Nona Maid

Nona Maid
Ryuuga dan Izumi


__ADS_3

Sienna dan Naoki menoleh ke sumber suara. Ya, suara nyaring dan melengking itu sudah dapat dikenali oleh telinga Naoki. Ia menatap jengah pada gadis yang berjalan kearah mereka dengan bersungut-sungut marah. Ya, bagi Naoki sekarang ini dia sedang melihat seorang monster yang sedang marah dan bersiap menyantapnya dan Sienna.


"Kau.. gadis yang tadi, kan?!" Tunjuk Erika dengan wajah super kesal, sedangkan Sienna hanya mengedip-ngedipkan matanya.


"Oh, hai?" Sapa Sienna dengan senyum canggung, entahlah pertemuan kedua mereka terasa kurang baik karena gadis berseragam sekolah itu sudah lebih dulu kesal terhadap dirinya. "Ada.. yang bisa aku bantu?" Tanya Sienna dengan sopan.


"Jadi ini caramu bersikap dibelakang Ryuuga-ku?!" Erika menekankan kata kepemilikan nya pada Ryuuga yang terdengar seperti sebuah bualan di telinga Naoki. Pemuda itu merotasikan kedua bola matanya bosan.


"Maksudmu? Aku tidak paham."


"Ryuuga-kun sudah mengakuimu di depanku dan kau malah berselingkuh dengan sahabatnya?! Cih, gadis ini pasti sudah gila! Ryuuga-kun bahkan sampai tidak menganggap ku karena kau ada disampingnya!"


"Memangnya kau siapa sampai Ryuuga harus menganggapmu? Penting kah? Yang benar saja." Cibir Naoki tanpa ada rasa sungkan dan membuat Erika semakin tersulut emosi.


"Kau— dasar kau teman tidak tahu diri!"


Giliran Naoki pula yang ia tunjuk-tunjuk dengan emosi. Kesal?


"Kau kesal padaku? Padahal kau memang bukan siapa-siapa. Ryuuga sudah memutuskan mu sejak lama. Kau saja yang tidak tahu diri dan terus menempel padanya seperti permen karet, seperti gadis yang tidak punya harga diri. Ah ralat, sepertinya kau memang sudah tidak punya harga diri." Baik Erika maupun Sienna sama-sama terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Naoki. Berbeda dengan Erika yang terkejut karena makian yang dilontarkan untuknya, Sienna lebih terkejut karena aura Naoki yang berubah drastis, terasa semakin dingin. "Bukan begitu, senpai?" Naoki menatap Erika dengan datar. Sepertinya setengah jiwa Ryuuga merasukinya.


"Kau— menyebalkan!" Erika melayangkan tamparan di wajahnya namun tangan itu mampu ditangkis dengan mudah oleh tangan besar Naoki.


"Kenapa? Apa kau marah? Aku tidak mengatakan hal yang salah, bukan?" Tatapan tajam nan dingin yang ditunjukkan Naoki dapat membuat siapa saja yang melihatnya akan merinding ketakutan. Erika yang nyali nya sudah sedikit menciut, langsung menghempaskan tangan Naoki dari pergelangan tangannya yang sudah sedikit sakit.


"Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan beritahukan ini pada Ryuuga-kun!" Erika lari meninggalkan tempat itu.


"Hahhhhh...." Naoki menghela napas berat, punggungnya ia sandarkan pada kursi taman itu lalu menengadahkan kepalanya ke langit.


"Naoki...san," panggil Sienna dengan lirih.


"Hm? Ada apa, Nee-san?" Tanya Naoki dengan wajah yang kembali ceria seperti biasanya. Naoki seperti orang berkepribadian ganda.


"Mengapa kau terlihat sangat berbeda?" Pertanyaan yang dilontarkan Sienna mampu membuatnya bungkam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan gadis itu. Naoki hanya diam menatap Sienna dengan kosong tanpa berniat membuka mulutnya. Sienna tahu jika pemuda di depannya itu masih menyimpan perasaan yang mengganjal sejak kemarin malam. "Ternyata kau masih memikirkan kejadian malam itu ya?"


