Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 15


__ADS_3

❤ Happy reading ❤


🌸🌸🌸


"Dhika!"


Dhika tersentak dan menatap lelaki di hadapannya.


"Ingat! Q.S An-Nur ayat 30!"


"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannnya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. " (QS An-Nur :30)


Wajah Dhika nampak memerah malu. Lelaki di sebelahnya adalah salah satu Ustad muda juga di sini. Tapi ia baru saja menikah.


"Iya," sahut Dhika sembari membuang muka. Malu ketika ketahuan menatap seorang wanita dari kejauhan.


"Kalau udah gak tahan, mending nikah." Dhika menatap temannya dengan sorot mata tak suka.


"Maaf, bukan maksudku apa-apa. Ane cuma mengingatkan sebagai teman agar antum terhindar dari zina."


"Mentang-mentang udah nikah," gerutu Dhika dengan nada menggoda. Lelaki itu tertawa.


"Iya Dhik, enak lho nikah. Udah halal bisa pacaran sepuasnya!" Dhika mendelik.


Matanya kembali menatap ke arah para wanita yang sedang menyiapkan segala macam makanan dan takjil untuk berbuka. Terlihat seorang wanita tengah memeluk Asma. Mereka berbicara dengan akrab.


"Ternyata benar dugaanku." Dhika mengalihkan tatapannya.


"Fatimah kenal sama Asma?" Lelaki di sebelahnya mengangguk.


"Kami satu panti asuhan bersama. Fatimah dan Asma selalu mengikutiku kemana-mana." mata lelaki dengan kulit sawo matang itu menerawang. Sekelebat ingatan masa lalu muncul tentang ia dan kedua wanita yang di sana. Yang sedang berbincang dengan tawa bahagia. Sesekali istrinya, Fatimah mengusap bulir air di sudut mata. Menandakan terharu karena pertemuan yang tak terduga.


"Antum dulu di panti?" mata Dhika membesar tak percaya. Yang ia tau lelaki di hadapannya ini. Ustad Zidan yang dikenal merupakan putra sulung dari seorang pengusaha kuliner yang terkenal di kota.


Zidan menatap Dhika. Lalu tersenyum dan mengangguk. "Aku anak angkat Papa."

__ADS_1


Mata Zidan menatap Fatimah dan Asma. Dulu saat masih anak-anak kedua orang itu selalu bertengkar untuk hal yang kecil. Tapi bagi keduanya itu hal yang besar. Mereka selalu berebut Zidan. Pernah sekali, mereka bertengkar sampai Fatimah menangis. Zidan yang saat itu baru dari toilet heran dengan kedua gadis yang sudah ia anggap adik. Asma yang tak menangis dan raut wajahnya justru terlihat puas dan bahagia membuat Zidan mengira bahwa sesuatu yang tak baik terjadi.


Benar saja, Fatimah mengadu ia kalah bermain. Saat itu Asma baru berusia 5 tahun. Sedangkan Fatimah 7 dan Zidan 9. Fatimah mengatakan mereka bermain dan mengambil kesepakatan. Salah satu dari mereka yang menang bisa menjadi istri Zidan sedangkan yang kalah harus mengalah.


Asma yang saat itu tak tau apa arti dari kata 'istri' hanya menyetujui dan senang saat Fatimah mengatakan bahwa seorang istri akan selalu ada di sisi suami. Dengan artian Asma dan Zidan akan selalu bersama. Tentu saja, gadis kecil seperti Asma sangat bahagia. Sedangkan Zidan hanya menggelengkan kepala. Kesepakatan konyol dari kedua gadis yang ia sayangi membuatnya tertawa.


Siapa sangka, mereka mulai berpisah satu persatu. Masih ia ingat ketika Fatimah pertama kali pergi bersama kedua orang tua angkatnya. Ia mengatakan jika saat dewasa bertemu dengan Zidan. Ia akan melamarnya. Sebagaimana kisah Khadijah yang melamar Rosulullah yang di ceritakan oleh Ummi Maryam.


Zidan hanya tersenyum dan memberikan beberapa nasehat untuk Fatimah. Baginya, Asma maupun Fatimah hanya akan menjadi adiknya. Tak lama setelah itu Zidan yang mendapat orang tua asuh. Asma menangis dan meraung dengan kencang. Seluruh pengasuh di panti termasuk Ummi Maryam menenangkannya.


Sangat berat bagi Zidan untuk pergi. Ia nyaman bersama Asma dan beberapa anak panti lainnya. Panti itu adalah tempatnya. Pengasuh di sana sangat baik dan perhatian. Zidan tau, banyak panti asuhan yang mengerikan. Itu sebabnya Zidan merasa beruntung saat tinggal di sana. Tapi Zidan akhirnya pergi, karena kedua orang tua itu hanya menginginkan seorang putra dengan umur dan kepribadian yang pas seperti Zidan saat itu.


Zidan menjalankan kehidupan yang baru bersama kedua orang tuanya. Dalam hati, ia bertekad akan mencari Fatimah dan Asma. Ia harap Asma masih di panti. Saat ia kembali ke panti, Asma sudah pergi. Tak kehabisan akal, Zidan meminta alamat orang tua angkatnya. Tapi saat itu, rumah itu sudah kosong dan tetangga di sana mengatakan bahwa mereka sudah pindah.


