
Asma kembali mengusap air matanya saat bulir bening itu terus berjatuhan membasahi netra. Wanita itu kemudian menghela napas panjang sembari menatap dirinya di depan cermin. Kecantikan yang luar biasa saat Asma mengenakan gaun pernikahan putih dengan hijab berwarna senada tak membuat wanita itu sendiri bahagia.
Gaun berpotongan lurus dengan detail renda rumit itu nampak sempurna dipadukan dengan hijab segi empat sederhana serta veil dan mahkota. Asma segera memasang khimar putih untuk menutup wajahnya yang hanya diberi riasan tipis saja.
"Kak." Camilla berjalan menuju Asma. Kemudian memindai seluruh tubuh kakaknya apakah sudah siap atau ada yang di lupa. Saat memastikan bahwa Asma siap. Camilla menggandeng tangan Asma perlahan menuju tempat semua orang akan menyaksikan prosesi suci pernikahan.
"Penghulunya sudah datang," ucap Camilla girang.
Asma hanya diam kemudian menggerutu pelan, "Seneng banget yaa kakaknya gak jadi nikah sama cowok yang di suka."
Camilla terkekeh pelan yang membuat hati Asma semakin terasa menyedihkan. Saat ia duduk di sebelah sang calon suami. Asma menghela napas dan berucap istighfar dalam hati. Ia harus melupakan Reno dan mulai hidup baru. Bagaimanapun, setelah ini, Kent adalah suaminya sendiri.
Asma duduk di sebelah sang calon suami. Alih-alih menatap lelaki di sebelahnya, Asma justru memindai semua tamu yang datang. Tak ada Reno. Benar, ia tak datang. Asma menunduk kemudian menggeleng pelan saat harum Reno justru memenuhi pernapasan.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap sang penghulu pelan.
__ADS_1
"Ananda Reno Dwija Sanjaya bin Dimas Dwija Sanjaya. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ...." Hanya itu yang didengar Asma, saat fokusnya hilang tentang sebuah nama calon suaminya.
Waktu seolah berhenti. Asma membulatkan matanya. Apa ia tak salah dengar. Reno? Wanita itu menoleh dan sedikit mendongakkan wajah. Menatap sang calon suami yang tengah melafalkan ijab qobul dengan lancar. Untuk menjaga dan mencintainya. Waktu seolah berjalan lambat. Asma menatap Reno dengan sorot mata tak percaya. Hingga seruan dari semua orang membuatnya tersadar.
"Sah!"
"Alhamdulillah ...." Suara dari semua orang tapi yang paling jelas dari orang di sebelahnya. Reno menoleh pada Asma sembari menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna.
Jika saja wanita itu tak memakai khimar. Semua orang pasti akan melihat bagaimana raut keterkejutan dari garis-garis wajah Asma. Wanita itu seperti boneka saat Reno menyodorkan punggung tangannya. Asma mengecup punggung itu sekilas hingga benda basah mengecup dalam keningnya. Asma terpaku hingga kegelapan mengambil alih segalanya.
"Apa yang terjadi pada putriku?" tanya Dariel dengan raut wajah khawatir menatap Asma yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang. Saat dokter mengatakan bahwa Asma hanya shock saja. Ditambah bagaimana beberapa hari kurang tidur membuat wanita itu tak sadarkan diri tapi segalanya akan baik-baik saja.
"Kak Asma mungkin hanya sangat kaget. Padre sih tak memberitahu," tutur Camilla dengan menggelengkan kepala.
Dariel menatap putri keduanya kemudian berkata, "Ekspetasi memang selalu berbeda dengan realita."
__ADS_1
"Apa?" tanya Camilla dengan mengerjap heran.
"Padre pikir, saat kakakmu tau. Ia menikah dengan orang yang ia cintai. Dia akan berlari dan memelukku. Layaknya seorang putri yang bahagia ketika keinginannya terpenuhi," sahut Dariel dengan terkekeh pelan kemudian melanjutkan, "Aku lupa bahwa putriku sedikit berbeda." Dariel rasanya ingin tertawa. Mengapa ia berpikir Asma akan seperti itu, padahal tau putrinya itu tak mungkin melakukan hal itu.
Perhatian semua orang di sana teralihkan saat Asma mengerjapkan mata. Yang berada di kamar itu hanya Reno, Dariel, Camilla serta Asma. Sementara Abi dan Umi sedang menyambut tamu yang sudah hadir.
Asma menatap Reno kemudian sang ayah. Lalu memeluk lelaki paruh baya yang duduk di sebelahnya.
"Padre ... terima kasih," lirih Asma dengan isakan tertahan.
Bersambung
JANGAN LUPA LIKENYA DONG! YANG BACA RIBUAN. LIKE BAHKAN GAK NYAMPE SERATUS😭
KOMENTARNYA MAKASIH YANG UDAH SPAM ❤
__ADS_1