Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 25


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


🌸🌸🌸


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam." Ummi keluar dari rumahnya memakai gamis berwarna cokelat serta khimar dengan warna senada. Beliau tersenyum di balik khimarnya ketika menatap ketiga wanita yang berada di depan rumahnya.


"Ayo masuk Nak," ucap Ummi lembut dengan tatapan hangat. Asma, Ida, dan Syifa masuk ke rumah dan duduk anggun di sofa.


"Semuanya puasa? Ada yang enggak? Biar Ummi suguhkan minum." mereka bertiga serempak menggeleng.


"Kami kesini mau pamitan Mi," ucap Ida sembari tersenyum manis.


"Besok kami pulang," lanjut Asma menjelaskan.


"Gak bisa lebih lama lagi yaa?" tanya Ummi dengan sorot mata berharap.


"Maaf Mi, tapi papa udah cerewet. Katanya Ida lebih sayang sama calon mertua daripada papa sendiri," sahut Ida sembari tertawa kecil. Ummi ikut tergelak. Tapi meringis dalam hati bahwa perjodohan ini memang tak bisa di lanjutkan. Ia maupun Abi tak bisa memaksa Reno.


"Oh iya, Papa kamu bener. Kasian beliau sendiri." Ummi tersenyum meski masih berat hati.


"Mohon maaf Ummi, kalau selama kita di sini udah ngebuat salah dan ngerepotin," ucap Syifa sembari tersenyum kikuk.


"Gak sama sekali. Lain kali kesini lagi yaa? Seluruh pesantren menyambut kalian dengan tangan terbuka," sahut Ummi dengan nada antusias. Justru terdengar sebagai perintah bagi mereka bertiga.


"Abi ada Mi?" tanya Ida


Tok tok tok!


"Assalamualaikum!"


Keempat wanita spontan terdiam. Lalu menatap arah suara.


"Bentar yaa," ucap Ummi sembari berdiri membuka pintu. Tak berapa lama, masuk seorang pemuda tampan dengan kulit sawo matang. Garis-garis wajah khas lelaki jawa. Cukup mempesona. Raut wajah datar dan sorot mata tajam.


"Masuk aja ke kamarnya Dit, paling lagi tidur," ucap Ummi pada pemuda itu. Asma dan Ida menatap pemuda itu sekilas lalu menundukkan pandangan. Berbeda dengan Syifa yang masih menatap Adit secara intens.


"Pagi-pagi begini tidur?" Adit menggelengkan kepalanya pelan. Ummi hanya menanggapi dengan mengangguk dan terkekeh. Mata Adit menyapu ruangan. Hingga pandangannya menyatu dengan manik mata biru gelap milik Syifa.


"Syifa!" Ida menyikut pelan pinggang Syifa. Membuat pemiliknya tersentak dan langsung mengerti untuk menundukkan pandangan.

__ADS_1


"Maaf, khilaf," gumam Syifa pelan. Asma menahan tawa sedangkan Ida menggelengkan kepala.


"Oh ya Nak, pulangnya besok pagi aja yaa. Nginap dulu semalam di sini." Adit mengangguk lalu melangkah ke kamar Reno.


"Ya udah Mi, kami pamit dulu yaa," ucap Asma sembari berdiri. Di ikuti Ida dan Syifa.


"Sampaikan salam dan terimakasih kami sama Abi." Ida menimpali.


***


"Ke mana?"


"Mushola," sahut Syifa sembari menatap Ida yang rebahan santai.


"Mau ikut?" Ida menggelengkan kepala. Mereka sedang di asrama sedangkan Asma sudah lebih dulu ke mushola.


"Yakin? Sekarang udah masuk malam-malam Lailatul Qadr. Gak mau memperbanyak pahala gitu?" tanya Syifa beruntun sembari mendekat pada Ida.


"Sekarang masih siang," sahut Ida asal lalu mulai memejamkan mata. Bersiap melayang ke mimpi indahnya.


"Ish! maksud ku itu bukan kayak gitu," gerutu Syifa pelan.


