
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
β€ Happy reading β€
***
Tok tok tok
Ketukan di pintu membuat Syifa dan Ida saling tatap. Sedangkan Asma duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong ke sembarang arah.
Tok!
Lagi, suara ketukan disertai gedoran di pintu membuat Ida terlonjak kaget. Asma juga tersentak dari lamunannya. Ia kemudian memakai kembali khimarnya. Sedangkan Syifa membuka pintu asrama mereka.
Terlihat seorang lelaki paruh baya dengan wajah merah padam berdiri di hadapan Syifa. Syifa mengernyitkan dahi tak mengenal lelaki ini. Dan tak pernah melihat juga di sekitar sini.
"Papa?" Syifa berbalik menatap Ida. Kedua mata Ida dengan iris kecokelatan itu membesar.
"Ayo pulang sama Papa," ucap Damar tegas. Ada kilat kemarahan di mata tajam ayahnya. Membuat Ida sedikit heran bercampur takut.
"Papa gak suka mengulang perintah Ay!" imbuhnya saat melihat Ida masih mematung. Damar menatap tajam satu persatu ketiga wanita di ruang itu.
"Ay memang mau pulang kok Pa, tapi sama Syifa dan Asma," sahut Ida lembut lalu mengambil koper kecilnya.
"Papa seharusnya gak perlu repot-repot jemput Ay," imbuh Ida sembari memberi kode pada Syifa untuk membantunya mengangkut barang-barang mereka. Asma juga ikut membantu.
"Pulang sama Papa!" Damar menarik tangan putrinya dengan kasar.
"Pa, lepasin!" Ida meronta saat ayahnya terus menariknya hingga di teras asrama. Malam yang sudah larut membuat suara Ida cukup nyaring menggema di sana-sini.
__ADS_1
"Sakit Pa, lepasin!" Ida menyentakkan lengan yang di cengkram ayahnya. Kemudian mengelus perlahan. Ia tak berbohong. Ayahnya sepertinya sedang marah. Oleh karena itu, meninggalkan rasa perih dan bekas di lengan Ida.
"Papa kenapa sih!" gerutu Ida sembari membalas tatapan tajam ayahnya.
"Damar?" kedua ayah dan anak itu menatap asal suara. Terlihat abi dan ummi serta ketiga lelaki muda seusia Ida di belakang mereka.
"Kok gak bilang mau kesini?" tanya Dimas ramah. Ia baru saja tau dari penjaga gerbang pesantren. Karena penjaga itu sudah lama bekerja di sini beliau maka mempersilakan Damar masuk meski sudah tengah malam. Sebab ia tau, Damar dan Dimas bersahabat.
"Maaf Dimas, Aku menjemput putriku." Damar menatap ke sebelah putrinya. Terlihat tangan Ida tengah mencoba membantu membawakan tas Asma.
"Hei!" Ida terlonjak kaget atas teriakan ayahnya di sertai tangan kekar yang menariknya.
"Kenapa sih Pa?" dahi Ida berkerut dalam.
"Papa gak suka anak gadis Papa berteman sama ******* kayak DIA!"
"Astaghfirullah Papa!" Ida menatap ayahnya dengan nanar. Semua orang di sana juga terlihat membeku. Asma sendiri menundukkan kepalanya dengan dalam.
"Damar," tegur Dimas sembari mendekat.
"Tenanglah dulu," imbuhnya lembut.
"Bagaimana aku bisa tenang Dimas! Aku takut, putriku terpengaruh dengan sikapnya yang tercela! Dia hanya menyembunyikan dosa di balik khimarnya!"
Napas Damar tersengal. Matanya yang merah sudah sangat jelas menunjukkan ia sedang marah.
"Tolong Om, jangan kayak gini," ucap Reno yang ikut mendekat.
"Maaf, aku hanya ingin membawa putriku pulang," ucap Damar dengan intonasi pelan. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah karena beberapa penghuni pesantren mulai berdatangan melihat keributan yang ia ciptakan.
__ADS_1
"Itu hanya setitik noda di diri Asma," ucap Ida pelan dengan mata berkaca-kaca. Semua orang di sana mengalihkan pandangan ke Ida.
"Mengapa semua orang menghina wanita yang memiliki masa lalu sepertinya? Bukankah semua manusia memiliki dosa? Di bandingkan segala dosa di dunia. Asma hanya memiliki setitik noda," imbuh Ida dengan bibir gemetar menahan tangis. Ia sangat ingin memberitahukan tentang dirinya. Tapi ia masih tak punya keberanian sebesar itu.
"Itu dosa bukan noda!" ucap Damar geram. Ia tak habis pikir mengapa putrinya sangat membela teman yang tak seberapa lama ia kenal.
"Ya, itu dosa. Dosa yang sangat besar Pa, tapi di bandingkan diri Asma yang sekarang. Itu hanya noda. Noda yang sangat kecil di bandingkan segala sikap terpuji yang ada dalam akhlaknya. Dibandingkan kebaikan yang telah banyak ia berikan," sahut Ida sembari menatap tajam satu persatu semua orang yang ada di sana.
"Tapi semua hanya memandangnya dari sudut pandang masa lalu. Karena Kenyataannya semua manusia sama. Seribu kebaikan kalah oleh satu keburukan. Tapi Ay gak mau jadi manusia kayak gitu Pa, gak mau!" Ida mendekat pada Asma. Menggenggam tangan Asma dengan erat.
"Ay gak tau, Papa tau hal ini darimana. Tapi satu hal yang harus Papa tau, Asma dan Ida adalah satu. Kami akan terus bersama di jalan-Nya. Gak peduli jika di jalan ini ada begitu banyak orang yang menatap kami dengan sebelah mata dan menghina kami secara terbuka."
Semua orang membeku.
"Ay!" bentak Damar dengan matanya yang tajam.
"Damar istighfar, ayo ke rumahku dulu," ucap Dimas sembari memegang lengan sahabatnya.
"Da, mending sekarang Kamu bawa Papa Kamu dulu ke rumah Abi. Biar aku di sini, nemenin Asma," ucap Syifa sembari tersenyum menenangkan. Ida mengangguk pelan.
Bersambung
Mohon maaf baru up :(
Selain karena kehidupan nyata yang sangat sibuk juga. Zaraa lebih fokus sama novel yang udah kontrak. Jadi, Zaraa mau ngasih tau, kalau mulai sekarang NDBK mungkin agak selow updatenya. Tapi tetap aja. Dalam seminggu Zaraa usahakan harus ada Up. :))
Maafkan keterbatasan Zaraa yaaβ€
Terimakasih untuk yang sudah like, komen dan vote π
__ADS_1
Bentar lagi idul fitri. Mohon maaf lahir batin yaa. ππ½