Nona Maid

Nona Maid
Kedatangan Tuan dan Nyonya Besar


__ADS_3

Siang itu Naoki, Ryuuga dan Arata sedang ada di dalam perpustakaan sekolah untuk belajar materi Geografi. Tentu saja mereka bertiga memilihi tempat duduk yang terpisah dan yang paling pojok, bukan untuk fokus belajar tapi agar mereka bisa melakukan sesuatu dengan lebih leluasa karena pandangan guru sedikit terhalang oleh barisan teman-teman mereka. Arata sibuk dengan tidur sembunyi-sembunyi nya, sedangkan Naoki sibuk dengan game di ponsel nya. Sementara itu, Ryuuga memilih untuk membolak-balik lembaran buku tanpa berniat membaca nya, matanya memang tertuju pada buku itu tetapi pikirannya entah pergi kemana.


"A-ano.. Ryuuga-san?" panggil seseorang dengan lirih. Ryuuga menoleh ke samping kirinya dan menatap gadis berambut coklat itu dengan malas "Hn" sahut Ryuuga. Anehnya, gadis itu tidak langsung mengatakan maksudnya memanggil namanya dan malah sibuk memperhatikan wajahnya dengan pandangan kagum dan pipi yang bersemu merah. Ryuuga bukannya terlalu percaya diri tapi situasi seperti ini tak jauh dari pernyataan cinta yang akan mendarat pada dirinya lagi. "Katakan." Ryuuga melirik tajam gadis itu dengan mata elang nya hingga membuat gadis itu tersadar dan gugup setengah mati.


"A-a-no.. I-itu.." gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri menghindari tatapan Ryuuga yang seakan membuatnya tak bisa bernapas. Gadis itu memainkan jarinya lalu menunduk. 'Apa sih?' batin Ryuuga dengan tidak sabaran. "I-i-itu.. A-aku.. M-me.." gadis itu semakin memerah padam seperti kepiting rebus. Ryuuga menghela napas pelan lalu menopang dagu nya sambil memperhatikan wajah gadis itu lamat-lamat. Polos.


"Kata—"


"Namikaze Ryuuga? Apa dia hadir?" tiba-tiba guru memanggil namanya dan memotong ucapannya. Ryuuga pun berdiri dengan ogah-ogahan. "Kemari lah, ada pemberitahuan untukmu." ujar guru itu dan akhirnya Ryuuga pun berjalan menuju ke depan meja gurunya. Gadis itu hanya mampu menatap Ryuuga yang berlalu pergi. Ia menghela napas kecewa lalu kembali membaca buku tebal di hadapannya.


Menyadari Ryuuga menghilang dari hadapannya, Naoki langsung buru-buru mematikan ponsel nya lalu memandang Ryuuga yang sedang berjalan menuju meja guru, "pemberitahuan apa ya.." gumam Naoki pelan, dari bawah meja, ia menendang kaki Arata dengan cukup keras hingga membuat sang empunya terbangun dengan kaget. "Kenapa kau ini?! Sakit tahu." Ucap Arata dengan ketus sedangkan Naoki langsung menutup mulut Arata dengan telapak tangannya. "Ssstt, diam. Ryuuga kenapa di panggil oleh Nana-sensei? Apa ada sesuatu?" Tanya Naoki pada Arata dengan nada berbisik.


"Lalu aku harus bertanya pada siapa?!" Tanya Arata balik dengan sebal karena bocah di sebelahnya itu telah mengganggu tidur siang nya yang tenang.


"Ah summimasen, Sensei!!" Panggil Naoki sambil mengangkat tangan kanannya


"Ada apa Naoki?"


"Saya izin ke toilet sebentar, Sensei."


"Silahkan."


Naoki langsung beranjak dari duduknya dan memperhatikan raut wajah Ryuuga sebelum ia benar-benar menghilang dari balik pintu. 'Dia terlihat biasa saja.. ada apa ya?' batin Naoki bertanya-tanya, ia sangat penasaran.




         Sementara itu, di mansion besar milik Namikaze, Nanami dan Sienna sedang memasak hidangan untuk acara pesta penyambutan. Ada beberapa maid juga yang membantu mereka memasak makanan. Sienna dengan sigap membantu membuat beberapa macam kue yang ia bisa.


