
Di tengah kepanikan Reno, seorang lelaki paruh baya juga ikut membantunya. Dua pemuda juga membantu termasuk Aditya. Saat berhasil membuka pintu, Asma terlihat mengerjapkan mata dan matanya terasa buram saat melihat wajah Reno.
"Asma! bertahanlah!" Reno mengambil Ali yang ada di pangkuan Asma kemudian memberikannya pada lelaki paruh baya yang bahkan tak ia lihat siapa orangnya
Semua orang menyingkir, Aditya juga ikut menyingkir. Reno sigap mengangkat tubuh mungil wanita bercadar itu lalu menjauh dari mobil dengan langkah tertatih. Tepat setelah mereka menyingkir, mobil meledak.
Semua orang bodoh yang tengah merekam kejadian tersebut berseru takjub. Seperti adegan dalam sinetron atau film, pikir mereka. Hingga kemudian ada yang merekam bagaimana wajah kekhawatiran Reno sembari menatap Asma yang sepenuhnya sudah tak sadarkan diri. Lelaki itu terkesiap saat melihat kerudung Asma berdarah.
"Ayo, kita bawa ke rumah sakit!" seru lelaki paruh baya yang membantunya. Lelaki yang tengah menggendong Ali itu menatap bocah mungil di hadapannya. Entah mengapa ia merasa khawatir juga.
Reno dan lelaki yang tak lain adalah Dariel itu menuju rumah sakit menggunakan mobil mewah Dariel. Asisten Dariel menyetir dengan Dariel sendiri memangku Ali berada di sebelahnya.
Lelaki itu menoleh ke belakang dan terkesima saat Reno sudah melepaskan khimar Asma. Mata Reno terlihat berkaca-kaca.
"Di-dia istrimu?" tanya tuan Dariel terbata-bata.
Reno menatapnya dan berkata, "Tidak, dia orang yang saya cinta."
Tak lama, mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah sakit. Asma maupun Ali langsung di tangani. Ali pingsan karena syok. Bocah itu baik-baik saja. Tapi tidak dengan Asma. Wanita itu kehabisan darah.
"Pasien kehilangan banyak darah. Persediaan kami sudah habis untuk tipe golongan darah A."
Reno cepat menelpon seseorang hingga ucapan dari Dariel membuatnya tercengang.
"Pakai darah saya!" seru Dariel dengan penuh keyakinan. Reno berucap terima kasih padanya.
***
__ADS_1
Saat Asma sedang di tangani, Reno yang berada di ruangan perawatan sedang menatap Ali. Bocah itu masih menutup matanya. Reno memperhatikan wajah mungil itu. Semakin membuatnya terasa familiar.
"Terima kasih Pak," ucap Reno saat Dariel masuk ke ruangan itu.
Lelaki itu mengangguk penuh wibawa. Lalu berkata, "Lalu dia? putra wanita itu?" tanyanya.
Reno terkesiap. Mulai berpikir bahwa itu bisa jadi benar. Mengapa bocah itu terus bersama Asma? Matanya membulat sempurna saat menyimpulkan sesuatu di kepala. Saat dokter masuk untuk memeriksa bocah itu, Reno berkata, "Bisakah lakukan tes DNA. Aku dan dia?" pinta Reno sembari menatap bocah itu.
Dokter mengatakan tentu saja. Hingga ucapan dari Dariel membuatnya terkesima. "Aku juga ingin tes DNA dengan ibunya!"
"Maaf? apa maksud anda?" tanya Reno sembari menautkan alisnya.
"Ceritanya panjang. Bisakah kita lakukan prosedurnya dulu baru membahas hal ini?" sahut Dariel dengan sorot mata tegas. Reno menyetujui.
Saat kedua lelaki itu selesai melaksanakan berbagai prosedur tes DNA, dokter mengatakan bahwa Asma sudah keluar dari masa kritisnya. Hanya menunggu sadar dan membuka mata. Meski begitu, Reno masih belum lega.
