
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
โค Happy reading โค
๐ธ๐ธ๐ธ
Asma membereskan semua barang-barangnya. Sibuk kesana kemari sembari menitikkan air mata. Ida hanya mengamati duduk di tepi ranjang dengan diam tak mengomentari apa-apa.
"Ma-maaf Da," lirih Asma sembari menunduk saat sudah selesai membereskan semua barangnya. Ia duduk di sebelah Ida. Sedangkan sahabatnya itu masih diam tak bersuara.
"Aku gak akan bertemu dengan calon suami kamu lagi, sekali lagi maaf." tangan Asma mengusap kasar air mata di pipinya. Kemudian tangan itu meremass gamisnya. Menggigit bibir malu. Perasaannya semakin tak menentu saat Ida tak merespon ucapannya. Wanita itu hanya menatapnya dengan sorot mata yang tak dimengerti Asma.
Beberapa saat berlalu, hanya hening yang menyelimuti dua wanita ini. Kemudian terdengar Ida menghela nafas kasar.
"Aku marah sama kamu!" mata Asma membesar. Lalu dengan sorot mata memelas ia menatap Ida.
"Bukan karena kamu pelukan sama Reno, tapi karena kamu kayak gini." Asma menautkan alisnya. Angin malam masuk menembus celah pintu yang tak tertutup rapat. Tapi tatapan Ida justru membuatnya panas. Seperti mengintimidasi bagian dalam dirinya.
"Asma, dengerin aku ...." Ida meraih jemari Asma. Mengenggamnya dengan erat.
"Sampai kapan kamu lari dari masa lalu padahal itu adalah bagian dari kehidupanmu?" Asma terdiam. Ida mengusap pelan punggung tangan Asma.
"Dan sampai kapan selalu menghindar dengan lelaki yang jelas menginginkan kamu?" Asma membulatkan matanya dengan sempurna.
"Kamu salah paham Ida, Reno itu gak gitu maksudnya." Ida tersenyum samar.
"Terus maksudnya apa?" Ida menaikkan satu alisnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat. Seperti tersenyum mengejek kebodohan Asma.
"Maksudnya ...." manik mata biru Asma bergerak. Berusaha mencari kata yang pas. Bingung bagaimana memberitahu Ida bahwa mungkin Reno merindukan dirinya sebagai seorang wanita panggilan.
"Apa coba kalau gak suka?"
"Enggak Ida, maksudnya itu."
__ADS_1
"Apa?" Asma cemberut.
"Apa coba? Jawab!"
"Dia cuma kangen servisku di ranjang!" tangan Asma spontan membungkam mulutnya. Kemudian menatap Ida yang nampak terkesima.
Wajah Asma memerah malu. Menunduk dengan perasaan tak menentu. Kemudian terdengar gelak tawa dari Ida.
"Ya ampun Asma, kamu tuh ya!" Ida tergelak lagi. Sesaat Ida hanya tertawa sedangkan Asma diam tak mengerti. Apanya yang lucu?
"Oke, aku akui mungkin kamu hebat soal 'itu'." mata Asma membulat.
"Tapi kamu terlalu polos soal perasaan." Asma mengerjapkan matanya dengan polos.
"Yang kulihat bukan kayak gitu Asma." nada ucapan Ida berubah serius. Begitu pula raut wajah cantiknya.
"Dari matanya aja kelihatan. Ada rindu dan cinta yang menyatu menjadi satu di mata hitam itu." Ida tersenyum. Matanya kembali mengingat bagaimana tatapan Reno pada Asma. Ia sama sekali tak cemburu. Toh ia juga sangat tak menginginkan perjodohan ini. Tapi ia lupa memberitahu Asma perasaannya yang sebenarnya. Membuat Asma berpikir bahwa ia hanya mengada-ada.
"Hampir semua lelaki mendekati wanita sepertiku karena hanya ingin 'mencoba' lagi." mata Asma berkaca-kaca. Padahal jejak air mata di pipi itu masih membekas nyata.
"Reno mungkin sama, berpikir mungkin bisa melakukan 'itu' lagi ... Bersamaku." suara Asma sangat pelan saat mengucapkan kalimat terakhir. Ida tersenyum samar.
"Aku juga wanita yang kayak gitu Asma." Ida Mengingatkan tentang dirinya sendiri. Ia tersenyum getir.
Tok tok tok
Suara pintu membuat mereka tersentak. Kemudian pintu itu terbuka begitu saja. Menampilkam Syifa dengan gamis pink dan pashmina warna senada.
"Eh kalian kenapa?" Syifa menatap kedua temannya yang nampak muram.
"Kok pulang jam segini? Kenapa gak besok pagi aja?" Ida menatap Syifa yang langsung cemberut.
"Ngusir yaa?" tanya Syifa dengan nada memelas.
__ADS_1
"Bukannya gitu, heran aja kok berani tengah malam gini pulang sendirian. Kamu cewek bukan sih?!"
"Ya iyalah, mau liat?" Syifa melepaskan tasnya. Berdiri di hadapan kedua temannya sembari melepaskan hijab dan kaos kaki.
"Amit-amit!"
"Bilang aja kalah lebat?" Asma dan Ida menatap Syifa dengan mata membulat.
"Sialan!" gerutu Ida. Asma menggelengkan kepala.
"Jadi kenapa kalian muram kek gini? Tuh muka kaya habis ngapain aja!" Syifa duduk di sebelah Ida. Sehingga wanita bermata cokelat itu di apit dua temannya.
"Asma tadi ketemu pelanggan terakhirnya," jawab Ida.
"Astaghfirullah!"
"Ternyata memang Reno Dwija Sanjaya!"
"Alhamdulillah!" Asma menatap Syifa dengan memutar bola mata.
Ida tergelak.
"Gantengkan? Lumayan," kekehnya dengan menggaruk kepala yang mungkin tak gatal.
Ida tergelak lagi
Asma cemberut.
Bersambung
Mohon maaf baru up๐ญ
Zaraa lagi down, karena pengajuan kontrak ditolak lagi. Alasannya gak masuk akal banget. ๐ btw, ini gak usah terlalu ditunggu yaa ^_^ Dan maaf per chapter cuma sedikit. Karena ini semampunya. Tolong dimaklumi kekurangan ini๐
__ADS_1