
"Okaerinasai Nanami ba-san!!" Sienna sedang berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Nanami kembali ke mansion.
"Tadaima, Sienna.." Nanami menarik kopernya lalu memeluk Sienna. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja ba-san, bagaimana denganmu?" tanya Sienna sembari membalas pelukan hangat dari Nanami.
"Yokatta. Aku lebih dari baik-baik saja, haha.."
Sienna mengantarkan Nanami sampai ke depan kamarnya, ia senang wanita patuh baya itu telah kembali ke mansion besar nan lengang ini. Rasanya ia seperti kembali merasakan kesenangan memiliki teman dan sekaligus ibu.
"Mau mampir? Haha.." canda Nanami
"Haha nanti saja, sekarang lebih baik kau bereskan barang bawaan mu ba-san. Aku yang akan menyiapkan makan malam nya."
"Eh?! Tidak perlu, Sienna. Aku kan sudah ada disini, jadi biarkan aku saja yang melakukan tugasku."
"Daijoubu yo, ba-san. Kau kan baru sampai pasti masih terasa lemas. Jaa ne~!!" Sienna segera menutupkan pintu kamar untuk Nanami dan berlari kecil menuju dapur yang tak jauh dari kamarnya. "Saa, aku sudah menyiapkan camilan yang sering ku buat dulu. Semoga mereka semua cocok dengan rasa makanannya."
Malam hari pun tiba, kedua putra Namikaze telah berkumpul di meja makan begitupula dengan Nanami yang sudah menemaninya seperti biasanya. Sienna menyajikan semua makanan dan camilan yang sudah ia buat dengan dibantu oleh Nanami yang membawakannya ke meja makan. "Summimasen, Namikaze-sama tachi.. Saya membuatkan sedikit camilan, jika berkenan, silahkan di coba." ucap Sienna dengan penuh kesopanan dan kegugupan terlihat jelas dari wajahnya namun ia harus tetap sempurna dalam menjalankan pekerjaannya. Lantas Sienna segera pergi kembali ke dapur untuk membawakan teh yang biasanya ia buat dirumah dulu.
"Wah wah, banyak sekali ya.." ujar Reiji sambil menatap piring-piring yang tertata rapi di atas meja, ia sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Sienna, "Arigatou ne, Sie-"
"Yosha minna!! Konbanwa~!! Tehehehe," seru Naoki dengan girang, ia berlari kecil menuju meja makan sambil melambaikan tangan dan tangan sebelahnya lagi membawa sebuah tas karton.
"Urusai." ujar Ryuuga sambil menatap Naoki dengan malas, ia lebih memilih memakan cupcake buatan Sienna
"Yo Naoki-kun~, tumben sekali kau kemari malam-malam begini. Ada apa? Apa kau punya urusan dengan Ryuuga?"
"Iya-"
"Aniki, jangan tanyakan itu padanya."
"He? Doushite?"
"Urusan dia padaku tidak akan pernah selesai. Orang berisik seperti dia-"
"Apa katamu?! Katakan sekali lagi wajah feminim?!" hina Naoki sambil menggenggam kerah baju Ryuuga hingga wajah mereka berdekatan. Nanami yang berdiri di sana tidak bisa melakukan apapun, sama seperti Reiji yang hanya menghela napas panjang saat melihat pertengkaran mereka dimulai.
"Singkirkan tanganmu, baka ningen."
*orang bodoh
"Siapa yang kau panggil bodoh, kusso yarou?!"
"Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi?"
"Hah?! Omae w-"
"A-ano.. Selamat datang, Naoki-sama." sela Sienna dipertengahan perdebatan mereka, gadis itu muncul dengan nampan berisi teko dan beberapa gelas kosong. Naoki membelalakkan matanya, mulutnya menganga lebar ketika melihat gadis itu memakai pakaian khas seorang maid yang sedang mengukir senyum ramah seperti biasanya.
"O-onee...san?!"
"Omoshiroi ne.. Naoki-kun, apa kau sudah mengenalnya? Ah aku lupa kau kan yang membawanya kerumah ini.." ucap Reiji
*menarik
"Hah? I-iie ano.. Aku memang sudah mengenalnya tapi ini pertama kalinya aku melihat onee-san setelah sekian lama."
"Ara.. Doushite?"
*Loh kenapa?
"Cih, tanyakan saja pada manusia es itu. Dia melarang ku datang kesini." jawab Naoki penuh emosi, ia menggertakan giginya sambil menunjuk-nunjuk wajah Ryuuga yang kelihatan tak terusik sama sekali, ia tetap tenang sambil memakan cupcake nya.
"A-ahaha.. Sou desu ka...?" Reiji hanya sweatdrop ditempat saat mendengar jawaban Naoki lalu ia melihat sekilas wajah adiknya. "Kalau begitu, apa otouto sudah mengenal Sienna-san juga?"
"Jangan sembarangan bertanya." ketus Ryuuga yang menghentikan aktivitas nya.