"Nanami ba-san, kenapa kita membuat makanan begitu banyak?" Tanya Sienna sambil sibuk menghias kue di depannya


"Ah kau belum tahu? Keluarga Namikaze akan berkumpul setelah sekian lama, jadi kita harus siap dengan hidangan untuk malam ini." Jawab Nanami yang sibuk dengan masakannya


"Eh? Souka..." Sienna langsung bersemangat setelah mendengar hal itu. Sebab itu adalah acara besar yang sangat penting, jadi ia harus mengerjakan segala yang ia bisa dengan hasil yang terbaik. 'Yosh, ganbarou Sienna!!' batin Sienna, ia pun tersenyum senang setelahnya.




Saat ini Ryuuga dan Naoki sudah ada di tempat kepala sekolah. Ryuuga sendiri tidak paham kenapa Naoki harus ikut dengannya padahal panggilan dari kepala sekolah hanya untuknya. Setelah beberapa menit menunggu, seseorang mengetuk pintu ruang kepala sekolah.

__ADS_1


"Ya, silahkan masuk." lalu seseorang yang mengejutkan muncul dari balik pintu kayu tersebut.


"Reiji nii-chan?!" Naoki menganga lebar akibat kehadiran Reiji disekolah mereka berdua. Reiji hanya tersenyum simpul lalu membungkuk hormat di depan sang kepala sekolah. "Konnichiwa, Ai-sensei." sapa Reiji dengan sangat sopan.


"Konnichiwa, Namikaze-san." kepala sekolah membalas sapaan Reiji dengan senyum tipis lalu menghadap kedua remaja di hadapannya. "Karena Namikaze-san datang kemari untuk alasan penting, kalian saya izinkan untuk pulang lebih awal. Tapi kalian ingat, kalian harus tetap tanyakan tugas apa saja yang hari ini diberikan dan kumpulkan besok pagi." jelas sang kepala sekolah dengan tegas.


"Baik, sensei." jawab Ryuuga dan Naoki dengan serentak


*singkat cerita*


Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil porsche mewah dan melaju di jalanan dengan kecepatan sedang.


"Nii-chan, memangnya ada apa? Kenapa kau menjemput kami?" Tanya Naoki yang duduk di kursi samping Reiji


"Menurutmu?" tanya Reiji lagi


"Eh? Kita akan jalan-jalan?" Naoki memandang Reiji dengan mata berbinar senang namun Reiji hanya mengangkat bahu ringan dan tersenyum tipis. "Kenapa jawabanmu hanya seperti itu?!" Naoki mengerutkan dahinya.


"Bisa dibilang begitu tapi lebih tepatnya.. Kita akan mencari hadiah untuk ayah dan ibu, nanti malam kita akan mengadakan pesta kecil haha.."


Ryuuga langsung terkesiap, matanya membulat sempurna ketika Reiji menyelesaikan ucapannya. Rahangnya mengeras seiring kedua tangannya yang mengepal. Ryuuga sangat tidak menyukai dua orang yang membuatnya merasakan sakit yang tak berujung selama hidupnya. Naoki menoleh ke kursi belakang dan memperhatikan Ryuuga.


"Kau dengar itu, Ryuuga?! Kita akan mengadakan pesta!!!" seru Naoki dengan hati gembira sampai tak menyadari sorot mata Ryuuga yang dipenuhi kebencian.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Reiji langsung mengajak kedua adiknya itu ke dalam toko jam. Tentu saja jam-jam yang di pajang dalam etalase adalah jam bermerek dengan harga selangit. Naoki sampai menganga lebar melihat satu per satu jam berkilauan yang sudah bisa dipastikan tak dijual dengan harga murah. 'Orang kaya memang berbeda sekali kelasnya...' batin Naoki. Padahal Naoki juga orang yang cukup mampu namun dia memang tak terlalu menampakkan nya dan lebih memilih terlihat seperti pengemis dimata Ryuuga.


"Hm.." Reiji mengusap dagunya sambil memperhatikan jam-jam mewah disana, sedangkan Ryuuga memilih untuk tetap menunggu didepan toko sambil mendengarkan musik menggunakan earphone nya.


"Hei, nii-chan!! Lihat yang ini!!" Naoki melambaikan tangannya pada Reiji dan menunjuk etalase di hadapannya dengan antusias.


