
"Tadaima~"
"A-apa anda.."
"Kyaaa Reiji nii-san~!!!!!!" Izumi langsung memeluk lelaki berwibawa itu dengan wajah sumringah
"Oh? Apa kau Izumi? Wahaha ternyata kau sudah tumbuh lebih tinggi ya.." lelaki bernama Reiji itu mengelus mahkota kepala Izumi dengan penuh kelembutan.
"Nii-san? Aku beruntung bisa melihatmu lagi setelah bertahun-tahun lamanya~!! Kau kemana saja? Apa kau tidak merindukan kami semua di sini?" Izumi mendongakkan kepala nya untuk menatap wajah tegas si lelaki itu tanpa melepas pelukannya.
"Eh? Mana dulu yang harus ku jawab ya? Ahaha ternyata kau tidak banyak berubah ya.." Reiji hanya bisa sweatdrop di tempat, ia tak menyangka gadis yang sedang mendekapnya ini adalah gadis yang sama dengan gadis kecil beberapa tahun silam.
"Kenapa kau lama sekali? Apa kau tidak merindukan ku?" tanya Izumi dengan bibirnya yang melengkung ke bawah
"Aku harus bekerja di Jerman, ayah akan memarahi ku jika aku terus-terusan disini hehehe."
Sementara Izumi dan Reiji sedang melepas rindu, Nanami segera meminta maid lain untuk membawakan koper milik Reiji ke kamarnya lalu ia segera menuju dapur unttuk menyiapkan cemilan. Izumi melepaskan pelukannya dan menarik Reiji untuk segera duduk di sofa.
"Ne nii-san.." panggil Izumi
"Hm? Ada apa Izunya?" tanya Reiji yang sedang berusaha mencari posisi duduk yang enak karena punggungnya yang terasa sedikit pegal akibat perjalanan jauh. Ia bersandar pada punggung sofa lalu menatap Izumi kecil nya yang sekarang sudah menjelma menjadi gadis yang lebih feminim meskipun sifat cerewetnya belum hilang.
"...." Izumi terdiam, ia terkejut dengan panggilan dari Reiji. Sudah sangat lama sekali, mungkin sudah sekitar 12 tahun lalu mereka bersahabat dan ini adalah kali pertamanya setelah sekian lama Reiji memanggilnya seperti itu. Izunya adalah panggilan sayang dari Reiji untuknya, tentu saja ia sangat merindukan panggilan itu.
"Kenapa kau malah menatapku? Kau tidak mau menjawab pertanyaan ku?" tanya Reiji sambil mengangkat sebelah alis nya
"Eng, tidak kok. Aku hanya... Sangat merindukanmu, nii-san. Aku sudah sangat lama tidak mendengarkan panggilan itu lagi dan sekarang aku sangat senang sampai rasanya aku ingin menangis.." gumam Izumi yang sudah terisak pelan menahan tangis nya sendiri. Melihat Reiji tersenyum lembut padanya, ia jadi tak mampu menahan tangisan nya lagi. Ia menangis namun segera ia hapus menggunakan punggung tangannya, membuat Reiji terkekeh pelan karena pemandangan imut di hadapannya itu.
"Eh? Ahaha Kawaii.." ujar Reiji yang melihat Izumi masih terisak walaupun sudah tidak lagi meneteskan air mata. Reiji memberikan senyuman manis nya untuk mengobati kesedihan Izumi lalu mengelus kepalanya, "Cup, cup.. Jangan menangis lagi ya Izunya."
"Mou baka onii-san!"
"Permisi, makanannya sudah saya siapkan. Silahkan di nikmati Reiji-sama, Izumi-sama." ujar Nanami yang menaruh piring-piring bawaannya di atas meja lalu masuk kedalam lagi.
"Oh iya, dimana Ryuuga?" tanya Reiji sambil menoleh kesana-kemari, "Seharusnya dia ada disini untuk menyambut ku."
"Ano.. Sore wa.."
*ano sore wa: anu, itu
"Doushita?"