Perhatiannya teralihkan pada Dariel yang berada di sebelahnya. Dengan sorot mata, Reno ingin tau apa maksud lelaki itu. Dariel mulai bercerita. Ia berkata, "Dulu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita Indonesia."
"Ma-maafkan Saya Tuan," ucap lelaki yang adalah asisten pribadi Dariel tersebut. "Saya panik," imbuhnya memberi alasan.
"Katakan ada apa?"
"Saya tak bisa mendapatkan info tentangnya. Pihak panti asuhan tempatnya dulu begitu sulit di minta kerja sama. Mereka terlihat jujur semua."
"Bodoh!" umpat Dariel sembari berdiri. Lalu berkata dengan tajam. "Kau lihat sendiri kalau wanita itu terlihat seperti wanita yang baik. Tentu saja tempat tinggalnya dulu pasti dikelilingi orang-orang seperti itu."
"Seharusnya gunakan cara baik-baik. Katakan aku ingin tau apa ia putriku yang ku cari selama ini!"
__ADS_1
Lelaki yang berusia seperti Reno itu nampak terus menunduk mendengar kemarahan Dariel. Ia begitu terbiasa menggunakan cara kotor atau dengan uang. Tak menyangka bahwa masih ada manusia seperti mereka. Jujur dan menjaga info pribadi Asma.
"Aku tau bagaimana cara kita mengetahuinya," ucap Reno yang membuat Dariel berbinar menatapnya.
***
Dariel menatap Asma yang masih belum sadar juga. Berdasarkan info dari pemilik asuhan yang berhasil ia dapatkan dengan bantuan sahabat Asma. Huwaida Ayduha dan Aisyah. Dikatakan bahwa Asma ditemukan di depan pintu rumah panti asuhan dalam keadaan sehat dan sebuah kertas tertulis dalam bahasa Spanyol.
Almarhumah Umi yang menemukannya tak pernah mencoba mencari tau apa arti tulisan itu. Beliau hanya menyimpannya karena memang beliau masih tak mempunyai ponsel saat itu. Dalam tulisan itu di sebutkan bahwa Asma adalah bayi yang dibuang Karena ia perempuan. Tertulis dibuang oleh nama ibunya yang jelas dengan nama belakang Goddard. Meski kemungkinannya belum 100% karena tes DNA belum keluar, tapi Dariel sangat yakin bahwa Asma bayinya. Terlebih wajah itu begitu mirip dengan istri pertamanya. Aira.
Dariel pernah mencintai seorang wanita yang tak lain ibu Asma. Tapi keluarga mereka tak menyetujuinya. Keluarga Goddard ingin menantu yang setara dengan keluarga mereka bukan seperti ibu Asma yang hanya wanita biasa. Dariel tentu tak peduli bagaimana tanggapan keluarganya.
Saat mereka menikah dan Aira mengandung. Keluarga seolah langsung menerima Aira. Tanpa Dariel tau bahwa orangtuanya tengah memikirkan cara dan berbagai rencana untuk menyingkirkan Aira.
Hingga saat Aira melahirkan. Dariel langsung percaya saat dokter mengatakan kedua orang yang ia cintai telah tiada. Lelaki itu menangis dan dalam keadaan terpuruk cukup lama. Hingga menemukan fakta bahwa bayinya kemungkinan besar baik-baik saja karena salah satu staf rumah sakit membocorkan rencana yang telah disusun rapi oleh orang tuanya.
Dariel berusaha mencari bayi itu dan memutuskan tinggal di Indonesia. Puluhan tahun mencari karena orang yang membuang bayi itu juga telah hilang. Dariel tak pernah putus asa mencari bayi yang bahkan tak pernah ia tau apa jenis kelaminnya.
Lenguhan pelan dari Asma menyadarkan lelaki itu. Dariel mendekat dengan mata berkaca-kaca menatap Asma.
"Putriku ...."
Bersambung
Jangan lupa likenya dan banyakin komentarnya yaaa ....
Tambahin juga votenya kalau ada karena itu penyemangat Zaraa π
__ADS_1
Terimakasih atas apresiasi
dari kalian semua β€