Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
Bonus Chapter


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


"Ali!"


Bocah berumur tujuh tahun itu menatap sang ayah dengan malas. Reno menghela napas berat.


"Ayah mau marahin Ali sekalian aja sekarang," ucap bocah itu dengan santai.


"Ali! Ya Allah Nak ...." Teriakan itu dari bunda Asma. Ia menatap sang putra yang nampak kacau. Suaminya memang baru saja menjemput Ali karena putra pertama mereka itu dilaporkan terlibat perkelahian di sekolah. Asma tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia tau, Ali bukan anak yang suka seperti itu.


"Ayo masuk dulu!" Asma berucap sembari menatap dua lelaki dalam hidupnya yang teramat ia cintai dari dulu hingga saat ini.


Di dalam rumah keluarga Sanjaya, Asma membawa Ali duduk di sofa. Bocah berseragam SD itu sejak tadi hanya diam. Bersiap menerima segala hukuman dari dua orang tuanya.


Sembari mengobati luka Ali pada sudut bibirnya. Asma bertanya, "Kok bisa kayak gini sih? bukannya bunda udah bilang yaa gak boleh kelahi?"


Ali menatap sang bunda dengan sorot mata memelas. Sementara Asma setelah membalas tatapan putra pertamanya, ia menatap sang suami. Reno Dwija Sanjaya.


Lelaki itu hanya diam. Mungkin sama takut seperti dirinya. Takut bahwa alasan perkelahian Ali terjadi karena mereka berdua. Karena ia dibully sebab terlahir sebelum pernikahan mereka.


Reno mengusap kasar wajahnya. Bagaimana pun ia harus menghadapi hal ini. Ia menatap Ali dengan sorot mata tegas lalu berucap, "Jelaskan semuanya!"


Ali menunduk takut. Ia menatap sang bunda dulu untuk meminta keberanian. Saat Asma menganggukkan kepala, Ali mulai berbicara.


"Mereka gangguin Melati."


Dari Reno berkerut dalam. Begitu pula dengan Asma. Ia lalu bertanya, "Melati? siapa?"

__ADS_1


"Temen Ali." Bocah itu menghela napas kasar lalu kembali berujar, "Maaf ayah, bunda. Tapi Melati seharusnya di tolongkan?"


"Iya, tapi dengan melakukan kekerasan. Ali juga sama seperti mereka." Asma berucap sembari menatap dalam mata biru sang putra.


"Enggak Bun." Mata Ali memangkas tatapan mereka. Sejenak menatap ayahnya yang duduk di sofa berhadapan dengan bunda dan dirinya. Ali kemudian berkata, "Namanya Paul Warfield Tibbets JR."


Reno dan Asma saling berpandangan. Lalu kembali memfokuskan perhatian pada Ali.


"Dia orang yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan mengaku gak pernah nyesal sama aksinya."


"Astaghfirullah!" Asma memegang dada dengan mata membulat sempurna.


"Mungkin ayah dan bunda memang menganggap Ali salah."


"Kamu memang salah!" tukas Reno dengan alis yang bertaut. Tak suka atas tindakan sang putra yang seolah merasa tak bersalah. Meski perkelahian terjadi untuk menolong seorang teman tapi bukankah lebih baik menghindari? begitu pikirnya.


Reno dan Asma terdiam. Ali mengangkat kepalanya dan menatap sang ayah dengan berkata, "Kalau Ali gak mukul mereka hari ini. Kemungkinan besar mereka akan terus menyakiti orang lain. Tindakan Ali memang salah dengan melakukan kekerasan. Tapi semua terjadi untuk kebaikan."


"Ali ...." Asma berucap dengan lirih karena pusing dengan pemikiran putranya.


Ali menatap sang bunda yang duduk di sebelahnya lalu berkata, "Dan Bunda pernah bilang. Bahwa banyak hal buruk dan kejahatan terjadi di dunia bukan karena lebih banyak orang yang jahat tapi karena banyaknya orang baik yang hanya berdiam diri tanpa mau peduli."


Kedatangan Abi membuat ketiganya teralihkan perhatian. Dengan raut wajah panik. Ali langsung di tanya mengapa bisa luka-luka.


"Ali gak papa," ucap bocah itu sembari menatap kakek dan neneknya.


"Beneran gak papa? kita ke rumah sakit aja yaa?" Umi berucap dengan khawatir.

__ADS_1


Ali menggelengkan kepala. Bocah itu hanya berumur tujuh tahun namun terlihat lebih dewasa dari usianya. Membuktikan satu hal. Bahwa bagaimana pun anak itu terlahir sebelum pernikahan. Ia tetap seorang anak biasa yang akan menjadi anak baik dengan didikan dan lingkungan yang seharusnya.


"Oom!" Ali berlari ketika melihat adik dari ayahnya. Ustad Dhika.


Dhika membawa Ali dalam pelukannya lalu bertanya, "Gimana kabarnya Ali?"


"Udah nakal. Berani kelahi karena cewek," sahut Reno sembari berdiri. Ali memanyunkan bibirnya. Reno pamit pada Abi dan Umi ke kamar. Asma mengikuti suaminya.


"Alhamdulillah baik Om." Ali tersenyum lebar. Melupakan ucapan sang ayah. Saat melihat koper besar yang di bawa oleh kepala pembantu keluarga Sanjaya. Anak itu kembali berkata, "Om gak pergi lagi 'kan?"


"Enggak," sahut Dhika sembari tersenyum. Lelaki itu baru saja menyelesaikan S2 di Kairo.


Saat Umi membawa Ali ke dalam. Untuk membantu mengganti baju seragam bocah itu yang masih melekat di tubuhnya. Abi dan Dhika duduk di sofa hanya berdua.


"Sekarang rencana kamu apa?" tanya Abi.


"Ngurusin pesantren sesuai kemauan Abi," sahut Dhika datar.


"Tapi sebelumnya mau nikah dulu."


Abi tertawa mendengarnya lalu bertanya, "Emang udah ada calonnya?"


Dhika menganggukan kepala. Lalu bertanya, "Bi ... Gimana kabar Om Damar sama Ida?"


***


Jangan lupa likenya yaa ❤

__ADS_1


__ADS_2