
"Gerbang nya sudah ditutup..." Kata Reiji sambil memandangi gerbang tinggi milik sekolah yang sudah tertutup rapat dari dalam mobil.
"Hn" Ryuuga hanya menatap datar ke luar jendela, ia malah merasa lebih nyaman tetap duduk di dalam mobil.
"Ano, summimasen. Biar saya yang akan mengurus nya."
"Ah, terimakasih ya Keiko-san." Sahut Reiji sambil tersenyum. Keiko pun turun dari mobil lalu mendatangi satpam yang sedang berjaga di sekitar gerbang.
Sienna tak bersuara sama sekali, sedari tadi ia menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Bagaimana mungkin aku telat menyadarinya? Aku lupa kalau sekolah Ryuuga berhadapan dengan Cafe Izumi.. Ku harap tidak ada yang melihatku..' batin Sienna gelisah. Tidak masalah jika Yui melihatnya tetapi bagaimana jika Aika yang melihatnya? Akan menjadi masalah baru kalau itu terjadi.
"......na-san"
".....enna-san"
"Sienna-san?"
Panggilan Reiji terdengar samar-samar namun Sienna hanya memandangi kakinya. Wajah yang tadinya ceria kini dipenuhi rasa kekhawatiran, Jika itu bukan Reiji mungkin dia sudah dimarahi karena melamun saat dipanggil. Melihat Sienna yang tidak biasa melamun, Ryuuga pun menoleh ke samping tempat duduknya lalu memperhatikan Sienna. "Oi, baka onna." Panggil Ryuuga sambil menendang kaki gadis itu dengan pelan hingga membuatnya terperanjat kaget. Sienna mengangkat wajahnya lagi.
"Ha-hai'.. apa anda memerlukan sesuatu, Namikaze-sama?" Spontan, Sienna segera menoleh kearah Ryuuga dengan mata membulat.
"Hn," balasnya dengan mengangkat sedikit dagunya untuk menunjuk Reiji yang duduk di depan. Dengan rasa bersalah Sienna membungkuk dan meminta maaf berulang kali pada Reiji, karena dia terlalu asyik mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Haha, sudahlah tidak apa-apa. Tapi apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kau melamun?" Tanya Reiji sedikit memiringkan kepalanya
"Ah Ano.. etto... Saya hanya merasa sangat gugup untuk menginjakkan kaki di sekolah Namikaze-sama, rasanya saya tidak pantas berpenampilan seperti ini, apalagi—"
"Astaga, kau terlalu mengkhawatirkan banyak hal ya.. hal itu tidak perlu kau pikirkan, Ryuuga sendiri yang memintamu kan? Iya, kan Ryuu?"
"Hn"
Lagi-lagi jawaban ambigu yang keluar dari bibir tipis milik Cassanova sekolah itu. Keiko telah kembali dan gerbang sekolah pun sudah di buka lebar agar mobil Namikaze bisa memasuki area sekolah. Setelah mobil berhenti tepat di parkiran yang disediakan, Ryuuga menatap Sienna dengan tajam. "Dengarkan aku baik-baik."
"I-iya..." Sienna kesulitan menelan ludah saat Ryuuga seolah-olah sedang memberikan peringatan yang begitu penting padanya.
"Kau tidak boleh memanggilku seperti biasa. Kau tidak perlu terlalu formal padaku dan nii-san."
"T-tapi itu tidak mungkin"
"Ini adalah perintah. Kau tahu siapa aku, kan?" Pertanyaan Ryuuga seolah-olah penuh dengan ancaman yang akan membuat kehidupan Sienna berikutnya hancur. Dengan berat hati, Sienna hanya mengangguk sebagai balasan. Jantungnya berdebar-debar karena harus memanggil kedua tuannya dengan meninggalkan suffix -sama dibelakang.
