
Sore hari sebelum perayaan ulang tahun kecil-kecilan dari Ryuuga untuk Nanami, ia sibuk mendatangi berbagai macam toko yang ada di Tokyo untuk mencari hadiah yang paling pas untuk ibu kedua nya itu.
"Apa yang harus ku cari? Apa yang pantas aku berikan? Aduh, aku bingung sekali." Kali ini Naoki sedang di dalam toko pakaian di sebuah pusat perbelanjaan. Ia memegang salah satu gaun selutut berwarna tosca yang bermotif bunga sakura. Indah, tapi entah kenapa ia merasa hadiahnya kurang berkesan. Padahal, ia sadar kalau Nanami tidak akan mempermasalahkan hadiahnya bahkan ia pun tidak memintanya dari dirinya maupun Ryuuga.
"Apa aku telepon Ryuuga saja ya? Mungkin saja di hari yang spesial ini, dia mau berbaik hati padaku." Naoki segera mengambil ponsel nya di kantong celananya lalu segera menelepon Ryuuga.
"Halo Ryuuga?" sapa Naoki
"Hn, ada apa?" tanya Ryuuga
"Kau sudah menyiapkan hadiah untuk bibi Nanami, kan? Apa yang akan kau berikan padanya?"
"Sudah. Bukan urusanmu. Cari saja sendiri yang pas. Aku tidak akan memberitahukan nya padamu sama sekali."
"Jahat sekali sih. Ya sudah."
Naoki segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengacak rambutnya frustasi karena tidak juga mendapatkan ide. Lantas, ia memilih untuk keluar dari toko pakaian itu dan menengok kesana-kemari mencari toko yang menarik di matanya namun nihil. Semua terlihat biasa saja. Tak ada yang istimewa sama sekali.
"Aarrghh seharusnya aku sudah mencari hadiah sejak lama tapi kenapa aku harus lupa sih? Menyebalkan." ia memukuli kepalanya berulang kali, merutuki dirinya sendiri.
•
•
Hari ini adalah hari libur kerja. Sienna memutuskan untuk menghilangkan kebimbangan hatinya dengan menghabiskan waktu sendirian di apartemen milik Izumi. Ia duduk di dekat balkon sembari menikmati angin pagi yang sejuk sekaligus dingin. Entah sudah yang ke-berapa kalinya ia menghela napas gusar.
"Aku harus bagaimana? Ambil atau tidak?" gumamnya lirih seperti bicara dengan hembusan angin yang lewat dari jendela nya.
Ponsel Sienna kembali berdering. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan melihat siapa menelepon nya. Ya, itu nomor telepon rumahnya di desa. Tidak seperti biasanya, kali ini ia menerima telepon dengan hati yang sedikit berdenyut nyeri dan berdegup kencang. Ia merasa seperti akan mendapatkan kabar buruk.
"Moshi-moshi?"
"Kak, ini aku Haru."
"Iya, ada apa Haru-chan?"
"Kak, kemarin kaa-san kembali masuk ke rumah sakit karena demam yang sangat tinggi, bibi Ruka menemani nya."
Deg
Hatinya benar-benar kacau begitu pula pikirannya. Ia tak tahu harus bicara apa, sekarang tubuhnya sangat lemas.
"kaa-san kenapa?"
"Sekarang sedang musim dingin, kaa-san sepertinya selalu merasa kedinginan. Tapi kak..."
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan."
"Biaya rumah sakit sangat mahal karena Kaa-san juga harus dirawat ekstra di rumah sakit. Bibi bisa membantu tapi tidak semua biaya bisa ia tanggung."
"Souka. Aku yang akan melunasi sisanya."
__ADS_1
"Hontou? Daijoubu, nee-san?"
"Daijoubu yo, Haru-chan."
"Aku tutup teleponnya."
"Baiklah."
Betapa remuk hatinya harus mendengar kabar buruk seperti ini. Untuk sejenak, ia kesal pada keadaan yang tak pernah berpihak pada dirinya. Untuk sejenak, ia ingin memikirkan dirinya sendiri, satu hari saja ingin bersantai untuk melepas penat, tapi sayang... Tugasnya sebagai pengganti ayahnya tak boleh berhenti.
