
"E-eh? Iya Naoki-san.. saya akan mengurusnya, permisi." Yui hendak pergi mendekati Sienna tapi tangannya ditahan oleh Naoki sendiri lalu tersenyum jahil.
"Hehehe, Nee-san disini saja. Lihatlah tontonan seru ini, aku sangat jarang melihat Ryuuga berekspresi seperti itu." Ujar Naoki menarik Yui agar tetap diam disampingnya tanpa mengganggu pertunjukan tersebut.
"Dengar ya, anak muda. Bisakah anda bersikap sopan?" Tanya Sienna dengan penuh penekanan, menatap lurus ke mata Ryuuga yang juga sedang menatapnya kesal. Sienna harus mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda yang menjulang tinggi didepannya itu.
"Kau pikir kau ini siapa, eh? Seharusnya kau melayani pelanggan dengan baik." Ketus Ryuuga tak kalah tajam.
"Souka? Apa aku terlihat sedang bersantai disini?" Sienna merendahkan nada bicaranya sehalus mungkin agar pemuda dihadapannya ini mengerti kondisinya namun jauh diluar dugaan, Ryuuga malah mendelik marah kearahnya.
"Terserah apa katamu. Kerjamu tidak becus." Ryuuga memasang wajah datarnya kembali membuat Sienna terkejut sekaligus keheranan melihat sikap seorang anak muda yang begitu cepat berubah hanya dalam hitungan menit.
Ryuuga menarik tangan Naoki yang sedang asyik menontonnya dari kejauhan sedari tadi. Naoki tertawa lepas melihat ekspresi Ryuuga yang merasa tertantang dengan seorang gadis biasa. Akhirnya mereka pun memilih pergi tanpa memesan makanan di toko kue itu. Yui membungkuk memberi salam, setelah mereka keluar dari sana, Yui langsung mencubit lengan Sienna dengan kuat hingga Sienna mengaduh kesakitan dan meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.
"Kau sudah gila ya?! Berani sekali kau menantang orang itu?! Hahh.. kau pasti sudah gila!!" Yui mengacak rambutnya lalu menggoyangkan tubuh Sienna seakan benar-benar tidak percaya dengan keberanian teman cantiknya tersebut. Sienna mengerutkan dahi bingung, ia tidak mengerti maksud ucapan Yui.
"Kau ini kenapa sih? Sudah jelas dia berlaku tidak sopan, kenapa kau menganggap aku yang gila?" Tanya Sienna dengan wajah polos tanpa dosanya dan semakin membuat Yui ingin menangis karena kebodohan Sienna.
__ADS_1
"Kau tahu tidak? Dia itu pelanggan setia toko ini!! Kenapa kau bisa seenak jidatmu memperlakukannya dengan kasar?! Bagaimana jika Izumi tahu atau bahkan jika para pegawai disini tahu?!" Cerca Yui yang masih mencengkeram kuat kedua lengan Sienna. Sienna terkejut bukan main ketika Yui menjelaskannya tentang kedua pemuda yang baru saja pergi.
"Hontou??!!! Kenapa kau tidak menghentikan ku tadi~? Huwaa kau ini bagaimana sih Yui-chan~" Sienna merasa sangat bersalah, ia merutuki kebodohannya sendiri. Mengumpat dalam hati. Sienna melihat pintu utama toko tersebut lalu menghela napas kasar.
"Apa yang harus ku lakukan, Yui-chan?" Tanya Sienna dengan lemas
"Aku juga tidak tahu. Untung saja semua pegawai sudah pulang, jadi mereka tidak akan tahu hal ini. Ya sudah, besok mungkin mereka akan datang, kau bisa meminta maaf. Sekarang sudah waktunya menutup toko." Yui mengelus bahu Sienna lalu mengajaknya bersiap-siap untuk pulang.
"Tapi, bukankah mereka terlihat lebih muda dari kita?" Tanya Sienna
"Iya, mereka memang masih muda. Sekolah mereka ada diseberang toko ini, dibalik gedung itu." Yui menunjuk sebuah gedung besar yang dibelakangnya terdapat sekolah menengah atas para elit. Sienna menyipitkan matanya tak suka.
"Etto.. ku dengar, itu memang sekolah elit dan kebanyakan dari mereka memang donator terbesar sekolah itu. Tapi tidak semua siswa berasal dari keluarga kaya, karena sebagian kecil dari mereka adalah orang yang tidak mampu tapi mengandalkan beasiswa yang mereka dapat." Yui mengusap-usap dagunya dengan tampang berpikir keras.
"B-benarkah? Begitu ya.." Tatapan Sienna masih tidak berubah, benar-benar terlihat jelas kalau dirinya sangat tidak suka dengan orang-orang kaya. Yui menghela napas lalu menarik tangan Serena masuk ke dalam ruang istirahat pegawai.
"Hei, dimana Aika? Kau bersiap-siap dulu, ganti bajumu. Aku akan me-" Belum sempat Yui menyelesaikan ucapannya, Aika sudah lebih muncul sembari merengangkan otot-otot lengannya yang pegal.
__ADS_1
"Yokatta~ akhirnya selesai juga, huft." Aika masuk sambil beberapa kali memijat bahunya "Eh? Yui-chan, Sienna-chan.. kalian sudah selesai? Ah gomen ne~" tambahnya. Ia langsung ikut berkemas-kemas dengan cepat agar teman-temannya tak menunggu lama.
"Aika-chan kau terlihat lelah sekali." Ujar Sienna yang memperhatikan wajah lesu Aika
"Ah tidak kok~ aku hanya belum makan saja, nanti-" Sienna langsung menyela ucapan Aika yang berbohong, "Tidak, Aika-chan. Pulang dan istirahatlah, kita bisa berkeliling kota lain waktu. Aku tidak mau membuatmu sakit." Sienna menatap Aika dengan wajah serius, membuat sang objek merasa sedikit ketakutan dengan wajah serius Sienna.
"Ta-tapi.." Aika menautkan dua jari telunjuknya.
"Sienna benar. Kau harus istirahat, lagipula kita masih punya banyak waktu untuk bertemu, kan? Sudahlah, ayo ku antar kau pulang." Yui menggendong tas nya lalu mendekati Aika dan menggandeng lengannya.
"Ayo kita pulang, Sienna-chan." Ajak Aika dengan senyum tipis diwajahnya
"Baiklah, ayo." Sienna menggendong tas nya lalu mereka berjalan bersama menuju rumah masing-masing.
Setelah mengantar Aika pulang, Sienna segera pergi ke apartemennya. Berjalan begitu santai, menikmati pemandangan kota yang masih sangat ramai, membiarkan rambut panjangnya tertiup lembut oleh angin malam yang tidak begitu dingin.
"Ternyata suasana kota tidak begitu buruk." Gumamnya lirih sembari tersenyum senang. Sienna sudah berjalan lumayan jauh, ia merasa ingin istirahat dan akhirnya berhenti di toko ramen dipinggir jalan.
__ADS_1
"Sepertinya enak, tapi.. lebih baik uang ini ku belanjakan untuk membeli persediaan di rumah saja lah. Perut, bersahabat lah denganku ya~" Sienna tertawa kecil sambil mengelus perut ratanya lalu memutar arah dan masuk kedalam toserba untuk membeli beberapa kebutuhan yang ia butuhkan.