Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 42


__ADS_3

Asma menghela napas berat sembari meremass gamisnya dengan erat. Wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin rias sembari mengerjapkan mata. Ia sudah memakai khimarnya dan berkali-kali berusaha menghela napas karena sesak di dada.


Wanita itu tak tau mengapa ia begitu merasa sesak melihat mereka. Padahal saat kemarin Reno berbicara padanya dengan kalimat yang memiliki makna. Asma menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa tak mungkin ada kata 'kita'.


"Astaghfirullah ...." Lagi, Asma menghela napas berat sembari mengerjapkan mata untuk mengusir air mata. Dengan cepat ia berjalan keluar kamar dan menuju ruang tamu. Terlihat Camilla serta Reno dan Ali duduk di sofa. Asma terkesiap saat Camilla mendaratkan tangan lentiknya di atas tangan kekar Reno. Lelaki itu juga tertegun kemudian menarik tangannya sendiri agar menjauh dari tangan Camilla.


Asma berdehem pelan yang membuat mereka tersadar. Dalam suasana kecanggungan, Asma mengatakan, "Jadi gak ke Spa?"


Camilla menatap Asma dan menyahut wanita itu, "Jadi Kak, bolehkan ajak Mas Reno?"


"Apa yang kau katakan Camilla?"


Suara dari Dariel membuat mereka menatap asal suara. Reno berdiri dan mengangguk hormat pada lelaki itu.


"Duduklah," ucap Dariel ramah. Lelaki itu menatap Asma yang masih berdiri.


Asma mengerti sorot mata sang ayah. Ia kemudian mengambil Ali di pangkuan Reno yang membuat bocah itu meronta.

__ADS_1


"Ayah!" Ali meronta sembari mengulurkan tangannya seolah tak mau di pisahkan dari sang ayah. Asma yang membeku karna satu kata itu masih terdiam lalu secara spontan Ali turun dari gendongan Asma dan kembali duduk di pangkuan ayahnya.


Asma kemudian duduk di sebelah Dariel dengan memberengut kesal. Hingga ucapan Camilla kembali mengalihkan perhatiannya.


"Tak apa 'kan Padre? Mas Reno ikut kami?" tanya Camilla dengan mata berbinar.


Dariel mendekatkan kepalanya pada Asma lalu berkata, "Sepertinya adikmu menyukai dia," bisiknya.


Asma menautkan alisnya sembari menatap sang ayah. Melalui sorot mata ia seolah bertanya apa sang ayah ingin Reno menjadi suami Camilla. Tapi tentu saja, sang ayah tak mengerti apa maksud Asma.


Mata Asma berkaca-kaca mendengar hal itu. Jadi apa maksudnya sang ayah menyetujui hubungan Reno dan Camilla? Wanita itu menundukkan wajahnya.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Ali," ucap Reno sembari menatap Dariel kemudian putranya yang berada di pangkuan. Ia begitu sibuk namun hari ini memutuskan tak ke kantor karena ingin bermain bersama Ali lalu mengapa harus memilih menemani dua wanita ke Spa? yang benar saja?


jika hanya Asma mungkin ia setuju tapi sikap Camilla yang terlihat sekali tengah mengincarnya membuat lelaki itu tak perlu berpikir dua kali untuk menolak ajakan itu.


"Ah sayang sekali ...." sahut Camilla sembari mendesah kecewa. Hingga kedatangan pelayan membuat gadis itu memusatkan perhatian.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dariel dengan nada tak suka. Berani sekali pelayan ini menyela pembicaraan mereka! pikirnya. Dariel menatap tajam pelayan itu.


"Tuan Muda baru saja tiba," ucap pelayan itu yang membuat semua orang di ruangan itu membeku.


"Apa? Ken?!" Camilla berdiri dan siap melangkah hingga seorang lelaki tampan yang tiba di hadapan mereka membuat gadis itu terdiam.


"Ken!" teriak Camilla sembari berjalan ke arah laki-laki itu. Ia memeluk dan mengecup pipi saudaranya itu.


"Padre ...." Kent berjalan menuju sang ayah kemudian memeluk lelaki paruh baya itu.


"Bagaimana kabarmu Kent?" tanya Dariel dengan tatapan lembut.


Bersambung


Visual Kent


__ADS_1


__ADS_2