"Eh? Kalian berdua kan seperti belahan jiwa yang tidak terpisahkan, apa yang terjadi ataupun yang ditemui oleh salah satunya, pasti yang satu pun akan mengalami hal yang sama juga." ujar Reiji dengan senyum lebarnya, ia sengaja tidak peduli dengan perubahan ekpresi kedua pemuda tersebut. Ya, wajah dan aura mereka menjadi sangat suram.
"Jangan mengatakan hal yang menjijikkan seperti itu!" bentak mereka berdua bersamaan lalu mereka saling melempar tatapan tidak suka.
"Apa kau bilang?!" tanya Naoki dengan kesal
"Kau sendiri bilang apa?" tanya Ryuuga dengan dingin sambil melirik Naoki dengan tajam.
"Jangan meniru ku, kusso Ryuuga!"
"Aku tidak sudi meniru mu. Kebodohanmu bisa menular padaku." balas Ryuuga dengan nada tajam
"Hah?! Apa maksudmu, baka?!"
"Siapa yang kau bilang bodoh, dasar bodoh!"
"Tch!"
Mereka berdua seperti sudah merubah ruang makan menjadi arena pertarungan yang sangat mencekam. Entah kenapa suasana di ruang makan menjadi sangat tegang. Sienna memperhatikan wajah Nanami yang khawatir, lalu ia memperhatikan wajah Reiji yang hanya senyum-senyum tidak jelas dan akhirnya dia kembali menatap kedua bocah SMA yang sedang beradu tatapan tajam. Ia menghela napas lalu berjalan mendekati meja makan. "Ano, summimasen. Aku sudah membuatkan teh untuk kalian semua, maukah kalian mencobanya?" tanya Sienna dengan senyum manis nya.
"Onee-san, menjauhlah. Ah iya, tidak perlu menawarkannya pada lelaki ini. Dia pasti akan mengomentarinya dengan aneh."
"Heh dasar bodoh. Kau pikir aku mau makan atau minum sesuatu secara terpaksa? Kembangkan saja rasa tidak enak mu itu sampai kau mati dalam keadaan sakit perut."
"Nanda omae wa?! Kusso!"
"YAMETE KUDASAI, ORANG YANG BERPENDIDIKAN TIDAK AKAN MELAKUKAN KERIBUTAN SAAT BERADA DI MEJA MAKAN LOH, SAYA SUDAH MENYIAPKAN MAKAN MALAM. TOLONG SEGERA DIMAKAN ATAU NANTI MAKANANNYA AKAN DINGIN." ucap Sienna dengan penuh penekanan di setiap katanya namun ia tetap menunjukkan senyumnya seperti biasa.
Glek
Keduanya langsung terdiam setelah melihat senyum yang ditunjukkan Sienna. Mereka langsung menjauh dan duduk di tempat masing-masing dengan tenang dan juga rapi. Reiji dan Nanami sama-sama terkejut, ia menatap gadis blonde itu dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa menghentikan perkelahian mereka berdua dengan mudah? Itulah pertanyaan kedua orang yang sedang ternganga itu. Sadar dengan ucapannya, wajah Sienna langsung memerah sepenuhnya, ia langsung membungkuk serendah-rendahnya.
"G-gomennasai, gomennasai, gomennasai!! Saya tidak bermaksud untuk mengatakan hal kasar seperti itu, gomennasai. Saya sudah melakukan kesalahan besar. Gomennasai.."
"Ano, Sienna-san? Apa kau sedang merapalkan mantra?" tanya Reiji yang membuat Sienna berhenti meminta maaf dan menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia sudah berpikir akan di pecat dari pekerjaannya sedangkan dirinya sangat membutuhkan pekerjaan ini agar hidup keluarganya bisa terjamin. "Daijoubu yo, Sienna-san. Mereka juga tidak keberatan kok. Lihat kan? Sekarang mereka jadi benar-benar berhenti berdebat." sambung Reiji sambil tersenyum dan berhasil membuat Sienna sedikit lebih tenang.
"W-warui na, nee-san..." gumam Naoki dengan semburat merah di pipinya, ia mengalihkan pandangannya seperti menghindari tatapan Sienna.
*maaf ya, kak
"Hn, suman." Ucap Ryuuga dengan datar dan dingin seperti biasanya, lalu kembali memakan cupcake nya.
*maaf
"Deshou? Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Sienna-san. Maafkan mereka ya, pasti ini sangat merepotkanmu."
* benar kan?
".....eh? Iie desu, arigatou gozaimasu Reiji-sama, Namikaze-sama, Naoki-sama." Sienna tersenyum dengan mata yang sudah memerah lalu membungkuk lagi, Nanami yang sedari tadi memperhatikan interaksi diantara mereka berempat pun tersenyum senang.
"Wah, ini nee-san yang buat? Aromanya lezat sekali~!!"
"Douzo, Naoki-sam-"
*silahkan
"Aa yamete, nee-san. Jangan panggil aku dengan -sama, lagipula aku bukan tuan disini. Panggil seperti biasa saja ya, nee-san?"