"Yappari.. Nee-san, aku masih belum bisa menghadapi Ryuuga seperti biasanya..." Gumam Naoki dengan suara yang sangat lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


*Sudah ku duga


"Itu tidak benar, Naoki-san. Kau tahu? Dia sudah bersikap seperti Ryuuga yang biasanya, hanya tinggal menunggumu menemuinya dan dia akan mengejekmu lagi seperti yang biasa dia lakukan."


"Tidak bisa, Nee-san. Dia sudah mengatakan—"


"Naoki-san, kau harus mengetahui sesuatu."


"Eh? Mengetahui apa?"


"Semua orang akan mengatakan hal yang buruk saat orang itu sedang marah, padahal belum tentu yang diucapkan itu benar adanya." Sienna menepuk bahu Naoki dengan lembut lalu tersenyum hangat, "Naoki-san sudah pernah mengalami hal yang buruk daripada ini, kan? Aku tahu kau sudah jadi orang yang kuat. Aku percaya padamu."


"......" Naoki membeliak, darahnya berdesir saat Sienna mengatakan sesuatu yang tak pernah dikatakan orang lain untuk dirinya, rasanya sangat bahagia. Naoki membalas senyuman Sienna dengan senyum ceria nya seperti biasa, kali ini Sienna benar-benar sudah berperan besar dalam mengubah cara berpikirnya. "Arigatou, Nee-san."






"Nii-san~!!" Sapa Izumi yang sedang melambai kearah Reiji disalah satu kursi penonton. Wajah riangnya membuat Reiji ikut tersenyum senang.


"Oh, hai Izunya? Kau sudah datang rupanya." Izumi duduk di sebelah Reiji dan tersenyum sangat lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


"Pertandingannya sudah mulai? Apa Ryuuga ikut? Dimana? Ah iya, Naoki juga ikut kan? Anak itu sejak kecil sudah hobi bermain basket, dia tidak terlihat?" Izumi terus saja menjejalkan berbagai macam pertanyaan dalam satu tarikan nafas, bahkan Reiji belum tentu ingat urutan pertanyaan Izumi. Reiji segera menutup mulut Izumi dengan telapak tangannya.


"Kau kan baru datang, lebih baik kau istirahat dan ambil nafas terlebih dulu ya~?" Izumi menautkan kedua alisnya lalu menepis tangan Reiji di mulutnya.


"Harusnya kau menghargai antusias ku ini, dasar menyebalkan. Huh!" Izumi membuang muka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Eh?! M-m-maaf, Izunya. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya bingung harus menjawab pertanyaan mu yang keberapa dulu, maaf."


"Jaa, bagaimana kalau sekarang—" ucapan Izumi terpotong saat sorak Sorai para penonton begitu nyaring, Izumi dan Reiji langsung menatap lurus ke lapangan dan mendapati Ryuuga dan juga tim nya yang sudah memasuki lapangan. "Whoa itu.. Ryuuga? Itu sungguh Ryuuga?" Izumi menatap kearah Ryuuga dari kejauhan dengan mata berbinar-binar senang, Reiji mengernyitkan dahinya heran, untuk apa Izumi terlalu bersemangat seakan-akan bertemu dengan idola nya? Apa Izumi menyukai nya?


"Kau suka padanya?" Tanya Reiji dengan senyuman namun Izumi seketika menghilangkan wajah senangnya dan menatap Reiji dengan tatapan aneh. Reiji menaikkan kedua alisnya, memberikan tatapan seolah 'hm? Kenapa?' pada Izumi. Izumi menjawab pertanyaan Reiji dengan mencubit lengannya hingga Reiji mengaduh sakit. "Ittai, apa salahku Izunya?" Tanya Reiji sambil mengelus-elus bekas cubitan gadis itu.


*sakit


"Jangan seenaknya menanyakan hal bodoh seperti itu!" Izumi cemberut.


"Itu kan karena kau begitu senang melihatnya, ku pikir kau memiliki perasaan khusus pada adikku, tidak apa-apa loh Izunya. Aku akan merestui hubungan— Argh!" Belum sempat Reiji menyelesaikan ucapannya, Izumi sudah lebih dulu menginjak kaki Reiji dengan keras hingga membuatnya memekik.


