
Hari sudah mulai gelap, cahaya matahari berubah menjadi jingga dan bulan sudah mulai bersiap menggantikan perannya. Ryuuga dan Naoki berjalan dengan santai di koridor sekolah, mereka baru saja akan pulang. Lalu, Arata muncul dari kelas junior dan bergabung dengan mereka untuk menuju parkiran.
"Ne, Ryuu."
"Hn."
"Aku ingin sekali menanyakan ini padamu. Aku sudah lama tidak update berita tentangmu."
"Jangan bilang kau ingin menanyakan tentang kehidupan percintaannya?" tebak Arata sambil menoleh menatap Naoki yang sedang memberikan cengiran lebarnya.
"Kau benar! Ne, Ryuu. Sekarang ini siapa yang benar-benar memegang status sebagai kekasihmu?" tanya Naoki
"Ah, aku juga jadi penasaran.." gumam Arata. Awalnya Ryuuga hanya diam, lalu ia menjadi risih setelah mendapat tatapan yang aneh dari kedua temannya yang berada di sebelah kanan dan kirinya itu.
"Aiko."
"Maksudmu.. Mizuhara Aiko dari kelas 10??!" tanya Arata tidak percaya
"Hn."
"Wah, aku tidak percaya kalau Ryuuga mau memacari adik kelas juga." ujar Arata dengan nada sedikit mengejek
"Sudah berapa lama?" tanya Naoki penasaran
"Tiga bulan."
"Apa??!!" Naoki dan Arata sama-sama terkejut mendengar jawaban Ryuuga. Ya, tentu saja. Ryuuga mudah sekali merasa bosan sehingga berpacaran pun hanya akan bertahan satu minggu atau bahkan paling lama hanya satu bulan. Mendengar jawaban tak terduga dari Ryuuga tentu membuat mereka berpikir keras ada apa gerangan dengan Ryuuga? Apa yang dimiliki gadis itu hingga membuat Ryuuga mampu bertahan lama dengannya?
"N-ne Ryuuga, bagaimana dengan Emi-senpai?" tanya Arata sambil menelan ludah, entah kenapa ini mulai terasa horror dan serius.
"Aku sudah memutuskannya saat malam festival."
"Nani??!!!" Naoki menganga lebar, ia bahkan sampai tidak mengingat nama Emi dalam daftar pacar Ryuuga. "Ryuu—"
"Berhenti bertanya atau aku akan memenggal kepala kalian berdua." ancam Ryuuga yang sudah mempertajam tatapan elang nya pada kedua temannya. Ia berhenti berjalan dan memberikan death glare pada Naoki. "Kenapa kalian tertarik sekali dengan kehidupanku? Urusi saja urusan kalian sendiri!" mereka berdua terdiam, Ryuuga menghela napas lalu berjalan meninggalkan kedua temannya yang masih diam mematung.
"Ma-majikayo?!" Naoki menatap kepergian sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. "Oi, Arata. Tidakkah kau penasaran juga dengan si Aiko itu? Apa yang sudah dia lakukan hingga Ryuuga betah dengannya?"
"Sudahlah, tidak usah terlalu ikut campur. Jika dia tahu, dia pasti akan langsung mengamuk. Apa kau tidak sadar? Kurasa suasana hatinya sedang tidak baik."
"Hah? Kau bisa membedakannya? Bukankah Ryuuga selalu seperti itu setiap hari? Aku bahkan sampai benar-benar tidak tahu bagaimana rasanya mengobrol saat Ryuuga dalam suasana hati yang baik."
"Kau ini musuh atau apa? Sudah. Ayo kita pulang."
"Iya, iya."
•
•
•
•
"Okaerinasai, Namikaze-sama." Sienna membukakan pintu berhubung dia yang sedang ada di ruang tamu utama.
__ADS_1
"Hn. Nii-san ku sudah pulang?"
"Maafkan saya, Namikaze-sama. Saya tidak tahu karena saya baru ada di bawah." jawab Sienna sambil menunduk tanda hormat
"Hn" Ryuuga langsung masuk ke dalam mansion lalu Sienna pun kembali menutup pintunya dan mengekor di belakang Ryuuga.
"Maaf, Namikaze-sama," panggil Sienna
"Hn?"
"Anda ingin saya buatkan apa untuk makan malam? Maaf, saya masih baru dan harus menggantikan tugas Nanami-san untuk sementara waktu." Ryuuga menaikkan sebelah alisnya, ide jahil pun muncul di kepalanya yang jenius itu. Ia menyeringai lalu berbalik menatap gadis itu.