"Sore wa.. Muri desu yo"
*itu.. Tidak mungkin
"Nande? Jika kau biasakan pasti bisa."
"Wakarimashita Naoki-san."
Suasana di dalam ruang makan sudah mereda dan mulai tenang seperti sebelumnya. Setelah benar-benar memastikan bahwa mereka makan dan minum dengan baik-baik saja, Sienna dan Nanami pun memutuskan untuk masuk ke dapur agar mereka bisa makan dengan lebih leluasa. Hingga akhirnya datang satu lagi orang yang tak di undang.
"Shitsureishimasen, Ryuuga-sama."
*permisi (bahasa formal yang sangat sopan)
"Hn? Ada apa?"
"Maaf mengganggu waktu makan malam anda, tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
"Keiko-san, siapa yang ingin menemui adikku?"
"Saya tidak mengenalnya, Reiji-sama. Tapi dia memaksa saya untuk memanggil Ryuuga-sama atau dia yang akan masuk."
"Dare ka..?" gumam Ryuuga sambil menaikkan sebelah alisnya
*siapa?
"Kurasa itu bukanlah Arata meskipun Arata minim sopan santun. Entah kenapa.. Aku punya firasat buruk." ujar Naoki sambil melirik Ryuuga sekilas lalu ia kembali menatap Keiko yang masih berdiri di depan ruang makan.
__ADS_1
"Otomodachi desu ka, otouto yo?"
*apa itu temanmu, adikku?
"Iie, chigau." Walaupun sebentar, Ryuuga terlihat mengekspresikan sedikit rasa lelahnya, dahinya berkerut.
*tidak, bukan
Saat mereka sedang berunding membahas siapakah manusia tidak diundang yang telah mengganggu ketenangan mereka setelah badai telah mereda, tiba-tiba seseorang menerobos masuk melewati Keiko dengan mudahnya hingga membuat pria berjas hitam itu terkejut setengah mati bukan hanya karena dia menerobos masuk tapi juga takut dipecat karena tidak becus mengurus satu orang.
"O-oi chotto matte!"
*tunggu sebentar!
"Konbanwa Ryuuga-kun~!!!" sapa gadis itu dengan riang nya tanpa memperhatikan siapapun kecuali pangerannya yang memang menjadi tujuannya datang ke mansion ini. Gadis itu tidak segan-segan langsung berlari menghampiri Ryuuga dan memeluknya dengan wajah yang err.. Terkesan sedikit berlebihan. Reiji menaikkan sebelah alisnya setelah melihat gadis yang dengan seenaknya menerobos masuk ke dalam rumah mereka dan mengganggu waktu malam mereka.
"Mattaku..." geram Naoki sambil memijat dahinya, ia melirik Ryuuga yang terlihat tidak terganggu dengan kehadiran gadis yang selalu menempel padanya.
*ya ampun
"Jaa, anata wa dare desu ka?" tanya Reiji sambil tersenyum ramah. Gadis itu terperangah melihat satu lagi orang yang tampannya luar biasa, mulutnya sedikit terbuka.
*kalau begitu, anda siapa?
'Tidak sopan sekali gadis ini. Sejak kapan selera Ryuuga menjadi serendah ini? Cih menyebalkan sekali.' batin Naoki yang menatap gadis itu dengan jengkel. "Oi, Nii-chan sedang bertanya padamu. Kenapa kau diam saja senpai?!" tanya Naoki dengan ketus hingga membuat nya tersadar kembali lalu menelan ludah kesusahan.
"A-atashi no namae wa Mizuno Erika desu. Anata wa dare?" tanya Erika tanpa berpikir panjang dan berhasil membuat Naoki mendengus kesal.
"Oi omae! Seperti apa orangtua mu mendidikmu? Sopan lah sedikit dirumah orang lain."
"Apa maksudmu?! Jaga bicaramu, Naoki! Aku sudah bertanya dengan sopan."
"Huh?! Ini yang kau sebut sopan?! Yang benar saja. Oi, Ryuuga bisakah kau keluarkan tamu tak diundang ini?!"
"Bukankah kau juga tak diundang? Sadar diri, Naoki."
Ucapan Ryuuga benar-benar menusuk hati Naoki. Ia tertegun setelah mendengar jawaban Ryuuga, ia juga merasa sedikit sedih saat Erika menunjukkan senyum merendahkannya. Naoki duduk dengan wajah muram nya, ia lanjut memakan makanannya dengan tenang namun wajahnya tak menandakan ia baik-baik saja.
"Apakah kau pacar Ryuuga?" tanya Reiji lagi. Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Reiji, ia melirik sekilas wajah Ryuuga lalu ia tersenyum.
"Hai', sou yo.."
*iya, begitulah
"Jangan menjawab seenaknya!" Ryuuga mengangkat wajahnya, ia menatap Erika dengan sangat tajam namun Erika seperti sudah kebal dengan segala tindakan Ryuuga padanya.