"Katakan itu sekali lagi lalu aku akan mengubur mu hidup-hidup!" Ketus Izumi lalu kembali fokus menatap ke depan, lapangan itu sudah terisi oleh dua tim. Lagi, Izumi tersenyum lembut. Reiji sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Izumi yang begitu drastis. "Itu karena... Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, sekarang dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan dan hebat. Aku tidak menyangka punya teman seperti dirinya, aku juga tahu banyak orang-orang yang mengaguminya, ku pikir aku termasuk dalam golongan itu haha." Ucapan Izumi keluar dengan mulus, rasa tulusnya pun begitu terdengar jelas.


"Souka... Apa kau ingin mengobrol dengannya lagi?" Tanya Reiji


"Eh? Tanpa kau tanya pun sudah pasti akan ku lakukan. Jangan berbicara seolah-olah aku ini sedang bermusuhan dengannya!" Ketus Izumi membuat Reiji menangis yang dibuat-buat.


"Jahat sekali~ kenapa kau bersikap tidak baik denganku? Dasar Izunya pilih kasih." Rengek Reiji membuat Izumi semakin ingin menghantam wajah kebanggaan nya dengan balok kayu. Siku perempatan muncul di dahi Izumi.


"Diam, nii-san! Aku ingin menonton permainan Ryuuga!" Izumi segera membungkam mulut Reiji dengan tangannya.


Sementara itu, sebelum pertandingan dimulai, kedua tim diberi waktu untuk bersiap ataupun berdiskusi selama 2 menit. Arata menatap Ryuuga yang juga sedang menatapnya dengan datar.


"Aku tidak menyangka kau akan menggantikan Naoki." Arata membuka percakapan.


"Hn. Kemana dia? Seharusnya dia yang ada disini." Jawab Ryuuga datar


"Shiranai. Aku tidak bersamanya tadi."


*Tidak tahu

__ADS_1


"Hn"


Pertandingan dimulai, tim sekolah Ryuuga bermain dengan sangat baik meskipun persiapan mereka sangat sedikit. Izumi dan Reiji dari bangku penonton ikut bersorak menyemangati tim nya. Sementara Sienna masih menemani Naoki untuk mengembalikan suasana hatinya yang sedang gundah, Sienna membantunya dengan bukan tanpa alasan, Naoki sangat mirip dengan Sora, adik bungsunya dan satu-satunya lelaki di keluarga kecilnya. Waktu pun berlalu hingga sore hari, pertandingan akan di lanjutkan esok hari untuk menentukan siapa tim yang menang.


"Nii-san, ayo kita temui Ryuuga!!" Izumi menarik cenderung menyeret tangan Reiji untuk mengikuti Ryuuga yang sedang berjalan bersama timnya untuk pergi ke ruang ganti.


"Maa, maa, sabar dulu Izunya.. Ryuuga kan juga belum mengganti bajunya, apa kau ingin ikut juga?" Reiji mendengus pelan saat Izumi tetap saja menyeret tangannya. "Bagaimana kalau kita tunggu saja di dekat mobil?" Saran Reiji namun Izumi malah cemberut kesal. "Maa na, sepertinya aku tidak ahli membujuk mu, Izunya.." Reiji menghela napas panjang.


"Ayolah, nii-san!! Aku sudah lama sekali tidak melihat Ryuuga, aku sangat ingin menemui nya. Ku mohon~"


"Baik, baik, aku memang tidak akan bisa menolak mu, Izunya."


"Yatta!!"


*Hore, asyik


"Huh.. Keiko-san? Kau silahkan kembali ke mobil lebih dulu."


"Wakarimashita, Reiji-sama." Keiko pergi dari sana dan meninggalkan kedua orang tersebut.


      Sementara itu, diruang ganti mereka sangat lega karena tahun ini mereka kembali dapat melaju ke babak final. Mereka asyik berbincang-bincang tentang latihan hingga masuk ke dalam final, lain halnya dengan Arata dan Ryuuga yang sama-sama diam meskipun berjalan berdampingan. Arata masih bertanya-tanya dimana gerangan teman berisik nya itu berada sementara Ryuuga tak memikirkan apapun yang akan memusingkan kepala nya. "Ketua, aku akan pulang duluan." Ucap Arata yang tak ingin mengganti pakaiannya dan langsung menggendong tas ranselnya.


"Oh? Kenapa cepat sekali? Naoki kan belum kembali?" Tanya Ketua tim dengan raut wajah heran.


"Hah? Bukankah dia sudah pulang lebih dulu?" Tanya Arata balik, ia sendiri tidak mengerti maksud ucapan ketua.


