
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
❤ Happy reading ❤
🌸🌸🌸
"Astaghfirullah Dit, Gue gak bisa!" Reno mendengus kesal. Begitu pula yang ia dengar di seberang sana. Tangan Reno mencengkeram erat ponselnya.
"Gue gak mau tau! Besok pagi Gue jemput!"
Sambungan terputus. Reno hampir saja membanting ponselnya jika tidak merasakan sentuhan hangat di bahunya.
"Sabar, lagi puasa 'kan?" Ummi menatap Reno dengan tatapannya yang teduh. Tangannya beralih ke punggung. Mengusap pelan. Berusaha menyalurkan ketenangan. Akhirnya, Reno mengembuskan napas tenang.
"Sini duduk dulu," titah Ummi dengan suaranya yang lembut. Reno menurut. Duduk di sebelah Ummi. Sofa panjang satu-satunya yang ada di ruang itu.
"Reno kesel Mi, Adit besok jemput. Katanya ada masalah di kantor! Gak becus banget! Nyuruh-nyuruh gitu kayak dia aja bossnya." gerutu Reno dengan mata merah. Untuk pertama kalinya ia marah dan merasa Adit keterlaluan. Padahal biasanya memang seperti itu yang di lakukan sahabatnya. Mengingatkannya.
"Adit 'kan juga manusia. Ada beberapa hal yang gak bisa dia selesaikan. Apa lagi dia cuma asisten. Kemampuan maupun kecerdasannya gak sebanding sama anak Ummi." nada kebanggaan itu sukses membuat Reno terkekeh. Selalu begitu, jika ia sedang marah. Ummi akan menenangkan dengan tenang dan sesekali memuji. Tak tik paling jitu sebagai orang tua.
"Tapi Reno masih mau di sini Ummi," ucap Reno dengan raut wajah sedih. Ummi menautkan alis.
"Kan bisa kesini lagi nanti," lanjut Ummi sembari tersenyum. Reno hanya mengangguk pasrah. Jika hanya karena ingin kebersamaan dengan keluarga ia tak seperti ini. Tapi ini mengenai Asma. Ia takut Asma pergi lagi dan ia akan sulit menemukan wanita itu lagi. Abi dan Ummi memang sudah tau bahwa Reno tak ingin menikah dengan Ida. Abi marah dengan diam hingga sekarang. Tapi Ummi mengatakan sebenarnya Abi sedang memikirkan alasan agak tak menyinggung papa Ida. Memutuskan perjodohan bukan perkara yang mudah.
__ADS_1
Reno ingin memberitahu bahwa ia siap menikah. Tapi dengan Asma. Entah mengapa wanita dengan manik mata biru itu membuatnya hampir gila. Hanya dengan satu malam kebersamaan berdua. Ia bahkan melindungi perangkat lunak ponselnya dari hacker yang ingin menghapus satu-satunya foto Asma yang tersisa. Saat itulah Reno menyadari. Asma mungkin sudah hijrah. Itu sebabnya ia tak menemukam Asma di sosial media maupun tempat hiburan yang menyediakan PSK.
Selama dua tahun ia mencari Asma. Mencari di berbagai tempat hiburan yang menjaja PSK. Berharap kembali bertemu Asma dan membujuk wanita itu agar bersamanya. Saat itu Reno pikir ia hanya terobsesi atas sensasi saat ia dan Asma menyatukan diri. Tapi ia salah.
Ada getaran tak biasa di dada ketika menatap manik mata biru Asma yang seperti samudra. Ketika menatap warna biru itu, Reno seperti terisap dan tenggelam ke dalam sebuah perasaan yang menyenangkan. Perasaan yang ia tau adalah awal dari rasa cinta. Sekarang ia berada dalam tahap itu. Cinta.
Anggap saja ia gila hanya karena pernah tidur dengan seorang wanita seperti Asma membuatnya berakhir jatuh cinta. Ia tak peduli atas segala pemikiran orang lain mengenai dirinya. Satu hal ketakutan Reno. Perkataan dan opini masyarakat dan keluarga membuat Asma tersakiti. Hal itu yang akhirnya menahan Reno untuk bicara mengenai Asma.
