
Hari ini Naoki berusaha bersikap biasa saja dan tidak mengganggu Ryuuga seperti biasanya karena hari ini juga dia akan menjalankan misi rahasia untuk dirinya sendiri— ralat lebih tepatnya bersama Arata. Naoki memperhatikan Ryuuga dalam beberapa jam setelah perubahan sikapnya, ia sepertinya juga tidak peduli dengan apapun. Tidak Heran.
"Oi, Ryuu."
"Hn?" Ryuuga masih asyik dengan novel di hadapannya itu.
"Aku dan Arata ada latihan lagi untuk pertandingan besok."
"Hn"
"Aku pergi dulu. Jaa ne~" Naoki masih tetap berdiri seakan mengharapkan bahwa Ryuuga akan memperhatikan nya dan menutup novel ditangannya itu.
"Hn" alis Naoki berkedut kesal, ia tidak tahu kalau sikap Ryuuga malah semakin dingin padanya. Ryuuga bahkan tak merasa curiga sama sekali. Seharusnya Naoki senang tapi saat ini ia malah kesal entah karena apa.
Naoki dan Arata sudah berada di luar kelas hendak menuju ke gedung olahraga karena mereka harus berlatih dengan sungguh-sungguh, mereka akan bertanding dua hari lagi atas nama sekolah. Arata melirik Naoki dengan tatapan heran, lelaki di sampingnya itu berjalan sambil bersungut-sungut marah seperti seorang anak kecil.
"Oi, apa yang terjadi?"
"Hah? Apanya?!" tanya Naoki dengan galak yang membuat Arata terkejut sekaligus takut. Ia sedikit memundurkan wajahnya saat Naoki memelototi nya.
"K-kau sepertinya sedang kesal. Apa Ryu—" belum sempat Arata menyelesaikan perkataannya, Naoki buru-buru menyela nya dengan kekuatan penuh.
"Apa?! Apa aku kelihatan kesal?! Aku biasa-biasa saja. Kau saja yang ingin mengatakan itu. Dasar menyebalkan." kata Naoki dengan sangat galak hingga membuat Arata kebingungan dan merasa tegang berada di sebelah Naoki 'Galak sekali.. Dia seperti induk ayam' batin Arata sambil menelan ludah. Sejujurnya Arata sudah tahu apa yang membuatnya kesal setengah mati tapi akhirnya ia memutuskan untuk diam dan tidak menanyakan apa-apa lagi namun di sepanjang perjalanan mereka di iringi dengan gerutuan tidak jelas yang keluar dari mulut Naoki.
"Bukankah itu lebih baik kalau Ryuuga tidak menyadari rencana mu? Kenapa kau malah terlihat kesal? Aneh sekali." ujar Arata yang sudah tidak tahan mendengar Naoki terus menggerutu di sepanjang jalan.
"Kau saja yang tidak mengerti! Dia bukannya tidak menyadari tapi lebih pada tidak peduli sama sekali! Aku merasa sia-sia saja melakukan misi secara rahasia! Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku?! Aku jadi merasa seperti orang bodoh! Aaa mou!!" ucap Naoki sambil mengacak-acak rambutnya frustasi, terlihat berlebihan tapi Arata paham dengan maksud Naoki. 'Ah kau memang bodoh, dasar bodoh' batin Arata sambil menatap Naoki dengan wajah sebal.
"Aku sudah tidak ingin melihatmu. Aku ingin pulang saja." ucap Arata sambil menghela napas bosan.
"Cih kau ini memang sama sekali tidak pengertian!" ujar Naoki sambil bersungut-sungut marah
"Maa ne.."
"Pokoknya setelah selesai dengan latihan kita, kau harus antarkan aku ke kelas kouhai itu!"
"Hai' hai' wakatta yo... Hoaammm" jawab Arata sambil menguap lebar, ia sebenarnya tidak tertarik sama sekali tapi Naoki terus saja meneror nya dengan berbagai cara yang mengganggu kesejahteraan hidupnya. Terasa seperti neraka jika membiarkan Naoki terus mengganggu hari-harinya yang sangat berharga. 'Aku ingin kedamaian hidupku kembali.. Hah, aku ingin tidur dengan nyaman' pikiran Arata entah sudah kemana, rasa-rasanya kebahagiannya telah direnggut semenjak Naoki terus menempel padanya akibat persiapan pertandingan basket sekaligus mengurus urusan antara Naoki dan Ryuuga. Rumit? sudah pasti, menyebalkan? jangan ditanya, Arata merasa masa mudanya telah habis sia-sia.
