Nona Maid

Nona Maid
Kejadian Tak Terlupakan


__ADS_3

"Apa, Sienna-chan?" Aika menatap Serena penuh tanya.


"Yui-chan tidak bisa memakai kimono, bukankah dia seperti laki-laki?" tebak Sienna yang berhasil membuat Aika sweatdrop ditempat sedangkan Yui membeliak kaget mendengar jawaban Sienna yang sebenarnya tidak ia pikirkan sebelumnya.


"Souka na.. benarkah, Yui-chan??" Aika menatapnya penuh arti membuat Yui diam seribu bahasa dan alhasil hanya memberikan cengiran lebarnya pada Aika yang sedari tadi menunggu jawabannya. Sienna terkekeh geli melihat Yui sangat menghindari pakaian yang menurutnya terlalu feminim.


"Ahahaha kau ini orang Jepang, kan? Kimono tidak se-feminim itu untukmu. Lagipula itu hanya sehari saja, kau bisa memakai yang pendek jika kau takut tidak bisa bergerak bebas." Saran Sienna dengan senyum lembut diwajahnya, jiwa keibuan dan penuh kasih sayang Sienna benar-benar membuat orang-orang disekitarnya merasa nyaman.


"Wakatta yo, kau harus ikut aku memilih kimono yang pantas dipakai untukku." Yui menatap Sienna dengan tatapan tajam.


"IYA" Sienna memberikan penekanan pada ucapannya, berusaha meyakinkan Yui yang meragukan dirinya.


"Wah, kita bertiga akan pergi ke festival~" Aika tersenyum ceria.


"Aku sangat ingin makan takoyaki~" Sienna membayangkan hangatnya takoyaki yang baru dibuat, membuatnya menahan liur yang mulai terasa mengalir disudut bibirnya.


"Kalian jangan menggodaku dengan makanan, mengerti?!" ancam Yui.

__ADS_1


Malam hari yang begitu dingin hingga terasa menusuk kulit, Sienna berulang kali merutuki kebodohannya.


"Sial, kenapa aku tidak membawa jaket ku~ Ya Tuhan, kenapa cuaca malam ini sangat dingin~" gumam Sienna sembari menggosok-gosok kedua telapak tangannya, mencoba menciptakan kehangatan dan sesekali memeluk tubuhnya sendiri. Perjalanannya terasa sangat jauh untuk malam ini.


 


Sienna melewati gang sepi yang gelap, kadang ia merasa takut tapi ia mencoba membiasakan diri, meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik\-baik saja dan Tuhan akan selalu melindunginya. Di dekat apartemennya memang ada sebuah motel yang tidak pernah sepi, Sienna terkadang berpikir 'haruskah wanita mencari uang dengan cara hina seperti itu? Atau memang mereka hanya ingin mencari kesenangan?'. Di sebuah gang sempit yang sangat gelap, Sienna mendengar suara aneh yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, terbesit rasa takut dan penasaran tapi kakinya melangkah dengan sendirinya mendekati sumber suara di dalam sana.


 


Sienna berjalan sangat pelan, mencegah suara langkah kakinya terdengar, mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Ia menghela napas pelan lalu mencoba membuka matanya lebar-lebar, melihat sesuatu ditempat yang bahkan tidak ada cahaya sedikitpun itu sangat sulit karena dia bukanlah kucing. Ia memegangi jantungnya yang berpacu dengan cepat, Sienna memang merasa kalau tindakannya itu salah tapi rasa penasarannya lebih besar dan membuatnya harus bertobat setelah ini.


Ia tak menyadari sebuah tangan kekar mulai menutup mulutnya lalu menariknya semakin masuk kedalam gang kecil itu, menghimpitnya di sudut dinding dan masih membekap mulut Sienna agar tidak berteriak. Sienna membelalakkan matanya, takut dan gelisah, kakinya terasa gemetar. Ia tak bisa melihat apapun dengan jelas berhubung hanya ada cahaya bulan yang menyinari mereka. Lelaki didepannya itu memakai topi hitam dan sengaja diturunkan agar menutupi sebagian wajahnya, membuat Sienna tak bisa melihat wajahnya kecuali bibir dan rahang wajahnya yang err.. sangat tajam namun sangat samar.