"Iya-iya, udah sana ke mushola. Lagian kenapa ke asrama dulu coba!" gerutu Ida masih dengan mata terpejam.


"Syifa." Syifa menatap Ida yang membuka matanya. Wanita itu lalu duduk dan menatap Syifa dengan raut wajah serius.


"Kamu lagi ada ... Masalah?" tanya Ida hati-hati. Ia mengamati setiap perubahan raut wajah cantik Syifa. Wanita itu terdiam dengan menunduk. Satu kesimpulan Ida. Benar pemikirannya.


Sesaat hanya hening. Syifa masih terdiam dengan raut wajah yang tak di mengerti Ida.


"Meskipun kamu sangat misterius. Maksudku ...." Ida menghela napas.


"Maksudnya aku gak tau siapa sebenarnya kamu. keluarga atau asal seorang Jean. Tapi sejak kita bersama bertiga. Bagiku, kamu maupun Asma udah kaya saudara. Aku menikmati setiap kebersamaan kita."


Ida menatap manik mata biru gelap Syifa dengan dalam.


"Terserah mau cerita apa enggak, aku gak maksa. Satu hal yang harus kamu tau, kami siap dengerin keluh kesah kamu, cerita kamu, atau apapun yang mengganggu kamu." Ida tersenyum manis. Sedangkan mata Syifa sudah berkaca-kaca. Jari-jarinya memucat mencengkeram mushaf Al-Quran kecil di tangannya.


"Udah ah sana, awas aja masih ngebujuk aku ke mushola!" Ida melotot pada Syifa dengan raut wajah galak.


Syifa tergelak.


***

__ADS_1


Syifa menghela napas. Menatap sekilas Asma yang tengah membaca Al-Quran. Mereka baru saja selesai sholat tarawih. Asma terus menghabiskan waktunya untuk membaca Qalam Allah. Sesekali manik mata biru terang itu berkaca-kaca.


Lindungi Asma Ya Allah


Syifa berdiri dan melangkahkan kaki ke asrama. Ia yakin sekarang Ida pasti sudah di asrama. Dengan sisa keberanian yang ada. Ia siap memberitahu yang sebenarnya pada Ida. Meski itu mungkin membuat keretakan pada hubungan persahabatan mereka.


Syifa menghela napas sekali lagi sebelum membuka pintu asrama. Ia masuk dan menatap Ida yang tengah memainkan ponselnya. Duduk di sebelah Ida di tepi ranjang dan mulai berdehem pelan.


"Besok kita berangkat jam berapa?" tanya Syifa


"Kata Asma siang. Aku maunya sore," sahut Ida tanpa menatap Syifa. Masih asik dengan layar ponselnya.


"Da, aku mau ngomong." Ida menatap Syifa. Siap mendengarkan.


"Jangan bilang kamu mau berangkat pagi?"


Syifa tergelak. Ida ikut tertawa juga.


"Memang ada hal yang mengganggu pikiranku Da," ucap Syifa pelan. Bisa Ida rasakan tubuh Syifa menegang.


Drttt! Drttt!


Ponsel Ida berbunyi sebuah pesan. Ida menghiraukan dan masih menatap Syifa dengan tenang.


"Sebenarnya aku ...."


Drttt! Ddrttt!


Suara ponsel itu membuat ucapan Syifa terpotong.


"Lihat aja dulu Da, siapa tau penting." Ida mengangguk setuju sembari berpikir ia akan mematikan ponselnya jika tak penting.


Apa yang di lihat Ida membuat matanya membesar. Bahkan kerongkongannya tercekat. Wajahnya pucat. Membuat Syifa bingung.


"Kenapa Da?" tanya Syifa pelan


"I-ini ...." mata Ida berkaca-kaca. Ia seolah kehilangan suara. Syifa langsung mengambil ponsel Ida dan matanya membulat sempurna.


Syifa kemudiam mencari ponselnya dan benar. Pesan yang sama seperti di terima Ida.Tubuh Syifa menegang dengan wajah yang tak kalah pucat seperti Ida.


"Kalau kamu nerima pesan ini juga, berarti ...." Ida tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2