
"Maid baru?"
"Iya, nii-chan. Aku sudah merekrut maid baru hehehe." jawab Naoki sambil cengengesan
"Untuk apa?"
"Nanami ba-san akan sangat kewalahan jika mengurus dapur sendirian. Apalagi aku berencana ingin membuat acara penyambutan kedatangan mu kembali ke Jepang. Nanti malam kita harus merayakannya bersama!!" ujar Naoki dengan gembira, ia seperti tak pernah sedikitpun terlihat memiliki masalah. Itu sebabnya Reiji menyayangi Naoki yang dirasa mampu menjaga Ryuuga dengan caranya sendiri.
"Ahaha Souka, Souka.. Sankyuu Naoki-kun." Reiji tertawa kecil membalas penuturan Naoki
"Hei, Ryuuga. Kau juga harus ikut. Ini adalah reuni yang sangat berharga. Aku akan mengundang Izumi juga." Ryuuga melirik Naoki lewat ekor matanya yang tajam, sangat jelas bahwa Ryuuga tidak menyukai rencana Naoki untuk malam nanti. "Jangan memerintah ku, kau bukan bos disini." kata Ryuuga dengan nada yang sangat menusuk, namun Naoki sudah sangat kebal dengan hal ini. Dia hanya cemberut lalu memukul lengan Ryuuga dengan cukup keras hingga sendok yang sedang ia gunakan untuk makan pun terjatuh ke meja. "Ano kusso Ryuuga! Nii-chan sudah bertahun-tahun lamanya tidak tinggal bersama kita, kau wajib menyambutnya dengan baik." ujar Naoki.
•
•
Sienna sudah tiga kali bolak-balik mengambil air namun masih ada lebih dari setengah taman yang belum ia kerjakan. Sambil menyeka peluh di dahi, ia pun duduk di rerumputan sambil memandangi tanaman mawar putih di hadapannya. "Kirei..." gumam Sienna sambil tersenyum, jari jemari nya menyentuh kelopak bunga dengan gerakan lembut.
"Sienna? Kau sudah selesai?" panggil Nanami, Sienna terkesiap lalu tersenyum simpul "Belum selesai, ba-san hehe.."
"Souka? Ahaha tidak apa-apa, kau tidak perlu menyelesaikannya.." Nanami pun ikut duduk di sebelah Sienna sembari memandang wajah ayu gadis itu. "Sienna, kau cantik sekali..." puji nya tanpa mengalihkan perhatian nya, sementara Sienna merasa tidak nyaman dan tersenyum kikuk mendapat pujian dari wanita di sebelahnya.
"A-arigatou ba-san.." balas Sienna
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Nanami dengan suara lembutnya, Sienna pun mengangguk yakin. "Kau bisa menanyakan apapun padaku, ba-san." ucap Sienna dengan senyum ceria.
"Kenapa kau mau bekerja sebagai maid disini? Apa kau tidak dengar tentang gosip yang beredar dari orang-orang yang pernah bekerja disini?"
"...." untuk sesaat, terbesit dipikiran Sienna untuk berbohong pada Nanami. Tetapi ia langsung menepis pikiran itu karena Nanami adalah orang yang bisa ia percayai, apalagi usia nya yang sama dengan sosok ibunya. "Aku sangat membutuhkan uang, ba-san. Mungkin aku pernah dengar tapi aku menganggap itu sebagai gosip saja, selebihnya aku yang akan buktikan sendiri. Rumah ini juga tidak horror seperti yang digosipkan."
"Eh? Pfft.." Nanami mengulum tawanya, ia merasa penasaran dan lucu sekaligus, Sienna mengernyitkan dahinya bingung, "Ada apa, ba-san?" tanya Sienna sambil memperhatikan wajah Nanami. Nanami memegang bahu Sienna lalu menggelengkan kepalanya "Kau bahkan mendengar gosip tentang rumah angker juga? Hahaha... Kupikir kau mendengar gosip tentang kekejaman majikan kita."
"Ah itu? Aku juga dengar tapi aku belum pernah melihat majikan ku sendiri."
"Apa kau tidak takut?"
"Tidak. Memangnya bagaimana wajah majikan kita? Memangnya seperti The Beast?" tanya Sienna dengan polos dan membuat tawa Nanami pecah sedangkan Sienna sedikit bingung tetapi hanya ikut tertawa semampunya. "Hahaha kau ini..." Nanami menghentikan tawanya lalu ia menyeka air matanya yg turun di sudut matanya "Tentu saja dia sangat tampan, bahkan kau mungkin bisa saja menyukainya loh.."
"Huh? Ah tidak, tidak. Tidak mungkin, ba-san. Bagaimana kau bisa mengatakan hal konyol seperti itu?"
__ADS_1
"Hm.. Kenapa ya? Ah iya, mungkin karena umur mu yang tidak jauh beda dari tuan muda, jadi aku bisa sedikit meramal." jawab Nanami sambil terkekeh geli dengan topik pembahasan mereka. "Kau ini orang yang seru diajak bicara ya.. Aku senang sekali kau tetap memilih bekerja disini." ujar Nanami dengan senyum hangatnya, Sienna membeliak kaget lalu ia pun membalas senyuman Nanami. Nanami beranjak dari duduknya lalu membersihkan rok nya, "Sienna, aku harus masuk. Kau masih ingin disini?"