*Beberapa menit kemudian


"Yo Ryuuga~!! Menunggu lama, eh?" Naoki menepuk bahu Ryuuga dan membuatnya tersentak kaget lalu menatap Naoki dengan datar dan tak berniat membuka mulut sama sekali. Ia langsung membenarkan tas nya dan menatap Reiji. "Aku ingin pulang." ucap Ryuuga dengan dingin.


"Eehhh?? Kita kan baru membelikan kado untuk—" belum sempat Reiji menyelesaikan ucapannya, Ryuuga buru-buru menyela dan melangkah pergi dengan suasana hati yang sudah sangat buruk hingga muncul ke permukaan dan tercetak jelas di wajah stoik milik Ryuuga. "Aku tidak peduli. Kau saja yang cari, aku ingin pulang sekarang." Ryuuga pun pergi tanpa berbalik dan mendengarkan panggilan Naoki. Setelah Ryuuga menghilang dari pandangan mata, Reiji pun tersenyum getir dan menepuk bahu Naoki. "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan, mungkin dia sedang ada masalah sendiri. Ayo, temani aku mencari hadiah untuk ibu."


"T-tapi, nii-san..." Reiji memalsukan senyum dan menggeleng pelan, "Tenang saja, dia pasti akan baik-baik saja. Apa kau tega membiarkan aku pergi sendirian? Aku sudah lupa dengan tempat ini karena aku pergi sejak 5 tahun lalu. Tempat ini pasti sudah banyak berubah." Reiji mengerucutkan bibirnya dan berusaha membujuk Naoki lalu caranya pun berhasil. Naoki menghela napas dan mengangguk setuju. "Baiklah, baiklah. Nii-chan memang pandai membuat alasan."


Mereka pun melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti, sementara Ryuuga langsung menelepon salah satu 'mainan' nya untuk menjemput dirinya di depan mall besar itu dan pergi entah kemana.


*Malam hari

__ADS_1


            Suasana di ruang makan keluarga Namikaze menjadi heboh karena beberapa maid sedang berkumpul dan membantu tugas maid di bagian dapur untuk menyiapkan beberapa makanan dan persiapan lainnya sebelum majikan mereka pulang. Ya, tuan dan nyonya besar Namikaze yang tak pernah meninggal mansion besar tersebut. Mungkin hanya sekitar dua kali dalam waktu 4 tahun. Sienna yang notabene nya adalah maid baru, sedikit kesulitan mengimbangi maid lain yang sudah sangat sigap mengerjakan beberapa hal. Jujur saja, saat ini Sienna merasa sedikit terbebani dengan perasaannya yang merasa tidak berguna dan tidak bisa bekerja dengan baik. Mengerti dengan keadaan Sienna, Nanami pun menepuk bahu Sienna dan memberikan semangat padanya. "Ayo, semangat."


        Setelah semuanya telah siap, 30 menit kemudian majikan mereka telah datang. Semua maid dan pekerja lainnya ikut berbaris dengan rapi di depan pintu untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya besar Namikaze. Ya, Namikaze Fuuga dan Namikaze Sasaki. Sienna kelihatan gelisah, tentu saja gelisah.. Ini baru dua hari ia bekerja disini dan sudah harus berhadapan dengan Tuan dan Nyonya besar klan Namikaze. Pasangan suami istri tersebut keluar dari mobil mewah mereka. Beberapa menit kemudian, Reiji dan Naoki ikut menyambut kedatangan mereka berdua dengan hati yang senang.


        Saat ini mereka sudah berada di ruang makan, Nanami terlihat menoleh kesana kemari seperti mencari seseorang. Sienna pun langsung bertanya "Ada apa, ba-san? Kamu mencari sesuatu?" bisik Sienna


"Dia tidak ada lagi, apa dia terlambat? Kurasa tidak.." Nanami hanya bergumam dan berbicara dengan dirinya sendiri sehingga Sienna tak dapat mengerti maksud ucapan Nanami dan hanya bisa diam. 'Dia siapa maksudnya?' batin Sienna.


"Sienna, biarkan aku yang melayani mereka.. Kau kembali saja ke kamarmu, jika mereka menanyakan mu, aku yang akan tangani ini. Mengerti?"


"...B-baik, aku mengerti." Sienna pun pergi ke dalam kamarnya dengan rasa penasaran yang tinggi.


        Keadaan di ruang makan sangat hening. Kemudian Reiji tersenyum kepada kedua orangtua nya. "Okaerinasai, Otou-sama, Kaa-sama.."