*doushita: ada apa
__ADS_1
"Sejak tadi siang dia memang belum pulang, ku pikir dia akan bolos untuk menyambut kedatangan ku setelah sekian lama. Tapi ini sudah sore bahkan hampir malam tapi dia tidak juga pulang. Padahal dia sudah meminta Naoki menjemputnya. Ini aneh." jawab Izumi panjang lebar lalu ia mengusap dagu nya seolah sedang berpikir keras
"Souka? Mungkin dia tidak jadi pulang lebih awal. Oh iya, kau sudah ada disini sejak tadi? Tumben sekali. Bagaimana sekolahmu?"
"Maksudmu kuliah ku? Aku sudah selesai. Aku kesini karena mengantar sahabatku dulu, dia akan bekerja di sini menjadi maid."
"Oh ya? Lalu dimana dia sekarang?"
"Masih ada di ruangannya, mungkin dia belum menyelesaikan acara beres-beres nya atau bisa jadi dia takut untuk keluar karena takut tersesat hehe."
"Haha kau ini ada-ada saja."
"Oh iya, nii-san. Aku harus segera pulang, aku sudah sangat terlambat. Aku pergi dulu, sampai jumpa~!!" Izumi langsung beranjak dari duduknya dan berlari dengan cepat keluar mansion.
"Eh? Sampai jumpa.." gumam Reiji pelan.
Reiji langsung beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamarnya. Ia sangat lelah dan ingin beristirahat terlebih dahulu sebelum adiknya datang.
•
•
Sementara itu, Naoki masih harus menemani Ryuuga di game center lebih lama. Mengasyikkan memang, tetapi ia tetap fokus pada keinginannya. Mengetahui perasaan Ryuuga. Walaupun saat ini Ryuuga dengan merasa tertarik oleh game baru, tetapi tetap saja itu hanya bersifat sementara. Namun, jauh di dalam lubuk hati Naoki yang paling dalam, ia bersyukur kali ini Ryuuga tak main dengan kekasih-kekasih bohongan nya itu.
"Hn, ayo."
Di luar dugaan, ternyata Ryuuga mau meninggalkan game center dengan sangat mudah. Naoki mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau diam saja? Tadi kau mengajak ku pulang, bukan?"
"Tumben sekali kau langsung setuju dengan ajakan orang."
"Aku lelah. Aku ingin tidur."
"Souka.."
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di mansion besar bertuliskan Namikaze di depan gerbang nya. Setelah selesai memarkirkan mobil, Ryuuga langsung turun dan berjalan cepat tanpa menunggu Naoki. Segera, setelah ia mengunci pintu mobil Naoki langsung mengejar langkah Ryuuga. Akhirnya mereka sampai di depan pintu bersamaan lalu pintu besar itu terbuka lebar dengan beberapa jajaran maid yang berbaris rapi.
"Okaerinasai, Ryuuga-sama, Naoki-sama." ucap mereka sambil membungkuk hormat Ryuuga langsung melengos pergi masuk ke dalam, di susul dengan Naoki yang harus mengejar Ryuuga terus menerus.
"Oi, Ryuu! Tunggu!" Naoki sudah melambaikan tangannya pada Ryuuga yang sudah berdiri di belakangnya.
"Lambat." ketus Ryuuga
__ADS_1
Namun saat mereka bermain kejar-kejaran, Nanami muncul di hadapan Ryuuga dan membuatnya berhenti berjalan. Ryuuga sedikit terkejut dengan Nanami yang tidak biasanya menunjukkan wajah serius seperti itu padanya. Naoki pun sampai dan langsung ikut menatap Nanami.
"Ada apa, Nanami ba-san?" tanya Naoki yang masih sedikit terengah-engah
"Kenapa kalian baru pulang? Maid yang dikirimkan Naoki-sama sudah datang sejak tadi siang dan sekarang dia masih ada di kamarnya." ucap Nanami
"Maid baru?" tanya Ryuuga yang terkejut, ia tidak tahu tentang rencana Naoki untuk menambah maid di rumahnya. Ryuuga langsung melirik Naoki lewat ekor matanya.