Tak lama kemudian, Mereka sudah sampai di gedung olahraga, Naoki dan Arata langsung mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga. Latihan di lanjutkan sampai tengah hari.
"Yosha kali ini aku harus latihan dengan serius agar lebih cepat selesai dan lanjutkan misi!!" seru Naoki di ruangan ganti hingga menarik begitu banyak perhatian member lain.
•
•
•
•
Sienna kebingungan menata ulang susunan barang-barang di dapur yang sidah berantakan. Peluh di dahinya mulai menetes sampai turun ke dagunya lalu menyusuri leher putihnya. Sienna bukan tanpa alasan melakukan ini sebab Nanami akan pulang sore ini dan itu artinya dapur harus dalam keadaan yang layak untuk dilihat kembali. Ia tak sabar ingin menyambut kedatangan Nanami.
"Hm.. Ini harus ku letakkan dimana ya.." gumam Sienna sambil mengangkat vas bunga yang terletak di tengah meja makan panjang. Ia tak sadar jika Reiji sedang berdiri di belakangnya sambil mengamati pekerjaan yang sedang dilakukan olehnya seorang diri. Reiji mengulas senyum di bibir tipisnya lalu berjalan beberapa langkah agar lebih dekat dengan Sienna yang masih sibuk dengan vas bunganya. "Tadaima, Sienna-san.." ucap Reiji yang berdiri tidak jauh dari Sienna hingga membuat gadis blasteran itu terlonjak kaget, untung saja vas bunga itu tidak lepas dari genggamannya.
"Astaga, O-okaerinasai Reiji-sama." Sienna segera berbalik dan menatap Reiji sementara yang ditatap malah tertawa kecil melihat ekspresi kaget Sienna.
"Haha maafkan aku, aku mengagetkan mu ya.. Aku tidak sengaja."
"Ah iie, Reiji-sama. Saya yang terlalu fokus dengan vas ini hingga tidak mendengar jika anda sudah pulang." balas Sienna dengan senyum lebarnya
"Oh? Kau sedang apa?"
"Ano.. Saya sedang merapikan barang-barang yang ada di dapur, Reiji-sama. Saya pikir jika saya membersihkannya mungkin Nanami-san akan menyukainya." jawab Sienna masih dengan senyum nya yang tulus. Melihat Sienna tersenyum membuat Reiji ikut tersenyum.
"Kau baik sekali ya.. Oh iya, Nanami ba-san akan pulang sore ini ya.. Jadi, apa aku boleh membantumu?" tawar Reiji yang langsung dibalas dengan gelengan kepala.
"Ti-tidak bisa, Reiji-sama. Saya bisa melakukannya sendiri, anda silahkan istirahat saja." Sienna sedikit membungkukkan tubuhnya lalu ia kembali tersentak "Gomennasai, Reiji-sama. Saya terlalu asyik dengan bersih-bersih dapur. Apakah anda ingin makan? Saya akan buatkan ses—"
"Tidak perlu, aku masih kenyang. Lagipula aku pulang terlalu cepat, sarapanku masih terasa diperut."
"Eh? Hahaha..."
"Hei, kenapa kau malah tertawa?"
"Ahaha tidak Reiji-sama. Jadi, apa anda tidak ingin istirahat? Disini sangat berdebu, an—"
"Aku ingin disini saja. Oh iya, kau belum menerima gaji mu kan?" tanya Reiji sambil tersenyum
"Eh? Be-benar, Reiji-sama..."
"Tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan. Kau lanjutkan saja bersih-bersih nya."
"Hai' Arigatou gozaimasu, Reiji-sama." Sienna membungkuk hormat pada Reiji. Setelah itu Reiji pergi dari dapur, meninggalkan Sienna sendirian yang masih berdiri dengan vas bunga di tangannya. Sienna tersenyum senang, hatinya juga senang. "Yokatta.. Arigatou Kami-sama. Kaa-san akhirnya aku bisa membayar pengobatan mu.." Sienna memegang dadanya, ia sangat bersyukur bisa bertahan pada pekerjaan barunya. Sienna menaruh bunga hias itu di atas meja lalu membawa vas nya ke wastafel untuk di cuci. "Hm, sudah bersih!!" ujar Sienna dengan ceria.