Sienna duduk dengan lesu di ranjangnya, ia menunduk menatap lantai apartemennya. Tanpa sadar, air matanya berlinang. Segala perasaan hatinya membuncah. Lalu ia membaringkan tubuhnya, menatap kosong langit-langit apartemen.
"Ku pikir aku masih punya sedikit waktu lagi, tapi sepertinya Kami-sama punya hal yang lebih seru lagi untuk ku..." gumamnya sambil tersenyum padahal hatinya sedang sangat perih, air matanya tak mau berhenti mengalir. Tak ada yang bisa dijadikan tempat untuk bersandar. Ia tak boleh lemah, ia harus kuat demi kelangsungan hidup keluarganya.
"Aku harus bagaimana..." bibirnya bergetar mencoba menahan tangis. Sungguh ia benci dengan dirinya yang rapih seperti ini. Jika saja ada satu orang yang bisa mendengarkannya, ia akan sangat berterimakasih.
•
•
Malam hari, sekitar jam 8 malam Naoki dan Arata sudah sampai di depan mansion besar milik Ryuuga. Mereka berdua sibuk mengobrol dengan kantong karton di tangan masing-masing.
"Oi, Arata. Apa yang kau berikan pada bibi Nanami?" tanya Naoki
"Haruskah aku beri tahu? Nanti juga kau akan melihatnya." jawab Arata dengan santai
"Hah.. Entah kenapa aku merasa hadiah ku yang paling buruk." gumam Naoki sambil tersenyum tipis
Ryuuga membukakan pintu rumah– ralat, lebih tepatnya Mansion. Naoki yang memang orangnya penuh percaya diri, ia langsung merangkul Ryuuga.
"Hei, kawan~!!" sapa Naoki dengan cengiran lebar
"Menjijikkan." Ryuuga melepaskan tangan Naoki dengan kasar
"Jahat sekali." ketus Naoki sambil cemberut
"Dimana bibi Nanami?" tanya Arata
"Dia sedang tidur di kamarnya. Akan ku bangunkan jika kita sudah bersiap." jawab Ryuuga.
Ryuuga langsung menutup pintunya dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke lantai dua mansion nya, dan butuh 3 menit lagi untuk sampai ke kamar Ryuuga.
'Pantas saja Ryuuga sangat malas pergi dari kamarnya.' batin Arata yang merasa sedikit bosan karena butuh beberapa waktu untuk sampai kamar Ryuuga.
Mereka sudah sampai di depan kamar Ryuuga yang memiliki ukiran namanya. Benar-benar sangat megah dan mewah. Bahkan kamar Ryuuga bisa dibilang sebesar rumah Arata. Setelah pintu besar itu dibuka, Arata dapat melihat isi kamarnya. Cat kamar Ryuuga diberi warna navy dan tirai kamar yang senada. Aroma maskulin benar-benar menguat dari kamarnya, ranjang berukuran king size dengan sprei berwarna putih tulang dan semua barang tertata rapi kecuali isi lemari nya yang sangat berantakan.
"Oi, lemari itu mengganggu pemandangan." ujar Arata tiba-tiba sambil menunjuknya
"Eh? Apa maksudmu?" Naoki mengikuti arah jari telunjuk Arata dan detik kemudian dia menahan tawanya
"Aku mencoba memberikan penampilan terbaik di hari ulang tahun bibi Nanami." sahut Ryuuga dengan wajah bersemu akibat malu. Ia segera menutup pintu lemari nya dan mempersilahkan kedua temannya duduk di sofa.
__ADS_1
"Cepat bersiap-siap. Bibi Nanami tidak akan tidur lama." ucap Ryuuga yang sedang mengambil kado ulang tahunnya dan memanggil pelayan lewat bel yang memang sudah di sediakan di kamarnya.
"Enak sekali hidupmu.." gumam Arata dengan wajah datar
"Apa maksudmu?"
"Segala kebutuhanmu tercukupi dengan baik." jawab Arata sambil menatap Ryuuga yang raut wajahnya sudah berubah 180° sejak ia mengatakan sesuatu tentang harta yang ia miliki.