Sedangkan Fatimah, mereka bertemu dengan tak terduga. ia satu kampus dengan Fatimah. Pandangan Zidan tentu saja berubah ketika melihat Fatimah yang sudah menjadi gadis cantik dengan hijab dan style ala anak Muda. Benar-benar membuatnya jatuh hati dan tak lagi mengganggap Fatimah sebagai adik sendiri.


"Zidan!"


Lamunannya buyar dan ia menatap Dhika dengan sorot mata tanya.


"Enggak, kenapa emangnya?"


"Gak papa." diam-diam, Dhika menghembuskan napas lega. Ia pikir Zidan tau mengenai Ida. Dhika kembali mengingat tentang perjodohan kakaknya. Ia tau, kakaknya itu sedang merencanakan alasan masuk akal untuk menolak perjodohan.


Ya, Reno tak ingin menikah dengan Ida. Dan ia belum diberitahu Dhika perihal saat Ida mengakui segalanya. Sekarang, jika Reno berhasil menolak perjodohan ini pada Abi dan Ummi mereka. Ida pasti akan mengira, bahwa Reno sudah tau mengenai hilangnya mahkota gadis Ida. Dan itu akan membuat Ida semakin merasa tak percaya diri dan mungkin merasa ... hina.


***


"Sana gih mandi Mas," ucap Fatimah sembari tersenyum. Zidan memeluk Fatimah dan mencium puncuk kepala istrinya. Harum istrinya begitu menyeruak di inderanya. Rambut istrinya memang sedang basah, menandakan ia sehabis mandi dan keramas. Baru sebulan ia merasakan hal ini. Saat membuka pintu rumah, seorang wanita menyambutnya dengan senyuman manis.


"Mas, ingat. Kita lagi puasa," tegur Fatimah lembut ketika suaminya terus mengusap punggungnya dengan pelan. Zidan terkekeh lalu menuju kamar mandi. Karena hari sudah petang dan adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang.


Fatimah mengusap rambutnya dengan handuk lalu duduk di tepi ranjang. Matanya menatap kosong mengingat Asma.


Beberapa saat kemudian, Zidan keluar kamar mandi dan melihat Fatimah yang terlihat melamun. ia lalu bergegas memasang baju koko berwarna biru kemudian duduk di samping istrinya. Mengambil dengan perlahan handuk di tangan mungil itu. Fatimah tersentak.

__ADS_1


"Biar Ade aja Mas ...." Zidan tersenyum lalu menatap Fatimah dengan sorot mata tak setuju. Ia kemudian mengusap rambut istrinya yang masih basah dengan pelan


"Bukannya kalau keramas bisa batal puasa yaa?" Fatimah tergelak.


"Zaman dulu, kita percaya aja yang kaya begituan. Padahal gak ada dalilnya," ucap Zidan dengan tawa kecil.


"Konyol banget ya Mas." Fatimah menimpali.


"Kenapa tadi ngelamun?" Fatimah terdiam dan menghembuskan napas kasar.


"Takut Mas diambil Asma?" Fatimah tergelak lagi. Zidan memang selalu pintar dalam mencairkan suasana. Sosok lelaki yang humoris dan mengagumkan.


"Gak lah, udah jadi milik Ade kok," ucap Fatimah dengan bangganya. Sekelabat ingatan muncul, ketika rencananya gagal karena Zidan yang lebih dulu melamarnya tapi segalanya berjalan dengan penuh kebahagiaan.


"Mas udah ketemu sama Asma?" Fatimah berbalik dan menatap suaminya.


"Belum, cuma tadi ngeliat kalian sekilas karena Dhika ngeliatin Asma mulu." mata Fatimah membulat. Ia tak menyangka Ustad Dhika yang terkenal dingin dengan wanita menunjukkan ketertarikan pada Asma.


"Temennya Asma yang namanya Ida katanya calon kakak iparnya Dhika," ucap Fatimah sembari menggelengkan kepala.


"Wah seru tuh ya De. Asma sama Dhika. Ida sama kakaknya. Cocok sih," sahut Zidan.


"Masih belum jawab, gak mau cerita sama Mas yaa?" Fatimah menatap mata Zidan. Mata hitam yang pekat. Sorot mata tegas ketika perkataannya tak ingin dibantah dan sorot mata lembut ketika menegurnya dengan cinta.


Fatimah memang agak manja. Sebelumnya ia hanya gadis yang manja. Berhijab hanya raganya tapi tak hatinya. Perlahan Zidan menuntunnya menjadi wanita yang lebih baik. Membawanya pula kepesantren ini karena Zidan mengajar disini. Mereka menempati salah satu asrama para guru.


"Tuh kan ngelamun lagi." Fatimah tersentak.


"Jangan bikin Mas khawatir, jangan -jangan Asma beneran mau ngambil Mas yaa?" Fatimah tertawa tapi satu bulir bening jatuh di sudut mata cantiknya


Bersambung


Tap jempolnya jempolnya ❤


Terimakasih yang sudah menghargai karya Zaraa dengan like, komen dan vote😘

__ADS_1


__ADS_2