Setelah itu mereka berempat turun dari mobil Limosin tersebut. Ryuuga segera memimpin jalan tanpa berkata sepatah kata pun, ia melenggang ke dalam gedung sekolah lalu diikuti oleh Reiji dan Sienna lalu Keiko menyusul mereka. Saat hendak masuk, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabrak Ryuuga hingga pemuda itu sedikit mundur ke belakang karena kakinya terinjak. Lelaki berkacamata dengan pakaian seragam yang sangat rapi dengan tanda 'ketua OSIS' di lengannya sebagai penanda langsung di lirik oleh Ryuuga. Namun sepertinya si ketua OSIS tidak mengetahui siapa yang ia tabrak dan malah mengomelinya sambil memperbaiki kacamata yang bertengger di hidungnya. "Hei, bisakah kau gunakan mata mu untuk melihat?!" Ketus ketua itu yang masih sibuk membenarkan kacamatanya, "Apa kau tidak tahu kalau aku sedang si..." Lantas si ketua menganga lebar saat mengangkat kepalanya dan melihat wajah orang yang ia tabrak, "buk..." seakan nyawanya akan melayang pergi meninggalkan raganya, ketua OSIS itu menelan ludah dengan susah payah saat Ryuuga menatapnya dengan tajam tanpa bicara apapun. "Ah, gomennasai Ryuuga-kun~!! Ahahaha aku.. aku benar-benar tidak sengaja, Ano..." Matanya melirik kesana kemari menghindari tatapan menusuk dari Ryuuga.
"Hn, menyingkir dari jalanku, senpai." Napas ketua itu tercekat, ia segera menggeser tubuhnya jauh-jauh dari hadapan Ryuuga. Dia hanya cengengesan tidak jelas, lalu memberi hormat pada Ryuuga. 'Apa-apaan mereka ini? Apa mereka model?' batin si ketua kelas saat melihat visual orang-orang di depannya, bahkan orang Keiko dan Sienna yang sebenarnya sama-sama seorang pekerja pun memiliki visual yang tak main-main, jika mereka menggunakan pakaian yang setara dengan kedua tuan muda maka tak ada bedanya.
"A-ano.. Daijoubu desu ka?" Tanya Sienna padanya, alisnya turun menandakan ia menyesal atas perbuatan tuannya. Tanpa sadar, Sienna telah membuat ketua OSIS itu terpana dengan kecantikan dan kebaikan hatinya.
"H-hai' Daijoubu desu." Jawabnya sambil membenarkan kacamatanya, sungguh kegugupan yang nampak jelas. Mendengar jawaban dari pemuda itu, Sienna tersenyum senang dan semakin membuat si ketua OSIS itu memerah padam dan terkapar di tempat. "Yokatta.. kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa." Sienna membungkuk sebagai tanda perpisahan lalu berlari menyusul langkah ketiga laki-laki yang sudah lebih dulu masuk ke dalam area sekolah. "K-kirei..." Gumam ketua OSIS sambil menyeka darah mimisan yang sudah mengalir dari hidungnya.
•
•
•
•
"Permisi, apakah Ryuuga-kun ada disini?!"
"Eh????? Onnaa!!!"
"Aaaa!!"
"Dare da Omae wa???!!!!!!"
Kedatangan Erika ke ruang ganti tim basket sekolahnya membuat para lelaki pontang panting mencari tempat sembunyi pasalnya mereka baru saja menyelesaikan babak pertama pertandingan itu dan saatnya mengganti pakaian mereka yang sudah lembab. Kemunculan Erika yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu dan membukanya lebar-lebar membuat para lelaki syok dan teriakan terkejut terdengar sangat nyaring. Lain hal nya dengan Naoki dan Arata yang sudah mengenal gadis berisik itu. Erika nampak biasa saja melihat kejadian di depan matanya, ia sudah sibuk menjelajahi ruangan dengan matanya dari depan pintu. "Haahhh.... Merepotkan." Lirih Arata sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Percuma saja kau mencarinya. Dia tidak ada disini." Jawab Naoki seadanya karena memang benar adanya, namun bukan Erika namanya jika ia langsung percaya begitu saja.
"Benarkah? Jangan coba-coba untuk membohongiku." Ketus Erika yang melangkah masuk dan membuat teriakan dari member lain kembali terdengar. "Jangan coba-coba melangkah masuk, dasar kau gadis tidak tahu malu!!" Namun Erika tetap melangkahkan kakinya pelan.
"Untuk apa kami berbohong padamu? Itu sangat tidak menguntungkan." Timpal Arata dengan enggan, ia menatap Erika dengan malas. Sungguh tidak menarik. "Apa kau tidak tahu malu? Kau sedang ada di ruang ganti khusus lelaki." Komentar Arata lagi.
"Aku belum melihatnya dengan mata kepala ku sendiri dan aku harus memastikannya sendiri."
"Dia tidak ikut dalam pertandingan kali ini! Senpai, sudah cukup. Kau membuat kami muak." Bentak Naoki dengan tatapan kesal, entah kenapa setiap kali melihat Erika, membuat darahnya mendidih.