"Maa ne, lagipula aku masih menyukai mu Ryuuga-kun." ujar Erika
"Hei, senpai. Sopanlah sedikit."
"Ne, ne Ryuuga-kun ayo kita pergi jalan-jalan!! Kau kan sudah berjanji setelah aku selesai dengan hukumanku kau akan menemaniku pergi." ujar Erika dengan antusias tanpa memperhatikan keadaan dan membuat Naoki menjadi semakin geram.
"Cih mou ikagenishirou! Aku muak dengan kalian berdua!"
*sudah cukup!
"Kenapa kau ini? Aneh sekali." ucap Erika tanpa ada rasa malu, canggung, ataupun takut. Naoki menggertakkan giginya, rahangnya mengeras menahan emosi.
"Kau lah yang aneh, senpai! Aku tidak iri dengan kedekatan kalian tapi bisakah kau hargai orang lain yang ada disini?! Terutama pada Reiji nii-chan apalagi dia adalah kakak kandung Ryuuga!" bentak Naoki dengan emosi yang sudah meluap-luap, ia sampai menunjuk-nunjuk Reiji sangking kesalnya.
Sementara itu, Sienna dan Nanami yang juga sedang makan malam di dapur pun terkejut, mereka pun terganggu dengan kebisingan yang terjadi dari dalam ruang makan. Mereka saling tatap.
"Ba-san, apa sedang terjadi sesuatu?"
"Sepertinya begitu.."
"Ayo kita lihat, ba-san."
"Jangan sampai kita terlihat."
"Baiklah"
Akhirnya mereka berdua mengintip dari balik pintu dapur dan mereka benar-benar terkejut dengan situasi yang sedang terkejut. Sienna fokus pada seorang gadis yang ada diantara mereka. 'Siapa gadis itu? Sejak kapan dia ada disini?' tanya Sienna dalam hati.
"Pernahkah kau memikirkan orang lain, hah?! Yang benar saja. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu!"
"Tch Damare! Aku muak dengan semua ocehan mu, baka!"
*Diam!
"Apa urusannya denganku?!"
"Aku tidak pernah iri dan tidak akan pernah iri dengan hubungan yang kalian punya! Bisakah kalian menghargai orang lain?!"
"Tutup mulutmu! Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?!"
"Aku selalu melindungi mu dari berbagai masalah yang kau timbulkan sendiri, aku selalu peduli padamu lebih dari apapun."
"Aku tidak pernah memintamu untuk peduli padaku!"
"Kau tidak akan pernah mengerti karena hatimu sedingin dan sekeras es! Kau tidak akan pernah bisa memahami kasih sayang orang lain terhadapmu!"
"Aku bahkan tidak memintamu untuk perhatian padaku!"
"Aku sangat peduli padamu tanpa kau minta karena kau adalah sahabatku !"
"Aku benci dengan semua hal tentangmu! Aku bukan sahabatmu dan jangan dekati aku!" ucapan Ryuuga mengakhiri segala argumen yang sudah terucap, Naoki kembali tertegun setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ryuuga. Ryuuga melenggang pergi dengan wajah yang marah sementara itu Naoki masih tetap berdiri di tempatnya, ia menunduk dalam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Poni mulai menutupi matanya sehingga tidak ada yang dapat melihatnya. Erika pun langsung mengejar Ryuuga yang pergi menuju kamarnya.
"Naoki-kun, daijoubu. Ryuuga tidak mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, dia hanya sedang tersulut emosi jadi-" Reiji berusaha menenangkan Naoki terlebih dulu, ia tahu apa yang dirasakan Naoki.
"Wakatteru, nii-chan.. Wakatteru tte ba... Dakara koso..." Naoki tak mampu melanjutkan ucapannya lagi, bibirnya mengatup rapat dan kepalan tangannya semakin menguat. Lantas Naoki mengangkat sedikit kepalanya, membuat Nanami, Sienna, maupun Reiji terkejut. Naoki tersenyum nanar dengan tatapan sedih sekaligus kosong yang sangat terasa di hati orang yang melihatnya. Baru pertama kali ini Naoki menunjukkan senyuman putus asa nya pada orang lain. Bahkan Reiji pun ikut memasang wajah sedih. Naoki melangkah keluar menuju taman belakang mansion Namikaze, sementara Reiji segera menyusul Ryuuga yang sudah pergi sedari tadi.
*aku mengerti, kak.. aku mengerti.. karena itulah..
"Kacau sekali keadaan disini.." gumam Sienna pelan, ia menengok melihat Nanami yang sudah berkaca-kaca seperti berusaha menahan air matanya. "B-ba-san.." Sienna segera menggenggam tangan Nanami dengan erat.
"Mereka berdua.. Tidak pernah bertengkar sehebat itu.." Nanami menunduk, ia memegang dadanya. Sienna ikut merasa kesedihan Nanami yang mendampingi mereka sampai mereka tumbuh menjadi lelaki yang berbakat dan sehat. Ia menoleh menatap ruang makan yang sudah lengang, meja makan sangat berantakan karena peralatan makan yang berserakan.