"Aku akan tetap disini, jika ba-san membutuhkan ku, langsung saja panggil aku." ucap Sienna
"Baiklah kalau begitu.. Sampai nanti." Nanami melambaikan tangannya pada Sienna dan dibalas pula oleh gadis pirang itu. Setelah Nanami masuk ke dalam dapur, Sienna kembali menatap bunga-bunga mawar di hadapannya.
"Huft... Aku belum begitu terbiasa dengan ini semua. Oh iya, aku belum menghubungi Haru dan Sora, aku juga belum sempat menghubungi Yui dan Aika-chan." Sienna langsung merogoh saku rok nya dan mengambil ponsel nya. Beberapa menit kemudian, Sienna menghubungi telepon rumahnya.
"Moshi-moshi?"
"Moshi-moshi, nee-chan."
"Haru-chan, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, kami semua disini baik-baik saja. Kenapa kau baru menelepon?"
"Gomen, aku baru saja pindah pekerjaan jadi aku tidak sempat menelepon mu kemarin. Ah iya bagaimana kabar kaa-san?"
"Souka? Kenapa pindah? Kabar ibu sudah lebih membaik tetapi masih harus dirawat di rumah sakit dengan intens. Kau tahu keadaan rumah kita, kan? Terlalu dingin untuk ibu."
"Souka.. Bagaimana dengan sekolahmu dan Sora-kun?"
"Benarkah?! Ah, aku mengerti. Maafkan aku ya, kalau begitu aku akan secepatnya mengirim uang untuk uang saku kalian dan juga untuk membeli sepatu baru."
"Jangan sampai kau meminjam uang orang lain, nee-san. Aku mengatakan ini karena aku tidak ingin berbohong padamu. Kau terus bertahan dan berjuang sampai detik ini, terima kasih sudah bertahan untuk kami."
"....Ahaaha kau ini sudah berubah ya, kau jadi lebih jujur dengan perasaan mu.. Baiklah, aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa lagi."
"Wakatta."
Sienna sudah menitikkan air matanya. Ia tak kuat menahan perasaan sakitnya ketika mendengar kedua adiknya sangat pengertian terhadap dirinya yang sedang berjuang mengumpulkan uang untuk keluarganya. Lalu, ia kembali mengumpulkan reruntuhan benteng hatinya yang sempat runtuh, setelah dirasa cukup akhirnya ia menghubungi nomor telepon Yui tepat di saat jam istirahat.
"Moshi-moshi Yui?"
"Sienna? Kemana saja kau?! Kenapa kau baru menghubungi ku?!"
"Telingaku sakit, Yui. Gomen, kemarin aku sangat buru-buru sampai tidak sempat mengabari siapapun."
"Sekarang kau dimana? Apa kau sudah kembali?"
__ADS_1
"Ano...Yui.."
"Kenapa? Ada apa? Katakan saja. Apa yang terjadi?"
"Kau ada dimana? Apa kau sedang sendirian?"
"Aku sedang ada di toilet. Apa ini pembicaraan yang serius? Ya, aku sendiri."
"Kurasa kau seharusnya masih ingat dengan pembicaraan kita beberapa waktu yang lalu soal keputusanku."
"Tunggu dulu... Apa???!!! Jadi.."
"Iya, maafkan aku. Aku sungguh sangat minta maaf karena aku tidak memberitahu mu terlebih dahulu.."
"Huh.. Kau ini.. Padahal aku sudah sangat mengkhawatirkan dirimu. Lalu bagaimana hari mu?"
"Apa.. Kau tidak marah padaku?"
"Untuk apa aku harus memarahi mu? Meskipun aku keras, tapi aku juga bisa mengerti keadaan orang lain loh."
"Hontou ni?! Aku sungguh sangat berterimakasih padamu, Yui. Terimakasih kau telah banyak membantu ku.."
"Hei, apa kau menangis? Aku bahkan tidak memukulmu lalu apa yang membuatmu menangis?"
"Kau sudah membantuku mencari pekerjaan dan sekarang aku bisa berada disini karena dirimu, terimakasih banyak."
"Hei, itu kan usaha mu sendiri. Tidak ada kaitannya denganku."
"Ah tapi.. Bisakah kau tidak memberitahu Aika-chan dulu? Jika aku punya waktu untuk bertemu kalian, aku yang akan menjelaskannya sendiri."
"Wakatta, kau bisa percaya padaku. Aku tidak akan memberitahu Aika."
"Bolehkah aku menghubungi mu kapan saja jika aku kesulitan disini?"
"Tentu saja. Aku akan sangat senang jika kau benar-benar melakukan itu."
"Aku harus kembali bekerja dan waktu istirahat mu sudah hampir selesai kan? Kalau begitu aku tutup teleponnya. Sampai nanti."
"Jaa ne."
__ADS_1
Sienna dapat bernapas lega. Bebannya terasa sedikit berkurang kala mendengar jawaban dari teman kerja nya itu. Ia sungguh bersyukur dapat bertemu dengan teman-teman yang penuh pengertian terhadap dirinya yang berperan sebagai tulang punggung di keluarganya.