
“Moshi-moshi?” sapa Sienna
“Nee-chan, aku Haru.” Jawab seseorang diseberang telepon.
“Haru-chan, ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Serena dengan nada cemas.
“Iya, kami baik-baik saja. Keadaan kaa-san semakin membaik, oh iya aku ingin memberitahukan ini padamu−” Haru tidak langsung melanjutkan ucapannya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Katakan saja padaku.” Sienna bertanya dengan tidak sabaran membuat Haru tertawa kecil mendengar suara kakaknya yang begitu ia rindukan kehadirannya.
“Hehehe aku hanya ingin memberitahukan kalau aku dan Sora-kun mendapat juara satu dikelas~ kami mendapat hadiah peralatan tulis dari sekolah masing-masing.” Ujar Haru dengan begitu ceria, membuat Sienna menghela napas lega dan ikut tersenyum puas melihat kedua adiknya yang giat belajar.
“Syukurlah, itu berita yang sangat bagus. Selamat untuk kalian berdua~ maafkan nee-chan yang tidak bisa ikut merayakannya bersama kalian, suatu saat jika nee-chan pulang, kalian akan ku berikan kejutan.” Ujar Sienna dengan senang, padahal dirinya sedang merasa ada batu besar yang menimpanya. Ya, bagaimana tidak? Itu berarti dia harus lebih giat mencari uang untuk melanjutkan sekolah adik bungsunya yang sudah lulus dari taman kanak-kanak, begitu juga dengan adik pertamanya yang sudah pasti harus membeli perlengkapan sekolah dan biaya lainnya. Gajinya belum cukup untuk memenuhi segalanya, sedangkan ia butuh uang banyak secepatnya. Bagaimana caranya agar Ia bisa mendapat gaji lebih? Serena memijat keningnya sambil menjawab telepon dari adiknya itu, menyembunyikan segala beban yang tidak boleh dirasakan oleh adiknya.
Keesokan paginya, hari libur bekerja yang harus dimanfaatkan oleh seorang gadis bersurai silver yang sudah sejak dini hari sibuk mencari lowongan pekerjaan lain yang menawarkan gaji besar di handphone nya. Sesekali ia mengucek matanya yang terasa sedikit kering akibat terlalu lama menatap layar handphone. “Aku harus segera menemukan pekerjaan baru, tapi kenapa sulit sekali, atau aku minta bantuan Yui-chan saja? Ah aku tidak mau mengganggu hari liburnya.” Sienna menggigit jarinya, bingung harus melakukan apa. Ia sangat membutuhkan pekerjaan yang menawarkan gaji besar untuk segera membayar biaya sekolah kedua adiknya, dan akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Yui.
“Oii, ada apa Sienna?” tanya Yui to the point
“Kau ada dimana? Kau sedang sibuk?” tanya Sienna langsung, seperti kebiasaannya yang selalu mendesak seseorang ketika dirinya sendiri sedang panik.
“Aku sedang ada di toko baju didekat rumahku, kau mau menemui ku ya? Temui saja, aku akan meminta pertanggungjawaban mu.” Ujar Yui panjang lebar tapi tidak dijawab oleh Sienna yang terdengar sedang gelisah.
“Aku akan menemui mu sekarang, tunggu aku.” Jawab Sienna singkat lalu memutuskan sambungan teleponnya. Yui menatap layar handphone nya bingung, Ia langsung memasukkan handphone nya ke dalam tas dan kembali melanjutkan kegiatan pilih-pilih nya yang tertunda.
Tak lama kemudian, Sienna sudah sampai di depan toko baju yang terlihat sepi. Ia sesekali menengok ke dalam toko, mencari sosok Yui yang dibutuhkannya saat ini juga. Sienna merogoh tasnya lalu mengambil handphone dan bersiap menelepon Yui namun tangannya ditahan oleh seseorang.
“Aku sudah disini, kau tidak perlu meneleponku lagi.” Ketus Yui, melihat wajah Sienna yang kacau membuat Yui segera menyadari alasan Sienna mencarinya dengan terburu-buru.
“Kau ini kenapa? Ceritakan padaku.” Yui menarik tangan Sienna untuk duduk di kursi panjang di samping toko baju.
“Yui-chan, apakah kau bisa Membantuku?” Sienna berkata sambil mengatur napasnya yang memburu seperti habis berlari marathon.
“Apa yang bisa ku bantu? Kau ini santai saja, jangan terburu-buru seperti itu.” Yui merapikan helaian rambut Sienna yang menutupi mata indahnya.
“Ayo sekarang ceritakan padaku.” Yui menatap Sienna yang terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya.
“Aku berencana ingin mencari pekerjaan baru, bisakah kau membantuku mencarikannya?” tanya Sienna dengan tatapan berharap yang langsung membuat Yui terperangah.