"Cih, apa maksudmu membentak seorang perempuan? Kau kan bisa bicara baik-baik!"
Braak!
Suara pintu ditutup dengan keras pun terdengar. Para lelaki yang ada di ruang ganti melongo tidak percaya pada apa yang barusan terjadi terutama Naoki. Aura suram sudah mengitari dirinya, 'Ano kusso onna! Kami sudah memberitahumu baik-baik tapi kau yang tetap keras kepala!' batin Naoki berteriak kesal.
"Nanda are wa?"
"Apa dia lupa ingatan?"
"Kurasa dia hanya tidak sadar diri, Naoki dan Arata sudah memberitahunya sejak tadi, ah aku bisa gila."
"Cih, mendokusai! Setiap melihat wajah itu, aku selalu merasa kesal." Kata Naoki lirih namun masih dapat di dengar oleh Arata yang duduk di depannya.
"Ah, wakatteru. Apa istirahat kita masih lama?" Tanya Arata lalu sang ketua kelas melihat jam dinding dan menyamakannya dengan kertas jadwal yang di bagikan pada setiap tim yang mengikuti pertandingan.
"Masih tersisa 15 menit lagi. Jika kalian ingin melakukan sesuatu segeralah lakukan, tim yang sedang bertanding akan segera selesai."
"Baik, kapten." Arata beranjak dari kursinya. "Oi, Naoki. Kau mau ikut tidak?"
"Memangnya kau mau pergi kemana?"
"Aku lapar."
"Eh? Baiklah, aku ikut denganmu."
Mereka keluar dari ruang ganti setelah selesai mengganti kaos tim nya. Ada hal yang membuat Arata bingung dengan dirinya sendiri, semakin dia merasa sebal dekat dengan Naoki maka akan semakin lebih sering dipertemukan dengannya. Arata bertanya pada dirinya sendiri apakah ini rasanya memiliki teman. "Oh iya, kau ingin makan apa?" Arata menoleh ke sebelah kanannya, memandang wajah Naoki yang tidak seperti biasanya. "Oi, kenapa kau diam saja?" Arata menyenggol lengan Naoki yang langsung membuatnya gelagapan.
"I-iya? Ada apa?"
"Cih, kau melamun? Apa yang kau pikirkan?"
"Eh? Ahaha tidak ada, aku hanya memikirkan apakah nanti kita bisa menang? Wah ini akan semakin mendebarkan." Jawab Naoki sekenanya, ia tahu percuma saja membohongi Arata.
__ADS_1
"Oh, Souka." Arata menghela napas berat lalu melirik Naoki lewat ekor matanya, "Kau ingin makan apa?" Tanya Arata lagi.
"Whoa! Majikayo?!" Naoki sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya di depan tak jauh dari mereka. Sementara Arata merasa suram, sudah dua kali dia tak dihiraukan oleh Naoki. 'Apa ini yang biasa Naoki rasakan?' tanya nya dalam hati. Benar-benar memalukan. "Oi, Arata! Apa kau tidak lihat?!" Naoki memukul-mukul bahu Arata hingga si empunya merasa risih dan juga kesal.
"Apa sih?!" Jari telunjuk Naoki mengarah ke depan lalu Arata pun mengikuti kemana arah jari itu menunjuk dan menyipitkan matanya untuk dapat melihat dengan jelas. "Siapa?" Tanya Arata dengan enteng nya lalu Naoki memukul punggungnya dengan cukup keras.
"Itu Ryuuga!" Balas Naoki dengan nada kesal.
"Ah benarkah? Lalu siapa gadis blonde yang sedang bersama dengannya itu? Erika tidak mengecat rambutnya, kan?" Arata ikut mengamati dari kejauhan namun mereka berdua tetap tidak bisa melihat wajah gadis itu karena posisinya yang membelakangi mereka.
"Massaka..!"
*Apa mungkin, jangan-jangan
"Dare? Shitteta no ka?"
*Siapa? Apa kau tahu?
"....tidak. Waktu kita tidak banyak, ayo cepat pergi." Naoki menarik lengan Arata mundur dari tempat mereka berdiri.
"O-oi!!" Hampir saja dia terjungkal ke belakang saat Naoki menarik lengannya dengan tidak sabaran. "Kau ini bisa sabar sedikit tidak sih?!"