Ia takut jika di sembunyikan pada Abi dan Ummi mengenai masa lalu Asma hal itu justru akan menjadi kebencian di kemudian hari. Ia memilih untuk memberitahu kedua orang tuanya tapi bagaimana? Apakah ada orang tua yang setuju putranya menikah dengan mantan PSK?
"Eh kok ngelamun!" Reno tersentak dan menatap Ummi.
"Ya udah, seenggaknya sekarang udah tenang. Jangan ngelamun. Ummi mau ketemu adikmu dulu!" wanita paruh baya itu beranjak dengan wajah sumringah. Membuat Reno menautkan alisnya.
"Dhika kemaren bilang sama Abi dan Ummi mau ngekhitbah Asma. Abi bilang tanya dulu sama Asma. Sekarang ummi gak sabar denger jawaban Asma dari Dhika." Ummi berbalik, melangkah pergi dan tak menyadari perubahan raut wajah putra sulungnya.
***
Semburat jingga dari matahari tenggelam membuat pemadangan indah pematang sawah lebih terasa menenangkan. Dua wanita sedang duduk di salah satu pondok di pinggir sawah dengan wajah tenang. Salah satunya memejamkan mata. Menghirup pelan atmosfer sejuk di sekitar mereka.
"Eh, ntar ketiduran!" Ida tersentak dan menatap Asma dengan mengerucutkan bibirnya.
"Gak mau yaa kalau harus repot bangunin kamu. Awas aja kalau ketiduran," imbuh Asma dengan menahan tawa.
__ADS_1
"Apaan sih! Orang gak tidur kok," sahut Ida sembari mengalihkan pandangan ke beberapa burung yang tak jauh dari mereka. Asma tertawa kecil. Sesaat hening.
"Kamu ngerasa ada yang beda gak sih sama Syifa?" tanya Ida sembari menatap Asma.
"Oh yaa?" gumam Asma pelan. Dahinya berkerut dalam memikirkan apa yang Ida katakan. Rasanya sikap Syifa tak ada yang beda. Tapi Asma tau, Ida jauh lebih peka dan perasa di banding dirinya. Kelemahan Asma adalah tak bisa menebak sikap atau perasaan orang lain.
"Iya, kayak ada kekhawatiran gitu. Setiap hari ia kayak sibuk sendiri. Tadi aja kita ajakin kesini nolak kan?"
"Tapi kan tadi karena dia mau mengaji. Bukannya sibuk sendiri. Dia kan sering sama Ustadzah Kulsum." Asma bingung. Apa yang Ida katakan sangat tak masuk akal. Sebelumnya Asma ingin pergi atas sikap Reno yang melepas Khimarnya dengan kasar. Lebih tepatnya, ia ingin menghindari masa lalunya. Tapi Syifa menahan Asma dan mengatakan minta waktu beberapa hari lagi untuk belajar Islam. Tentu saja Asma menurut. Memilih lebih lama di sini tapi lusa mereka sepakat pergi.
"Gak, itu cuma alasannya aja. Matanya itu beda kalau ngelihat kamu. Ada sorot ... bersalah?"
"Ngomong apa sih Da, aku pusing. Mending sekarang kita balik ke pesantren. Bentar lagi buka puasa."
Ida menurut dan mereka menuju pesantren yang tak jauh dari tempat itu. Ida memang merengek minta di temani jalan-jalan di sekitar sini pada Asma.
***
Reno menatap foto Asma di ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika Asma menerima lamaran Dhika? Terlebih ia tau, sebenarnya Asma menghindarinya sedari kejadian yang lalu. Bagaimana jika Asma menghindarinya dengan menikahi Dhika? Itu bisa jadi bukan? Membuat Reno tak berkutik karena jika itu terjadi ia kalah dan tak bisa menganggu pernikahan adiknya sendiri.
"Maaf Asma ...." Reno menghela napas lelah. Jalan satu-satunya agar Asma bersamanya adalah membuka aib mereka. Hubungan yang pasti membuat orang tuanya kecewa.
Bersambung
__ADS_1