"Arigatou, ne.. Reiji-kun. Kau sudah lama sampai disini?" tanya Sasaki dengan suara lembutnya


"Baru satu hari yang lalu, kaa-sama.. Aku senang kalian berdua juga bisa datang menyambut ku disini."


"Bagaimana tugasmu di Jerman?" tanya Fuuga tiba-tiba, membuat suasana kembali hening lalu detik berikutnya Sasaki memegang tangan Fuuga dan berkata "Sayang, sebaiknya kita tidak membahas soal pekerjaan saat sedang berada dimeja makan.."


"Tidak apa-apa Kaa-sama. Semuanya baik-baik saja, Otou-sama.. Aku sudah menyelesaikan nya sebelum aku berlibur kemari."


"Baguslah."


"Ano, apa kau Naoki? Wah sekarang kau sudah semakin tinggi saja ya haha.." Sasaki tersenyum lebar namun menyiratkan kesedihan yang tergambar di matanya. Naoki memberikan cengiran lebarnya dan menunjuk dirinya "Tentu saja, ba-san!! Aku sudah dewasa loh~"


"Haha yokatta.. Bagaimana sekolahmu? Baik-baik saja? Bagaimana dengan Ryuuga?" tanya Sasaki bertubi-tubi


"A-ano, soal itu.. B-baik, ya kami berdua baik-baik saja hehe. Ryuuga dan aku sudah mendapat peringkat yang cukup mengesankan." ujar Naoki sambil menggaruk tengkuknya sambil mengalihkan pandangannya ke kursi kosong di sebelahnya. Ia baru menyadari bahwa Ryuuga benar-benar tidak bergabung dengan mereka lagi dan ia pun tidak tahu kemana perginya bocah itu. "Souka, yokatta wa ne.. Aku sangat ingin melihat Ryuuga ku.." Sasaki tersenyum nanar sambil menunduk dalam.


Mengerti keadaan yang semakin tak karuan, Naoki pun memberikan handphone nya pada Sasaki dan menunjukkan foto dirinya juga Ryuuga. Setidaknya, Naoki ingin membantu ibu keduanya itu untuk meringankan beban rindu pada putra bungsu nya. Sasaki tersenyum sedih dan mengusap foto Ryuuga. "Aku sangat ingin memeluknya.." gumamnya pelan lalu mengembalikan handphone itu pada sang pemilik. "Oh iya, bagaimana Ryuuga di dalam rumah, Nanami-san?" tanya Sasaki pada Nanami yang sedang menuangkan air minum di gelas Fuuga.


"Dia tetap seperti biasanya, Sasaki-sama." jawab Nanami sebisanya.


"Sou—"


"Fuuga ji-san, Sasaki ba-san, okaeri!!!!" sapa seorang gadis yang berlari dari kejauhan dan memeluk leher Sasaki dari belakang kursi nya.


"Huwaa Izumi, kau sudah datang.." Sasaki memegang lengan Izumi yang melingkar di lehernya. Setelah puas memeluk Sasaki, Izumi pun duduk disebelah Sasaki. "Gomen, gomen.. Aku harus mampir ke Cafe dulu." ujar Izumi sambil cengengesan. Izumi memandang kedua lelaki yang duduk di hadapannya dan bingung, "Eh? Kemana Ryuuga?" tanya Izumi pada Naoki


"Dia.. Sedang mengerjakan tugas kelompok Fisika dengan Arata." jawab Naoki sekenanya lalu sibuk memakan makanannya dan menghindari tatapan Izumi.

__ADS_1


"Huft.. Padahal aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya." Izumi mendengus kesal.


     Mereka makan malam dan mengadakan pesta kecil tanpa kehadiran Ryuuga— lagi. Setelah selesai, Fuuga dan Sasaki langsung berpamitan untuk pulang ke rumah mereka yang lain yang dekat dengan proyek yang sedang dikerjakan Fuuga. Sementara itu, Ryuuga telah tenggelam dalam kegelapan dan kekosongan hatinya. Saat ini ia sedang menenggak bir di meja bar. Menghabiskan banyak waktunya hanya untuk berdiam diri dan menenangkan pikiran. Sedari tadi, sudah ada banyak wanita yang menggoda nya namun tak ditanggapi oleh si Cassanova sekolah itu.


__ADS_2