"Ya, kau masak saja apa yang ada. Nanti aku akan mencobanya. Berhubung Nanami ba-san tidak ada, jadi aku harus memeriksa makananmu." jawab Ryuuga lalu ia kembali berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Sienna yang masih diam ditempat. Setelah memastikan Ryuuga benar-benar pergi, Sienna melenguh kesal. "Huh, apa-apaan dia ini? Dia berbicara seolah aku akan meracuni nya." Sienna memasang wajah cemberut. Setelah ia tersadar, ia langsung berlari kecil menuju dapur. 'Aku harus memasak apa?' tanya Sienna dalam hati, setelah ia mencoba mengingat-ingat, Nanami juga tidak memasak sesuatu yang sangat berkelas melainkan masakan biasa tapi rasanya memang enak sekali. Sesampainya di dapur, Sienna membuka kulkas dan sedikit terperangah 'Apa ini pasar mini?' Sienna malah diam menatap isi kulkas yang dirasa begitu lengkap, belum lagi kulkas di sana berjumlah 3 buah yang isinya pun berbeda-beda. Ya, kehidupan orang kaya memanglah sangat berbeda. 'Ayo pikirkan sesuatu yang simpel tapi memiliki rasa yang enak,' Sienna memegang dagunya sambil mengamati segala isi kulkas berukuran besar itu. Sienna hanya pasrah dan mengikuti gerak tubuhnya sendiri. Dia mulai mengambil beberapa bahan sayuran dan beberapa potong daging ayam. Tangannya dengan lihai mulai meracik semua bumbu, memotong sayuran dengan rapi, dan mengiris daging dengan potongan kecil. Untungnya Sienna sudah terbiasa memasak sejak ibunya sakit saat umurnya juga masih 14 tahun, umur yang cukup untuk mulai mengerjakan segala pekerjaan rumah seorang diri. Sienna terus melanjutkan acara memasaknya dan akhirnya telah menyelesaikan satu menu. Tapi, tiba-tiba Ryuuga sudah ada dimeja sambil duduk menopang dagu di meja makan, pemuda itu menatapnya dalam diam tanpa melupakan wajah datarnya. Sebenarnya, Sienna hendak mencicipi nya sedikit untuk memastikan bahwa masakannya layak untuk dikonsumsi atau tidak tapi sang majikan sudah ada di sana dan menunggu. Sienna menelan ludah lalu berjalan dengan pelan menuju meja makan. "S-silahkan di nikmati, Namikaze-sama. Anda ingin minum apa? Akan saya ambilkan." ujar Sienna dengan senyum manis nya namun Ryuuga tetap diam tak memberikan jawaban tanpa melepas tatapannya pada Sienna. "A-ano, Namikaze-sama?"
"Hn, ambilkan air dingin saja." balas Ryuuga lalu kini tatapannya beralih ke makanan yang sudah di suguhkan oleh Sienna, aroma masakan yang cukup mirip dengan masakan Nanami. Ia melirik ke arah Sienna yang sudah menjauhi meja untuk mengambilkannya air minum. Ryuuga mengambil sendok lalu memakan satu suap dan sedikit terkejut. Sienna yang melihat ekspresi nya pun langsung berlari menyerahkan air minum pada tuan nya itu. Wajah panik mulai tercetak jelas di wajahnya sedangkan Ryuuga segera meminum air dingin itu hingga tersisa setengah gelas. "Apa kau bisa memasak?" Sienna menggigit bibir bawahnya lalu menunduk dalam. Sienna membungkuk hormat dan meminta maaf pada pemuda itu dengan sangat. "Ini kurang asin." komentar Ryuuga, Sienna pun membeliak kaget.
