
"Aku selalu berlindung kepada Allah atas ketidakpastiaan masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, dari pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak-balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah. " ~Asma Aqilatunnisa~
❤ Happy reading ❤
***
Asma memasang earphone di telinganya. Terdengar suara sholawat merdu. Lalu tangannya kembali mengerjakan sesuatu. Membereskan kamar kost minimalisnya sembari mendengarkan sholawat seperti lagu. Kemudian ia merebahkan diri di kasur kecilnya.
Sebentar lagi, akan ada liburan bulan suci Ramadhan. Asma bingung ia akan menghabiskan waktu liburan itu untuk apa. Restorannya sudah ia serahkan tanggung jawab kepada mba Ina sebelum ia memutuskan kuliah. Lalu Ida ... Entah.
Tugas menumpuk dari dosen membuatnya dan Ida jarang bertemu. Mereka memang beda fakultas tapi fakultas mereka satu gedung. Mengenai Ida, mengingatkannya kembali pada saat mereka terakhir bertemu. Hari itu, Ida memintanya untuk menginap dan Asma menyetujui. Malam mereka menginap di isi dengan bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Karena selain menghindari ghibah, Ida juga nampak sangat penasaran untuk mengetahui kehidupan Asma lebih dalam.
"Jadi kamu cuma cerita ke aku aja kan? Ah senangnya jadi tempat kamu berbagi." Ida tersenyum sumringah saat itu. Seolah baru mendapatkan piala dan piagam.
"Bukan." senyumannya sirna dan kembali menatap Asma.
"Setauku, kamu kan gak pandai bergaul Asma? Hmm ...." matanya bergerak, berusaha mengingat sesuatu. Asma hanya tersenyum, menunggu Ida menyambung kalimatnya
"Oh iya, lelaki terakhir kamu itu yaa? Siapa namanya? Re ...."
"Reno." Asma tersenyum getir. Mengingat mengapa dengan mudahnya ia bercerita kehidupannya pada sosok asing.
"Nama lengkapnya siapa?" Asma menggelengkan kepala. Lagi, Asma mengejek dirinya. Nama lengkapnya saja bahkan ia tak tau sedangkan pemuda itu sendiri tau nama lengkapnya.
"Serius kamu gak tau nama lengkapnya?" Mata Ida membesar. Nampak kembali terkejut bahwa makhluk di hadapannya merupakan salah satu orang yang acuh dan tak terlalu suka bersosialisasi.
__ADS_1
"Iya, biasanya kan aku dapat pelanggan yang om-om gitu. Jadinya gak perlu tau namanya, aku manggil om, yang penting dapat duitnya. Meskipun ada beberapa juga yang masih muda tapi cuma Reno yang beda." Asma tersenyum geli, mengingat bahwa ia menjadi wanita pertama pemuda itu. Sebagaimana lelaki, wanita juga ada rasa bangga ketika kata 'pertama' di sematkan pada dirinya.
"Beda gimana?" tanya Ida sembari menautkan kedua alisnya.
"Beda aja." Sesaat hening. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hingga pertanyaan Ida memecahkan keheningan di antara mereka.
"Apa yang membuat kamu tetap bertahan Asma? Kamu tau 'kan. Aku aja hampir bunuh diri," ucap Ida pelan sembari matanya menerawang.
"Aku selalu berlindung kepada Allah atas ketidakpastiaan masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, dari pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak-balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah." Asma tersenyum menenangkan. Seolah memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Semua akan baik-baik saja.
"Jadi karena kamu percaya sama Allah?" Ida menatap mata biru Asma. Lalu Asma menganggukkan kepala. "Aku percaya pada-Nya."
Brakk!!
Suara itu terdengar dari sebelah kamar kostnya. Ia tau wanita berjilbab dari Universitas swasta di dekat sini menempati sebelah kamarnya.
Asma kemudian ingat bahwa ada lubang kecil antar kamar mereka. Hatinya penasaran untuk melihat melalui lubang itu. Sejenak berpikir dan mencoba mengusir sikapnya yang kepo pada tetangga sebelah kamar tapi bagaimana jika wanita itu sedang dalam masalah? Ada perampok yang masuk kamarnya atau lebih buruk lagi si pemerkosa?!
Asma menelan saliva lalu menggelengkan kepala. Kostnya khusus wanita dan sangat kecil kemungkinan itu terjadi karena ia hampir tak pernah mendengar berita begitu. Tapi ia menyadari bahwa kemungkinan itu selalu ada. Dengan segenap hati dan sedikit keberanian diri ia mengintip. Baiklah, ia akui ini bukan sikap yang terpuji.
