
"Aku berusaha menguatkan diri sendiri, meski bayangan masa laluku kerap melintas kembali, penyesalan seketika menghujam jantungku dan membuat sakit pada ulu hati, sempat berpikir untuk memutus nadi tapi aku mendapatkan kekuatanku kembali. Aku memilih untuk bertahan dan menuju jalan Ilahi. "
~ Asma Aqilatunnisa ~
❤ Happy reading ❤
***
Ida terus menatap wanita di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Ia tau bagaimana perasaan Asma. Perasaan mereka sama. Di masa lalu, terjebak dalam sesuatu yang mengerikan. Kerap kali orang-orang menghakimi dan mencemooh wanita seperti mereka, seolah orang-orang itu adalah manusia bersih tanpa dosa.
Tidak taukah mereka bahwa wanita seperti ia dan Asma tidak seburuk yang mereka kira? mengalami pergolakan batin ketika melakukan zina. Semua orang tau bahwa manusia merupakan tempat salah dan khilaf. Sebuah kisah dari para sahabat yang menceritakan dua malaikat yang di perintahkan Allah turun ke bumi. Menjadi manusia. Pada akhir cerita mereka berzina dengan wanita penghibur. Tapi sisi putih atau baik selalu ada dalam jiwa manusia. Ketika melakukan kesalahan dan menyadari bahwa itu salah serta menyesali dengan segenap hati. Maka itu merupakan sisi putih manusia yang berbicara.
Ida memeluk Asma ketika melihat tubuh wanita yang memiliki manik mata biru itu bergetar di akhir ceritanya. Asma sesenggukan di pelukan Ida.
"Menangislah sepuasmu Asma, kita sama ...."
Pada akhirnya. Dua wanita yang bergaris takdir sama saling berpelukan dan menangis. Bayangan masa lalu terus menghantui. Sekuat apapun berusaha melupakan dan hijrah menuju jalan Ilahi.
Asma melepas pelukannya pada tubuh Ida dengan perlahan. Lalu melepas khimar dan cadar yang sudah basah karena air matanya. Ida memperhatikan wajah Asma. Wajah kecil dan imut dengan manik mata biru seperti lautan. Hidung mancung itu kemerahan karena sehabis menangis. Bulu mata lentik yang basah serta kedua alis melengkung rapi dan tebal.
Sesaat mereka hanya saling diam. Asma yang masih menunduk dengan sesekali air mata jatuh kembali serta Ida yang terus memperhatikan wajah imut Asma.
"Apa aku terlihat munafik Da?" suara Asma masih bergetar. Seperti berusaha kuat menahan isakan.
__ADS_1
"Enggak Asma, masa lalu adalah waktu yang sudah lalu. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa wanita seperti kita bisa memiliki masa depan yang indah. Bisa kah kau bayangkan kehidupan normal di mana kita berkeluarga? Keluarga kecil dengan lelaki yang pencemburu serta anak-anak yang manis. Aku memimpikan itu Asma ...."
Asma menatap wanita cantik di hadapannya. Mata Ida berbinar cantik ketika menyampaikan mimpinya. Membuat Asma terkesiap. Asma tak pernah memimpikan hal seperti itu. Ia cukup tau diri bahwa ia tak pantas untuk laki-laki manapun. Keinginan Asma hanya satu. Allah mengampuni dosanya di masa lalu. Hanya itu.
"Aku hanya ingin ampunan dari Allah." Suara Asma dengan pelan dan lembut. Ida menatap Asma.
"Aku berusaha menguatkan diri sendiri, meski bayangan masa laluku kerap melintas kembali, penyesalan seketika menghujam jantungku dan membuat sakit pada ulu hati, sempat berpikir untuk memutus nadi tapi aku mendapatkan kekuatanku kembali. Aku memilih untuk bertahan dan menuju jalan Ilahi."
"Kau tau? Aku sudah pernah berusaha bunuh diri."
Sahutan Ida membuat Asma terkesiap. Ia menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tak percaya.
"Tapi gagal. Asisten rumah tanggaku menyelamatkanku. Awalnya aku marah tentu saja. Tapi kemudian aku bahagia dan sangat berterima kasih padanya. Karena selain itu tindakan pengecut aku juga tau bahwa bunuh diri tidak di perbolehkan agama kita." Asma bisa melihat wanita di hadapannya lebih rapuh darinya. Tapi ia membentengi dirinya dengan keceriaan. Canda dan tawa dari bibir tipis Ida.