"Ba-san, biarkan aku menyusul Naoki-san. Ba-san bereskan saja meja makannya." Sienna melepaskan genggaman tangannya pada Nanami lalu melangkah pergi.
"Sienna.." panggil Nanami lalu Sienna berbalik
"Ada apa?"
"Tolong ya.."
"Hai' serahkan saja padaku."
Sienna berlari kecil menyusul Naoki yang sudah lebih dulu pergi beberapa menit yang lalu. Ia mencari-cari dimana Naoki dan akhirnya menemukan lelaki itu sedang duduk disalah satu kursi tepat dibawah lampu taman. Ia menunduk dengan wajah datar. Sienna berjalan dengan langkah pelan dan tersenyum lembut.
"Naoki-san?" panggil Sienna
"Oh, nee-san? Kenapa kau ke sini?" tanya Naoki dengan wajah lesu nya
"Bolehkah aku duduk disini?"
"Silahkan."
Sienna tersenyum senang lalu duduk disebelah Naoki. Ia memperhatikan tatapan kelam Naoki, terasa menyakitkan bagi siapa saja yang melihatnya. "Ne, Naoki-san. Kau itu orang yang sangat ceria bahkan saat pertama kali kita bertemu. Apa kau ingin tahu kesan pertama ku saat bertemu denganmu?" tanya Sienna dengan antusias.
"Silahkan"
"Ne, Naoki-san. Saat pertama kali kau menyapaku, aku menganggap dirimu adalah orang yang sangat aneh karena kau langsung menyapaku dengan sangat ramah, kau memberikan senyum ceria, dan kau sangat bersemangat. Aku menyukai sifat mu dan disaat yang sama, aku merindukan adik bungsuku." ucap Sienna sambil tersenyum
"Eh? Nee-san punya adik?" tanya Naoki dengan nada datar
"Eng, aku punya dua adik. Adikku yang pertama bernama Haru-chan dan yang terakhir adalah Sora-kun. Ano ne, Sora-kun sangat mirip denganmu, sifat yang ia punya sangat mirip denganmu.. Oh, aku juga punya cerita, apa kau mau dengar?"
"Hm, boleh."
"Dulu, saat aku masih kecil, aku bermain di taman kota bersama ayah, Haru, dan Chiaki sepupuku. Kami bermain kejar-kejaran setelah itu kami beristirahat, tapi aku dan ayah terkejut saat mendengar tangisan Haru-chan lalu kami menghampirinya yang sedang menangis dibawah ayunan. Ternyata, Chiaki-kun menjahili Haru-chan sampai dia menangis."
"Hee Souka.."
"Ano saa, aku tidak begitu ingat dengan pesan ayahku tapi... Aku ingin membantumu, Naoki-san." ujar Sienna yang mendekatkan wajahnya pada Naoki, mata pemuda itu membulat sempurna saat melihat keseriusan Sienna yang begitu terpancar dari iris sapphire nya itu. Mulutnya sedikit terbuka, ia benar-benar tidak mengira gadis ini memikirkan dirinya.
"...." semula ia ingin mengatakan sepatah kata namun ia urungkan dan bibirnya mengatup kembali.
"Ayahku pernah mengatakan bahwa pertemanan itu sangatlah unik tergantung dari setiap individu yang membuat ikatan itu maupun dari gender mereka. Perempuan akan menunjukkan kasih sayangnya pada teman dengan ketulusan yang nampak, seperti misalnya bergandengan tangan, saling memeluk, atau bahkan menangis bersama tapi berbeda dengan lelaki, mereka cenderung menggunakan sedikit kekerasan atau bahkan sampai saling mengejek satu sama lain, tapi itulah bentuk peduli dari teman." tutur Sienna dengan senyum tulusnya sambil menjentikkan jarinya ke atas
"Sou.. Ka.."
"Sou yo, jika pertemanan itu di bentuk antara perempuan dan lelaki maka kemungkinan besar perempuan akan selalu dijahili bukan karena lelaki itu jahat tapi itu adalah bentuk perhatian dan rasa sayangnya, ayahku bilang... Laki-laki melakukan itu karena ekspresi wajah perempuan akan semakin lucu dan menggemaskan loh."
__ADS_1
"..."
"Pertemanan itu selalu memiliki hal yang mengejutkan, pertengkaran juga akan ada, rasa iri, rasa kesal, tapi semua itu wajar. Kebaikan seseorang dan cara orang itu mengekspresikan rasa sayangnya selalu berbeda-beda. Naoki-san wa adalah orang yang sangat ekspresif, kau menunjukkan dengan kepedulian mu yang luar biasa tapi Ryuuga-san pasti juga memiliki cara sendiri, mungkin meskipun dia terdengar selalu menolak mu tapi tidakkah ia menunjukkan tindakan yang sebaliknya? Dia hanya canggung dan tidak tahu bagaimana cara menyampaikan isi hatinya dengan mudah seperti caramu."
"...Nee-san.."
