Noda Di Balik Khimar

Noda Di Balik Khimar
CHAPTER 13


__ADS_3

❤ Happy reading ❤


🌸🌸🌸


"Jadi sebenarnya kita akan kemana?" Syifa bertanya sedari tadi, tapi Asma maupun Ida hanya diam dengan tersenyum penuh arti. Membuatnya sedikit kesal.


Matanya mengedarkan pandangan. Berusaha mengingat setiap jalan yang mereka lewati. Sudah lebih dari sejam mobil Ida melaju dengan kecepatan sedang. Tapi mereka belum sampai juga ke tempat tujuan.


Tangan Syifa lalu mengambil sebotol minuman di tasnya. Mereguk air itu dengan nikmat. Tak menghiraukan dua pasang mata cantik yang menatapnya.


"Gak puasa?" tanya Asma dengan menaikkan satu alisnya. Membuat mata Syifa terbelalak kaget.


"Aku lupa!"


Asma dan Ida menggelengkan kepala pelan.


"Maaf, aku belum terbiasa. Jadi berarti puasaku udah batal yaa?" tanya Syifa dengan raut wajah kecewa.


Ida hanya terdiam sembari menatap lurus ke jalan. Ia mengemudi dengan tenang. Lalu ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sebuah jalan sepi pegunungan. Aroma tanah basah tercium pekat.


"Kok berhenti?" tanya Syifa


"Aku mau ngehubungin Ummi dulu. Kita mau ikut i'tikaf di pesantren. Nah tadi Ummi share loct tapi sekarang di sini sinyal internetnya udah lemah. Da, tolong kasih tau Syifa yaa! " Asma kemudian keluar dari mobil. Berdiri dan terlihat sedang menelpon seseorang.


"Kasih tau apa?" tanya Syifa sembari menatap Ida.


"Kamu tadi beneran lupa? " Syifa mengangguk cepat. Ini puasa Ramadhan pertamanya jadi ia lupa. Sudah kebiasaannya kalau pergi kemana-mana membawa sebotol air di tasnya.


"Kalau kamu beneran lupa, puasanya gak batal kok," ucap Ida sembari tersenyum. Syifa menautkan alisnya. Tak mengerti apa maksud Ida. Bukankah puasa di larang makan dan minum?


"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.”


"Alhamdulillah," ucap Syifa sembari tersenyum.


"Allah sayang banget yaa sama aku, tau aja emang kehausan puasa pertama kali." Syifa terkekeh dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Syifa, itu hadits riwayat Bukhari. Jadi inshaa Allah hadits shahih."


Asma masuk dan bertukar posisi dengan Ida. Sekarang ia yang akan mengemudi.


"Tapi aku sudah habis setengah botol, beneran nih gak papa?"


"Iya, bahkan kalau kamu udah makan sepiring nasi dan beneran lupa, bisa di lanjutkan puasanya," sahut Asma lalu menginjak pedal gas pelan. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Tapi awas aja kalau pura-pura lupa!" celetuk Ida dengan melototkan matanya.

__ADS_1


Asma dan Syifa tertawa. Tak lama kemudian mobil mereka memasuki sebuah gerbang besar. Mereka di tanya berbagai macam hal. Apa keperluannya dan mereka siapa. Asma memberitahukan sesuai dengan apa yang di katakan Ummi.


Mobil silver itu kemudian masuk ke kawasan pesantren. Terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari sebuah mushola yang cukup besar di sana. Menandakan sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang.


"I'tikaf itu apa sih?" tanya Syifa saat mereka menurunkan tas di jok belakang.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," sahut Asma lalu mereka bertiga membalikkan diri. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan gamis berwarna krem serta hijab panjang dan lebar dengan warna senada.


"Ini pasti Asma sama temen-temennya ya?" tanyanya.


"Iya, saya Asma. Ini Ida dan Syifa." wanita paruh baya itu terlihat memperhatikan mereka. Syifa memiliki wajah cantik dan tubuh tinggi. Mata yang biru dan bulu mata lentik cantik. Putih pucat seperti bule biasanya. Pembawaannya terlihat misterius. Memakai gamis biru dan pashmina dengan warna senada. Stylenya terlihat sekali seperti anak muda Sedangkan Ida yang berada di kanan Asma. Memiliki wajah khas wanita asia. Putih kuning langsat dengan mata iris kecokelatan. Paling pendek di antara Asma dan Syifa. Memakai gamis cokelat dengan hijab panjang dengan warna senada.