"Wah wah, kau terlihat senang sekali." kata Reiji yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi sambil menopang dagu.
"E-eh? G-gomennasai.." Sienna menunduk malu, ia tak menyadari jika tuannya sedang memperhatikan nya sedari tadi. "A-ano Reiji-sama.."
"Hm? Ada apa?"
"Bolehkah saya isi vas ini dengan bunga yang ada di taman?"
"Hm? Silahkan saja, itu Bagus jika bunganya benar-benar memiliki bau harum."
"Wakatta desu.."
•
•
•
•
"Haahhh panas sekali!" keluh Naoki sambil mengibas-ngibaskan kaus olahraga nya yang sudah basah oleh keringat.
__ADS_1
"Sudahlah. Kau ikut tidak?"
"Kemana? Aku lelah sekali."
"Aku ingin mandi. Setelah itu cepatlah temui pacar Ryuuga."
"Oh iya! Aku hampir lupa. Ayoooo kita pergi~!!" Naoki langsung berlari sambil merangkul leher Arata dan membuatnya kesulitan berjalan.
"Jauhkan tanganmu dariku! Kau penuh keringat, dasar menjijikkan!" omel Arata sambil menghempaskan tangan Naoki dengan cukup kasar.
"Duh jangan jual mahal seperti itu Arata~" ujar Naoki yang mendekatkan wajahnya pada Arata dengan ekspresi wajah mengejek
"Kieroo!"
*enyahlah
"Arata-kun~" panggil Naoki dengan nada menggoda ala perempuan
"Hen na yatsu." Arata pun memelototi Naoki
*dasar orang aneh
Arata mendengus kesal dan pasrah saat Naoki terus saja mengusiknya. Arata mempercepat langkahnya agar penderitaan nya karena gangguan Naoki segera berakhir. Ia ingin cepat sampai pada Aiko, gadis yang dicari Naoki untuk mencari tahu segala hal tentang sahabatnya, Ryuuga. 'Untuk apa aku harus terlibat diantara hubungan mereka berdua? Astaga aku pasti sudah dikutuk..' keluh Arata dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Meskipun Arata mengatakan itu hanya untuk saat-saat tertentu terutama saat ia merasa tertekan dengan keberadaan makhluk berisik yang saat ini berjalan di sampingnya.
Setelah mereka selesai mandi dan kembali mengganti seragamnya, mereka pun berjalan menuju loker untuk menaruh kaus olahraga mereka. Mereka pun berjalan menuju
"Ne, Arata."
"Hm, ada apa?" tanya Arata dengan nada malas
"Menurutmu si Aiko itu orangnya seperti apa? Apa dia cantik? Ah pasti cantik. Mana mungkin Ryuu memilih gadis yang biasa-biasa saja."
"Iie' justru menurutku dia biasa saja. Tidak jelek dan juga tidak cantik. Mungkin gadis itu bisa mengubah Ryuuga."
"Souka?! Hm, sepertinya harus ada yang aku tanyakan pada gadis itu. Apa aku harus melakukan aksi mata-mata ya?" tanya Naoki pada dirinya sendiri sambil mengusap dagunya
"Kau sudah gila ya? Jangan bersikap berlebihan seperti itu, dasar bodoh."
"Maa ne, aku harus benar-benar meneliti gadis seperti apa yang dekat dengan Ryuu. Tidak akan ku biarkan gadis tidak baik mendekatinya!"
"Terserah saja, aku benar-benar tidak peduli.."
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai tepat di depan kelas X-2, kelas gadis yang bernama Aiko. Kedatangan Naoki malah justru menarik banyak perhatian dari pada gadis junior mereka hingga pintu kelas pun menjadi ramai. Bahkan Arata benar-benar tidak bisa melihat jalan karena terlalu sempit. 'Sial, sepertinya waktunya salah' umpat Arata dalam hati. Untungnya, dia cukup tinggi untuk melihat seorang gadis yang sedang berjalan menuju kelasnya dengan membawa beberapa tumpuk buku, gadis berwajah kalem dengan mata sayu. Arata langsung menepuk bahu Naoki. "Itu dia." tunjuk Arata dan Naoki pun mengikuti arah jarinya yang menuju pada gadis yang sedang berusaha mencari jalan masuk ke dalam kelasnya.
