
“Kyaaa~!!! Sienna-chan kau kenapa??” Tanya Aika kaget melihat teman boneka porselen nya yang terlihat sangat kacau ditambah lagi dengan kantung matanya yang terlihat merusak wajah cantiknya. Ia menghampiri Sienna yang berjalan lemas kedalam ruang para pegawai.
“Ohayou, Aika-chan~” sapa Sienna dengan wajah lelah.
“Kau ini kenapa, Sienna-chan? Apa terjadi sesuatu denganmu?” tanya Aika cemas tanpa menjawab sapaan dari Sienna.
“Aku mimpi buruk dan tidak bisa tidur semalam, apa aku terlihat benar-benar mengerikan?” Sienna menepuk kedua pipinya pelan.
“Eh lebih baik kau bekerja dibelakang saja ya Sienna-chan? Aku yang akan melayani para pelanggan. Hari ini, toko akan tutup lebih awal, jadi kau bisa langsung beristirahat.” Ujar Aika penuh perhatian, Sienna mengangguk lemah.
“Dimana Yui-chan? Kenapa aku belum melihatnya?” Sienna menatap Aika yang berdiri di ambang pintu.
“Dia bilang akan datang terlambat, jadi kita akan bekerja tanpa dia dulu. Aku akan buka tokonya, kau istirahat saja dulu.” Aika menghilang dibalik pintu, meninggalkan dirinya sendiri dalam sepi.
“Aku bahkan masih memikirkan orang itu, kenapa suaranya terdengar tidak asing? Aku seperti pernah mendengarnya.. tapi dimana aku mendengar suara seperti itu?” Sienna terus bergumam tak jelas, pikirannya masih melayang pada kejadian malam itu dan akhirnya ia memutuskan pergi ke toilet untuk mencuci muka agar menghilangkan rasa kantuknya.
*Di sekolah
“Yo, Ryuu~!!” Naoki melambaikan tangannya ketika melihat sahabatnya yang sudah berjalan didepannya namun yang disapa tidak ingin berbalik melihatnya dan lebih memilih memasang earphone ditelinganya, Naoki yang melihatnya pun mendengus kesal dan berlari lalu merangkul leher temannya itu, Ryuuga langsung memberikan tatapan membunuh pada Naoki yang sudah seenaknya mengganggu paginya.
“Singkirkan tanganmu dariku, makhluk merepotkan!” desis Ryuuga dengan tajam membuat Naoki sedikit takut dan akhirnya melepaskan rangkulannya.
__ADS_1
“Jangan sok akrab denganku, kau menyebalkan.” Ryuuga memelototi Naoki yang terlihat tidak peduli dengan peringatannya.
“Baiklah, aku mengerti, tuan es~” Naoki memutar bola mata bosan melihat sikap Ryuzaki yang tidak pernah berubah.
“Oh iya, tadi malam aku ke rumahmu tapi kau tidak ada. Kau pergi kemana?” tanya Naoki sambil menatap Ryuuga penuh curiga, Ryuuga sering sekali melakukan sesuatu tanpa bercerita padanya. Jadi, mau tidak mau Naoki sendirilah yang harus memata-matai sahabatnya itu. Melelahkan memang.. tapi tidak ada cara lain lagi, Naoki harus melakukannya demi kesehatan mentalnya.
“Aku ada di apartemenku.” Jawab Ryuuga singkat tanpa menatap Naoki, Ia sibuk dengan lantunan musik yang sedang diputar.
“Kau berbohong ya? Bibi Chiyo mengatakan padaku kalau kau pergi.” Ketus Naoki yang dibalas dengan lirikan tajam dari Ryuuga.
“Kau pikir apartemenku ada dimana? Di dalam rumah?” Ryuuga menghela napas kasar mendengar pertanyaan bodoh dari temannya itu.
“Ooh kau benar juga, tapi kau terlihat tidak meyakinkan.” Ujar Naoki penuh selidik hingga membuat Ryuuga merasa risih dan melebarkan langkah kakinya meninggalkan Naoki yang diam mematung ditempatnya berdiri.
“Yo, Naoki.” Sapa Arata tiba-tiba membuat Naoki terlonjak kaget pasalnya Ia merasa kalau dirinya hanya sendirian berjalan di koridor.
“Kau mengagetkanku.” Naoki menatap Arata sebal.
“Kau kenapa? Seperti memikirkan sesuatu, hutang tugas?” tanya Arata sambil membaca buku komik di tangannya, Naoki hanya menggeleng pelan seperti tak ada semangat hidup.