“Apa kau bilang??!! Kenapa kau ingin mencari pekerjaan lain? Apa kau tidak nyaman bekerja di sana? Apa aku berbuat salah padamu?” Yui melimpahkan banyak pertanyaan untuknya yang sangat tidak membantu, Sienna menggeleng dengan cepat.
“Bukan. Aku ingin mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar, aku sangat membutuhkan banyak uang dan aku harus mencari pekerjaan baru. Maafkan aku, tapi aku benar-benar terdesak.” Sienna menggenggam tangan Yui dengan erat, berharap Yui bisa membantunya.
__ADS_1
Yui masih tidak mengerti dengan ucapan Sienna yang begitu tiba-tiba. “A-ah baiklah baiklah, tapi kau menemaniku mencari kimono untuk besok.” Yui melipat kedua tangan didepan dada, menatap tajam kearah Sienna yang terlihat lupa dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.
“Apa harus aku?” tanya Sienna dengan polos, membuat Yui mengepalkan tangan kesal.
“Kau pasti lupa dengan jan-“ belum sempat selesai berbicara, Yui mendengar bunyi perut Sienna yang lumayan keras.
“Kau belum sarapan? Ayo kita sarapan dulu, nanti aku akan membantumu mencari pekerjaan.” Yui menggandeng tangan Sienna dan mengajaknya ke warung ramen di seberang jalan.
•
•
Naoki sedang menginap di rumah– ralat mansion milik Ryuuga untuk menghindari omelan dari kakak sepupunya yang juga sedang menginap dirumahnya. Pagi hari, Naoki keluar dari kamar sambil memegang handphone nya, tak melihat kehadiran Ryuuga diruang santai pribadi dan duduk di sofa berwarna navy miliknya. Menyeruput segelas kopi hangat di pagi hari membuatnya merasa tenang, ia melirik sosok Naoki yang ikut duduk dihadapannya tanpa mengalihkan pandangan dari handphone nya, ‘Apa yang dia lakukan?’ batinnya.
“Nah, sudah selesai~ akhirnya sudah tersebar.” Naoki tersenyum senang sambil menatap layar handphone nya hingga tak menyadari bahwa Ryuuga tengah memberikan tatapan aneh padanya.
“Kau ini sedang apa?” Ryuuga masih menatap Naoki yang mengabaikannya.
“Tidak, bukan apa-apa. Oh iya, sejak kejadian hari itu.. kenapa kau tidak mau datang ke C caffe lagi? Padahal gadis yang waktu itu sudah tidak ada lagi.” Tanya Naoki tiba-tiba, membuat Ryuuga mendelik tajam padanya.
“Aku memang sedang tidak ingin pergi kesana. Tolong jangan rusak suasana hatiku.” Ryuuga membuang muka ketika Naoki memberikan raut wajah jahilnya yang sudah bisa dipastikan kalau Naoki akan menjahilinya.
“Hoho, benarkah~? Atau jangan-jangan kau menyukainya diam-diam? Ryuuga punya target mainan baru?” Naoki menatapnya dengan pandangan jahil.
Deg
Naoki membeliak kaget mendengar jawaban tak terduga dari makhluk tampan di depannya itu.
“Sudahlah, aku mau main.” Ryuuga menyambar jaket disebelahnya lalu berjalan melewati Naoki tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Ya ampun, semoga itu tidak terjadi..” Naoki bergumam pada dirinya sendiri sembari melihat punggung Ryuuga yang semakin menjauh. Sepuluh menit kemudian Naoki mendatangi seorang maid di dapur dan menyapanya.
“Ohayou, Nanami Ba-san~” Naoki duduk di kursi makan yang sengaja dibuat berdekatan dengan dapur tanpa memiliki sekat, ia melihat bahu wanita paruh baya di hadapannya yang masih sibuk membuat sarapan pagi untuknya dan Ryuuga si tuan rumah.
“Ohayou gozaimasu, Naoki-sama” Nanami memberikan senyum lembut pada pemuda dibelakangnya.
“Sebentar lagi sarapannya segera siap” tambahnya lagi lalu sibuk berkutat dengan sayuran didepannya.
“Nanami Ba-san.. Ryu-kun keluar, kurasa dia tidak akan sarapan di rumah.” Kata Naoki seraya mengambil air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya hingga tandas. “Tenang saja, aku yang akan habiskan semuanya.. lagipula masakanmu itu sangat lezat~” Naoki menunjukkan cengiran khasnya pada Nanami.
“Sarapannya sudah siap, Naoki-sama. Silahkan dimakan” Nanami membungkuk memberi hormat lalu beranjak pergi namun tangannya ditahan oleh Naoki yang langsung sedikit menyeretnya untuk ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Aku yakin kau juga belum sempat sarapan, makanlah bersamaku. Dua porsi dipagi hari akan membuatku sakit perut, kita akan sarapan bersama.” Titah Naoki dengan wajah serius sehingga dengan terpaksa Nanami menuruti perintah dari teman majikannya itu.