Wanita itu lalu memperhatikan Asma, wajah Asma terlihat kecil di balik khimarnya. Mungkin ia memiliki wajah imut. Tapi manik mata birunya begitu cerah. Sekilas mata Asma dan Syifa sama tapi sebenarnya tidak. Mata Syifa memiliki warna biru sedikit gelap dari pada Asma. Asma memakai gamis hitam dan khimar serta hijab dengan warna senada.


"Hmm." Ida berdehem menyadarkan wanita itu.


"Mari, biar saya antarkan kalian ke kamar. Umi sedang sibuk dan tak bisa di ganggu."


"Syukron Bu ...."


"Orang-orang disini biasa memanggil saya Ustadzah Kulsum."


"Kenapa sih mereka ngeliatin kita!" gerutu Syifa dengan gumam pelan.


"Maafkan mereka. Mereka anak pondok sini, disini bukan hanya Madrasah Tsanawiyah tapi Madrasah Aliyah juga ada."


Asma dan Syifa menautkan alisnya. Tak mengerti.


"Maksudnya Ustadzah Kulsum itu karena kita segerombolan makhluk cantik dan asing makanya mereka ngeliatnya begitu!" celetuk Ida dengan nada santai.


"Ya, benar sekali. Kalian memang sangat cantik dan mungkin keberadaan kalian akan sangat menonjol." Ustadzah Kulsum melemparkan senyum ramah.


Ida tiba-tiba merasa tak enak karena menyadari, baru saja memuji diri sendiri.


"Makanya, lain kali tuh mulut di kontrol!" bisik Syifa sembari menahan tawa. Ida memutar bola mata.


"Maaf Ustadzah, I'tikaf itu apa?" tanya Syifa sembari terus berjalan.


"Masih jauh yaa?" imbuhnya.


"Ya ampun Syifa, satu-satu dong nanyanya," ucap Ida sembari menggelengkan kepala.


"Abisnya dari tadi aku nanya sama kalian cuma diam. Lagian aku cape banget bawa nih tas gede!"

__ADS_1


Asma tertawa kecil di balik khimarnya.


"I'tikaf berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi." spontan mereka bertiga memasang telinga. Menunggu penjelasan Ustadzah Kulsum selanjutnya.


"Pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang sedang beriktikaf disebut juga mutakif," jelas Ustadzah itu lalu memutar kunci ketika mereka sampai ke sebuah bangunan sederhana. Syifa manggut-manggut.


"Ini asrama khusus Ustadzah yang belum menikah. Jadi kalau ada apa-apa. Saya ada di asrama sebelah sana." Ustadzah Kulsum menunjuk bangunan di seberang kamar mereka.


"Silahkan masuk. Nanti Ummi akan mengunjungi kalian setelah urusan beliau selesai." wanita paruh baya itu kemudian pamit. Mereka bertiga masuk dan melihat sebuah kamar dengan ranjang besar di sana. Kalau di perhatikan kamar ini cukup besar tapi karena keberadaan ranjang itu, ruangan ini terlihat sempit.


Ida merebahkan tubuhnya di ranjang itu. Di susul dengan Syifa sedangkan Asma menutup pintu lalu membereskan baju.


"Asma."


Asma menoleh pada Ida yang masih merebahkan diri. Memanggilnya tapi wanita itu memejamkan mata.


"Kita sebulan penuh disini?"


"Terserah kalian aja. Kalau aku sih mungkin iya," sahut Asma lalu melanjutkan aktivitasnya.


"Aku juga disini aja. Aku mau lebih mempelajari Islam."


Asma tersenyum. Sedangkan Ida menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa Da?" Asma duduk di sebelah Ida yang masih memejamkan mata. Kerutan di dahinya menandakan bahwa ada yang mengganggu pikirannya.


"Aku takut ketemu Ustad Dhika." Asma menautkan alisnya. Bukankah Ida sangat mengidolakan lelaki itu?


Ida menceritakan secara singkat mengenai segalanya. Perjodohan dan pertemuannya dengan Dhika. Syifa juga mendengarkan meski tangannya asik memainkan ponselnya.


"Berarti belum pernah ketemu langsung sama calon suami kamu?" tanya Syifa.


"Siapa namanya?" tanya Asma.


"Namanya Reno Dwija Sanjaya."


mata Asma terbelalak.


Bersambung


Hai, maaf yaa baru bisa up satu chp aja.


Insha Allah, NDBK akan selalu Up tiap hari selama bulan Ramadhan. Selama Zaraa gak ada halangan, dan ide-ide beterbangan. Serta mood yang memungkinkan😂


Tap jempolnya ❤

__ADS_1


__ADS_2