Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
EPILOG


__ADS_3

"Mas, lanjutin ceritanya ...." rengek Asma masih berusaha mengatur napasnya.


Reno mendekap Asma ke pelukannya. Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna sembari berkata, " Bener kata orang."


"Apanya?" tanya Asma sembari menutupi tubuhnya yang tak berbalut busana. Memang mereka habis melakukan hubungan suami istri.


"Bener karena emang rasanya beda. lebih nikmat kalau udah halal." Reno terkekeh pelan sembari mengeratkan dekapan.


Asma yang mengerti memejamkan mata dengan kedua pipi merona. Reno masih sama. Mampu membuatnya meledak berkali-kali. Ia terlihat lelah, tapi sangat penasaran dengan kisah selanjutnya dari Reno Dwija Sanjaya.


"Dan kamu masih sama hebatnya—"


"Mas!" pungkas Asma dengan nada kesal. Dulu ia sangat biasa dengan segala ucapan frontal dam vulgar tapi sekarang merasa begitu risih.

__ADS_1


"Iya deh iya, aku lanjutin yaa ... ini kisah seorang laki-laki yang datang meminta pendapat Abbas r.a." Reno mengecup bahu telanjang Asma kemudian memulai kisah selanjutnya.


"Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas r.a., “Aku pernah berselingkuh dengan seorang perempuan dan aku berzina dengannya. Namun Allah telah mengaruniakan jiwa tobat atas diri kami, dan kini aku akan menikahinya. Tetapi ada beberapa orang mengatakan kepadaku bahwa laki-laki pezina tidak boleh mengawini selain perempuan pezina?”


Ibnu Abbas menjawab, “Itu tidak ada kaitan dengan apa yang Anda tanyakan. Nikahilah perempuan itu dan tidak ada dosa menikah dengannya!”


"Mas, geli ...." ucap Asma saat sang suami terus mengecup lehernya dengan mesra disela kisahnya, berulang kali.


Reno terkekeh pelan kemudian mengatakan, "Harum sayang." Reno lalu melanjutkan.


Tidak lama kemudian, ia dilamar melalui pamannya yang juga seorang yang saleh dan tidak ingin menipu siapa pun berkaitan dengan masa lalu kemenakannya itu. Maka ia menghadap khalifah Umar bin Khattab r.a. untuk meminta fatwanya. Umar r.a. berkata, “Bila laki-laki yang kau sukai akhlaknya itu melamarnya, maka nikahkanlah dia!”


"Aku paham Mas!" seru Asma sembari menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.

__ADS_1


"Iya sayang, aku cuma mau ngasih tau bahwa orang yang pernah melakukan kesalahan akan selalu dimaafkan. Memang kadang banyak orang yang berpikir bahwa hal itu tak seharusnya dilakukan. Para manusia hanya melihat satu kesalahan dan lupa dengan seribu kebaikan. Dan kita memang harus terbiasa akan hal ini."


Asma tersenyum. Malam ini ia melihat sosok berbeda pada diri sang suami. Reno yang terdengar bijaksana dan pantas menjadi imam untuknya.


"Jadi, Bertolak dari riwayat-riwayat ini, para ulama sekaliber Imam Malik, Ahmad bin Hambal, Syafi’i, Abu Hanifah, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim berpendapat bahwa diperbolehkan menikah dengan wanita atau laki-laki pezina yang telah bertobat. Jadi, yang diharamkan adalah menikah dengan laki-laki atau wanita pezina yang masih “aktif”, tetapi kalau sudah bertobat, dia dinilai bukan pezina lagi tetapi “mantan” pezina."


"Dan apa yang membuatmu tertarik padaku hanya karena satu malam bersama?" tanya Asma sembari menahan napas. Ia begitu gugup dengan jawaban suaminya.


"Awal mendengar kisah kamu dulu. Hanya ada sebuah rasa melindungi. Bukan hasrat sebagai lelaki. Tapi saat melihat kamu memakai khimar dan terus menghindar, aku mulai menyadari. Bahwa hati ini udah jatuh hati."


"Aku juga mencintaimu Mas ... terima kasih sudah menerimaku apa adanya."


Asma menatap Reno. Kedua mata itu terkunci. Manik biru Asma membuat Reno kembali terisap dalam sebuah samudra dan lautan yang dalam. Ia tenggelam di sana. Dalam cinta Asma yang murni.

__ADS_1


Cinta seorang wanita panggilan yang berhijrah karena hidayah-Nya. Dan cinta yang ia rasa juga anugerah dari Sang Maha Kuasa.


End


__ADS_2