Nona Maid

Nona Maid
Awal Yang Baru


__ADS_3

"Kyaaaa!!!"


"Kau..." Ryuuga melebarkan matanya saat melihat gadis yang pernah membuatnya kesal itu sekarang ada di hadapannya.






           Hari telah berganti, matahari mulai menunjukkan cahaya nya. Di mansion Namikaze, di dalam sebuah kamar pelayan nampak seorang gadis berambut pirang tengah mengikat rambut panjangnya ala kuncir kuda. Ia mematut dirinya di depan cermin yang ada dimeja rias nya.


"Aku tidak bisa tidur semalaman.. Astaga,  lihat mata panda ini.." gumam gadis itu sambil menghela napas pelan, ia mengambil sebuah botol kecil dan mulai mengusapkan concealer tipis di kantung matanya untuk memudarkan bengkak dan lingkar hitam dibawah matanya itu. Sienna melihat jam dinding lalu segera menuju ke dapur untuk membantu Nanami memasak sarapan.


"Ohayou gozaimasu, Nanami ba-san." sapa Sienna dengan senyuman terbaiknya, Nanami yang sedang memasak menoleh sebentar dan membalas dengan senyuman lembut nya "Ohayou mo, Sienna.." lalu dia sibuk dengan masakannya lagi.


"Ne, ba-san apa kau sudah sibuk sejak dini hari?" tanya Sienna yang sekarang susah berada di sebelah Nanami sambil mencium aroma masakan Nanami yang lezat. Nanami hanya terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Ano Sienna, memangnya sekarang jam berapa?"


"Ehm.. jam lima pagi, ada apa?" tanya Sienna dengan polosnya, Nanami mendengus pelan lalu menepuk bahu Sienna


"Apa kau lupa dengan tugasmu? Seharusnya sekarang kau sudah mengurus Reiji-sama dan Ryuuga-sama, sudahlah lebih baik kau kesana. Biar aku yang mengurus sarapannya." ucap Nanami sembari mematikan kompor.


"E-eh? Sou desu ka? Tapi apa yang harus ku lakukan? Aku tidak pernah melakukannya.." Sienna mulai gugup setelah mengingat kejadian semalam yang sangat tidak etis.


"Hm, kau cukup membangunkan mereka saja. Setelah itu silahkan menyiapkan segala kebutuhan seperti baju, seragam, atau yang lainnya yang bisa kau lakukan.."


"B-b-bagaimana kalau aku malah dianggap lancang?" Sienna semakin gugup dihari pertamanya bekerja sebagai pengurus kebutuhan dua tuan muda.


"Haha, lancang bagaimana? Itu kan memang sudah menjadi tugas seorang maid, kau yang akan bertugas di sana."


"Apa.. Ah baiklah, apa aku harus membawakan sesuatu ke sana?" tanya Sienna


"Hm.. Tidak ada, kau hanya perlu menyiapkan kebutuhan mereka saja, setelah itu mereka akan keluar untuk sarapan, jadi kau tenang saja. Itu tidak sulit."


"Wakatta desu, arigatou ne.."


     


         Sienna pun melangkah pergi dari dapur dengan langkah yang panjang. Bagaimana tidak? Untuk pergi ke kamar dua tuan muda itu saja membutuhkan waktu sekitar 4 menit. Dia tidak bisa terlambat dihari pertamanya bekerja sebagai maid sungguhan. 'Oh Kami-sama, hari ini aku akan melihat wajah menjengkelkan itu lagi— ah tidak. Aku akan bertemu dengannya sesering mungkin kedepannya!! Aku yang semula suka sekali menentangnya, sekarang malah berbalik menjadi sangat patuh? Ini gila.' Sienna berjalan sambil melamun dan terus memikirkan nasibnya setelah Ryuuga benar-benar mengingat seperti apa hubungan mereka. Kali ini dia sudah berdiri di depan kamar Reiji dan lima kali dia menghela napas mencoba menghilangkan keraguan. Akhirnya ia pun mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok tok


"Permisi, Reiji-sama.." panggil Sienna namun tak ada jawaban. Sienna memegang kenop pintu, ternyata tidak dikunci. Ia pun membuka pintu dengan sangat pelan lalu mengintip keadaan di dalam kamar bernuansa putih gading itu. Sienna melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu, ia berjalan menuju ranjang berukuran king size dengan sprei berwarna putih dengan campuran warna kuning keemasan, terlihat sangat mewah. Ia melihat ke segala arah, rapi sekali. "Ohayou gozaimasu, Reiji-sama." sapa Sienna dengan sangat sopan. Ia membungkuk hormat, kedua tangannya ia letakkan didepannya.