"K-kalau begitu saya akan memasakkan anda sesuatu yang lain. Maafkan saya, Namikaze-sama." Sienna segera kembali mendekati kulkas dan memasak sesuatu yang lain yang memang sudah ia kuasai meskipun tampilan dan rasanya biasa saja. Ia tak menyadari seringaian Ryuuga yang sedari tadi telah muncul. Ryuuga mengamati bahu kecil itu yang sedang sibuk memasak sesuatu dengan gerakan yang terburu-buru dan tanpa sadar ia tersenyum melihat aksinya mengerjai gadis itu yang berjalan lancar. Tidak berapa lama kemudian, masakan Sienna pun sudah siap dan sudah di letakkan di depan Ryuuga. "Douzo, Namikaze-sama." Sienna menyodorkan piring berisi masakannya. Ryuuga segera memasukkan sesendok ke dalam mulutnya. Rasanya sama. "Apa kau pikir aku ini anak kecil? Ini terlalu manis." ucap Ryuuga dengan tatapan tajam. Sienna membelalakkan matanya tak percaya, Sienna semakin merasa bersalah dan tidak tahu harus memasak apa. Ia kembali meminta maaf tapi Ryuuga sudah bangkit dari kursinya terlebih dulu. "Sudahlah. Aku ingin tidur." Ryuuga melangkah pergi dengan wajah datar yang diartikan sebagai ekspresi kemarahan oleh Sienna. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya. 'Kenapa aku melakukan kesalahan seperti ini? Aku membuatnya kelaparan.' batin Sienna dengan sedih. Ia begitu kecewa dengan dirinya sendiri. Karena masih memikirkan kesalahannya, Sienna sampai tidak menyadari kehadiran Reiji.
"Tadaima, Sienna-san." sapa Reiji dengan senyum ramah namun Sienna tak bergeming, "Huh?" Reiji menaikkan sebelah alisnya bingung sambil memiringkan kepalanya. Ia memperhatikan wajah muram Sienna yang sedang berdiri sambil memandangi dua piring masakan yang tersusun rapi di meja makan. Reiji memutuskan untuk mendekat lalu menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Sienna terlonjak kaget saat mendengar suara kursi terlebih saat melihat Reiji yang sedang menatapnya tanpa menghilangkan senyum nya. "Re.. Iji-sama.." mulut Sienna terbuka lalu ia buru-buru membungkuk "O-okaerinasai, Reiji-sama."
"Aku sudah disini sejak tadi loh, kenapa kau diam saja?" tanya Reiji
"I-iie, saya hanya..." Sienna mengalihkan pandangannya namun keanehan itu tak dapat disembunyikan dari Reiji. Reiji terkekeh pelan lalu meminta Sienna untuk ikut duduk bersamanya.
"Apa karena sikap Ryuuga?" tanya Reiji dengan nada pelan, Sienna terkejut karena jawaban Reiji yang sebenarnya hampir tepat.
"B-bukan, saya hanya... Maafkan saya, Reiji-sama. Saya tidak dapat menggantikan pekerjaan Nanami-san, saya tidak bisa memasak dengan benar. Maafkan saya, anda boleh—"
"Aromanya sangat lezat, apa masalahnya? Ah aku sampai lupa, aku belum makan sejak siang. Boleh ku makan?" tanya Reiji yang sudah mengangkat sendok dan hendak mengambil nya namun Sienna mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Reiji.
"Oh? Doushite?" tanya Reiji yang masih memandang Sienna tidak percaya lalu kembali tersenyum "Percaya dirilah, Sienna-san. Kenapa kau sangat takut? Aku tidak akan mati hanya karena memakan masakan yang tidak enak loh~" ujar Reiji sembari melepaskan genggaman tangan Sienna. Reiji melanjutkan gerakannya yang sempat terhenti lalu menyuapkan sesendok masakan ke dalam mulutnya. Hati Sienna berdegup kencang, ia sangat khawatir dan cemas saat menunggu Reiji selesai menelan makanan di dalam mulutnya. Merasa dirinya tidak bisa menerima tanggapan yang akan diberikan Reiji, Sienna pun memilih untuk menunduk. "Ne, Sienna-san.." panggil Reiji dengan nada serius.
"H-hai' Reiji-sama?" Sienna dengan ragu mulai menatap Reiji, wajah serius Reiji sudah membuktikan bagaimana rasa sebenarnya dari masakannya.
"Haha ini enak, malah masakan ini hampir mirip dengan masakan Nanami ba-san." sambung Reiji dengan senyum senangnya. Setelah mengatakannya, Reiji kembali memakan masakan Sienna dan tidak terlihat berbohong. Sienna diam mematung. "Lagipula, kenapa kau murung sekali? Masakan mu ini tidak gagal."
