
Pagi hari yang cerah di kota Tokyo, tanda dimulainya berbagai macam aktivitas. Kota itu mulai ramai sejak dini hari dan aktivitas mereka di dukung oleh cuaca hari ini yang begitu cerah.
Sinar matahari menyelinap masuk ke dalam jendela kamar apartemen milik seorang gadis bersurai blonde yang masih enggan meninggalkan belaian lembut selimutnya. Ketika cahaya mulai menembus kelopak matanya, ia mulai menggeliat dan membuka matanya secara perlahan.
"Nghh nyenyak sekali tidurku semalam, hoamm~" gumam gadis itu sembari menguap lebar. Ia duduk di ranjangnya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang akibat perjalanan yang cukup menyita banyak waktu. Setelah merasa nyawa sudah kembali sepenuhnya, ia pun beranjak dari ranjangnya dan merapikan kasur nya.
Ting tong ting tong
Saat gadis itu sedang bersiap mandi, tiba-tiba ia mendengar suara bel apartemennya yang dibunyikan dengan sangat tidak sabaran. Gadis itu mendecak kesal dan segera berlari kecil menuju pintu. Belum sempat Ia memutar kenop pintu, terdengar teriakan seorang gadis yang memanggil namanya berkali-kali membuat suara yang memekakan telinga.
"Sienna! Sienna! Cepat buka!" teriak gadis itu masih setia menekan tombol bel apartemen miliknya.
"Iya, iya sebentar~" Gadis yang dipanggil Sienna itu hanya bisa menghela napas panjang ketika mendengar panggilan dari sahabatnya, Izumi.
Setelah membukakan pintu, Izumi segera melengos masuk tanpa menatap si penghuni apartemen membuat Serena menggeleng heran melihat gadis bersurai kecoklatan itu menerobos masuk dan mengganggu paginya yang tenang.
"Kau ini kenapa, eh? Seperti orang kesetanan saja." Gerutu Sienna yang dibalas dengan tatapan tajam dari sang sahabat yang kembali sibuk menoleh kesana kemari seakan mengecek seluruh ruangan apartemen dengan teliti.
"Hei, ada apa?" Tanya Sienna lagi namun tak dijawab oleh sang pemilik apartemen. Setelah selesai meneliti seluruh ruangan, Izumi langsung merengkuh tubuh langsing Serena dan membuatnya kebingungan.
"Syukurlah~" Izumi menghela napas lega dan senyum tulusnya mengembang, meskipun Sienna kebingungan namun ia tetap membalas pelukan dari sang sahabat yang telah ia anggap sebagai saudara.
"Hei, kau ini kenapa? Pagi-pagi sekali kau sudah datang kemari. Kau merindukanku, eh?" Goda Sienna sambil tersenyum jahil yang langsung disambut dengan pukulan kecil di lengannya dan membuatnya terkekeh geli. Izumi melepas pelukannya dan melihat wajah cantik milik Serena.
"Bagaimana tidurmu? Aku sangat bersyukur kau bisa datang kemari. Bagaimana apartemen ini? Apa kau nyaman menempatinya?" Tanya Izumi bertubi-tubi membuat Serena bingung harus menjawabnya dan akhirnya hanya mengangguk.
"Tentu saja. Terima kasih kau mau meminjamkan apartemen mu padaku, setelah ini aku akan mencari tempat tinggal disekitar sini." Ujar Sienna yang berhasil membuat Izumi mengerutkan dahi "Apa maksudmu? Aku bukan meminjamkannya untuk semalam tapi kau bisa memakainya." Izumi mengerucutkan bibirnya sebal karena sikap Serena yang selalu merasa sungkan padanya.
"E-eh??!! Apa maksudmu aku boleh tinggal disini? Ah tidak tidak. Aku tidak mau merepotkan mu terus, Izumi-chan." Tolaknya, Sienna berulangkali menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan penuturan Izumi.
"Kenapa? Lagipula, mamaku sudah mengetahui kedatangan mu ke Tokyo dan dia menyarankan ku untuk menyuruhmu tinggal disini. Aku jarang atau bahkan hampir tidak pernah menempati apartemen ini dan kurasa ini akan sangat berguna untukmu." Jelas Izumi sambil mengacungkan jari telunjuknya ke udara sedangkan Serena masih membatu karena penjelasan Izumi.