"Mulai sekarang kita akan tetap bersama sampai menua dan Inshaa Allah saat bertemu di surga," ucap Ida sembari tersenyum manis.
Sekarang, ia justru memiliki sahabat seperti Ida yang nampaknya ekstrovert. Kedua wanita ini kemudian menghabiskan waktu bersama. Memasak untuk makan malam mereka di kamar kost milik Asma. Sesekali di selingi obrolan ringan di sertai canda tawa.
Kamar minimalis Asma di dominasi warna biru langit dan putih gading. Nuansa yang ceria dan manis menurut Ida. Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah lukisan lelaki memakai peci dan baju koko tanpa wajah.
"Asma, itu siapa?" Asma spontan mengikuti arah mata Ida. Ia nampak sedikit gugup. Lalu memasang ekpersi datar.
"Hanya gambar biasa."
__ADS_1
"Kau hebat bisa menggambar sebagus ini. Tapi kenapa tidak memiliki wajah?"
Asma tersenyum penuh arti lalu mendekati Ida.
"Aku pernah mendengar sebuah hadits bahwa tidak perbolehkan menggambar makhluk yang bernyawa. Arti hadits itu seperti ini, 'Barangsiapa menggambar suatu gambar di dunia maka pada hari kiamat akan dibebankan kepadanya untuk meniupkan ruh ke dalamnya sedangkan ia tidak akan sanggup meniupkan ruh. '(HR. Bukhari–Muslim). "
"Tapi kan Imam Ibn Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam hadis lain yang semakna dikatakan bahwa yang dimaksud shuroh adalah patung makhluk bernyawa yang dibuat dengan tujuan untuk disembah, sehingga tidak termasuk di dalamnya pohon, tanaman, matahari dan bulan. Sedangkan Imam Abu Muhammad Al-Juwaini menambahkan bahwa dilarangnya menggambar makhluk yang bernyawa maupun tidak bernyawa karena pada saat itu dijadikan objek sesembahan dan alat menyekutukan Allah. Adapun balasan untuk meniupkan ruh ke dalam gambar tersebut merupakan kiasan atas azab yang akan mereka terima, sekaligus untuk menunjukkan kelemahan mereka karena sebenarnya hal tersebut mustahil untuk dilakukan. "
Mata Asma membesar mendengar penjelasan dari Ida. Kemudian sahabatnya melanjutkan.
"Hal terpenting yang juga harus dipahami dari hadis ini dan hadis-hadis lain yang mendukungnya tertuju pada makna mushawwir. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud mushawwir adalah orang yang membentuk sesuatu untuk dijadikan sesembahan selain Allah, sehingga ia termasuk dalam berbuat kufur. Sedangkan Syekh Yusuf Al-Qaradhawi mengartikan sebagai orang yang membuat suatu benda atau objek yang mempunyai bayangan, yang tidak lain adalah patung atau seni rupa 3 dimensi."
Ida mengambil nafas panjang. Lalu kembali berucap tanpa menghiraukan raut wajah Asma yang takjub.
"Dengan demikian, seni rupa yang diharamkan adalah seni rupa dalam bentuk 3 dimensi dari suatu objek bernyawa maupun tidak bernyawa yang digunakan sebagai sesembahan selain Allah atau berniat menandingi-Nya sebagai Maha Pencipta. Adapun jika menggambar makhluk tidak bernyawa seperti pohon, pemandangan alam, tokoh-tokoh terkenal, dengan maksud untuk pembelajaran serta tidak ada unsur keharaman di dalamnya maka dapat dibolehkan. Wallahu a’lam."
Asma menatap Ida dengan tatapan kagum.
"Jangan ngeliatin aku segitunya. Aku ada tugas dari ustadzah yang membimbingku kebetulan pembahasan sama tentang ini. Makanya jadi lancar banget jelasinnya." Ida terkekeh dengan wajah merona.
"Pantesan," ucap Asma sembari tertawa. Sesaat kemudian raut wajah Asma sulit di artikan. Hidungnya nampak kembang-kempis.
"Astagfirullah ikanku Ida!"
__ADS_1
Asma berteriak histeris ketika melihat ikannya di dalan wajan sudah berwarna hitam legam. Ida memasang wajah polos tanpa dosa.
Bersambung