"Hahh... Aku ingin makan hamburger.."
"Apa kau tidak mendengar ku?!"
"Arata-kun, kau ingin makan apa?" Tanya Naoki dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Arata geli.
"Cih, menjijikkan!" Arata menghempaskan tangan Naoki lalu berjalan sendiri. "Bukannya itu tidak ada di menu hari ini?" Tanya Arata
"Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan Hamburger!!"
"Terserah"
•
•
•
•
"Sienna-san, kau ingin pergi denganku?" Tanya Reiji
"E-eh? Pergi dengan anda...?"
"Nanda sore? Kau tidak perlu menggunakan bahasa formal seperti itu padaku, ingat?"
*Apa itu?
"S-summimasen, Reiji—...san."
"Nah itu terdengar lebih akrab,"
"Sienna akan pergi denganku."
"Heee?? Nande, nande?" Reiji mengerucutkan bibirnya, ia tak peduli saat ini Ryuuga sedang menatapnya dengan jijik akibat tingkahnya.
"Karena itulah alasanku membawanya—"
"Ryuuga-kun!!!!!!!"
Suara itu terdengar sangat familiar bagi si pemilik nama. Ryuuga tersentak kaget, ia berbalik dan melihat gadis yang sedang berlari menghampirinya, sungguh gadis yang keras kepala. Reiji dan Keiko sudah mengubah mode kalem mereka pada mode level bahaya. Sementara Sienna hanya menunjukkan tampang polosnya. 'Are? Bukankah gadis ini...?' Sienna memiringkan sedikit kepalanya, setelah gadis itu sampai di hadapan mereka tentu saja yang menjadi objek pengamatan Erika pertama kali adalah dirinya namun Sienna malah tak ragu memberikan senyum manisnya pada gadis itu.
"Ryuuga-kun, apa kau baru datang? Kenapa kau datang sangat terlambat?" Tanya Erika sambil memanyunkan bibirnya, sama seperti yang dilakukan Reiji sebelumnya.
"Hn"
"Lalu siapa gadis ini?!" Tanya Erika dengan penuh kecurigaan seolah-olah saat ini ia sedang memergoki suaminya yang membawa selingkuhannya. Berlebihan memang tapi benar adanya.
"Hn, kau ingin tahu?"
"Tentu saja!!"
"Dia pacarku." Balas Ryuuga dengan santai. Ia menarik tangan Sienna agar mendekat lalu merangkul bahu kecil milik Sienna yang membuat gadis itu membeliak tak percaya, Sienna mendongak menatap wajah datar Ryuuga. Bukan hanya Sienna yang terkejut tapi Reiji, Keiko, terutama Erika pun terkejut bukan main. Penuturan Ryuuga yang tak terduga pasti akan menyebabkan masalah baru apalagi kalau Erika sampai mengetahui identitas Sienna yang sebenarnya. Erika mengamati Sienna dari atas sampai bawah dan ia ulangi sampai berkali-kali. Tubuh Sienna yang proporsional dengan wajah yang cantik memang sangat pas dengan Ryuuga, sudah pasti gadis itu adalah tipe ideal Ryuuga. "Uso deshou?!" Pekik Erika yang memekakkan telinga.
"Tck, berisik!" Ryuuga menutup telinga menggunakan jari lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Erika.
"Katakan padaku ini bohong! Kau tidak pernah memberitahuku soal gadis baru!" Erika terus saja menggerutu tidak jelas, membuat Semua orang yang berdiri disana jengah kecuali Sienna tentunya. "Kenapa kau berbohong?!"
"Hn. Aku tidak berbohong."
"Hoho benarkah? Lalu kenapa kau tidak mengatakan apapun soal gadis ini?!" Tunjuk Erika dengan penuh kekesalan.
"Untuk apa kau campuri urusanku?"
"T-tapi—"
"Ryuuga, bisakah kalian hentikan drama ini? Kau harus segera pergi dari sini." Ucap Reiji sambil tersenyum aneh, ya semacam senyuman palsu tapi tak memiliki niat buruk. Mungkin Erika sudah paham dengan maksud senyum Reiji itu sebabnya diam seketika hening.
"Hn"
"A-aku akan meminta penjelasan mu, nanti kau harus temui aku!" Erika segera pergi dari hadapan mereka dan berlari menjauh. Sienna mengerutkan dahinya bingung, "Apa dia pacarmu?" Tanya Sienna pada Ryuuga yang masih setia merangkul bahu mungilnya.