"Lalu bagaimana dengan itu?" Ketua tim menunjuk ke salah satu loker yang masih terbuka seakan-akan mempersilahkan semua orang untuk melihat isi nya, tas Naoki pun masih ada di dalam sana, Arata sweatdrop, ia sepertinya terlalu fokus pada manusia nya bahkan sampai tak menyadari barang peninggalan si manusia itu.


"Astaga..." Arata mendengus kesal lalu menepuk jidatnya, ia berbalik berjalan mendekati loker Naoki. Ia hendak mengambilkan seragam Naoki lalu memasukannya ke dalam tas milik lelaki itu namun tak sengaja ia menjatuhkan sebuah kalung berliontin biru ke lantai. Kalung itu jatuh ke bawah antara kaki Arata dan kaki Ryuuga yang masih duduk di dekatnya. Mereka berdua sama-sama menatap kalung itu. "Eh? Apa ini?" Tanya Arata pada dirinya sendiri. Meskipun hanya sebentar, Ryuuga tetap membelalakkan matanya saat melihat kalung itu. Arata memungut kalung itu dan memperhatikan kalung itu baik-baik. "Kirei na.." gumamnya pelan.


"Hn. Tidak baik memegang barang orang lain tanpa izin. Cepat kembalikan atau orang lain akan salah paham." Ujar Ryuuga sambil memakai seragam atasnya. Arata yang masih memegang kalung milik Naoki pun menatap Ryuuga, sesaat sebelumnya Arata ingin mengatakan jika ia sedikit tersinggung namun ia urungkan niatnya setelah melihat cahaya mata Ryuuga yang meredup, biasanya Cassanova sekolah itu selalu terlihat dingin dan cuek tapi kali ini lain, seakan-akan itu menunjukkan bahwa saat ini ia sedang sedih. Arata tak berani menegur atau ia akan berakhir dengan dimaki habis-habisan oleh Ryuuga. "Hn, ada apa?" Tanya Ryuuga tiba-tiba dan membuat Arata terlonjak kaget. Ryuuga memang sedari tadi menyadari jika dirinya sedang diperhatikan.


"A-ah iie." Arata berpikir sejenak, ada dengannya? Apa itu ada hubungannya dengan kalung yang baru saja ia pegang? Arata menepis pikiran nya sendiri lalu ia melenggang pergi.


Setelah Ryuuga selesai mengganti pakaiannya, ia segera menggendong tasnya di lengan kanannya lalu menemui ketua tim. "Hn. Ketua, aku pulang duluan."


"Oh, Ryuuga. Terimakasih kerjasamanya."


"Hn"


Ryuuga membuka pintu ruangan dan tiba-tiba saja ia sudah mendapat pelukan erat, Ryuuga sampai sedikit mundur ke belakang karena pelukan yang mendarat pada tubuhnya dengan sangat cepat. Ia menunduk dan membelalakkan matanya kala mengetahui siapa gerangan orang yang memeluknya. "I...Zu..mi..?" Gumamnya dengan sangat lirih, Ryuuga mengalihkan pandangannya pada Reiji yang berdiri di belakang Izumi, kakaknya itu tersenyum seperti biasanya.


"Omedetou, Ryuuga!!" Seru Izumi, ia memukul lengan Ryuuga sambil memberikan cengiran lebarnya. Ryuuga hanya diam. "Sombong sekali. Kenapa kau diam saja?! Apa kau sudah tidak mengenaliku?!" Gerutu gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal, ia berkacak pinggang.


"....."


"Astaga, kau masih tidak mau berbicara?! Huh, padahal aku sudah repot-repot memaksa nii-san untuk cepat mendatangimu."


"Hn" Ryuuga hanya mengeluarkan kata ambigu seperti biasanya. Ia seolah tak ingin terlalu lama melihat gadis itu, mungkin karena dirinya lelah, pikirnya. "Nii-san, ayo pulang. Aku ingin—"


"Eits, tidak boleh. Kau punya hutang padaku. Nii-san, kau pulang saja lebih dulu. Ryuuga akan pulang denganku." Ujar Izumi dengan senyum merekah, ia tak mempedulikan tatapan terkejut dari kedua saudara kandung itu.