"Pintu kelasnya.. Hilang.." gumam gadis itu sambil menoleh kesana-kemari namun tetap tak menemukan jalan masuk.
Naoki mendengus pelan lalu menebar senyum lebarnya pada para gadis junior yang sedang mengerumuni dirinya dan juga Arata.
"Permisi ya, Ojou-sama tachi~ aku sedang ada urusan. Kalian cepatlah masuk sebelum sensei datang."
*Ojou-sama tachi: nona-nona sekalian
"Hee?? Padahal kami masih ingin mengobrol bersama senpai.." ungkapan kecewa mulai terdengar dari para gadis itu
"Yaah maafkan aku, lain kali kita akan lanjutkan lagi. Silahkan masuk~" Naoki mempersilahkan para gadis itu masuk dan mereka pun menuruti keinginan sang idola dan secara tidak langsung, Naoki sudah membantu Aiko mencari jalan untuknya masuk. Aiko menaikkan sebelah alisnya ketika ia sudah bisa melihat Arata dan Naoki di depan kelasnya.
"Arata-senpai, kenapa kau ada di depan kelas ku?" tanya Aiko pada Arata
"Aa, aku hanya mengantarkan bocah ini saja. Dia ingin menemui mu." jawab Arata sambil menunjuk Naoki dengan dagu nya, akhirnya Aiko pun mau menatap Naoki dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Kau pasti sudah kenal denganku kan? Aku Uchida Naoki." Kata Naoki sambil menunjukkan senyuman nya yang disukai banyak gadis namun tidak mempan di depan gadis ini.
"Watashi no namae wa Mizuhara Aiko desu. Ada perlu apa senpai mencariku?" tanya Aiko dengan sopan namun terkesan cuek. Naoki seperti melihat sebagian kecil diri Ryuuga pada gadis itu. membuatnya kesal.
"Heh?" Naoki sedikit terkejut dengan sikap Aiko, dia tidak jauh berbeda dengan Ryuuga. 'To the point sekali dia ini..' batin Naoki sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iie ano.. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Ryuuga." mendengar nama Ryuuga disebut, gadis itu tersentak kaget bahkan sampai membeliak ketika Naoki terlihat serius dengan tujuannya.
"Maaf senpai, sepertinya kau harus kembali ke kelasmu. Aku juga sebentar lagi akan mulai belajar." Aiko berjalan melewati Naoki dan hendak masuk ke dalam namun tangan Aiko segera ditahan oleh Naoki.
"Chotto matte. Aku benar-benar minta tolong padamu! Lagipula, aku dan Arata sudah dapat surat dispensasi untuk hari ini. Ku mohon." ujar Naoki dengan tatapan berharap
*Tunggu sebentar
"Tapi aku tidak, senpai. Lain kali sa—"
"Aku yang akan meminta izin pada guru mata pelajaran mu siang ini." sahut Arata dengan cepat sehingga Aiko tidak mampu lagi mengelak karena kedua pemuda di hadapannya itu terlihat seperti akan melakukan hal diluar nalar yang akan membuatnya terlibat dalam masalah jika ia menolaknya. Aiko menghela napas panjang dan akhirnya mengikuti senpai nya menuju ruang perpustakaan yang sepi pengunjung.
Setelah Arata menerima izin dari guru Aiko, ia pun langsung menyusul Naoki ke perpustakaan untuk mengamati apa yang akan dilakukan Naoki setelah ia mendengar jawaban dari pertanyaan nya.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku, Uchida-senpai?"
"Yare-yare.. Kau ini tidak bisa berbasa-basi sedikit ya.." ujar Naoki sambil terkekeh pelan.
*yare-yare: ya ampun, astaga
"Itu kan memang tujuanmu." Naoki mengerutkan dahinya, ia lalu melirik Arata yang duduk di sebelahnya dan tentu saja tidak peduli dengan mereka berdua. Sepertinya Arata akan tertidur sekarang juga.
"Hai' hai' wakatta yo.. Apa sampai sekarang kau masih menjadi kekasih Ryuuga?"
"Hm bisa dibilang begitu tapi aku tidak ingin mengingatnya."