__ADS_1


Lelaki berumur 22 tahun itu mengerjapkan matanya saat mendengar sapaan dari Sienna yang sudah berdiri di samping ranjangnya. Ia mengusap matanya lalu beranjak duduk. Sienna masih menunduk, ia tak menatap tuan nya itu untuk kesopanan. Reiji mengerutkan dahinya.


"Kau.. Siapa?" lucu sekali. Sienna sudah mengenakan pakaian maid nya tapi Reiji masih menanyakan siapa dirinya.


"Summimasen, Reiji-sama. Saya adalah maid baru yang ditugaskan untuk mengurus keperluan anda dan Ryuuga-sama." jawab Sienna tanpa menatap Reiji, ia terus menatap ke bawah demi menjaga kesopanan. Tiba-tiba ia mendengar Reiji terkekeh pelan namun ia tak berani mengangkat kepalanya.


"Haha, jadi kau adalah maid baru yang dibilang Naoki? Hm, Souka. Ohayou," Reiji masih terkekeh lalu membalas sapaan dari Sienna, "Ah, sou.. Siapa nama mu?" tanya Reiji


"Nama saya, Miyazaki Sienna. Sekarang saatnya anda harus ba—"


"Sienna ya.. Nama yang Bagus, ya. Ah tapi, bisakah kau kurangi sedikit tingkat kesopanan mu? Menatapku bukanlah dosa yang tak terampuni, loh haha." ujar Reiji dengan santai, ia mulai beranjak dari ranjangnya dan berdiri menjulang tinggi di depan Sienna. "Sekarang, angkat kepalamu dan tatap aku." titah Reiji.


Dengan perasaan sedikit canggung dan takut, Sienna pun mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah tampan Reiji. Lelaki itu nampak terkejut walau sesaat lalu ia mengukir senyum tipis. "Mata biru mu sangat Indah, apa kau keturunan campuran?"


"B-benar, Reiji-sama."


"Souka. Ah sepertinya aku terlalu banyak bicara haha. Maaf. Lebih baik aku segera mandi." Reiji melangkah pergi menuju kamar mandi nya. Sebelum Reiji benar-benar masuk, Sienna menatap bahu lebar itu lalu mencoba melakukan tugasnya dengan baik.


"A-ano summimasen Reiji-sama," panggil Sienna lalu yang di panggil pun menengok ke belakang dan menatap Sienna sembari mengambil handuk. "Ada yang bisa saya kerjakan? Ah maksud saya seperti menyiapkan pakaian anda atau..." Sienna grogi setengah mati hingga tidak mampu melanjutkan ucapannya lagi. Reiji yang dapat melihat kegugupannya dengan jelas hanya tersenyum tipis.


"Ah sepertinya tidak perlu. Untuk sekarang. Lebih baik kau bangunkan saja otouto ku, ya." ucap Reiji yang langsung masuk ke dalam kamar mandi nya dan meninggalkan Sienna yang masih terdiam di samping ranjang putra sulung Namikaze tersebut. Setelah Sienna mendengar bunyi shower yang menyala, ia kembali sadar lalu bergegas pergi ke kamar Ryuuga yang notabene nya adalah musuh nya.


          Setelah sampai di depan pintu kamar Ryuuga. Sienna sebisa mungkin mengumpulkan tenaga untuk menahan rasa amarahnya kalau-kalau nanti Ryuuga akan mencari masalah dengannya lagi sebab Sienna tak mungkin bisa melawan seperti biasanya karena posisi nya sekarang sebagai seorang majikan dan pelayan. Sienna telah memantapkan hatinya lalu mengetuk pintu dan memutar kenop pintu dengan pelan. "Permisi, Ryuga-sa—" Sienna tidak melanjutkan sapaannya setelah melihat keadaan kamar si bungsu yang sangat gelap. Tirai berwarna navy itu benar-benar tak membiarkan cahaya matahari masuk sedikitpun. Melihat keadaan kamar yang sangat gelap, Sienna hendak meraih saklar lampu tetapi mendadak ia urungkan niatnya. 'Sepertinya aku tidak sopan' batin Sienna. Dia melangkah menuju ranjang ber-sprei senada dengan tirai kamar itu dengan pelan. Lelaki dengan wajah memukau itu masih bergelut dengan mimpi dan selimutnya yang tebal mengingat sekarang sudah masuk musim dingin. "Apa dia beruang? Yang benar saja!" bisik Sienna dengan sangat pelan. Lelaki itu menggeliat pelan hanya untuk sekedar membenarkan posisi tidurnya dan juga selimutnya.