"Apa? Kau mau marah padaku, eh?!" Izumi langsung merangkul leher Ryuuga dan membekuknya dengan cukup kuat hingga pemuda itu kesulitan bernapas sekaligus agak tidak nyaman karena dia harus menunduk paksa.


"Lepaskan aku!" Titah Ryuuga tapi Izumi malah mengacak-acak rambut Ryuuga seperti memperlakukan seorang anak kecil. Reiji yang melihat pemandangan tidak asing itu pun tertawa kecil.


"Rasanya seperti sedang bernostalgia saja.." ujar Reiji yang menyita perhatian dari Izumi dan juga Ryuuga. Mereka sama-sama menatap Reiji dengan mulut terbuka dan satu alis yang terangkat. "Oh iya iya, aku akan pulang." Ucapnya sambil menggoda keduanya.


"Baik, sana pergi." Usir Izumi sambil melambaikan tangannya padahal sosoknya masih ada di hadapannya dan belum bergerak satu centi pun.


"Ya ampun, sepertinya kau sangat ingin berduaan dengan adikku.." Cibir Reiji tanpa sungkan Izumi langsung mengangguk semangat menyetujui cibiran yang keluar dari mulut Reiji. "Aku akan pergi mencari Sienna-san dulu."


"Hah? Kemana dia?" Tanya Izumi


"Aku tidak tahu. Tadi dia hanya izin pergi ke toilet tapi sampai sekarang dia belum kembali, aku juga sudah meminta Keiko-san untuk mencarinya tapi dia juga tidak menemukannya. Apa dia tersesat?"


"Jaa, kalau begitu kita harus cepat mencarinya, nii-san."


"Jangan. Biar aku saja yang mencarinya, kalian berdua pergi saja."


"Hn. Aku tidak bilang akan setuju pergi dengannya." Ketus Ryuuga tapi ia menatap kakaknya.


"Apa kau bilang?!" Izumi sudah memelototi Ryuuga yang merasa tidak berdosa. "Nii-san, kami pergi dulu." Izumi langsung menyeret Ryuuga secara paksa.


"O-oi! Lepaskan aku, dasar gadis preman!" Ujar Ryuuga


"Aku tidak peduli mau seperti apapun kau mengataiku. Lagipula apa kau tidak merindukanku? Kita sudah sangat lama tidak bertemu dan ini kali pertama aku melihatmu lagi setelah sekian lama." Ungkap Izumi yang terdengar sangat tulus dan mampu meluluhkan hati Ryuuga.


"Hn. Lepaskan tanganku. Aku bisa berjalan sendiri." Izumi menghentikan langkahnya dan menatap Ryuuga tak percaya. "Apa?" Tanya Ryuuga bingung.


"Ah tidak. Kau harus menemani aku jalan-jalan, ya. Pertama, kita harus isi perut terlebih dulu. Ayo kita pergi ke Cafe~!!" Izumi mengangkat kepalan tangannya ke langit, ia terlihat begitu bersemangat seperti seorang anak kecil. Jika saja masa lalu mereka berdua tidak seburuk kenyataan saat ini, mungkin Ryuuga takkan bersikap seperti dirinya yang sekarang, yang dingin dan tak berperasaan. "Ne, Ryuuga. Aku sungguh tidak menyangka kau akan menjadi pemuda yang sangat tampan seperti ini haha." Izumi menepuk-nepuk lengan Ryuuga sambil tertawa renyah, entah apa yang gadis itu pikirkan, Ryuuga sedikit terkejut semburat merah sudah muncul di wajahnya. "Ada satu tempat yang ingin aku datangi bersama—"


"Ryuuga-kun!"


Suara itu lagi, Ryuuga sudah menduga siapa pemilik suara nyaring itu. Erika. Gadis berisik itu sudah berdiri menghadang di depan mereka, Izumi menaikkan sebelah alisnya. Erika menghampiri mereka sambil berkacak pinggang, dia memelototi Izumi.


"Dare da Omae wa?" Tanya Izumi sambil menunjuk Erika, tatapan Izumi yang keheranan seperti tatapan merendahkan bagi Erika.


*Siapa kau?