"Aahh~ jadi penguntit ku adalah seorang gadis cantik ya.. kau melihat aktivitas ku?" Tanya lelaki itu setengah berbisik dan membuat Sienna semakin gemetar ketakutan, ia menggeleng dan berusaha melepas tangan kekar yang menutupi mulutnya itu. Tenaganya memang kalah kuat dengan lelaki didepannya itu tapi ia tetap berusaha melarikan diri dari jeratan lelaki di hadapannya.


"Kurasa aku ingin bermain-main denganmu dulu~" bisik lelaki itu tepat didepan telinga Sienna dan membuatnya bergidik ketakutan. Lelaki itu memegang kedua pergelangan tangan Sienna dan menahannya di atas kepala Sienna, sebelah tangannya mulai memegang dagu Sienna dan memaksanya untuk menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku, ku mohon~" Sienna mulai berkaca-kaca, wajahnya memerah sempurna hingga ke telinganya, matanya yang besar mulai berair, pemandangan yang indah menurut lelaki itu 'imut sekali' batin lelaki itu.


"Bagaimana aku bisa melepaskan mangsa yang sudah susah payah ku tangkap~?" lelaki itu menjilat bibirnya sendiri dan mulai mempersempit jarak diantara mereka, Sienna mulai menangis dalam diam dan menutup matanya erat-erat.


"A-aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, maafkan aku~" Sienna terisak ketika ia merasakan hembusan napas lelaki itu di kulit wajahnya, aroma maskulin menguar dari tubuh lelaki misterius itu.


"Heh, benarkah? Aku tidak mempercayai siapapun." Lelaki itu mulai menyeringai, membuat Sienna semakin kesulitan menelan ludah dan semakin ketakutan.


"Lagipula aku tidak mengenalmu, aku tidak akan mengatakan apapun. Ku mohon lepaskan aku!" Sienna memohon dengan sangat tapi tak ada jawaban darinya, 'menarik sekali' lelaki itu tersenyum tipis melihat wajah gelisah milik gadis didepannya itu.


"Siapa namamu?" tanya lelaki itu dengan tiba-tiba membuat Sienna membuka matanya yang sudah basah, ia merasa bahwa Tuhan berpihak pada dirinya.


"Sienna.." jawab Sienna dengan takut-takut, harap harap cemas bahwa lelaki didepannya ini masih mempunyai hati nurani dan mau melepaskan dirinya, yah walaupun semua ini memang kesalahan Sienna sendiri.


"Baiklah, aku akan melepaskan mu. Hanya kali ini saja, jika aku menemukanmu lagi maka kau akan ku lahap, mengerti?" ucap lelaki itu mengancam, Sienna dengan cepat mengangguk dan berterimakasih untuk kebaikan hatinya, 'terima kasih, Kami-sama. Kau menyelamatkanku' batinnya, bersyukur Tuhan membantunya lepas dari bahaya yang mengancam harga dirinya.


Lelaki itu kemudian melepas genggaman tangannya dan membiarkan Sienna pergi, ia menatap datar bahu kecil si gadis yang berangsur-angsur menghilang dari pandangannya lalu berbalik dan mengangkat topi yang dipakainya lalu pergi. Sienna berlari kencang menuju apartemennya tanpa menoleh ke belakang, setelah sampai di apartemen, ia langsung mengunci pintunya dan berlari menuju ranjangnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang berukuran king size miliknya dan menendang udara dengan kakinya. Mencoba mengatur napas dan detak jantungnya yang seakan siap copot dari posisinya.

__ADS_1


"Aku memang bodoh!!" Serena berteriak di bantalnya agar tak terdengar oleh siapapun, wajahnya masih memerah akibat lelaki misterius yang baru saja ia temui. "Aku menangis dengan konyol dihadapannya, benarkah? Ah ini sangat gila~!!" Sienna memukul bantalnya berulang kali guna menghilangkan rasa kesal dihatinya. "Untuk apa aku mengintipnya? Sudah sangat jelas bahwa itu bukan urusanku dan aku tetap melakukan tindakan bodoh seperti itu? Untung saja aku punya Kami-sama yang selalu membantuku, terima kasih~" Sienna menangis untuk ke sekian kalinya mengingat kebodohannya yang tiada tara dan berakhir dengan tidak bisa tidur semalaman hingga pagi hari berikutnya, menciptakan kantung mata yang sedikit terlihat dimata besarnya.


"Kyaaa~!!! Sienna-chan kau kenapa??" Tanya Aika kaget melihat teman boneka porselen nya yang terlihat sangat kacau ditambah lagi dengan kantung matanya yang terlihat merusak wajah cantiknya.


__ADS_2