__ADS_1
"Ti-tidak bisa! Aku tidak mau." Tolak Serena mentah-mentah membuat Izumi menatapnya kecewa, "Apa kau tidak membayangkan bagaimana jika mama ku sampai mengetahui bahwa niat baiknya ditolak begitu saja? Seharusnya kau tahu kalau mama ku sangat peduli padamu." Ucap Izumi seraya menunduk sedih dan membuat Sienna merasa sangat bersalah dan tidak enak hati. Hati dan pikirannya bimbang, ia tidak mau merepotkan sahabatnya terus menerus. Tetapi Izumi terus mendesaknya. Mau tidak mau Sienna harus menyetujui permintaan Izumi untuk menyenangkan hati ibunya, ia menghela napas berat. "Baiklah, aku terima. Sebelumnya aku sangat berterima kasih atas kemurahan hati kalian padaku, aku sungguh sangat berhutang budi padamu." Serena tersenyum dipaksakan agar Izumi mempercayainya.
Izumi yang mendengar jawaban dari Serena pun langsung mengangkat kepalanya dan memeluknya erat.
"Begitu terdengar lebih baik~" Izumi tersenyum senang.
"Iya, iya." Serena mendengus pelan melihat tingkah laku sahabatnya yang sangat pandai membujuk orang lain.
"Sekarang kau harus bersiap-siap. Aku akan menunjukkan toko kue milik mama dan tentu saja sekalian kita sarapan." Izumi mendorong Serena agar segera masuk ke kamar mandi, "Aku mau mandi, tapi tadi kau datang dan mengusik ketenangan ku." Cibirnya membuat Izumi tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tidak berselang lama, Serena sudah selesai mandi dan merias dirinya. Ia memakai blouse berpita dengan rok pendek yang lumayan ketat membuat dirinya terlihat semakin anggun. Sienna adalah keturunan campuran Asia-Eropa yang tentu saja membuat dirinya semakin menarik. Rambut blonde panjang lurus yang sangat jarang ditemui di kota tersebut membuatnya terlihat nyentrik. Wajahnya tirus dan hidungnya mancung serta wajah putih mulus dengan bibir tipis yang senada dengan rona alami pipinya menambah kesan seperti boneka porselen.
Kaki jenjang Serena melangkah keluar dari pintu kamarnya, riasannya tidak begitu tebal karena memang dirinya sudah terlihat menawan. Belum lagi senyuman manisnya yang memabukkan, membuatnya bakal digilai para lelaki. Walaupun Serena berasal dari keluarga sederhana, tetapi dia terlihat tetap terawat. Bahkan dalam pandangan Izumi yang juga seorang perempuan, ia begitu jatuh cinta dengan kecantikan sahabatnya itu. Izumi tersenyum lebar dan kembali memeluk tubuh langsing Serena.
"Kau sangat cantik, sama seperti biasanya." Puji Izumi hingga membuat pipi Serena memerah karena malu.
"Dasar kau ini~! Sudahlah, ayo berangkat. Sudah jam 6 pagi." Serena memandangi jam kecil yang melingkar manis di pergelangan tangannya lalu sedikit menyeret Izumi agar cepat berangkat.
•
•
"Kemarilah, kau tidak boleh keluar dulu." Ucap Izumi yang terdengar seperti memperingatkannya membuat Sienna mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kenapa?" Tanya nya polos
"Kau terlalu menarik untuk dilihat. Aku tidak mau orang-orang langsung menatapmu dengan tatapan jorok." Larang Izumi pada sahabatnya.
"Bagaimana aku bisa bekerja disini kalau kau saja melarang ku keluar? Bukan kah seharusnya kau menjelaskan tugasku? Aku pun harus mengenal tempat ini." Ujar Sienna sembari tersenyum lembut, Izumi menghela napas kasar "Iya, kau benar. Tapi kau bisa keluar setelah kau mengganti pakaianmu. Cepat ganti, pakaiannya ada di lemari itu." Izumi menunjuk sebuah lemari berukuran sedang yang terbagi menjadi beberapa bagian sesuai jumlah pegawainya.
Lima menit kemudian, Sienna keluar dari WC dengan baju maid berwarna hitam putih selutut dengan jepitan rambut berwarna senada dengan rambutnya. Pemandangan yang sangat memukau, Sienna tampak sangat cantik seperti seorang model walaupun tingginya hanya 168 cm. Izumi menganga lebar melihat penampakan seorang dewi di hadapannya, sedangkan Sienna tampak malu-malu sambil beberapa kali merapikan helaian rambutnya yang menutupi matanya.
"Ka-kau ini kenapa? Jangan melihatku seperti itu." Ketus Sienna dengan wajah memerah padam. Izumi pun langsung tertawa kecil melihat Serena yang salah tingkah akibat dirinya.
"Hahaha, kau ini apa-apaan? Aku ini perempuan, bagaimana jika yang melihatmu seperti itu adalah seorang lelaki? Hahaha aku tidak bisa membayangkannya~" Tawa Izumi meledak ketika ia sekali lagi berhasil membuat Serena tersipu malu.