"Huh? Sebenarnya... Bagaimana sikapnya saat bersama denganmu?"
"Biasa saja, dia tetaplah Ryuuga yang semua orang kenal. Apa ada yang mencurigakan dariku?"
"Ah.. Tidak.. Eh.. Iya, hanya sedikit. Berapa lama kau berpacaran dengannya?"
"Aku bahkan tidak mengingatnya dengan baik. Memangnya kenapa?"
"Ehm, begini.. Dia tidak pernah berpacaran selama ini, Ryuuga bilang kalian sudah berpacaran selama 3 bulan." ujar Naoki yang membuat Aiko menunduk lalu ia tersenyum miris.
"Hee Sou desu ka? Aku baru tahu.." entah kenapa Aiko menunjukkan senyum palsunya saat Naoki melayangkan pernyataan yang sedikit menusuk hatinya.
"Sudah pasti kau memiliki sesuatu yang Ryuuga cari kan? Seharusnya seperti itu." ucapan Naoki mengundang kekesalan Arata. Dengan cepat Arata langsung menjitak kepala Naoki hingga sang empunya merintih sakit. Aiko membelalakkan matanya saat mendengar ungkapan Naoki.
"Itteee... Nan da omae wa?!" tanya Naoki sewot, ia memelototi Arata yang seakan tidak peduli dengan yang barusan ia lakukan padanya.
*Ittee(bhs non baku dari Ittai: sakit)
*Nan da omae wa: apa-apaan kamu
__ADS_1
"Mulutmu itu ceroboh sekali." balas Arata dengan mata tajamnya, ia lalu menatap Aiko yang masih terlihat terkejut. "Ano saa, suman na Aiko. Naoki tidak bermaksud untuk menyinggung mu. Dia sebenarnya hanya ingin menanyakan, apa kau punya cara tersendiri untuk bersikap di depan Ryuuga?" sambungnya sambil mendengus pelan setelah melihat Naoki yang menggerutu tidak jelas karena tidak terima dengan jitakan nya.
"Aku mengerti, senpai.." jawab Aiko tanpa menghilangkan senyum mirisnya, Arata yang peka dengan perubahan sikap dan situasi pun mengernyit bingung. Ia sedikit menganalisa raut wajah Aiko, sudah pasti ia menyembunyikan sesuatu yang selama ini tidak ia katakan pada siapapun.
"Lalu? Bagaimana dengan jawabannya?"
"Tck, kau ini sabar dulu!" ketus Arata
"Hah?! Apa maksudmu?!" akhirnya Arata dan Naoki beradu tatapan tajam, mereka pun berdebat dengan hebatnya.
"Kau sendiri punya otak yang pintar, si nomor 3 dari angkatan kita, tapi sayangnya kau bodoh sekali! Bermulut besar dan tidak peka terhadap keadaan!"
"Apa katamu?! Setidaknya aku masih punya gairah hidup dan tidak seperti mu yang menjelma menjadi manusia setengah koala! Kusso Arata!"
*kusso: umpatan yang kasar (tau lah maksud author-,-)
"Setidaknya aku masih lebih baik darimu! Aku lebih bisa berinteraksi dengan orang lain daripada dirimu! Naoki no aho!"
*aho: bahasa yang lebih kasar dari bodoh
"Hah?! Apa kau bilang?! Aku tidak bisa dengar!" Naoki menyodorkan telinganya di depan wajah Arata, ia sengaja membuka lebar telinganya hingga membuat Arata geram, siku perempatan sudah muncul di dahi Arata. "Cih kusso!"
"Anatatachi, yamete kudasai!" bentak Aiko dengan tegas, ia memberikan death glare pada kedua senpai nya agar mereka berhenti berdebat.
*Kalian semua, tolong berhenti!
"....." akhirnya mereka berdua terdiam saat mendengar suara Aiko. Mereka menoleh kepada gadis itu secara bersamaan.
"Urusan kita sudah selesai dan tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi. Aku sudah ketinggalan materi hari ini. Kalau begitu, aku permisi." Aiko beranjak dari kursi dan melangkah pergi keluar dari perpustakaan
"Cho—"
"Sudahlah, Naoki. Kita tidak perlu menghentikannya."
"Tapi aku harus mendapatkan jawabanku!"
