Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 8


__ADS_3

"Pegang janji Allah ... Hidup kadang di penuhi banyak masalah dan di kelilingi oleh banyak air mata. Mampu untuk bangkit itu baik tapi kembali pada jalan Rabb yang Maha Baik itu jauh lebih baik. " ~ Dhika Dwija Sanjaya ~


❤ Happy reading ❤


***


Sebuah mobil silver yang memuat dua wanita sebaya terlihat memasuki sebuah panti asuhan dengan nama 'cinta kasih'. Asma mengernyit heran ketika rumah sederhana ini nampak sepi. Ia dan Ida lalu turun dari mobil.


Manik mata birunya mengedarkan pandangan lalu kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Pantas saja terlihat sepi , ternyata di sini baru saja memasuki waktu asar. Terlihat jelas di sebelah rumah itu terdapat mushola kecil yang menampung banyak jamaah yang sedang sholat.


"Di sini baru asar ya ...." gumam Ida pelan. Letak panti asuhan ini memang beda kota dari tempat tinggal Asma dan Ida. Jadi ia dan Asma sudah melaksanakan sholat asar di perjalanan. Asma mengangguk. Mereka kemudian terdiam beberapa saat, ada tebersit rasa ragu. Hingga seorang wanita paruh baya keluar dari pintu utama rumah itu. Menatap mereka dari kejauhan. Wanita yang memakai gamis lebar dengan motif bunga-bunga itu berjalan ke arah mereka. Asma menatapnya dengan intens. Lalu wanita itu bersalaman pada Asma dan Ida.


"Kami hanya berkunjung bu, saya dulu tinggal di sini. Ini teman saya Ida." Wanita itu tersenyum lalu mempersilakan masuk. Sebelumnya Asma mengatakan bahwa ada oleh-oleh untuk anak-anak di bagasi mobil. Wanita yang memperkenalkan namanya Ibu Hawila itu meminta seorang pemuda yang baru saja keluar dari mushola mengangkat barang-barang tersebut.


Asma dan Ida duduk di sebuah sofa sederhana yang terlihat sangat tua di ruang tamu itu. Saat bu Hawila izin ke belakang, Asma mengamati rumah ini. Ada beberapa hal yang berubah tentu saja. Kenangan-kenangan masa lalu melintas seperti mimpi di pikirannya. Saat ia menggambar di kamarnya dan di ganggu temannya yang terkenal nakal.


Perasaan rindu semakin membuncah di dalam dada. Ketika kenangan tentang seorang wanita paruh baya. Ummi Maryam yang selalu menjaganya dan merawatnya dengan penuh cinta.


Asma memutuskan kesini karena wanita itu, ia tiba-tiba saja merindukan ummi Maryam ketika bertemu dengan ibu kost saat itu.


Ibu kost itu memintanya menyebutnya ummi. Beliau juga menawari Asma bekunjung ke pesantren beliau. Tanpa pikir panjang Asma langsung menyetujui. Toh ia juga bingung harus kemana. Saat Ramadhan pasti ada begitu banyak kegiatan di pesantren itu, jadi Asma mengatakan akan ke sana di awal bulan Ramadhan. Asma juga mengajak Ida, awalnya Ida menolak dengan halus tapi setelah mengatakan nama pesantrennya. Ida langsung menyetujui. Katanya karena di sana ada Ustad Dhika. Asma menggelengkan kepala mendengar penuturan sahabatnya itu.


Asma tersentak dari lamunannya ketika seorang wanita seumurannya bergumam pelan memanggil namanya. Mata biru Asma menyipit lalu manik mata biru itu membesar. Asma berdiri secara spontan dari duduknya.


Wanita di hadapannya langsung memeluknya.


"Ya Allah ... Asma, ini kamu 'kan? Gak salah lagi. Kamu 'kan punya mata biru." Wanita itu berucap dengan heboh dan mata berkaca-kaca.


"Apa kabar Aisyah?" tanya Asma sembari tersenyum di balik cadarnya. Aisyah adalah temannya dulu saat ia masih di sini. Butuh waktu lama Asma menyadari, karena bertahun-tahun tak bertemu. Mereka tumbuh dewasa dengan baik. Hanya lesung pipi dan tanda hitam di ujung dagu Aisyah yang Asma ingat.


"Alhamdulillah baik Asma, kamu gimana? Sehat?" Asma mengangguk.


"Alhamdulillah sehat, ini sahabatku. Ida." Kedua wanita itu lalu bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Aisyah kemudian mempersilakan mereka duduk. Lalu Bu Hawila datang membawa nampan berisi air teh dan beberapa kudapan. Setelah itu, beliau izin ke belakang karena ada pekerjaan katanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kita ketemu lagi. Aku masih gak nyangka kamu kesini Asma." Asma tersenyum. Yang ia tau Aisyah sejak kecil memang cerewet dan banyak bicara.


"Hmm Aisyah, itu ... Umi mana?" Asma menatap Aisyah yang binar matanya terlihat meredup. Tiba-tiba saja perasaan Asma tak enak.