Mata biru Asma bergerak. Melihat keadaan kamar itu berantakan. Baju-baju berserakan. Dan ada baju pemuda. Matanya langsung menangkap dua sosok di atas ranjang. Tenggorokannya tercekat dan mata birunya membulat.
Di atas ranjang itu. Dua orang sedang bergumul dengan peluh di sekujur tubuh. Asma terkesiap untuk beberapa saat. Apa ia di perkosa? Jika di perkosa 'kan seharusnya teriak! Tapi bisa jadi wanita itu tak bisa berkata apa-apa. Asma pernah membaca dalam sebuah page psikologi bahwa seseorang yang mengalami pelecehan seksual mengalami mobilitas. Keadaan di mana sang korban tertegun dan tak bisa berbuat atau berkata. Sekedar berteriak pun tidak. Intinya seluruh organ seolah lumpuh karena sentuhan dari tersangka.
Kedua mata birunya lalu menatap kedua orang itu, matanya kembali membesar. Wanita yang sedang Asma khawatirkan ternyata beralih posisi menjadi yang di atas. Tak mungkin seorang yang di perkosa beralih berganti posisi.
__ADS_1
Asma kemudian menghentikan dari melihat hal itu. Sebelum ia terangsang karena bagaimanapun ia wanita normal yang penah melakukan 'itu'. Asma terkesima ketika bayangannya melakukan 'itu' dengan Reno melintas di pikirannya. Buru-buru ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu melirik jam dinding. Masih pagi tapi kedua orang itu sangat nekat. Memang sih sekarang lagi weekend, beberapa penghuni di sini pulang kampung atau jalan-jalan sekitar kota untuk liburan.
Asma lalu mengambil wudhu untuk sholat dhuha, berusaha kuat menghilangkan bayangan dosa besarnya. Sesekali ia terisak pelan dalam setiap sujudnya. Setelah selesai, justru Asma semakin murka karena mereka bahkan mengeluarkan suara-suara khas orang bercinta!
Asma lalu mengeluarkan Al-Qur'an. Mengaji dengan suara keras semampunya sembari berjanji akan memberitahu hal ini pada ibu kostnya. Jika mereka memang suami istri toh tak apa, tapi jika mereka berzina, Asma juga kena dosanya. Selain karena aktivitas mereka sebenarnya sangat mengganggu Asma.
Sore harinya Asma berjalan pelan ke arah rumah yang tak jauh dari kamar kostnya. Rumah ibu kostnya. Sebenarnya Asma tak pernah melihat beliau karena yang mengatur semuanya ini hanya asisten rumah tangga beliau. Tapi Asma tau, jam sekarang biasanya beliau ada. Beberapa kali Asma menangkap sosok beliau dengan khimarnya.
"Assalamualaikum."
Hening. Asma mengulang kembali salamnya.
"Wa'alaikumsalam." seorang wanita yang memakai cadar berwarna krem menyambut Asma tersenyum di balik cadarnya. Beliau mempersilakan masuk.
Asma duduk di sofa, berhadapan dengan wanita yang ia kira adalah pemilik kost. Tanpa basa-basi Asma langsung menceritakan segalanya. Di awali dengan pertanyaan apa wanita yang tinggal di sebelahnya sudah bersuami? Jawaban dari ibu kost itu, ia tak tau. Tapi Asma kemudian melanjutkan ceritanya sembari menunduk malu.
"Astaghfirullah ... Saya memang kurang tau tentang wanita itu. Karena yang kamu tau, yang mengurus ini biasanya ART saya. Tapi karena beliau sedang pulang kampung maka saya harus segera mempertanyakan hal ini." Wanita anggun bercadar itu berdiri lalu terlihat bertelpon di kejauhan dengan sorot mata serius.
"Ternyata mereka memang melakukan zina. Terima kasih karena sudah melapor yaa ... Hmm siapa nama kamu Nak?" Suara lembutnya membuat Asma sesaat seperti mengenal wanita ini. Asma mengulurkan tangannya yang langsung di sambut beliau. Mata Asma kemudian menatap mata itu dan mengatakan. "Nama saya Asma Aqilatunnisa."
Asma menautkan kedua alisnya ketika melihat mata wanita di hadapannya membesar. Tangannya yang masih bertaut dengan tangan Asma seketika dingin dan kaku. Apa karena beliau terkejut dengan mata biru Asma? Sedari tadi ia menunduk karena hanya ingin berusaha sembunyi sebab mata birunya yang selalu menarik perhatian. Tapi saat wanita paruh baya di hadapannya mengajak berkenalan, bukankah tindakan tak sopan jika ia tak menatapnya?
Bersambung
Tap jempolnya yaa❤
__ADS_1