Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 23


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


Sebagian santri yang masih berada di pondok sedang menyantap sahur dengan lahap. Beberapa kali terdengar santriwati bergumam dan memuji Asma yang sudah memasak makanan enak ini. Porsi sedang dengan menu sederhana.


Tak lama setelah itu. Mereka selesai sahur dan waktu sholat sudah tiba. Seperti biasa, mereka melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Suara Ustad Dhika yang merdu melantun indah membacakan ayat suci Al-Qur'an. Hati Asma bergetar. Bukan hanya Asma, tapi hampir seluruh orang yang mendengar. Setelah sholat, Mereka melanjutkan kegiatan dengan tilawah Al-Quran


"Ukhti Asma!" Asma membalikkan tubuh. Dhika yang ternyata memanggilnya.


"Ada apa Akhy?"


"Apa ana bisa bicara dengan antum?" Asma menautkan alis.


"Bisa, sebentar yaa." Dhika mengangguk. Sedangkan Asma mencoba mencari seseorang yang bisa di ajak menemani mereka berbicara. Tak mungkin jika hanya ia dan Dhika berdua.


"Nyari siapa Asma?"


"Ida, dia kemana ya?" Asma menatap Fatimah sekilas lalu mengedarkan pandangan lagi. Hanya terlihat banyak santri yang sedang tilawah.


"Tadi kulihat ke asrama," sahut Fatimah


"Oh gitu yaa." Asma mendengus kesal. Biasanya ia dan Ida selalu bersama. Jika sekarang Ida tak bersamanya dan ke asrama tanpa bilang dulu pada Asma berarti wanita itu sedang tidur nyaman di sana. Jika Asma nasehati, bahwa bulan ramadan harusnya di isi dengan memperbanyak pahala dengan mengaji. Ida akan berdalih bahwa itu memang benar tapi bukan kewajiban. Ida selalu sholat tepat waktu tapi untuk tilawah sangat sulit di ajak. Mata Asma bergerak nampak berpikir lalu menatap Fatimah.

__ADS_1


"Antum sibuk gak?" Fatimah menggeleng.


"Bisa temenin gak. Ustad Dhika katanya mau ngomong." Fatimah tersenyum lalu menganggukan kepala.


Ternyata Dhika juga meminta Zidan untuk menemani. Alhasil mereka berempat menuju ruangan perpustakaan yang sepi. Menutup pintu lalu Dhika mulai berbicara. Sekilas menatap Zidan dan Fatimah yang berada di meja dekat dengan mereka. Tapi Dhika yakin, kedua suami istri itu tak akan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Zidan dan Fatimah bahkan terlihat bermesraan. Suasana hangat dari pasangan baru itu terlihat menyejukkan.


"Ehemm!" Asma berdehem saat cukup lama Dhika hanya diam sembari sesekali melirik Zidan dan Fatimah. Sorot mata itu nampak ragu.


"Afwan Asma, sebelumnya." Dhika menarik napas. Ia terlihat begitu gugup.


"Ana cuma mau nanya, apa Antum punya keluarga?" Asma menggeleng spontan. Dahi Dhika mengernyit heran.


"Sebenarnya ada apa?" Asma bertanya masih dengan nada biasa. Sangat lembut dan intonasi pelan.


"Ana ingin mengakui satu hal dulu, bingkisan kemarin hanya Antum yang dapat. Ukhti yang lain tak ada yang mendapatkan bingkisan seperti itu." Dhika menahan napas setelah mengucapkan hal itu. Setidaknya memberikan kode apa yang akan ia bicarakan pada Asma. Semoga Asma peka.


"Ana tau," sahut Asma tenang. Dhika yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepala dan menatap Asma dengan mata membulat sempurna. Asma menbalas tatapannya lalu mereka kembali menunduk secara bersamaan.


"Dengar Ustad, Ana menghormati Antum sama seperti rasa hormat pada Abi dan Ummi. Tapi Ana sebenarnya gak mengerti sama sekali." Dhika diam. Asma menghembuskan napas bersiap melanjutkan.


"Semua orang mengira bahwa Antum sesekali melirik Ana. Hingga Antum langsung membenarkan dengan bertindak seperti yang mereka pikirkan. Tapi Ana tau. Bahwa Antum sebenarnya bukan melihat Ana."


Dhika terpaku. Ia masih duduk tegap dengan sesekali mengangkat kepala menatap Asma sekilas lalu kembali menunduk.

__ADS_1


"Antum memperhatikan sahabat Ana, Ukhti Ida."


Dhika masih membisu. Sedangkan Zidan dan Fatimah menatap kedua orang itu dengan rasa penasaran yang membuncah.


"Apa sih yang mereka omongin Mas?" gumam Fatimah pelan sembari mengusap punggung tangan suaminya yang sejak tadi tangan kekar itu bertaut dengan tangan mungilnya.


"Entahlah, tapi tadi Ustad Dhika sempat nanya tentang keluarga Asma," sahut Zidan sembari menatap istrinya.


"Apa jangan-jangan Ustad Dhika mau mengkhitbah Asma?" tanya Fatimah dengan girang.


"Bisa jadi," sahut Zidan sembari tersenyum penuh arti.


Bersambung


Note:


Ana \= saya (dalam bahasa arab)


Antum\= kamu (dalam bahasa arab)


Sebenarnya dalam kitab nahwu sarof Anta berarti kamu (untuk laki2) sedangkan Anti (untuk perempuan) sedangkan Antum di pakai dalam bahasa arab sehari-hari sebagai bentuk penghormatan ke yang lebih tua atau seseorang yang kita hormati. Misalkan saat bertemu ustad yang lebih tua dari kita tak pantas memanggil dengan sebutan Anta. Tapi Antum. Dalam kompleks pesantren sudah biasa di pakai kata Antum bahkan sesama santri. Intinya itu kata yang lebih sopan ^^


Mohon maafkan Zaraa yang baru aja bisa up yaa :( lagi ada kesibukan di dunia nyata yang gak bisa di tinggal. Syukron katsiran atas segala dukungan kalian. Baik like, komentar maupun Vote❤


Sekali lagi maaf >_<

__ADS_1


__ADS_2