Tok tok tok tok
"Permisi, Ryuuga-sama. Saya sudah membawakan kue nya." panggil salah seorang pelayan yang telah berdiri di depan pintu kamarnya.
Mereka langsung keluar dari kamar dan segera turun ke lantai satu dan pergi menuju kamar Nanami yang berada di dekat dapur. Setelah semuanya siap dan semua pelayan yang bekerja di mansion itu berkumpul, akhirnya Ryuuga mengetuk pintu kamar Nanami.
Tidak lama kemudian, pintu itu berderit dan menampakkan sosok wanita dengan baju dan penampilan rapi seperti biasanya. Nanami terkejut ketika Ryuuga dan yang lainnya berdiri di depan pintunya dan memberikan nyanyian selamat ulang tahun padanya. Ia menatap Ryuuga yang membawa kue ulang tahunnya dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya ia pun menangis terharu melihat semua orang begitu menyayangi nya.
Mereka pun menghabiskan malam mereka bersama Nanami. Tiba waktunya untuk memberikan hadiah pada Nanami, Ryuuga meminta seluruh pelayan untuk pergi dari sana dan menyisakan ketiga lelaki itu dengan Nanami. Arata memberikan kadonya terlebih dahulu.
"Ini untukmu, ba-san. Aku tidak bisa memberikan hadiah yang bagus untukmu, maafkan aku." ujar Arata sambil menyodorkan kado kecilnya.
"Tidak apa-apa, nak. Saya juga tidak meminta anda untuk memberikan hadiah, saya sangat berterimakasih.." jawab Nanami dengan senyum tulus di wajahnya. Nanami langsung membuka hadiah kecil itu dan menariknya keluar. Sebuah gaun cantik yang sangat anggun dan sesuai dengan umurnya, gaun berwarna coklat susu itu benar-benar sangat indah dimata Nanami. "Terimakasih banyak, nak.. Aku sangat menyukai nya.."
"Syukurlah jika ba-san menyukai hadiah kecil dariku." Arata ikut tersenyum
Sekarang giliran Naoki yang memberikan hadiah untuk ibu kedua nya itu. Ia dengan wajah cemas, menyodorkan hadiahnya ke depan Nanami.
"Ba-chan, maafkan aku. Aku lupa dengan hari ulang tahunmu dan aku tidak sempat mencarikan hadiah yang terbaik." ujar Naoki dengan wajah sedih
"Apakah seorang ibu akan meminta dengan syarat pada putranya sendiri?" tanya Nanami yang tersenyum lembut padanya
"Hehehe sekarang bukalah, semoga kau menyukainya ya ba-chan~!!" ujar Naoki dengan girang.
Nanami pun membuka hadiah dari Naoki dan mengeluarkan sepasang sepatu yang warnanya ternyata senada dengan gaun pemberian dari Arata. Indah sekali.
"Terimakasih banyak, nak.. Aku sangat menyukainya.." ujar Nanami dengan senyum senang
"Yokatta..." Naoki menghela napas lega
Sekarang tiba giliran si majikan Nanami yang memberikan hadiah pada dirinya. Jujur saja, Nanami sangat tidak ingin tuannya selalu memberikan hadiah di setiap ulang tahunnya. Namun, Ryuuga pasti akan sangat marah jika apa yang dia inginkan malah dilarang.
"Bukalah." titah Ryuuga dengan senyum tipis
"Baik, Ryuuga-sama.."
Nanami segera membuka kotak kecil berwarna merah itu lalu membeliak kaget saat melihat isinya. Sebuah kalung berbentuk hati yang sangat cantik. Ia membuka bentuk hati itu dan disana terdapat foto dirinya yang dulu sedang memeluk Ryuuga kecil di pangkuannya, senyum mereka terlihat sangat tulus di foto itu.
"Aku harap kau tidak melupakan ku. Kau adalah ibuku." ujar Ryuuga
"Ryuuga-sama..." Nanami mendongak menatap Ryuuga lalu menitikkan air mata bahagia. "Hontou ni...Arigatou" lalu akhirnya ia benar-benar menangis. Ketiga lelaki itu langsung mendekap wanita tua itu dengan penuh kasih sayang dan menghabiskan waktu bersama nya sepanjang malam.
__ADS_1