__ADS_1
Karena tawanya yang cukup keras, akhirnya dua pelayan kembali ke ruang ganti dan hendak mengecek sumber suara yang begitu mereka kenal. Saat membuka pintu, dua orang pelayan tersebut terpaku melihat Izumi dan Serena yang juga terkejut mendengar suara pintu yang terbuka.
"Kau..." Tunjuk salah satu pelayan kearah Sienna yang terdiam.
"Kyaa Sienna~!!" Seru pelayan lain yang langsung berlari memeluk Serena dengan erat, matanya mengisyaratkan bahwa ada sebuah kerinduan yang begitu lama ia pendam. Sienna tersenyum lebar melihat kedua teman satu sekolahnya ternyata bekerja ditempat yang sama.
"Aika-chan~ sudah lama ya kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanya Serena senang, "Eng~ baik-baik saja kok" Angguk gadis bernama Aika tersebut, senyum polosnya sangat bersinar membuatnya terlihat imut.
"Apa hanya Aika saja yang terlihat?" Gerutu seorang gadis yang masih berdiri diambang pintu sambil mengerutkan alisnya.
"Aahh Yui-Chan~ maafkan aku, hihihi. Bagaimana kabarmu?" Sienna membungkuk meminta maaf dengan sopan tepat didepan Yui.
"Sangat baik~" Yui memeluk Sienna sambil menepuk-nepuk bahu Sienna dengan cukup keras membuat Sienna meringis. Mereka terus berbincang-bincang hingga menjelaskan pekerjaan pada rekan kerja baru.
"Jadi, ada berapa banyak pegawai yang bekerja disini?" Tanya Sienna penasaran.
"Ada 10 pegawai. Lima pegawai bekerja di dapur, satu orang bekerja di kasir dan empat orang sisanya bekerja sebagai pelayan. Kau akan masuk di bagian pelayan." Jelas Yui dan dibalas dengan anggukan mengerti dari Sienna.
"Yosh~ ayo kalian mulai bekerja ya? Aku harus pergi kuliah. Sampai jumpa~" Izumi melangkahkan kakinya keluar dan melambaikan tangannya pada ketiga temannya yang juga membalas lambaian tangannya.
Sienna berulang kali menghembuskan napas untuk menghilangkan rasa gugupnya yang berlebihan. Ia masih harus membiasakan diri bertemu dan menyapa orang-orang asing, tak ada jaminan dirinya bisa berinteraksi dengan dua sampai tiga orang saja. Toko kue milik keluarga Izumi sangat ramai pengunjung, bukan hanya dari Jepang saja, bahkan orang dari luar negeri pun sangat banyak. Karena Tokyo penuh dengan hotel dan apartemen yang menampung banyak turis.
'Untung saja, aku bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Setidaknya, aku bisa bekerja dengan hasil maksimal.' batin Sienna sambil tersenyum dan menghela napas lega. Meskipun tidak seberapa, tapi menurutnya Ia sudah melakukan yang terbaik.
Tiba waktunya jam istirahat bagi para pegawai. Sienna datang ke ruang istirahat paling terakhir, Ia duduk disebelah Yui.
"Huuhhh, sangat lelah tapi menyenangkan~" Gumam Sienna puas, Yui yang semula sedang sibuk berkutat dengan handphone nya pun langsung menoleh ke sumber suara. Yui menepuk bahu Serena dengan keras, lagi.
"Ittai yo.." Sienna merintih sakit sambil mengusap bahunya yang terasa panas akibat pukulan dari Yui sedangkan Yui hanya cengengesan tidak jelas.
"Hehehe Gomen ne. Oi Sienna, kau hebat sekali!! Kerjamu sangat bagus, kau bahkan sangat fasih berbicara menggunakan bahasa Inggris." Yui mengacungkan jempol pada Sienna, merasa bangga mempunyai teman yang begitu hebat.
"Ne.. Yui-chan~ apa kau lupa? Dari dulu Sienna-chan memang pandai berbahasa Inggris. Benar, kan?" Ujar Aika dengan suara lembutnya, ia mengedipkan sebelah matanya pada Sienna dan hanya dibalas dengan tawa kaku olehnya.
"Ahh sudahlah kalian tidak usah berlebihan seperti itu~ aku bisa berbahasa Inggris karena ayahku juga berkebangsaan Inggris." Sienna mengibaskan tangannya didepan wajah menolak pujian yang diberikan kedua teman masa sekolahnya.
__ADS_1
"Ne Sienna-chan.." Panggil Aika