Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 43


__ADS_3

"Bagaimana Kak? Kent tampan bukan?" tanya Camilla dengan nada menggoda. Gadis itu sudah tau mengenai rencana ayahnya.


"Biasa aja," sahut Asma datar lalu kembali berujar, "Aku ingin bertanya."


Camilla yang memejamkan mata karena pijatan nyaman di punggungnya tersenyum samar mendengar nada bicara kakaknya. Mereka memang sedang berada di tempat Spa. Gadis itu menyingkap sedikit tirai yang menghalangi antara tubuhnya dan Asma.


Ruangan mereka satu tapi terdapat sekat berbentuk tirai saja agar menjaga privasi pelanggan di sana. Camilla dan Asma saling menatap dengan tubuh yang sama tengkurap. Gadis itu hanya menyingkap bagian tirai sedikit. Jadi yang terlihat hanya leher dan wajah Asma. Lantas Camilla berkata, "Tanya saja Kak. Ada apa?"


"Apa kau benar-benar menyukai Reno?" tanya Asma dengan nada tak suka.


Camilla bersemu merah mendengarnya lalu berkata, "Sepertinya iya," sahutnya.


"Memang kenapa? apa kak Asma sebenarnya menyukai—"


"Gak," potong Asma tegas lalu kembali berucap, "Sebagai Kakak, aku cuma khawatir aja."


"Khawatir?" Camilla menatap Asma dengan menautkan alisnya.


"Iya, keluarga Sanjaya begitu banyak aturan," sahut Asma pelan lalu kembali melanjutkan ucapan, "Ada banyak aturan dan tata Krama dalam keluarga Sanjaya. Kau tak akan bisa bertahan Camilla."

__ADS_1


Camilla terkesima kemudian berkata dengan sorot mata tak percaya, "Benarkah?"


Asma menganggukkan kepala dengan sorot mata meyakinkan. Ia kembali mengucapkan, "Iya Camilla. Aku tak mau kau dapat keluarga seperti itu. Aku ingin kau dapat keluarga yang terbaik dan mertua yang luar biasa."


Ini tentang keluarga Sanjaya atau tentang rasa cemburumu saja Kak Asma?


Camilla memalingkan wajahnya menahan tawa. Asma bahkan menjelekkan keluarga Sanjaya di hadapannya. Kekanakan sekali pikirnya. Gadis itu terkikih geli pada akhirnya.


"Camilla! katakan. Kau masih menyukai Reno meski keluarganya begitu?"


Camilla menatap Asma dengan sorot mata tak terbaca lalu berkata, "Tentu saja." Dan Camilla langsung melihat bagaimana manik biru Asma menyorot kecewa.


"Dit ...."


"Yaa Ren?" sahut Aditya yang berada di belakang kemudi. Ia masih fokus menatap jalan di depannya.


Sementara Reno yang duduk di belakang bersama Ali nampak mendesah pasrah. Ia membawa Ali ke pangkuannya. Memberikan kecupan singkat di puncuk kepala. Lelaki itu lantas berkata, "Gue pengen bawa Ali, bisa gak yaa?"


Sementara Asma dan Camilla ke Spa. Reno membawa Ali ke taman bermain dan sekarang sudah di jalan pulang menuju mansion Dariel. Lelaki paruh baya itu memang tak bisa melarang Reno membawa Ali berjalan-jalan karena bagaimana pun ia sudah mengantongi izin dari Asma dan yang terpenting memang tak seharusnya mereka melarang Reno berdekatan dengan putranya.

__ADS_1


"Maksud lo apaan?"


Reno tersentak kemudian menatap keluar jendela mobil. Jika seseorang biasanya memiliki asisten yang sudah jelas adalah bawahan dan pembicaraan formal yang terdengar sehari-hari di antaranya. Reno suka ketika memiliki teman seperti saat ini. Itu sebabnya ia sering meminta pendapat Aditya.


"Gak bisa dapatin emaknya lo mau bawa anaknya?" Suara cibiran dari Aditya tak membuat Reno mengalihkan tatapannya. Aditya kemudian menyadari bahwa suasana hati Reno saat ini benar-benar kacau. Raut wajah bingung tertera jelas di wajah sahabat sekaligus atasannya itu.


Reno memejamkan mata. Ia sudah melihat bagaimana tampannya laki-laki yang akan bersama Asma. Ia lalu tersentak saat merasakan tubuh Ali memberat. Lelaki itu menatap sang anak dan benar, bocah itu nampak tertidur. Reno memeluknya sembari mengusap punggung Ali.


"Gue gak bisa biarin Ali manggil orang lain dengan sebutan ayah juga."


Bersambung


Jangan lupa likenya


Banyakin komentarnya. Spam juga gak papa. Dan tambahin votenya kalau ada 😌


Terima kasih atas apresiasi


dari kalian semua ❤

__ADS_1


__ADS_2