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Siapa kau ini?! Berani sekali kau menempel pada Ryuuga-kun seperti itu!" Erika mengatakannya dengan ketus. "Ryuuga-kun, jangan bilang kalau dia ini juga pacarmu?! Bukankah tadi kau sudah membawa satu perempuan pirang?!" Erika terlihat begitu bersikeras ingin mendapat jawaban dari Ryuuga meskipun ia tahu Ryuuga tak berniat membuka mulutnya sama sekali.


"Gadis pirang? Maksudnya Sienna? Apa?!" Izumi membelalakkan matanya sambil menatap Ryuuga tak percaya. "Uso!" Izumi pun jadi ikut menatap Ryuuga dengan rasa penasaran yang besar.


"Hn. Aku tidak punya banyak waktu." Ryuuga melewati kedua gadis itu tak peduli. Izumi langsung mengejar langkah Ryuuga dan diikuti oleh Erika.


"Tapi— Ryuuga-kun, kau tidak bisa melakukan ini padaku! Bagaimana dengan hubungan—"


"Hubungan apa?! Aku sudah tidak memiliki hubungan denganmu sejak 6 bulan yang lalu." Sepertinya kali ini Ryuuga tak dapat menahan emosi nya pada gadis yang sudah tertegun mendengar jawaban yang keluar dari mulut dinginnya. Ya, meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dari jawabannya, semua yang dia katakan memang benar.

__ADS_1


"Eh.. Ryuu—"


"Tunggu aku diluar, Izu."


"Apa.. kau baik-baik saja..?" Tanya Izumi khawatir


"Hn. Cepatlah." Ryuuga sudah melayangkan tatapan tajamnya pada saat menatap Izumi dan membuat Izumi sedikit takut. Gadis itu mengangguk lalu berlari kecil menuju gerbang sekolah.


"Ryuuga-kun... Apa yang...?"


"Hn. Kau masih belum sadar? Sudah berapa lama aku memutuskanmu, eh?"


"Tapi, aku masih sangat mencintaimu. Kenapa kau lakukan ini padaku?! Kenapa kau bersikap seperti padaku?! Apa salahku?!"


"Hn. Dengarkan aku baik-baik." Ryuuga mempersempit jarak di antara mereka. "Perasaanmu padaku itu bukanlah kesalahan. Sikapmu lah yang menjadi masalahnya."


"Kenapa?! Aku selalu berusaha melindungi—"


"Kau boleh mencintai seseorang!"


"Eh?!" Erika kembali terdiam, ia terkejut saat suara Ryuuga lebih tinggi dibanding dirinya.


"Kau boleh mencintai seseorang tapi kau tidak boleh memaksakan perasaanmu itu pada orang lain! Jika kau memang benar-benar mencintaiku, seharusnya kau tahu bagaimana cara menghargai perasaan ku." Kali ini Ryuuga mengungkapkan sesuatu yang jujur dari hatinya. "Kau terus mengejar ku, menempel padaku, dan mengikuti kemana pun aku pergi. Apa kau pikir aku bahagia? Tidak, aku merasa tertekan. Kau senang melakukan apa saja hanya demi bersamaku, tapi aku? Apa kau pernah tanyakan sekali saja padaku 'apa aku senang'? Kurasa tidak. Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri dan bahagia sendiri."


"Eh..? Ryuu...." Erika tak mampu lagi berkata-kata. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Aku akan jujur padamu. Aku merasa risih saat kau dengan terang-terangan mengatakan bahwa kau mencintaiku dan itu terus kau ulang-ulang. Sadarlah. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Mari jalani kehidupan kita masing-masing dengan tenang." Ryuuga menghela napas lalu berbalik hendak pergi namun Erika menahan tangannya.


"Tunggu dulu, Ryuuga-kun! Tapi..."


"Aku tidak menyukaimu, dasar pengganggu."


Tangan Erika dengan otomatis turun dari lengan Ryuuga. Airmata yang sejak tadi ia tahan sekarang mulai menganak sungai di pipinya, sakit? Sudah pasti. Tapi kejujuran Ryuuga seperti sebuah operasi. Sakit sekali tapi setelahnya akan sembuh dengan cepat. Sama seperti obat, pahit. Ryuuga tak sedikitpun menepis pegangan Erika padanya seperti biasanya justru ia tetap diam di tempatnya berdiri.


