya adalah seorang kebangsaan Inggris yang harus pergi menjalankan bisnis keluar negeri. Jadi ia harus pulang menemani Ibunya selama sisa bulan ramadhan.


"Enak banget jadi Antum sein," celetuk salah satu temannya yang bernama Putra.


"Iya, pasti berkecukupan banget yaa!" Wildan menimpali. Ia adalah anak warga di sini. Lahir dari keluarga sederhana dan bersahaja. Mereka memang satu kelas 11 aliyah. Tahun ini, adalah tahun terakhir mereka menjalankan ibadah puasa di pesantren.


Husein berdecak kesal. Semua orang selalu mengira bahwa dia sangat beruntung. Ia akui, memang benar ia mungkin adalah salah satu anak beruntung karena lahir dari keluarga yang berada. Tapi, karena hal itu. Ayahnya selalu pergi. Tak punya banyak waktu untuknya.


"Eh itu siapa sih!" Husein mengikuti arah mata Putra.


"Itu anak Abi yang sulung. Perempuan itu calon istrinya!" sahut Husein.


***


"Maaf yaa, kemaren gak bisa datang ke rumah Antum."


"Gak papa kok," sahut Ida sembari tersenyum kikuk. Ia mulai merasa tak nyaman saat beberapa santri lelaki di teras ujung sebelah kiri nampak memperhatikan ia dan Reno.


Ida tersenyum lega saat Dhika mendekat pada mereka. Dhika pasti sudah mengerti bahwa kakaknya memerlukan bantuannya. Meski pun mereka akan segera menikah, tetap harus menjaga batasan.


Mereka bertiga terlibat obrolan ringan biasa. Ida kemudian pamit untuk pulang ke asrama. Ia lebih dulu mendatangi Asma yang tengah mencuci sisa perkakas dapur yang masih kotor sehabis tadi buka puasa.


Ida dan Asma lalu berjalan beriringan menuju asrama. Tangan Asma bergetar. Ia sudah melihat wajah itu. Memang Reno yang sama. Beberapa kali ia mengerjapkan mata. Berusaha mengusir bulir bening yang akan membasahi netra.


Terdengar sebuah langkah kaki di belakang mereka. Ida menengok dan menautkan alis saat melihat Reno dan Dhika. Reno mensejajarkan langkahnya dengan Ida.


"Nama temen Antum siapa? Kok dari tadi nunduk terus?" tanya Reno sembari matanya terus menatap wanita di sebelah Ida. Terus menunduk dengan khimar yang ada di wajahnya.


Bersambung


Maaf yaa baru bisa up, hehe


Sudah hari senin, minta votenya dong๐Ÿ˜


Sebenarnya, Zaraa itu langsung bisa ada ide, kalau ada yang komen minta kelanjutan๐Ÿ˜‚ jadi buat kelen semua, komen aja banyak2! Biar Zaraa cepat upnya๐Ÿ˜œ


Baca juga novel Zaraa yang lain >_<


My Crazy Husband(romantis/komedi)


Princess of Jungle (fantasi/timetravel)


Terpaksa menikahi si buruk rupa (romantis)


Mariaban (horor/misteri/romantis)

__ADS_1


Big love for you are โคโคโค


__ADS_2