"Apa.. Tidak terlalu asin atau terlalu manis?" tanya Sienna mencoba meyakinkan dirinya
"Tidak kok, semuanya enak. Coba saja sendiri, kau ingin memastikan kalau aku tidak bohong kan? Ayo, makanlah bersama ku." ajak Reiji sambil menyodorkan sendok pada Sienna
"T-tidak usah, Reiji-sama. Sa-saya sudah makan, silahkan anda sele— ah!" belum sempat Sienna menyelesaikan ucapannya, Reiji langsung menarik tangan Sienna hingga Sienna kehilangan keseimbangan nya dan jatuh kearah Reiji. Wajah mereka sangatlah dekat bahkan Sienna bisa merasakan napas Reiji yang menerpa kulit wajahnya. Aroma menenangkan menguar dari tubuh lelaki itu. Entah mengapa, hati Sienna kembali berdebar-debar. Sienna menatap Reiji yang tengah tersenyum padanya. "Ah, gomen. Sepertinya aku terlalu keras menarik mu, tapi lebih baik kau juga makan loh." ucap Reiji yang terdengar ada sedikit ancaman didalamnya. Sienna dengan susah payah menelan ludahnya lalu mengangguk dan menerima sendok dari Reiji. "Nah begitu dong. Kau memang gadis yang baik," Reiji melepaskan tangan Sienna dan setelahnya menepuk pucuk kepala Sienna dengan lembut, membuat Sienna menjadi salah tingkah. "H-hai'..." Sienna hanya menunduk. Setelah Reiji kembali memberi perintah akhirnya Sienna juga ikut memakan masakannya sendiri dan terkejut. Reiji benar. Masakannya tidak terlalu asin ataupun terlalu manis,menurutnya semua rasa masakannya pas. Beberapa menit kemudian ia sadar jika Ryuuga telah mengerjai nya dengan memberi komentar bohong terhadap masakannya. Sienna memegang sendok dengan gemetar, jika saja ia bisa mematahkan sendok dengan mudah, mungkin sendok yang sedang ia genggam saat ini sudah patah. 'Ano kusso Ryuuga!!!!' teriak Sienna dalam hati. Ia benar-benar kesal dengan Ryuuga. Reiji diam-diam memperhatikan Sienna yang sedang bengong sambil menatap makanannya lalu ia tersenyum lagi. "Sienna-san, terimakasih atas makanannya. Aku sudah kenyang." ujar Reiji sambil beranjak dari kursi.
"Ah i-iya Reiji-sama..." jawab Sienna dengan senyum kikuk
"Oh iya, nanti malam jam 8 bisakah kau antarkan air hangat untukku? Aku ingin istirahat dulu." tanya Reiji
"Eh? Hai' wakatta desu."
"Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu." Reiji melambaikan tangannya lalu segera berjalan pergi menjauhi dapur. Sienna hanya memandanginya dengan tatapan kagum, Reiji benar-benar mempesona dalam hal yang berbeda dengan Ryuuga. Reiji sangat berwibawa, wajah tampannya selalu dihiasi senyuman ramah, kaki panjangnya benar-benar membuatnya seperti model. Belum lagi, Reiji juga orang yang cerdas dan tekun. Sienna mengagumi nya. Tapi setelah sadar kembali, Sienna mulai memunculkan wajah galaknya dan sudah muncul siku perempatan di keningnya. "Si Ryuuga itu memang benar-benar mengerjai ku! Kalau aku terus diam saja, sepertinya dia akan semakin menjadi-jadi." akhirnya Sienna bangkit dari kursi dan kembali mendekati dapur untuk membuat cupcake yang biasanya ia coba buat di caffe Izumi.
Hari sudah semakin gelap, Sienna baru menyelesaikan cupcake nya dan menghiasnya dengan cukup menarik. Sienna mengusap dahinya dan meninggalkan jejak krim berwarna biru yang panjang di dahinya. Sienna tersenyum melihat hasil buatannya yang memuaskan. "Huft, akhirnya selesai!! Aku sudah mencoba nya tadi dan rasanya enak." ucap Sienna puas. Ia segera membawa cupcake itu di nampan beserta air putih hangat yang diminta oleh Reiji, Sienna sengaja membawa lebih untuk diberikan kepada Ryuuga juga meskipun bocah tengil itu tidak memintanya.
Tok tok tok tok
"Summimasen Reiji-sama.." Sienna mengetuk pintu kamar Reiji. Ia dengan sabar menunggu pintu itu dibuka, kemarin dia langsung membuka pintu tapi sekarang tangannya penuh dengan nampan jadi ia hanya bisa menunggu. Dua menit kemudian, Reiji membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Sienna sudah berdiri di depan pintunya.
__ADS_1
"S-Sienna-san?! Sejak kapan kau ada disini?" tanya Reiji dengan mulut yang sedikit terbuka, Sienna hanya tersenyum lalu mengangkat nampan yang ia pegang.
"Saya sudah membawakannya, Reiji-sama."
