
"Amelia ...." Dariel bergetar ketika merasakan kehangatan dari pelukan putrinya. Baru kali ini, Asma memeluknya lebih dulu. Sebuah pelukan yang benar-benar mampu menghangatkan hati yang beku.
"Maaf ... Padre sempat egois," ucap Dariel bergetar. Ia berubah pikiran tatkala beberapa malam terbangun karena kegelisahan. Gelisah entah karena apa, Dariel sendiri tak tau. Namun, kakinya selalu melangkah menuju kamar Asma.
Karena kecerobohan Asma yang memang kadang lupa mengunci kamarnya. Dariel melihat putrinya menangis sembari berdoa di atas sajadah setiap malam. Lelaki itu sejenak luluh namun keras kepala lagi memikirkan Asma pergi darinya. Hingga lamaran dari Dimas Dwija Sanjaya. Memang awalnya ia menolak. Namun perkataan Abi selanjutnya setelah Asma pergi dari tempatnya mendengar pembicaraan mampu meruntuhkan ego Dariel saat itu. Kedua orang tua itu kemudian mengatur pernikahan tanpa memberitahu kedua mempelai.
"Terima kasih ...." Asma berucap setelah mengurai pelukan dengan berurai air mata.
Dariel menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna. Mengusap lembut pipi Asma lantas kemudian berkata, "Berbahagialah Amelia ... dan jika lelaki ini menyakitimu katakan saja!"
Dariel menatap tajam Reno, sementara Camilla menahan tawa. Kemudian berkata, "Ah Kak, aku iri sekali ...."
"Ya ampun Camilla ... ada apa denganmu! mengapa selalu iri pada kakakmu ini?" Dariel berucap dengan bingung sembari berdecak kesal lalu beralih lagi pada Asma.
"Jika masih pusing, istirahat saja. Untuk tamu biar kami yang mengurusnya."
Asma menggelengkan kepala lalu berkata, "Aku baik-baik saja." Senyumannya merekah sempurna. Reno menatap Asma tak berkedip sejak tadi. Mumpung sudah halal pikirnya. Bebas memandang sang istri sepuas hati.
Mereka kemudian menuju tempat acara. Asma dan Reno menuju pelaminan. Keduanya terlihat sangat bahagia hingga Reno berkata, "Kekuatan doa memang luar biasa."
***
"Pakai cadar tapi udah punya anak diluar nikah."
"Ah masa?"
"Iya, itu lho anaknya."
__ADS_1
Pembicaraan mereka yang berisi ejekan dan olokan pada Asma membuat Dariel sakit telinga saat tak sengaja lewat di meja ketiga wanita. Lelaki itu menatap sang putra.
"Kent, kau tau bukan harus apa?" Dariel menatap Kent dengan sorot mata tajam.
Kent tau, sang ayah sedang menahan amarah. Ia menganggukkan kepala kemudian berkata, "Tentu saja."
"Biar aku saja!" Camilla mencegah Kent kemudian berjalan menuju meja tiga wanita tadi. Ia duduk di sana dan tentu saja menarik perhatian ketiga gadis di sana.
Camilla lalu berkata, "Memang benar bahwa itu anaknya. Memangnya kenapa?"
Ketiganya terdiam bingung merespon. Mereka tak ada yang mengenal Camilla,Hingga salah satu dari mereka cukup berani karena tertantang raut wajah menyebalkan dari Camilla.
"Kudengar, wanita yang memakai khimar itu pelacurr." Seringai ejekan nampak terlihat di wajah cantik wanita itu.
Camilla menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna kemudian berkata, "Pekerjaan itu menghasilkan uang. Beberapa dari mereka terpaksa melakukannya. Berbeda dengan seorang gadis muda yang melakukan hubungan suami istri dengan pacar hanya karena kata cinta. Bukankah itu lebih menjijikkan?"
Camilla terkekeh pelan kemudian menarik asal tangan seorang wanita cantik berhijab anggun. Ia tak kenal, karena itu menanyakan, "Namamu siapa?"
"Kirana," sahutnya. Camilla menatapnya dengan seksama.
"Katakan padaku Nona, apa hubungan layaknya suami istri dilakukan saat masih dalam hubungan pacaran begitu sudah menjadi kebiasaan? Lupakan mengenai lingkungan. Aku hanya bertanya apa hal itu sudah menjadi hal yang biasa dan dianggap wajar saja?"
Wanita itu terkesima kemudian berkata, "Tidak tentu saja. Dulu bundaku pernah bercerita tentang seorang gadis muda yang menikah dalam keadaan berbadan dua. Aku dengan santai mengatakan bahwa hal itu sudah biasa."
Camilla dengan ketiga gadis di meja itu menyimak. Sesekali Camilla menatap Asma yang terlihat sangat bahagia. Kemudian kembali fokus pada perbincangan menarik di hadapannya.
"Tapi, bundaku mengatakan. Bagaimanapun itu adalah sebuah zina. Selamanya gak akan jadi kebiasaan masyarakat Indonesia."
__ADS_1
"Jadi, kesimpulannya. Begitu sering perbuatan itu dilakukan dan tanpa sadar membuat hal itu menjadi kebiasaan. Iya, bukan?" tanya Camilla memastikan.
"Itu memang udah biasa. gak perlu munafik dan membela seorang pelacurr! sebenarnya kamu siapa sih?" sentak salah satu mereka dengan nada kesal.
Camilla menahan diri dengan tertawa. Lalu berkata, "Aku tak membela. Bagaimana pun alasannya. Itu adalah pekerjaan yang kotor. Tapi aku hanya ingin mengatakan." Camilla menjeda sesaat kemudian berucap, "Para gadis di luar sana. Yang melakukan aktivitas sexx bersama pacarnya lebih menjijikan dari para pelacurr di luar sana. Kau tau kenapa?"
"Karena mereka memberikan keperawanan dengan suka rela sementara beberapa pelacurrr terpaksa melakukannya. Setelah ia ditinggalkan oleh sang kekasih. Gadis itu tak dapat apa-apa selain sebuah luka sementara wanita panggilan mendapatkan apa yang ia inginkan."
Camilla berdiri dari duduknya kemudian melanjutkan, "Ini bukan tentang lingkungan atau pergaulan. London, Amerika, Belgia, Indonesia. Di negara manapun, tak peduli bagaimana lingkungan dan pergaulannya. Seorang gadis akan tetap menjaga kehormatannya jika ia merasa dirinya terhormat."
"Jadi, tak perlu mengolok wanita lain yang memiliki masa lalu seperti itu. Sementara kalian para wanita yang justru melakukan hubungan suami istri secara terbuka padahal lebih menjijikan dari para pelacurrr yang menjaja diri mereka karena terpaksa!"
Camilla meninggalkan mereka. Tak ada yang tau keesokan harinya. Ketiga keluarga wanita tersebut bangkrut secara mendadak. Semua karena amarah Kent dan Camilla yang meledak.
Bersambung
Ini scene terakhir nyempilin sikap Camilla sama Kent karena mereka nanti ada ceritanya juga😂
Apapun yang Zaraa sampaikan di novel ini adalah pendapat personal. Kalian bisa setuju atau gak. Karena wajar kita punya pendapat berbeda. Kita memiliki kepala dan pemikiran yang berbeda-beda.
Jangan lupa likenya
Banyakin komentarnya
Tambahin votenya kalau ada
Terima kasih atas apresiasi
__ADS_1
dari kalian semua❤