
TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
❤ Happy reading ❤
🌸🌸🌸
Ida berjalan tergesa menuju mushola. Raut wajah khawatir dan tubuh yang gemetar membuatnya hampir tersandung beberapa kali. Matanya menangkap sosok Asma yang sedang bercengkrama bersama Fatimah di teras mushola. Ida tau, Fatimah juga pernah tinggal di panti asuhan yang sama dengan Asma.
Ida kemudian mendekat pada mereka lalu menarik tangan Asma dengan kasar. Membuat dahi Fatimah berkerut dalam tak suka.
"Kita pulang sekarang." mata Asma membulat sempurna. Ia menatap Ida yang nampak pucat dengan alis yang bertaut.
"Kamu sakit?" Asma menempelkan punggung tangannya pada Ida. Yang ia rasakan kulit Ida begitu dingin.
"Enggak, aku kangen papa. Ayo pulang." Asma menatap curiga Ida. Biasanya Ida tak bersikap seperti ini. Meskipun ia memang kadang kekanakan. Ida menggandeng tangan Asma.
"Eh kalian!" suara itu membuat Asma dan Ida terhenti. Mereka berbalik dan melihat Fatimah menatap tajam dua santriwati yanh ketahuan membawa ponsel. Asma menatap Ida. Wajah sahabatnya itu semakin pucat. Semakin membuat Asma bingung.
Asma mendekat pada Fatimah tapi sebuah cengkraman yang yang kuat ia rasakan di lengan.
"Ayo pulang." Ida menarik Asma lagi. Sempat di didengar Asma bentakan Fatimah. Padahal ia tau jelas, bahwa Fatimah salah satu tipe wanita yang lembut.
"Beraninya kalian menonton ini!"
Asma menoleh sebentar sebelum memakai sendal pada arah Fatimah berdiri. Di lihatnya Fatimah menatap layar ponsel di tangannya dengan mata membulat sempurna.
"Ayo Asma!" lagi, Ida menariknya dengan tergesa. Masih sempat di dengarnya sebuah suara.
"Kami gak tau itu ada yang ngirimin."
"Iya Ustadzah, dan bukannya itu Ustadzah Asma yaa?"
"Tunggu Da, kamu dengerkan mereka nyebutin aku?" Asma berhenti dan siap kembali.
"Enggak, kamu salah denger." Ida menarik Asma dengan kasar. Bisa di lihat Asma raut wajah kekhawatiran di sebelahnya semakin terlihat.
Sesampainya di asrama. Ia melihat Syifa tengah membereskan baju mereka.
"Kita beneran pulang malam ini juga?" tanya Asma sembari melirik jam dinding yang menunjukkan jam setengah 11 malam.
"Iya, hp kamu mana?" Ida menatap Asma. Bola mata Asma bergerak. Berusaha mengingat benda yang jarang di sentuhnya. Kemudian kakinya melangkah ke lemari di kamar itu. Membuka laci dan benar, ponselnya ada di situ.
__ADS_1
Tangan Ida langsung menyaut ponsel itu dengan cepat. "Aku minjam yaa!" ucapnya sembari tersenyum paksa. Asma hanya diam.
"Kamu pernah lepas khimar di mana aja?" tanya Ida sembari memasukkan ponsel Asma ke saku gamis sebelah kanan.
"Hampir di seluruh tempat yang tertutup. Seperti perpustakaan atau mushola. Kalau aku yakin gak ada laki-laki di sana. Kenapa?"
"Gak papa." Ida menelan saliva. Pantas saja santriwati tadi tau, pikirnya. Ida kemudian membantu Syifa membereskan barang mereka. Cukup lama karena barang perempuan lebih banyak dari yang di duga.
"Da, sini handphoneku. Gak di pakai juga kan?" sejak tadi ia lihat Ida tak menggunakan ponselnya sama sekali. Membuat Asma semakin penasaran tentang apa yang terjadi.
"Gak, aku mau makai kok," Ida mengambil ponsel Asma yang ada di sakunya lalu menelan saliva. Ada password.
"Passwordnya apa?"
"Sini."
"Kasih tau aja napa."
"Emangnya kenapa si!" Asma mulai kesal. Ia mengambil ponselnya di tangan Ida lalu membuka kunci layar. Meski Ida adalah sahabatnya. Asma tetap harus menjaga privasi. Itu sebabnya ia tak ingin memberitahu password ponselnya. Alisnya tertaut saat ada nomor yang tak dikenal mengirim video.
"Sini." Ida mengambil ponsel Asma dengan gugup. Asma mengambil lagi ponselnya di tangan Ida. Tapi di tahan sahabatnya itu.