"Hn. Bukan." Jawab Ryuuga sesingkat mungkin. Entah harus berkata apa, Sienna hanya ber-'oh'-ria saja.
Mereka pun pergi masuk ke dalam koridor dan mengikuti kemana arah Ryuuga melangkah. Sienna sembari berjalan ia juga mengamati lingkungan dan juga bangunan sekolah ellite itu dari dalam. Hatinya sedikit sakit kala mengingat dirinya sewaktu beberapa tahun yang lalu.
•
"***Kau sangat cerdas, aku tidak menyangka William memiliki anak gadis yang cukup berprestasi. Tapi kau tahu? Kau tidak pantas mendapatkan sekolah yang ternama dan bagus, cukup sekolah ditempat yang standar saja."
"Tapi paman—"
"Dengarkan aku, Sienna. Tidak peduli sebagus atau seburuk apapun sekolah yang kau tempati, jika kau memang berprestasi maka itu semua tak mempengaruhi kualitas mu."
"... Ayah sudah mengatakan padaku, jika uang yang ia tabung akan diserahkan padaku agar aku bisa melanjutkan masa SMA ku di sekolah yang berkualitas."
"Ada hak apa kau berbicara seperti itu padaku?! Dengar ya, kakakku hanya tidak tahu jika dia masih memiliki hutang yang belum dibayar padaku."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan bekerja paruh waktu untuk membayar hutang ayah, berapa hutang yang dia punya? Aku akan membayarnya dengan jerih payahku sendiri."
"Kau tidak punya keputusan apapun dan aku akan tetap pada pendirian ku."
"Hiks..hiks.. paman, ku mohon biarkan aku memakai uang ayah.."
"Hei, hei kenapa kau menangis huh?"
"...Bukankah itu hak keluargaku? Uang itu milik ayahku."
"Kau kan bisa bekerja paruh waktu, kau bilang begitu kan?"
".... Apa...?" Sienna seakan tak percaya pada sikap pamannya pada dirinya dan juga keluarga sang kakak.
"Ah, begini saja. Aku akan menyekolahkan mu di sekolah ellite yang sangat kau impikan..."
"Maksud paman?"
"Iya, bukankah kau merengek karena ingin berada disekolah yang bagus kan? Aku akan menyekolahkan mu disana tapi... Hanna akan bekerja padaku sebagai pembantu seumur hidup, bagaimana? Penawaran yang bagus kan?" Sienna membelalakkan matanya tak percaya pada penghinaan pamannya sendiri terhadap ibu tersayang nya. Ini sudah tidak bisa di toleransi.
"Hentikan ocehan mu paman! Mou iie, aku tidak akan memohon apapun darimu! Aku sudah cukup menerima semua perlakuan mu yang membuat keluarga ku menderita!" Bentak Sienna yang diakhiri oleh suara tamparan keras di pipi ranumnya. Sakit, tapi sakit itu tidak dapat mengalahkan rasa perih di hatinya. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa tega menampar gadis SMP? Ah ya, tentu saja jawabannya sangat mudah. Sienna telah menghilangkan kesopanannya saat berbicara pada orang yang lebih tua sekaligus pamannya, adik dari ayahnya sendiri.
"Dasar kau tidak punya sopan santun! Pantas saja kau mudah melakukannya karena kau memang berasal dari kaum rendahan! Tadinya aku ingin berbaik hati padamu tapi sepertinya orang rendahan tetap akan seperti itu!"
"..... Memaki ku tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku adalah keponakanmu, kau juga telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Kau—!" Tangan besar itu sudah mulai terangkat lagi hanya tinggal satu ayunan lagi maka itu akan kembali mencetak tanda kemerahan di pipi Sienna. Seakan sudah mati rasa, Sienna tetap menatap pamannya dengan tatapan berkilat marah.
"Kenapa paman berhenti? Jika paman ingin memukulku ya pukul saja. Aku tidak akan keberatan."
"Ah, terlalu kekanakkan jika aku harus memukul mu tapi aku punya balasan yang lebih baik daripada ini." Pamannya menyeringai lalu pergi meninggalkan gadis berusia 14 tahun itu sendirian. Tatapan kosong Sienna membuat siapa saja yang melihatnya dapat ikut merasakan sakit yang melanda dirinya.