"Percuma saja kau lakukan itu. Dia akan tetap memilih bungkam daripada memberitahukannya padamu yang notabene nya adalah sahabat Ryuuga. Mana mungkin dia akan langsung terbuka denganmu."
"Tapi—"
"Apa kau tidak sadar? Setiap kau melontarkan pertanyaan, jawaban yang dia berikan selalu penuh keraguan dan ketidakpastian."
"Eh? Memang benar sih.." Naoki menatap langit-langit perpustakaan sambil berpikir keras.
"Aku yakin dia sendiri juga kebingungan. Ada yang dia sembunyikan. Ini hanya perkiraan ku saja, kurasa Ryuuga juga memperlakukan Aiko sebagaimana dia memperlakukan gadis lain."
"Kau salah. Jika memang begitu lalu kenapa Ryuuga bisa bertahan selama 3 bulan bersamanya?"
"Apa kau yakin dengan itu? Apa kau pernah melihatnya atau mendengar Ryuuga membicarakan Aiko sebelumnya?"
"Hm sepertinya tidak. Eh tunggu dulu. Sepertinya ada yang aneh."
"Darou ne? Sudah berapa banyak gadis yang dicampakkan oleh Ryuuga?"
*Benar kan?
"Sou! Massaka..!"
*Benar! Apa jangan-jangan..!
"Jika kau memikirkan hal yang sama denganku, maka jawaban kita sama. Bisa jadi hubungan mereka bertahan lama karena Ryuuga meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan kepastian tentang hubungan mereka. Ryuuga sudah banyak mencampakkan siapa saja yang mendekatinya."
"Tapi apa Aiko tidak memiliki keistimewaan apapun? Ryuuga mendekatinya karena ada sesuatu yang menarik darinya kan?"
"Aku tidak bisa menjawabnya. Lagipula jika kau terus mendesak nya, belum tentu dia akan menjawabnya dengan jujur."
"Setidaknya.. Aku harus tahu sesuatu yang membuat Ryuuga bertahan dengannya. Pasti Aiko itu gadis yang sangat istimewa kan?" Naoki masih terus bersikeras ingin mendapatkan jawabannya hari itu juga. Namun Arata tak bergeming, ia tetap duduk sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Entahlah.. Aku tidak yakin. Ne, Naoki."
"Apa?"
"Sejak kapan Ryuuga mengembangkan bakat terpendam nya itu?"
"...hah..?" Naoki menaikkan sebelah alisnya, ia memasang tampang bodohnya lalu mencoba memikirkan jawabannya. "Argh.. Aku bahkan tidak ingat apapun. Aku juga tidak tahu sejak kapan dia jadi seperti itu tapi yang pasti dia semakin tidak peduli dengan pendapat orang lain." ujar Naoki sambil menggaruk kepalanya
"Jika saja kau bisa menyelidiki atau mengingat kejadian masa lalu kalian berdua, mungkin kau akan temukan alasan mengapa Ryuuga menjadi seorang badboy kelas kakap seperti sekarang ini."
"Kau benar.. Tapi ingatanku lemah sekali."
"Bukan itu masalahmu yang sebenarnya."
"Huh? Lalu apa?"
"Kau hanya tidak peka dengan sekelilingmu. Kau jadi kesulitan mengetahui sesuatu. Ya, kau hanya tahu perubahan ekspresi wajah Ryuuga berarti merefleksikan isi hatinya saat itu."
"Benarkah aku seperti itu?"
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?"
"Souka..." Naoki menunduk dalam, ia mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya, rasa kecewa akan dirinya sendiri mulai merasuki otaknya.
"Saa sekarang aku minta imbalan ku." ujar Arata sembari berdiri dari kursinya, ia menatap Naoki yang langsung mengangkat kepalanya lagi lalu balas menatapnya dengan pandangan bingung.
"Apa maksudmu?!"
"Aku sudah banyak membantumu. Sudah sepantasnya aku menerima imbalan kan?"
"J-jadi kau ingin apa?"
"Jangan mengusik ketenangan ku lagi. Aku lelah mendengarkan ocehan mu setiap hari. Aku ingin waktu tidur siangku kembali."
"Cih kau ini masih saja sempat mengataiku!"
"Hm aku tidak peduli. Sekarang aku ingin tidur."
"Iya, iya. Aku mengerti."
"Ayo keluar dari sini."
__ADS_1