"Umi Maryam udah gak ada Asma." Satu bulir bening jatuh dari sudut mata Aisyah.


"Beliau meninggal dua tahun yang lalu." Asma diam dengan air mata yang sudah membasahi sebagian cadarnya. Ida mengenggam tangan Asma dan mengusap pelan punggung sahabatnya itu.


***


Rembulan muncul dengan sinarnya. Menerangi halaman depan sebuah rumah panti asuhan dan membuatnya terlihat indah.


Seorang wanita dengan manik mata biru menatap bulan itu dengan seksama. Mengapa bulan begitu indah dengan sinarnya? Tapi ia begitu kesepian dengan kesendiriannya.


"Asma! Astaghfirullah dari tadi di jendela mulu. Ntar masuk angin baru tau rasa." Asma baru ingat bahwa di kamar ini juga ada makhluk cerewet dengan nama Ida.


Asma menghembuskan napasnya kasar. Matanya menerawang ke masa lalu.


Wanita paruh baya yang wajahnya terlihat selalu cantik tanpa tertutup usia itu hanya diam. Mengusap pelan punggung Asma kecil dengan tangannya. Setelah kemarahan gadis kecil itu reda. Beliau mulai memberikan nasehat yang Asma selalu ingat.


"Asma, Fatimah dan Zidan bukan ninggalin Asma, tapi karena mereka udah punya Keluarga baru. Suatu saat Asma juga seperti mereka."


"Gak! Asma gak mau ninggalin ummi." Asma berteriak dengan lancang. Membuat tubuh kecilnya kembali di rengkuh wanita di hadapannya.


"Asma harus punya keluarga sayang. Satu hal yang harus Asma ingat. Jika orang-orang di sekitar kita meninggalkan kita. Itu karena Allah sendiri yang akan mengurus kita. Jangan pernah berpikir, Allah meninggalkan kita."


Asma tersentak ketika merasakan sebuah sentuhan di bahunya. Lamunannya buyar. Tangan Asma langsung mengusap pipinya yang entah sejak kapan sudah penuh air mata.


Asma berbalik lalu melangkah ke ranjang, melewati Ida dan duduk di tepi ranjang itu. Ia dan Ida memang di minta Aisyah untuk menginap di panti asuhan ini.


"Nih coba lihat. Aku mau ke kamar mandi dulu." Ida menyodorkan ponselnya. Asma menyambutnya lalu melihat sebuah video dari ustad Dhika.


Asma merebahkan dirinya lalu membuka video itu. Ia mendengarkan ceramah itu dengan seksama.

__ADS_1


"Pegang janji Allah ... Hidup kadang di penuhi banyak masalah dan di kelilingi oleh banyak air mata. Mampu untuk bangkit itu baik tapi kembali pada jalan Rabb yang Maha Baik itu jauh lebih baik."


Asma tersenyum getir, lalu meletakkan ponsel Ida di sebelahnya. Dulu, ia pernah tak percaya pada Allah. Masa mudanya penuh dengan dosa. Asma menangis dengan isakan pelan. Jika memang segala tangisan yang ia dapatkan karena dosanya. Asma berusaha ikhlas.


Ida yang baru masuk kamar karena letak kamar mandi di dekat dapur, langsung membuka jilbabnya dan memeluk Asma yang sedang meringkuk sembari menangis di atas ranjang itu.


"Ssttt .... Besok kita ke makam Umi yaa." Asma mengangguk, menyetujui tawaran Ida.


"Aku telat Da," ucap Asma dengan bibir gemetar. Ida mengeratkan pelukannya. Membiarkan lengannya mejadi bantal Asma. Ia tau bagaimana perasaan Asma.


"Udah dong Asma, jangan nangis terus." Ida lalu mengambil ponselnya.


"Lihat deh ustad Dhika ganteng banget." Asma menatap Ida dengan mata membesar.


"Apa sih Asma." Ida terkekeh sembari tersenyum menggoda.


"Kamu tuh, cowok mulu yang di pikirin!" Ida tertawa menanggapi ucapan Asma.


"Hidup itu di bawa santai aja. Yang penting tetap berjalan di jalan-Nya."


"Itu pasti ucapan Ustad Dhika." Ida terkekeh. "Hehe. Iyaa."


"Nama lengkap Ustad Dhika itu. Dhika Dwija Sanjaya." Asma melepas pelukannya lalu mengambil jarak cukup jauh dari Ida. Menatap Ida yang terlihat merasa sangat bangga ketika tau nama lengkap ustad yang menjadi idolanya.


"Terus apa untungnya aku tau?" Asma menautkan kedua alisnya. Lalu mengambil selimut dan menutupi kepalanya.


"Tapi ...."


"Udah, tidur Ida," potong Asma cepat. Ida pun terdiam dengan raut wajah penuh arti. Sebenarnya ada yang ia sampaikan. Tapi ia urungkan.


Bersambung


Tap jempolnya yaa❤

__ADS_1


__ADS_2