Esok harinya, Sienna dan keluarganya di usir dari rumah besar milik William. Mereka di biarkan begitu saja seperti orang jalanan yang tak punya tujuan sama sekali. Saat itu Haru sangat kecil mungkin dia sudah tidak bisa mengingat dengan baik kejadian yang menimpa dirinya. Setelah beberapa hari terlewati, akhirnya mereka sampai di kampung halaman ibunya dan kembali meninggali rumah neneknya seperti semula saat sang ibu belum bertemu dengan ayahnya***.
•
Sienna tersenyum getir sambil menunduk, ia tak memperhatikan langkahnya dengan baik, ia hanya melamunkan masa lalunya yang membuatnya menjadi setegar karang. Dahulu ia sangat bersikeras ingin masuk ke sekolah ini agar dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Tokyo, tapi entah bagaimana bisa dirinya meninggalkan impiannya dengan mudah. Tiba-tiba di depan jalan Sienna, seseorang sedang membuka pintu lebar-lebar, jika Reiji tak bergerak menarik Sienna ke dalam dekapannya dengan cepat mungkin Sienna akan menabraknya. Sienna kembali ke alam sadarnya. Matanya membeliak.
"Hampir saja..!" Kata Reiji sambil menghela napas lega
"....." Sienna tak mampu mengeluarkan suara, dekapan itu terlalu mendadak hingga membuat suaranya tercekat.
"Sienna-san, apa kau baik-baik saja? Tadi itu nyaris saja. Apa kau melamun lagi?" Tanya Reiji bertubi-tubi, raut khawatir di wajah penuh kharisma nya membuat hati Sienna berdegup kencang lebih dari biasanya.
"Ha-hai', Hontou ni arigatou Reiji-san.." Sienna tersenyum canggung di hadapan Reiji, selepas mendengar jawaban Sienna, lelaki itu mendengus pelan.
"Kau ini sedang memikirkan apa? Sejak kau masuk ke dalam area sekolah, jiwa mu seperti sedang pergi ke suatu tempat yang jauh." Cibir Reiji yang membuat Sienna terkekeh geli.
"Gomennasai, aku hanya... Tidak tahu harus melakukan apa untuk Ryuuga-san."
"Hn. Kau seharusnya sudah tahu. Dasar bodoh." Jawab Ryuuga yang membelakangi dirinya. Sienna mencoba memutar otak cerdasnya lalu kembali mencari jawaban 'Apa aku harus berpura-pura menjadi kekasihnya? Apa ini mungkin? Yang benar saja.' pikir Sienna.
Pertandingan babak kedua telah usai, kini tim sekolah Naoki akan bermain lagi untuk mengalahkan tim lawan agar dapat masuk ke bakal final. Saat mereka sedang bersiap, Naoki tiba-tiba saja menghadap si ketua tim basket. "Oh, Naoki? Ada perlu apa?" Tanya Ketua dengan ramah.
"Ketua, apa Ryuuga akan ikut bermain?" Pertanyaan Naoki sebenarnya tidak terdengar serius tapi si ketua sepertinya sedikit bingung dengan ekspresi Naoki yang kelihatannya sangat suram.
"Ehm, aku juga tidak tahu. Tapi Yurui-sensei bilang dia hanya akan bergabung sebagai pemain cadangan jika kita kekurangan satu anggota. Kenapa kau menanyakannya?"
"Dia lewat belakang sekolah, bukan langsung dari depan."
"Ah Souka."
"Aku ingin izin ke toilet sebentar.."
"Baiklah, segeralah kembali. Lima menit lagi pertandingan akan dimulai."
"Aku mengerti. Kalau begitu aku permisi."
Naoki keluar dari ruang ganti tanpa memberitahu Arata, saat ini Arata sedang bertemu dengan Yurui-sensei untuk membahas lomba lain yang di rekomendasikan untuk nya. Tak berselang lama setelah Naoki keluar dari ruangan, Ryuuga datang bersama dengan yang lainnya. Ryuuga menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu, ia mengambil tasnya yang sedari tadi dibawakan oleh Sienna. "Aku akan masuk, silahkan kalian pergi."
"Hah? Pergi kemana?" Tanya Reiji dengan tampang bodoh, sungguh jika lelaki itu bukan kakaknya mungkin saat ini juga Ryuuga akan melenyapkannya. Beruntung Reiji mendapatkan status sebagai kakak kandungnya.
"Hn. Kesana." Tunjuk Ryuuga ke asal suara yang sangat ramai. Ya, untuk menonton pertandingan.