                Sienna menghembuskan napas pelan lalu mencoba memasang senyum terbaiknya meskipun lelaki itu belum membuka matanya. "Ohayou Gozaimasu, Ryuuga-sama," Sienna sedikit mengeraskan suaranya agar lelaki itu terbangun tapi tak ada reaksi. "Ryuuga-sama, saatnya anda untuk bangun." Sienna maju selangkah lebih dekat agar Ryuuga bisa mendengar suara nya tapi nihil. "Ryuuga-sama, anda bisa terlambat." ujar Sienna, untuk sesaat Sienna berpikir jika ucapannya tidak sopan tapi siapa peduli? Toh yang dibangunkan pun tidak bergeming. "Apa dia sudah jadi mayat?! Astaga..." gerutu Sienna dengan sangat pelan, ia melihat ke segala arah dan mencoba memikirkan cara untuk membangunkan putra bungsu Namikaze itu. Sebuah lampu pijar menyala di atas kepalanya. Ia sedikit menggulung lengan bajunya lalu menyibakkan tirai itu lebar-lebar hingga cahaya matahari mampu masuk ke dalam ruangan besar itu dan berhasil menyilaukan mata Ryuuga. Sienna tersenyum bangga karena ide nya bisa membuat tuan nya bereaksi tapi detik selanjutnya Sienna kembali kesal. Ryuuga hanya bergerak untuk membalik tubuhnya dan membelakangi cahaya. "Nani?! Huh.. Sebenarnya dia ini kenapa sih?" gumam Sienna menggelengkan kepalanya heran. Mau tidak mau Sienna menggoyangkan bahu Ryuuga dengan pelan. "Summimasen, Ryuuga-sama. Cepatlah bangun atau anda akan terlambat untuk sarapan. Ryuuga-sama.."


"Tolong anda segera bangun, Ryuuga-sama."


            Sienna segera melangkah untuk membuka semua tirai yang ada di kamar itu. Setelah itu, dia membereskan segala barang yang berantakan dan beberapa potong pakaian kotor yang tergeletak di lantai. Sienna melirik sesosok lelaki itu yang tak kunjung bangun. "Dia ini... Masih kekanak-kanakkan.." gumam Sienna. Sienna kembali mendekati Ryuuga yang masih nyaman dalam selimutnya. Hampir saja Sienna menginjak jam tangan rolex berwarna silver yang tergeletak di lantai, untung nya ia melihat jam itu. Ia mengambilnya dan meletakkannya di meja yang terletak di samping ranjang Ryuuga. Tiba-tiba Sienna dikejutkan dengan cengkeraman tangan kekar yang ia yakini itu adalah tangan tuan muda nya. Sienna segera menoleh menatap Ryuuga dengan tatapan terkejut. "A-a-ano summimasen, Ryuu—"


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Ryuuga datar namun Sienna bisa menangkap sedikit tatapan tidak suka.


"Saya hendak membangunkan anda, Ryuu— Namikaze-sama tapi anda sejak tadi tidak juga beranjak dari ranjang." jelas Sienna, ia tahu mungkin ucapannya terlalu berani tetapi memang begitulah adanya. Mau dia tidak suka, biarkanlah.


"Aa, jadi kau maid baru yang dimaksud Naoki?" Ryuuga menaikkan sebelah alisnya


"Saya tidak mengerti, Tuan. Silahkan anda segera mandi karena sarapan sebentar lagi akan dimulai." ujar Sienna dengan sopan, ia menunduk seperti sebelum diperintahkan Reiji untuk tidak melakukannya. Ia tak menyadari, ada sebuah seringai tipis muncul di bibir tipis pemuda tampan itu. Mendengar Ryuuga sudah mulai bergeser untuk turun, Sienna pun hendak mundur untuk memberi jalan. Tadinya. Tapi Sienna sedikit terhuyung dan jatuh tepat di pangkuan tuan muda itu karena tangannya yang ditarik tiba-tiba oleh si pemuda tersebut. Hampir saja tubuh atas mereka bersentuhan jika Sienna tidak buru-buru menahan dirinya dengan memegang bahu Ryuuga. Sienna menengadahkan kepalanya lalu menatap Ryuuga dengan mata yang membulat sempurna. "A-apa yang anda lakukan?!" Sienna gemetar karena takut. Ya, bagaimana tidak? Bagaimana jika ada yang melihat mereka dan salah paham? Dia tidak mau dikira seperti gadis penggoda tuannya demi harta. Itu bukan dirinya.


Ryuuga hanya tersenyum tipis sekali bahkan hampir tak terlihat. Ia merasa puas menjahili gadis yang suka melawan dirinya ini. "Hn. Memangnya kenapa? Bukankah aku adalah tuanmu?" tanya Ryuuga sambil mengangkat bahu ringan, "Kurasa sah-sah saja jika aku melakukan ini. Kau sudah tahu peraturan maid dirumah ini bukan?" tanya nya sedikit mengejek. Sienna yang semula gugup karena jarak mereka yang sangat dekat, bahkan ia bisa mencium aroma khas tuan muda itu dengan sangat jelas, kini sudah mulai kehilangan kesopanan nya. Ia berani menatap Ryuuga dengan pandangan kesal.