"Wah, benarkah?!! Asyik!! Akhirnya kau tidak akan kesepian lagi di dapur!!" seru Naoki dengan wajah yang super gembira, Naoki tak menyadari lirikan tajam dari si pemilik rumah.
"Apa-apaan ini?! Untuk apa kau mencari maid baru?" tanya Ryuuga dengan nada tajam khas nya
"Kau tidak betah di rumah kan? Nanami ba-san butuh teman bicara. Meskipun maid disini berjumlah 15 orang tetapi mereka sudah ada di bagian kerja masing-masing. Yang mengurus dapur hanya dia jadi aku berniat menambah satu untuk membantunya. Lagi pula, Sasaki kaa-san juga sudah mengizinkan nya." jawab Naoki dengan santai, ia tak menyadari perubahan raut wajah Ryuuga saat mendengar perkataan Naoki.
Ryuuga mencengkeram kerah bahu Naoki dengan sangat kuat hingga membuat Naoki sedikit kesulitan bernapas. Wajah mereka sudah dekat. Ryuuga menatapnya dengan tatapan marah nya yang membuat Naoki tersentak kaget karena Ryuuga tidak pernah menunjukkan emosi sebesar itu.
"Jangan pernah kau sebut nama itu di depanku!" bentak nya tepat di depan wajah Naoki dan membuat Naoki tak berkedip sekalipun, matanya membulat sempurna saat Ryuuga begitu memancarkan aura kebencian nya yang luar biasa. Setelah itu, Ryuuga melepas cengkeraman nya di baju Naoki dengan kasar lalu mendorong nya dengan kasar.
Nanami yang melihat situasi ini pun terkejut dan sedih dalam waktu yang sama.
"Maafkan saya karena saya membuat kalian bertengkar hebat seperti ini..." gumam Nanami dengan raut wajah sedih
"Eh? Tidak kok ba-san. Ini salahku yang terus saja mengusik perasaan Ryuuga, aku bukan teman yang baik untuknya." Naoki memegang kedua bahu Nanami dan mencoba meyakinkan nya bahwa semua akan kembali seperti semula. "Oh iya, bagaimana dengan maid baru nya?" tanya Naoki dengan antusias
"E-eh anu.. Dia gadis muda yang sangat cantik, Naoki-sama. Sepertinya umur anda tidak terlalu jauh dengannya. Kalau dilihat lagi... Sepertinya dia bukan keturunan asli Jepang." tutur Nanami sambil mencoba membayangkan ulang wajah Sienna.
"Benarkah?! Wahaha sepertinya dia cantik. Kira-kira dia mau denganku tidak ya..?"
"Pfft... Anda ini kenapa?" Nanami mengulum tawa nya karena pertanyaan konyol dari lelaki ceria di hadapannya itu.
"Eh? Kenapa kau malah tertawa? Duh, aku ini kan tidak pernah berpacaran." ujar Naoki sambil menggembungkan pipinya
"Hahaha iya, saya mengerti. Ah iya, padahal ada hal penting yang harus saya beritahukan pada anda dan Ryuuga-sama."
"Apa itu ba-san?"
"Reiji-sama sudah pulang. Beliau sampai di rumah sekitar jam 4 sore tadi, saya ingin memberitahu kalian setelah saya memberitahu maid baru, tapi..."
"Reiji nii-chan?! Benarkah?! Dimana dia?!" tanya Naoki dengan wajah senangnya, ia terlihat sangat ingin bertemu dengan sosok dewasa dari Reiji.
"A-ah sore wa... Dia sedang istirahat di kamarnya, sepertinya dia sangat kelelahan setelah perjalanan jauh. Mungkin besok pagi dia sudah bisa bergabung dengan kita di meja makan."
"Huwaaa aku tidak sabar!!" seru Naoki dengan wajah gembira, lalu ia berkata "Ya sudah, kalau begitu aku akan menginap disini lagi. Aku juga harus istirahat, sampai jumpa Nanami ba-san!!"
__ADS_1