"Kalian berdua sudah tumbuh besar bersama-sama, ikatan kalian bukanlah hal yang mudah diputuskan begitu saja, kan? Kalian itu saling melengkapi loh, Naoki-san."
"Hontou? Tapi aku dan dia selalu bertentangan. Kita ini seperti air dan minyak, bisa berdampingan tapi tak bisa bersatu. Tujuan kami berbeda." Naoki bersandar pada bahu Sienna dan membuat gadis itu tersentak kaget. Ia melirik lewat ekor matanya, Naoki begitu lesu dan matanya sudah tak secerah biasanya, cahayanya sedikit meredup.
"Itu tidak benar, Naoki-san. Kalian ini sangat cocok bersama karena sifat kalian yang berbeda... Kalian sebenarnya saling mengakui keberadaan masing-masing. Hanya saja... Kalian tidak terbuka satu sama lain."
"Benar, kan? Kami memang tidak pernah bisa saling mengerti." ujar Naoki dengan senyum miris, ia seperti mengasihani dirinya dan juga ikatannya dengan Ryuuga. Sienna menggigit bibir bawahnya menahan rasa sesak yang juga ia rasakan saat melihat Naoki mode sedih seperti sekarang.
"Jaa, Naoki-san. Aku ingin menanyakan satu hal padamu."
"Apa?" tanya Naoki tanpa tenaga
"Untuk apa kau bersikap sangat ceria? Kau tidak akan bisa tersenyum seperti itu setiap saat, aku tahu kau sendiri juga punya masalah. Lalu kenapa kau selalu gembira di hadapan banyak orang?" Naoki membelalak setelah Sienna menanyakan hal yang sangat sensitif untuk dirinya, Sienna seolah mulai mengerti apa yang ia coba sembunyikan dari banyak orang di sekitarnya. Tangannya kembali mengepal dengan tatapan kosong yang menghadap ke rerumputan di bawah kakinya.
"Sore.. Ore wa.. Tsuyoku.. Ni... Naritai..." jawab Naoki dengan lemah, Naoki seperti benar-benar berusaha menjadi orang yang tegar.
*itu.. Aku ingin menjadi kuat
"Sugoi wa ne.. Aku tidak bisa menjadi orang periang seperti dirimu dan itulah yang dibutuhkan Ryuuga-san."
*hebat ya..
"Untuk apa dia membutuhkan hal yang tidak berguna seperti itu?"
"Tentu saja ada, kau kan tahu kalau dia adalah orang yang sangat pendiam dan suka menyimpan semuanya sendirian, ia sampai kesulitan menyampaikan pikirannya.. Dia pasti sangat kesulitan, bagaimana caranya menghibur dirinya sendiri? Pasti pertanyaan itu akan muncul dalam benak nya. Lalu kau datang dengan sifat mu, kau mengajaknya berbicara, bercanda, menemaninya, mengisi waktu luang bersama, dan terus mengajaknya bicara tanpa dia harus meminta. Disaat ia kesepian dan tidak tahu harus bagaimana, tanpa kau sadari kau ada untuknya dan kau menghiburnya dengan sifat periang mu. Kalau dilihat lagi semuanya memang tidak seberapa tapi itu akan membekas di hati nya."
"Eh?! Souka?"
"Mochiron desu!! Kaa-san wa pernah bilang 'Jadilah orang yang percaya dengan orang lain, tapi jangan lupakan dirimu sendiri, jika orang lain mulai meragukan mu dan kau ikuti alur itu lantas siapa yang akan percaya padamu selain dirimu sendiri? Kau hanya perlu hidup dengan menjadi dirimu sendiri. Suatu saat nanti sifat mu itu akan menolong orang lain.' begitulah kata kaa-san.. Aku sangat senang ketika mengingatnya, aku merasa lega.." Sienna tersenyum lembut, ia menutup matanya menikmati angin malam yang menderu. Naoki diam mematung setelahnya. Ia membeliak tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Gadis yang hanya ia ketahui namanya itu dengan mudah datang padanya lalu menghibur dirinya tanpa pikir panjang. Naoki pun kembali mengukir senyum meskipun tipis.
"Ne, nee-san.."
"Hm? Nan desu ka?"
"Arigatou... Tasukatta.. Hehe" Naoki memberikan cengiran khas nya lagi dan membuat hati Sienna lega.
*terimakasih.. Aku tertolong
"Sou yo, warae Naoki-san.. Kau terlihat lebih tampan dan keren." Sienna memberikan senyuman hangat layaknya seorang keluarga bagi Naoki dan tanpa alasan wajah Naoki memanas setelahnya. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan tidak jelas, ia mengalihkan pandangannya.
*benar, tersenyumlah
Sementara itu Ryuuga duduk di pinggir ranjangnya sambil memegangi keningnya, ia menunduk dalam sampai poni rambutnya menutupi matanya. Rahangnya masih mengeras, ia semakin merasa tersiksa setelah merasakan kemarahan pada Naoki. Erika yang mengejarnya pun telah tiba di depan kamarnya, ia melangkah pelan dengan kedua alis yang menurun.