"Hiks.. hiks.. Doushite?" Erika sesenggukan dengan tangisnya yang belum juga reda. "Doushite.. hiks Ryuuga-kun? Doushite?!" Seakan tenaganya menghilang, Erika terjatuh di bawah Ryuuga, tangannya masih belum lepas dari tangan Ryuuga. "Mengapa kau tak bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu? Mengapa? Apa yang kurang dariku? Aku sudah berkorban untukmu... Hiks.. jawab aku.. Ryuuga-kun!" Erika mendongak menatap Ryuuga yang menatapnya dengan datar.


"Hn. Kau berlebihan."


"Hiks.. tolong beritahu aku.. aku janji akan menjadi orang yang lebih baik lagi untukmu, ku mohon.."


"Hn. Lepaskan." Ryuuga menepis tangan Erika lalu berbalik lagi membelakangi Erika. "Aku hanya mencintai..." Tangannya mengepal dengan sangat kuat.


"....Izumi..."






"Nee-san, terimakasih kau sudah menghiburku hehe." Naoki dan Sienna masih duduk di taman sekolah, saling berbagi canda tawa untuk menghibur hati mereka yang sedang kacau balau.


"Haha, terimakasih juga sudah mentraktir ku ice cream ini, Naoki-san." Sienna tersenyum lebar padanya.


"Yare-yare Naoki-kun, Sienna-san.. ternyata kalian ada disini ya?"


"R-Reiji-sama?!"


"Nii-chan? Apa yang kau lakukan disini?" Naoki menatap Reiji dengan tampang bodoh.


"Tentu saja ingin melihat permainan mu dan Ryuuga. Tapi kenapa kau tidak ada?" Tanya Reiji yang ikut bergabung bersama mereka, duduk di samping Naoki.


"..... Aku sangat lelah, nii-chan. Lagipula aku dengar kalau tim kita punya pemain lain, jadi aku tenang-tenang saja meninggalkan pertandingan nya." Balas Naoki sekenanya, untungnya dia sudah mengembalikan suasana hatinya sehingga kebohongan nya dapat terlihat natural. "Oh iya, siapa yang memintamu bergabung dengan kami?" Tanya Naoki dengan wajah datar.


"Eh?" Reiji balas menatap Naoki dengan tampang polos dan terkejut. Dia menggaruk belakang kepalanya lalu mengusap dagu tajamnya, "Hm, sebenarnya aku mencari Sienna-san.." Reiji memasang senyum simpul seperti biasa.


"G-g-gomennasai, gomennasai Reiji-sama. Seharusnya saya pergi kemari setelah saya meminta izin pada anda.." Sienna berdiri dari kursi kayu itu lalu membungkuk dalam di depan Reiji.


"O-oh Sienna-san, responmu.. tidak apa-apa, aku juga tidak memarahimu kok.."


"T-tapi..."


"Sudahlah, Nee-san. Jika nii-chan berani menyalahkan mu, maka aku yang akan menjadi orang pertama melindungi mu."


"Wah, wah.. lihat siapa yang sedang ingin menjadi seorang pahlawan~" ledek Reiji


"Kau ingin ku pukul?!" Naoki menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Reiji namun lelaki itu hanya tertawa kecil.


"Haha Suman, Suman, Naoki-kun.."






"Apa kau yakin urusanmu sudah selesai dengannya, Ryuu?" Tanya Izumi dengan ragu, tentu saja ada alasan mengapa dia bertanya. Sejak Ryuuga datang padanya, ekspresi maupun jiwanya seperti tak ada bersama raganya.


"Hn,"


"Hontou? Dari tadi kau tidak menyentuh makananmu sama sekali, apa kau baik-baik saja?" Wajah cemas Izumi membuat hati Ryuuga terasa begitu hangat, ia tersenyum tipis bahkan terlampau tipis sampai tak terlihat dengan kasat mata. "Hei, aku sedang berbicara padamu. Jangan membuatku terlihat seperti orang gila yang berbicara pada sebongkah batu." Omel Izumi sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Gomen. Itadakimasu."


*Maaf. Selamat makan.

__ADS_1


"Astaga, dia bahkan tidak menjawabku sama sekali. Sebenarnya dia ini kenapa sih? Benar-benar menyebalkan." Izumi terus menggerutu sambil memakan kue nya sendiri, terlihat lucu Dimata Ryuuga tapi bukan Ryuuga namanya jika tak hebat menyembunyikan ekspresi wajahnya.


__ADS_2