"Cukup Da, aku tau ada yang kalian sembunyikan." berhasil di rebut Asma. Ia mendengus kesal atas kelakuan konyol ia dan Ida yang merebutkan benda di tangannya. Tapi jarinya cepat membuka video itu. Sedangkan Ida dan Syifa membeku.
Mata Asma membulat sempurna. Sama seperti Ida dan Syifa. Tenggorokannya tercekat dan wajahnya pucat. Asma mengerjapkan matanya. Beberapa detik video itu berjalan. Lalu ia menghentikan dan membuka beberapa foto juga dari nomor yang sama.
Air matanya luruh dan pertahanannya runtuh. Ponsel itu di ambil Ida dan dihempaskan ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Ida memeluk Asma dengan erat.
"I-i-itu a-apa?" Asma menatap Ida dengan air mata yang terus jatuh dengan derasnya.
"Da ...." Asma menangis dengan isakan yang mulai keras. Hatinya bagai tertusuk benda yang tajam tapi tak berdarah. Ia mengacak kepalanya yang masih mengenakan hijab lebar dan panjang. Ia mendorong Ida. Meronta dari pelukan sahabatnya. Membenturkan dahinya ke pinggir ranjang tapi sigap terhalang tangan Syifa.
Tangan Syifa lebam membiru. Asma menatap Syifa dengan sorot mata sendu. Mata Syifa juga sudah sembab.
"Itu bukan aku!" Asma berteriak dengan keras. Lagi Syifa dan Ida menenangkan. Memeluknya dengam erat.
"Itu bukan aku. Aku gak pernah bikin video kayak gitu Da."
"Iya Asma, iya kami tau," sahut Ida sembari mengeratkan pelukannya. Video itu adalah video persetubuhan. Lelaki yang wajahnya di muramkan. Sedangkan wajah Asma jelas terlihat. Foto-foto Asma telanjang bulat dengan mata terpejam membuat Ida menyimpulkan satu hal. Itu memang benar Asma, tapi Asma di foto dan di video tanpa sepengetahuannya. Mungkin saja salah satu pelanggannya. Tapi Ida tak peduli. Sekarang ia harus membawa Asma pergi. Entah mengapa setiap ponsel di pesantren menerima video dan foto itu. Sebelum Asma semakin dipermalukan dan membuat psikis Asma terganggu dan tertekan.
***
__ADS_1
Dhika mendengus kesal dan menatap kakaknya Reno yang tengah tersenyum sendiri. Terlihat sangat bahagia.
"Pakai sok sok an mundur. Padahal udah di tolak," ejek Reno sembari melirik Dhika. Adiknya nampak terkejut, membuat Reno tertawa. Jelas ia tau dari Ummi, bahwa Dhika di tolak Asma. Dan sekarang adiknya bersikap seolah mundur dengan terhormat.
Dhika lalu membuka ponselnya yang berbunyi. Ia tersentak dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Reno memperhatikan dengan menautkan alisnya.
"Ada apa?"
"Ada yang ngirimin video pornoo." sahutan dari Dhika sukses membuat Reno bingung. Ia kemudian juga membuka ponselnya yang tadi berbunyi. Jelas sekali, ada sesuatu yang tak biasa di sini.
"Astaghfirullah!"
Abi dan Umi keluar dari kamar. Menatap kedua putranya yang ada di ruang tamu. Wajah Abi nampak memerah sedangkan Umi pucat pasi.
"Abi sama Umi dapat videonya juga?" kedua orang tuanya mengangguk. Dhika menautkan alis.
Adit yang baru saja keluar dari kamar Reno bingung menatap satu keluarga itu.
"Dit, mana ponsel Lo?"
"Emangnya buat apa?"
"Buruan!" Adit menurut dan mengambil ponselnya. Menyerahkan pada Reno meski bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Adit gak dapat videonya. Berarti memang sengaja di rencanakan dari jauh hari. Di kirim ke seluruh perangkat yang ada di pesantren," ucap Reno dengan dahi berkerut dalam. Wajah putihnya memerah menahan amarah. Tangannya bergerak mencoba menelpon seseorang.
"Ummi yakin itu Asma?" tanya Abi dan di balas anggukan lemah dari Ummi. Dhika menautkan alis tak mengerti. Ia memang tak benar-benar melihat wajah lelaki atau wanita di video itu.
"Gue perlu bantuan Lo!"
".... "
Semua orang memperhatikan Reno yang nampak menelpon dengan wajah kesalnya.
"Hapus semua video yang di sebar, bisa gak?"
"Bisa, tapi perlu waktu!"
"Gak, harus sekarang juga dan bereskan dengan cepat!"
Bersambung
__ADS_1