"Ryu.. Ryuuga-kun?" panggil Erika dengan pelan, ia sedikit ragu untuk mendekat. Dengan berani ia duduk di samping Ryuuga dan mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu lebarnya namun tangan itu langsung ditepis kasar oleh si pangeran sekolah itu.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya dengan keras tanpa melihat Erika, ia terus saja menunduk. Hawa dikamar itu mendadak berubah menjadi lebih suram dan dingin bahkan tidak ada orang yang ingin berlama-lama didalamnya.
"Ryuuga-kun, apa kau baik-baik saja?"
"...."
"Kau masih memikirkan kejadian yang barusan?"
"...."
"Ne, Ryuuga-kun. Kau tidak perlu memikirkan orang itu lagi, dia bukan teman yang baik untuk dirimu. Jika dia memang teman yang baik seharusnya dia mengerti dengan keadaanmu tapi dia malah—"
"Urusai!"
*berisik
"Ryuuga-kun! Dengarkan aku dulu! Bukankah kau terganggu dengan kehadirannya?! Keputusanmu sudah benar lalu apa yang mengganggumu?"
"Urusai kusso onna!"
*berisik gadis sialan!
"..Ryuuga-kun..." Erika membeliak terkejut saat Ryuuga benar-benar mengumpat karena dirinya namun ia tetap ingin berada di samping Ryuuga untuk terus menemaninya karena cintanya. "Terserah kau ingin mengatakan apa tapi kau harus tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu! Aku akan ada di sisimu!"
"Cih persetan dengan itu semua, lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku bertindak kasar." ujar Ryuuga dengan lirikan tajam lewat ekor matanya
"Kasar...?" gumam Erika lalu kemudian ia mengkhayal entah kemana hingga muncul semburat merah di pipinya 'kyaa aku membayangkan bagaimana Ryuuga-kun menyentuhku! Akhirnya dia membalas perasaanku~' akhirnya ia histeris sendiri dan membuat Ryuuga merasa jijik.
"Pergilah!" Ryuuga berdiri lalu ia menatap nyalang kearah Erika yang masih duduk ditepi ranjangnya. Erika mendongakkan kepalanya menatap Ryuuga yang sudah memiliki aura membunuh, pemuda itu lantas menarik pergelangan tangan Erika dengan keras hingga gadis itu langsung berdiri dengan limbung.
"Ryu—Ryuuga-kun! Kau mau apa?!"
"Keluar dari rumahku!" Ryuuga menarik tangan Erika kearah pintu dan Erika berusaha keras menahan langkahnya sendiri namun aksi Ryuuga terhenti saat sang kakak sudah muncul di depan pintu.
"...." Ryuuga menatap kakaknya dengan dingin, tangannya masih mencengkeram dengan kuat tangan Erika meskipun si empunya telah merintih kesakitan tapi ia tetap tak peduli.
"Ryuu... Lepaskan dia." perintah sang kakak namun Ryuuga tak bergeming, ia hanya diam menatap kakaknya yang sedang menatapnya dengan datar. Ryuuga paham dengan suasana hati sang kakak.
"Aku akan urus ini sendirian." balas Ryuuga yang hendak menarik Erika lagi namun Reiji menghentikan nya.
"Sudah ku bilang lepaskan." ulang Reiji yang kali ini lebih ia tekankan. Mau tidak mau Ryuuga melepaskan tangan gadis itu dengan kasar hingga gadis itu terhuyung. Bukan Erika namanya kalau tidak berkhayal tinggi. Ia menoleh ke Ryuuga lalu ke Reiji berulang kali. Wajah super tampan yang mereka suguhkan membuat Erika lupa dengan keadaan. 'Waah apa ini?! Apa adik kakak ini sedang berdebat merebutkan aku?! Kyaa yang mereka tampan sekali~!' Reiji beranjak ke belakang Ryuuga untuk mendekati gadis itu. Di analisisnya gadis itu baik-baik, tatapan yang begitu intens dari Reiji membuat Erika salah tingkah hingga kesulitan bernapas.
"N-nani..?" tanya Erika dengan nada pelan, sekarang wajahnya sudah semerah tomat.
"Hehe nan demonai yo. Oujo-chan, bisakah kau ikut aku sebentar?" tanya Reiji dengan senyumannya yang seperti biasa, Erika menelan ludah dengan susah payah lalu mengangguk dengan wajah memerah tanpa sebab.
*bukan apa-apa
Setelah itu Reiji dan Erika keluar dari kamar Ryuuga. Sang pemilik kamar dengan sigap langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Reiji terus berjalan membimbing Erika menjauh dari kamar Ryuuga. Setelah dirasa cukup jauh, akhirnya ia menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Erika yang kembali blushing.
"Apa kau kekasih Ryuuga?" tanya Reiji tiba-tiba
"Eh? Iya."
"Apa kau yakin?"
"A-aku sudah menjawabnya kan..?"