“Itadakimasu~” Naoki mulai memakan sarapannya dengan lahap dan membuat Nanami tersenyum senang. Ini bukan kali pertama Naoki mengajaknya sarapan bersama, sejak kecil Nanami lah yang menjaga kedua bocah yang sekarang sudah remaja itu jadi Nanami sudah mengenal karakter berbeda dari keduanya. Naoki menatap Nanami yang tak kunjung memakan sarapannya dan malah asyik memandanginya.
“Ayo dimakan, Ba-san. Makanannya akan segera dingin.” Ujar Naoki dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan.
“Baik, Naoki-sama.” Nanami tertawa kecil melihat tingkah Naoki yang tidak pernah berubah dari kecil, pribadi yang ceria seperti biasanya.
“Uwahhh lezatnya~ terimakasih makanannya~” Naoki menuntaskan makanannya dalam waktu yang singkat, Nanami yang masih berusaha menelan makanannya pun hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul.
“Aku akan mencarikan teman untukmu, bibi. Kau tidak akan sendirian lagi~” Naoki tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi pada wanita yang masih mencerna ucapannya.
“Maksud anda..?” Nanami mengernyit bingung.
“Mansion ini terlalu sepi dan akan membuatmu semakin kesusahan jika kau hanya sendirian. Ibu Ryu-kun juga sudah menyuruhku. Kau tenang saja~” Naoki beranjak dari posisi duduknya dan meninggalkan Nanami yang mematung kebingungan.
•
•
Sementara itu, Sienna sudah menghabiskan 3 jam berkeliling toko baju hanya untuk mencarikan kimono yang pas untuk Yui. Sienna berulang kali menghela napas berat, ‘Sampai kapan ini akan berakhir?’ batinnya sambil sesekali melihat Yui yang sibuk memilih kimono dengan berbagai macam motif dan bentuk, jika saja Yui bukan tipe yang terlalu pemilih mungkin mereka tidak akan memasuki semua toko di sekitar rumahnya. Saat sedang sibuk memilih, tiba-tiba ponsel Yui berbunyi dan ia langsung merogoh tasnya dan mengambil hanphone nya.
“Whoaa Sienna!” Seru Yui saat selesai membaca sesuatu pada handphone nya, ia menoleh kesana-kemari tapi tak melihat sosok Sienna. Yui langsung cemas, ia berlari kecil keluar dari toko baju yang ia masuki namun hasilnya tetap sama hingga sesaat kemudian ia mendengar suara halus yang sangat dikenalnya, ya..suara Sienna yang memanggilnya dari dalam toko. Yui menghela napas lega ketika mendapati temannya yang sedang berjongkok sambil memerhatikan sebuah pakaian.
“Yui-chan, kurasa yukata ini sangat cocok denganmu.” Sienna mengulurkan sebuah lipatan yukata bewarna biru laut padanya, menatap Yui dengan tatapan innocent. Yui mengepalkan tangannya lalu menjitak kepala Sienna cukup keras hingga membuatnya merintih kesakitan.
“Aduhh, kau ini kenapa sih? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Sienna masih mengelus pucuk kepalanya yang terasa panas akibat jitakan Yui.
“Dasar menyebalkan!! Aku mencari mu kemana-mana tahu!!” Yui menatap galak kearah Sienna yang masih tidak mengerti dengan ucapan Yui.
“Apa maksudmu? Aku dari tadi ada disini, untuk apa kau mencari ku?” tanya Sienna dengan wajah polosnya, membuat Yui mendengus kesal.
“Sudahlah, lupakan saja. Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Tapi setelah aku coba yukata yang kau pilih ini, tunggulah diluar dan jangan pergi. Bergerak satu langkah saja, akan ku pastikan kau kehilangan kepala cantikmu itu.” Ancam Yui panjang lebar dan hanya dibalas dengan anggukan ringan dari Sienna yang melangkah pergi keluar.
“Luar biasa~!! Yukata ini sangat cocok untukku, terima kasih banyak ya Sienna~” Yui langsung merangkul leher Serena dengan kuat sehingga membuatnya merasa tercekik.
“K-kau benar-benar mau membunuhku ya?” Sienna memukul lengan Yui yang seenaknya bertengger dilehernya.
“Hehehe, maaf aku terlalu senang dan bersemangat. Oh iya, aku baru saja melihat iklan yang dipasang di internet dan menawarkan gaji yang lumayan besar, bahkan lima kali lipat dari gaji kita di C caffe.” Perkataan Yui langsung membuat Sienna antusias sekaligus senang, setidaknya ia masih punya harapan untuk mendapatkan banyak uang demi kedua adiknya.
“Benarkah??!! Biar aku cek dulu ya.” Sienna langsung mengaktifkan layar handphone nya dan mengamati dengan seksama iklan tersebut. Ekspresi Sienna sangat tidak bisa dibaca oleh Yui dan akhirnya Yui memutuskan untuk bertanya langsung padanya.
__ADS_1
“Hei, ada apa?” tanya Yui khawatir melihat perubahan ekspresi Sienna