"A-ano..." Sienna memainkan kedua jarinya, terlihat imut dan polos dalam waktu yang bersamaan. Semua mata tertuju pada satu-satunya gadis yang ada disana.
"Hn. Ada apa lagi?" Tanya Ryuuga sembari menaikkan satu alisnya.
"Sa— aku.. ingin pergi ke toilet sebentar," jawab Sienna malu-malu
"Ah ku kira ada apa. Kalau begitu, aku akan menemani mu!!" Ujar Reiji dengan semangat dan tampang bodohnya kali ini benar-benar membuat Ryuuga tak tahan. Ia menjitak kepala kakaknya dengan cukup keras hingga membuat si pemilik merintih kesakitan.
"Ittai yo, Ryuu." Rengek Reiji yang tak cocok dengan wajahnya dan juga postur tubuhnya.
"Baka hentai!" Ryuuga memberikan deathglare pada Reiji
"Eh?! Iie iie iie, bukan itu maksudku, dia kan tidak tahu jalan ke toilet."
"E-etto, Reiji-san, Kita sudah melewati toilet disana. Jadi aku sudah paham jalan kembali ke sini."
"He??" Reiji mengedip-ngedipkan matanya berulang kali, ia tak sadar jika mereka juga melewati toilet. Tentu saja itu memalukan untuk dirinya. "A-ahaha aku tidak melihatnya~" Reiji menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kikuk, "Baiklah silahkan jika kau ingin pergi."
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Keiko-san, ayo kita pergi. Jaa ne, Ryuu."
Sienna kembali ke tempat semula ia datang. Sangat sepi dan tak siapapun disekitar bangunan itu, sepertinya semua orang-orang sungguh menantikan pertandingan itu. Sebenarnya Sienna hanya ingin membasuh wajahnya saja, untuk sekedar menghapus segala kenangan buruk yang menempel pada ingatannya hingga muncul ke permukaan wajahnya. Semua orang akan curiga padanya jika tidak ia tutupi segera. Sienna melalui koridor yang sepi dan sedetik kemudian dia berhenti. Tatapannya mengarah pada salah satu kursi di dekat pohon besar. Gadis itu mengenali seseorang yang sedang duduk dengan wajah kusutnya. Sienna mengubah haluan menjadi menghampiri pemuda yang nampak terbebani. "Konnichiwa, Naoki-san.." sapa Sienna dengan suara halusnya. Ia berdiri tepat di depan Naoki yang sedang menunduk. Naoki mengangkat kepalanya perlahan dan matanya terbuka lebar saat mengetahui siapa gerangan gadis yang menyapa nya, mulutnya terbuka. "N-nee-san....?!" Naoki tak hanya terkejut dengan kemunculan Sienna di sekolahnya tetapi ia juga terkejut melihat penampilan Sienna yang sangat berbeda dari biasanya.
"Hai, kau sedang apa?" Tanya Sienna yang ikut duduk disebelah pemuda tersebut. Sienna tak sadar jika semburat merah sudah muncul di wajah tampan Naoki. "Eh? Kenapa kau diam?"
"A-ah, ahahaha t-tidak kok. Omong-omong, n-nee-san kenapa kau ada disini?" Naoki mengalihkan pembicaraan.
"Aku... Diminta Ryuuga-san untuk ikut datang kemari," jawab Sienna lalu matanya turun melihat kaos yang dipakai oleh lelaki itu, "Wah, kau ikut dalam tim?" Tanya Sienna dengan mata berbinar dan membuat Naoki menjadi salah tingkah.
"Hehe iya, aku ikut bertanding." Balasnya sambil cengengesan.
"Sugoi desu," Sienna tersenyum senang. Seakan-akan senyum gadis itu secerah dan sehangat cahaya mentari di pagi menjelang siang itu. "Ne, Naoki-san. Apa kau tidak bersiap? Tadi... Sienna tak melanjutkan ucapannya, "Apa kau tidak ikut lagi?"
"Sou, Ryuuga sudah datang. Aku akan mundur dan membiarkan Ryuuga mengisi tempatku hahaha, kurasa aku butuh istirahat." Entah kenapa Sienna merasa Naoki sangat berat saat menyebutkan nama teman sedari kecilnya. Dengan mudahnya, Sienna mengetahui apa yang sedang membuatnya gundah.
__ADS_1
"Jadi kau disini?!"