“Kau tidak ceria seperti biasanya, kau tahu? Aku juga pernah punya teman seperti ini, keesokan harinya dia mati.” Ujar Arata dengan santai tanpa melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Naoki yang sebenarnya sedang frustasi, Arata memang berteman dekat dengan dirinya dan Ryuuga tetapi Arata tidak tahu sama sekali tentang keduanya karena memang Ryuuga tak pernah menceritakan sedikit pun tentang masalahnya begitu pula dengannya yang tak ingin menceritakannya ke sembarang orang meskipun ia tahu kalau Arata bukanlah orang yang suka mengumbar aib seseorang.
__ADS_1
Ada kalanya Naoki ingin menceritakannya pada Arata, berharap bisa mendapat bantuan untuk menyelesaikan masalahnya tapi dia tidak ingin menyusahkan orang lain, terus berpikir seperti itu sampai dirinya merasa stress.
“Ceritakan saja jika kau mau, kalau tidak mau ya sudah, aku tidak rugi.” Ungkap Arata yang seakan bisa membaca pikiran Naoki yang sedang kalut, Naoki membulatkan matanya kaget ketika mendengar ucapan Arata yang membuatnya semakin bimbang.
“Aku ingin menceritakannya, kurasa.. tapi tidak untuk saat ini.” Naoki menunduk dengan raut wajah murung.
“Oh iya, tadi malam kau pergi kemana?” tanya Naoki pada Arata
“Motel. Kau tahu? Aku menemukan sesuatu yang menarik, seorang gadis yang begitu menawan.” jawaban Arata membuat Naoki melongo tidak percaya dengan pendengarannya. Ternyata Arata juga bisa seperti Ryuuga yang dijuluki sebagai Cassanova, menakutkan.
“Hei, hari ini ada ulangan harian matematika, persiapkan dirimu. Ayo cepat ke kelas.” Ajak Arata tapi Ia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Naoki yang masih mencerna ucapan darinya.
“Apa kau bilang??!!” Naoki langsung berlari dengan cepat menyusul Hideki yang sudah lebih dulu meinggalkan nya.
•
•
Waktu terus berjalan, tak terasa ternyata Sienna sudah membiasakan dirinya dengan lingkungan barunya. Sienna berdiri didepan jendela besar apartemen yang mengarah langsung ke jalan-jalan kota yang ramai, pemandangan malam sangatlah indah, jika ia lihat dari kamarnya, jalanan seperti bintang-bintang di kegelapan langit malam. Sejujurnya Sienna merasa sangat lelah, bukan hanya fisik tapi juga mental.
Setiap orang pasti pernah berpikir egois, kan? Sienna pernah sesekali berpikir bahwa hidupnya tidak adil, ia sangat lelah ketika harus menjadi tulang punggung keluarga sedangkan dirinya sangat ingin melanjutkan pendidikannya. Ia rela menolak beasiswa dari sekolah untuk melanjutkan pendidikannya demi menghidupi ibu dan juga kedua adiknya yang masih harus melanjutkan sekolahnya. Serena ingin mengeluh, ingin berhenti bekerja karena ia juga sangat membutuhkan istirahat tapi tidak mungkin. Kenapa dia yang harus menghidupi keluarganya? Sienna meneteskan air matanya, pemikiran buruk yang muncul dikepalanya saat ia lelah membuatnya semakin terpuruk. Dengan cepat Sienna berjalan ke kamar mandi dan merendam dirinya di air hangat, mencoba menetralkan pikirannya yang semakin menjalar jauh kemana-mana.
__ADS_1
“Wah, ini sangat nyaman~” Sienna begitu menikmati air hangatnya, rasa pegal diseluruh tubuhnya mulai memudar dan membuatnya merasa lebih tenang. Sienna menutup kedua matanya namun bayangan tentang kejadian menegangkan yang terjadi padanya beberapa hari lalu membuatnya segera membuka kedua kelopak matanya.
“Ini gila, kenapa aku terus mengingatnya? Ah, lupakan. Aku tidak mau mengingat apapun tentang hal itu.” Sienna berulang kali menggelengkan kepalanya dan menepuk pipinya, berusaha menyadarkan dirinya. Saat dirinya sedang sibuk membuang pikiran buruknya, handphone yang Ia letakkan dikasur berbunyi nyaring tanda ia sedang menerima panggilan. Sienna bergegas mengambil handuk dan melilitkannya pada tubuh rampingnya lalu menjawab panggilan yang sudah ia ketahui siapa peneleponnya.