"Huh.. Sejak kapan kau ada disini?"
"Ehm baru saja, Reiji-sama."
"Souka? Silahkan masuk. Maafkan aku, aku tidak mendengar mu mengetuk pintu karena aku baru saja selesai mandi." ujar Reiji mempersilakan Sienna untuk masuk ke dalam kamarnya. Sienna melangkah masuk lalu meletakkan nampan berisi cupcake dan air hangat di meja kerja Reiji.
"A-ano, saya mencoba untuk membuat cupcake. K-kalau anda berkenan, silahkan di nikmati, Reiji-sama." ucap Sienna malu-malu, semburat merah muncul di kedua pipi putihnya. Ia menunduk malu. Reiji terkekeh pelan, ia berjalan mendekati Sienna dan menepuk pelan pucuk kepalanya lalu duduk di kursinya, ia duduk sambil menopang dagu. "Kawaii ne~" puji Reiji yang semakin membuat Sienna tersipu malu. Reiji mengambil satu buah cupcake yang masih hangat itu lalu mencium aromanya. "Ini.. Kau membuatnya sendiri?" tanya Reiji yang langsung memakan cupcake itu. "Oishi desu ne.."
"H-hontou desu ka? Arigatou gozaimasu, Reiji-sama." Sienna tersenyum sumringah saat mengetahui ternyata cupcake buatannya tidak gagal. Sebenarnya bukan itu yang di khawatirkan oleh Sienna, ia lebih khawatir jika rasanya tidak sesuai dengan keluarga ini.
"Sienna-san, arigatou ne. Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan padamu, bolehkah?" tanya Reiji, Sienna mengernyit lalu mengangguk. "Kau benar-benar keturunan campuran?" Reiji menatap Sienna dengan senyum matanya yang indah.
"Hai' Reiji-sama. Ayah saya berasal dari Inggris sedangkan ibu saya adalah orang Jepang asli. Saya besar di Jepang." jawab Sienna dengan senyum manis nya
"Souka.. Tapi kau tidak begitu memiliki wajah Jepang. Apa ayahmu sering berbicara menggunakan bahasa Inggris denganmu?" tanya Reiji
"Ano, ayah saya lebih sering menggunakan bahasa Jepang meskipun logat luar negerinya tidak hilang. Saya tidak bisa belajar lebih lama karena ayah saya sudah lama meninggal." jawab Sienna masih dengan senyum yang sama, Reiji tersentak kaget ketika mendengar cerita Sienna. Ia menyesal telah menanyakan kehidupan pribadi gadis itu.
"M-maafkan aku, aku tidak tahu.."
"Iie daijoubu desu, Reiji-sama.." balas Sienna, "Ano, apakah saya bisa pergi? Saya akan mengantarkan ini pada Namikaze-sama juga." ujar Sienna lalu Reiji mengernyit bingung.
"Namikaze? Kenapa kau memanggil Ryuuga dengan sangat formal seperti itu?" tanya Reiji bingung
"Sore wa.. Saya tidak bisa akrab dengannya seperti pada Reiji-sama. Saya rasa, dia masih sedikit tidak menyukai saya.." jawab Sienna seadanya lalu sebelum Reiji kembali bertanya, Sienna langsung segera pamit "Maafkan saya, Reiji-sama. Namikaze-sama belum makan, jadi mungkin sekarang dia harus segera mengisi perutnya." Sienna mengambil nampan itu setelah meletakkan air hangat dan dua cupcake di meja Reiji. "Oyasuminasai, Reiji-sama. Saya permisi." Sienna tersenyum lalu beranjak dari tempatnya berdiri.
Tok tok tok tok
"Summimasen, Namikaze-sama."
"Hn" sahutnya dari dalam tapi ia tak kunjung membukakan pintu untuk Sienna. Dengan usaha yang cukup sulit, Sienna membuka daun pintu dengan raut wajah kesal. Ia menatap Ryuuga yang asyik berbaring di ranjangnya sambil menatap layar ponselnya. Entah apa yang ia kerjakan.