"Maaf tuan, saya dibayar bukan untuk hal kekanak-kanakkan seperti ini." pungkas Sienna, ia agak ketus menjawab pertanyaan konyol dari pemuda besar kepala seperti dirinya. Sienna hendak berdiri namun Ryuuga malah memeluk pinggang nya. Siku perempatan sudah muncul di kening Sienna. "Tuan, anda sudah terlambat 10 menit. Bisakah sekarang anda segera mandi dan bersiap-siap?" pinta Sienna penuh dengan kesabaran, ia menunjukkan senyum terpaksa nya tapi Ryuuga diam tak bergeming. "Kalau aku menolak?" tanya nya dengan enteng dan berhasil membuat Sienna geram.


"Tuan, tolong jangan berkata seperti itu. Semua orang pasti sudah menunggu anda di ruang makan." Sienna terus berusaha membujuk pemuda dingin di hadapannya itu.


"Hn," hanya jawaban ambigu yang keluar dari bibir tipis pemuda itu.


"Kalau begitu, bisakah anda melepaskan saya? Masih ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."

__ADS_1


"Tidak"


"Tuan, anda bisa menimbulkan kesalahpahaman jika terus mendekap saya seperti ini."


"Hn"


Akhirnya Ryuuga melepaskan Sienna dan membiarkannya untuk beranjak dari pangkuannya. Ryuuga segera bangkit dan meregangkan sedikit otot-otot tubuhnya. Sienna menatapnya sekilas lalu kembali bertanya "Namikaze-sama, apa saya perlu menyiapkan pakaian anda?" tanya Sienna dengan sopan, Ryuuga meliriknya lewat ekor matanya. "Kalau bisa, bantu memandikan aku saja sudah cukup." Ryuuga dengan mudahnya mengatakan hal itu dengan wajah datar tanpa ekspresi nya. Sienna segera memalingkan wajahnya sambil bergumam pelan "Enak saja".


"Kau mengatakan sesuatu? Ingat ya nona, aku adalah tuan mu." ujar Ryuuga yang menekankan kata 'Tuan' pada ucapannya.


"Wakarimashita. Ano, Namikaze-sama.. Untuk pertanyaan saya yang tadi?"


"Hn"


Ryuuga telah menghilang dibalik pintu kamar mandinya. Sienna menghela napas lega setelahnya, ia benar-benar merasa sedikit gerah akibat menahan emosi yang hendak ia luapkan. Baru pertama kali bekerja sebagai pengurus saja tingkat kejahilan nya sudah tinggi apalagi ke depannya? Sienna berharap bisa baik-baik saja apapun yang akan ja hadapi. Sienna hanya mengikuti kata hatinya, ia segera merapikan tempat tidur, meletakkan pakaian kotor di keranjang, lalu Sienna dengan sedikit ragu membuka lemari besar milik Ryuuga dan tertegun. Jangan ditanya, tentu saja lemari itu penuh dengan pakaian yang tidak bisa dibilang murah. Sienna segera mencari seragam sekolah milik Ryuuga. "Ketemu! Akhirnya.." Sienna tersenyum senang lalu segera meletakkan seragam Ryuuga di ranjangnya. Tidak berselang lama, Ryuuga keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Sienna segera menunduk dan membungkuk hormat. "Jika anda sudah selesai, silahkan segera datang ke ruang makan untuk sarapan. Saya permi—"


"Tunggu dulu."


"Ada yang bisa saya kerjakan, Namikaze-sama?"


"Semalam aku benar-benar sangat lelah. Bisakah kau membantuku memakaikan pakaianku?" tanya Ryuuga, sebuah seringai jahil tercetak dibibir nya


"Sore wa dame desu, Namikaze-sama."


"Kenapa tidak?"


"Saya ti—"


"Ini adalah perintah, nona menyebalkan"


"Saya masih punya pekerjaan lain, tolong anda pakai—"


"Aah sepertinya aku harus meminta nii-san untuk mencari—"


"Wakatta desu," Sienna buru-buru memotong ucapan Ryuuga karena dia tahu apa kelanjutan ucapan dari mulut menyebalkan nya itu. 'Kurang ajar!' batin Sienna.


"Kalau begitu cepat kemarilah. Bantu aku."


Sienna dengan langkah pelan berjalan mendekati ranjang di mana ia meletakkan seragamnya. Ryuuga memperhatikan gadis blonde itu dalam diam. Sienna memang mengambil seragam Ryuuga tapi pandangannya entah kemana hingga membuat Ryuuga mengernyit bingung.


"Hei, kau ini melihat apa? Aku ada di depanmu."


"Summimasen, saya tidak terbiasa melakukan ini."


"Mulai sekarang kau harus membiasakan diri."


Sial.

__ADS_1


__ADS_2