"Haha sou desu yo ne, tapi.. Ryuuga tak memperlakukanmu dengan baik layaknya seorang kekasih." selidik Reiji dengan wajah santainya
"Eh? I-i-itu karena dia memang begitu, apa kau tidak pernah memperhatikannya?"
"Hm, Souka.. Souka. Kalau begitu, bisakah kau dengarkan aku sebentar?" tanya Reiji, ia melangkah maju mempersempit jarak diantara mereka berdua. Erika sendiri sudah berkhayal jauh entah kemana.
"A-a-apa?"
"Jangan cuci otak adikku saat keadaannya sedang buruk seperti tadi. Kau tidak punya hak sedikitpun atas dirinya, iya kan?" Reiji tersenyum namun dengan alasan lain mampu membuat Erika ketakutan. Reiji mungkin tersenyum tapi arti senyuman itu sangat dalam dan menusuk, senyum yang menunjukkan betapa marah dan tidak sukanya Reiji terhadap dirinya. Kaki Erika bergetar dan mulai melemas. "Oh? Doushite?" tanya Reiji dengan wajah tanpa dosanya, ia sedikit menunduk agar dapat melihat wajah Erika lebih dekat. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Erika, ia sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Reiji. Gadis itu bahkan seakan tak memiliki suara lagi setelah melihat senyum Reiji yang sangat menyeramkan baginya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. "Oh iya, sekarang sudah malam sekali. Apa kau tidak ingin pulang? Seorang gadis tidak boleh pulang larut malam loh." ucap Reiji dengan nada ramah seperti biasanya.
"Kalau begitu, aku permisi!" Erika dengan susah payah mengumpulkan tenaganya kembali dan berlari sekuat tenaga, keluar dari mansion mengerikan itu.
"Hm.. Mudah sekali." Reiji menoleh ke arah kamar Ryuuga yang sudah tertutup rapat, ia menatapnya dalan diam lalu turun lagi ke bawah menuju ruang makan.
Ruang makan sudah rapi seperti semula, makanan pun masih tersedia di sana. Reiji melihat Nanami yang sedang membersihkan makanan dan peralatan makan yang sudah berserakan di lantai. Reiji datang menghampiri Nanami lalu menawarkan bantuan.
"Ba-san, biarkan aku membantumu membereskan kekacauan ini."
"Ah tidak perlu, Reiji-sama. Anda lanjutkan saja makan malamnya, dimana Ryuuga-sama?"
"Hm? Sepertinya dia sudah tidur. Naoki-kun dimana?"
"Eh? Dia masih ada di taman belakang bersama Sienna, Reiji-sama."
"Eh? Sienna-san?"
"Hai', apa perlu saya panggilkan untuk anda?"
"Tidak usah, ba-san. Aku sendiri saja yang akan menyusulnya."
Reiji beranjak ke pintu menuju taman belakang namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sudah lebih dulu melihat Naoki dan Sienna yang sedang berjalan kearahnya. Mereka berdua terlihat mengobrol dengan sangat nyaman, tak sedikitpun di wajah Naoki tersirat kesedihan, dia sudah kembali seperti biasa. Dalam alasan tertentu, Reiji mulai penasaran dengan sosok Sienna yang terlihat begitu hangat.
"Oh, nii-chan da! Ada apa? Kenapa kau bengong di depan pintu seperti ini?" tanya Naoki saat sudah sampai tepat di depan pintu. Sienna mengulas senyum manis di bibirnya lalu membungkuk hormat pada Reiji.
"...ah, tidak. Haha sepertinya percuma saja aku mengkhawatirkan mu." ujar Reiji sambil terkekeh.
"Cih, mou baka nii-chan!"
"Aku sudah menunggumu, apa kau mau makan denganku?"
"......" Naoki nampak terkejut dengan ajakan Reiji yang begitu mendadak untuknya dan lelaki itu mengerti perubahan ekspresi Naoki.
"Daijoubu yo, Naoki-kun. Ryuuga sudah tidur, ini akan menjadi makan malam romantis antara kau dan aku." ucap Reiji dengan ekspresi dan nada bicara yang menggoda, membuat Naoki dan Sienna terdiam dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Duh jangan sembarangan bicara, baka nii-chan!" teriak Naoki kesal
Malam yang terasa begitu panjang untuk semua orang yang berada di mansion Namikaze. Sienna merasa lega saat ia berhasil menghibur Naoki meskipun tak bisa di pungkiri ia pun mencemaskan Ryuuga tapi ia tahu bahwa Ryuuga bukanlah orang yang mudah di dekati dan mendengarkan ucapan orang lain. 'Kuharap kau baik-baik saja, Ryuuga-san.' doa Sienna dalam batinnya. Setelah selesai makan malam, Naoki pulang ke rumahnya meskipun Reiji sudah memintanya untuk menginap tapi dia terus menolak dengan alasan lain, padahal semua orang juga tahu kalau dia ingin menghindari Ryuuga keesokan paginya.