"Namikaze-sama, anda belum makan sejak pulang sekolah. Saya sudah membuatkan cupcake untuk anda." Sienna membungkuk sedikit lalu meletakkan nampan berisi susu hangat Dan tiga buah cupcake. Ryuuga menaikkan sebelah alisnya 'Peduli sekali dia..' Tanya Ryuuga dalam hati. Aroma cupcake mulai menyeruak ke dalam hidungnya Dan akhirnya Ryuuga menyadari jika ia pernah mencium aroma ini di caffe Yang sering ia kunjungi bersama Naoki. "Silahkan dinikmati." Ucap Sienna. Ryuuga segera menaruh ponselnya di sebelahnya lalu mengambil satu cupcake Dan memakannya, ia terkejut jika rasanya benar-benar sama. Ryuuga sedikit mengangkat kepalanya Dan memandangi wajah Sienna dengan aneh. "Doushite Namikaze-sama?" Tanya Sienna Yang menyadari tatapan aneh dari Ryuuga.
"Apa kau Yang membuat cupcake ini di caffe?" Tanya Ryuuga lalu Sienna mengangguk meng-iya-kan pertanyaan Ryuuga. "Bisakah kau buatkan aku seperti ini setiap hari?"
"Bisa, Namikaze-sama. Tapi.."
"Hn?"
"Minta maaflah padaku, dasar bocah tengil." Sienna merendahkan nada bicaranya namun memberi penekanan pada setiap katanya Dan berhasil membuat Ryuuga terkejut dengan ucapan Sienna.
"Hn, aku tidak Salah apapun."
"Oh ya? Kau mengerjai ku. Ku pikir masakan ku tidak layak untuk dimakan manusia, tapi ternyata kau memang ingin membuatku bersalah. Dasar bocah tengil." Ujar Sienna dengan kekesalan Yang sudah sampai ubun-ubun. Ryuuga menunduk menaruh kembali cupcake itu di atas meja. Sienna mengernyit lalu detik berikutnya ia merasa sedikit menyesal telah mengatakan itu pada tuannya sendiri. Ryuuga beranjak dari duduknya lalu berdiri tepat dihadapan Sienna membuatnya harus mendongak agar bisa melihat wajah Ryuuga melangkah maju selangkah Demi selangkah begitupun langkah Sienna, ia terus mundur Demi menjaga jarak hingga ia merasakan dinding mulai menjadi halangan nya untuk mundur. "A-apa yang kau lakukan?" Tanya Sienna Yang sudah mulai ketakutan namun Ryuuga tetap melangkah hingga akhirnya jarak diantara mereka hanya tinggal 15 cm saja. Ryuuga mengunci pergerakan Sienna dengan tangannya yang sudah ada di samping kanan kiri Sienna. Ryuuga menatapnya dengan tatapan serius miliknya membuat Sienna kesulitan menelan ludahnya.
"Lalu kau mau aku melakukan apa?" tanya Ryuuga dengan nada bicara yang serius
"A-aku sudah bilang kan? Kau mengerjai ku seharusnya kau minta maaf padaku."
"Jadi, minta maaf yang seperti apa yang kau mau?"
__ADS_1
"Kau hanya tinggal mengatakan 'maaf' itu sudah cukup. Menjauhlah dariku." Ryuuga malah semakin mendekat dan mau tidak mau Sienna harus menahan bahu Ryuuga agar tidak mendekat lagi dan jangan sampai jarak diantara mereka menghilang. Ryuuga mendekatkan wajahnya pada Sienna hingga membuat gadis itu terkejut lalu menutup matanya. Sienna bisa merasakan deru napas Ryuuga, aroma maskulin menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Sienna. "M-menjauhlah." Sienna berusaha mendorong tubuh Ryuuga namun gagal. "Apa mau mu?!" tantang Sienna, ia sekarang sudah tidak lagi merasa gentar meskipun saat ini Ryuuga sedang menjepitnya di dinding. Ryuuga tertegun dengan keberanian gadis itu, entah mengapa ada sesuatu di hatinya. Ia menyeringai kecil lalu semakin menghilangkan jarak, Ryuuga mendekatkan bibirnya pada telinga Sienna yang sudah memerah "Baka onna. Jangan terlalu lugu jika tidak ingin tertipu." bisiknya lalu beranjak pergi kembali ke ranjangnya dan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa dan itu membuat Sienna jengkel. 'Bisikan setan!' umpat Sienna dalam hatinya. Ia menatap Ryuuga sambil cemberut lalu menghembuskan napas panjang untuk menahan rasa kesalnya yang sudah memuncak. Sienna berjalan keluar dari kamar Ryuuga, ia menengok ke belakang dan bertepatan dengan Ryuuga yang juga sedang menatapnya. "Baka Ryuuga!" ejek Sienna sambil menggembungkan pipinya dan segera menutup pintu. Sienna tidak sempat melihat bibir tipis Ryuuga yang sedang menyunggingkan sebuah senyuman.