
"Sienna-san"
"Nan desu ka, Reiji-sama?"
"Ada hal yang ingin aku tanyakan,"
"Eh? Silahkan"
"Apa yang kau— ah tidak. Maksudku apa kemarin Naoki benar-benar sudah membaik?"
"Sore wa.. Hai', dia sudah baik-baik saja."
"Souka, yokatta.."
"Etto, Reiji-sama. Bagaimana kondisi Namikaze-sama?" tanya Sienna dengan wajah cemas, ia bertanya sambil menyiapkan sarapan untuk lelaki itu.
"Aku juga tidak yakin tapi.. Semoga dia baik-baik saja." jawab Reiji sambil tersenyum lebar seperti biasa.
"Sou desu ka.. Ano, Reiji-sama."
"Iya, ada apa Sienna-san?"
"Bolehkah aku meminta izin untuk cuti beberapa hari?"
"Wah tiba-tiba sekali.. Ada apa?"
"Ano.. Etto.. Saya sudah lama tidak pulang, kaa-san juga sudah hampir satu bulan berada dirumah sakit. Saya ingin menjenguknya ah tapi jika anda tidak memperbolehkan saya pergi, saya tidak akan pergi." Sienna sudah gugup lebih dulu sebelum Reiji sempat menjawabnya lantas ia terkekeh pelan.
"Kau pikir aku ini orang yang kejam? Tidak apa-apa jika kau memang ingin pulang, apa—"
"Tidak boleh."
Mendengar suara Ryuuga, Sienna dan Reiji pun menoleh dengan wajah bingung. Ryuuga terlihat seperti biasanya tetapi yang membingungkan adalah ucapannya. Sienna tidak berani untuk menanyakan alasannya sebab dia hanyalah seorang maid dan tugasnya adalah menuruti perintah tuannya.
"Wakarimashita, Nami—"
"Iie Sienna-san." sela Reiji lalu ia menatap adiknya yang masih berdiri "Kenapa kau melarangnya?" tanya Reiji sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Dia harus membawakan barang-barang ku ke sekolah."
"Eh?!" baik Sienna maupun Reiji terheran-heran melihat sikap Ryuuga yang sedikit berubah, bukan berarti menjadi lebih baik tetapi menjadi lebih aneh dimata mereka.
"Aku akan ada pertandingan basket. Kau ikutlah denganku dan bawakan semua keperluanku."
"Seperti tidak biasanya.. Ah, aku paham. Kau hanya ingin memanfaatkan Sienna-san, kan?" selidik Reiji
"Hn"
"Tapi dia benar-benar sedang dalam keadaan genting. Kau seharusnya bisa lebih mengerti loh, Ryuuga." ujar Reiji sambil mendengus pelan
"Hn, kalau begitu aku beri tawaran padamu." ucap Ryuuga sambil menunjuk wajah Sienna dan membuat gadis itu semakin kebingungan.
"T-tawaran apa?"
"Pergi dari rumah lebih cepat tapi jangan kembali atau ikut denganku baru setelah itu kau boleh pergi keluar?" tawar Ryuuga yang membuat Sienna tidak bisa berkutik. Tentu Sienna tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan putra bungsu Namikaze itu kan? Yang benar saja.
"Maa Ryuuga, jangan bercanda. Kalau begitu ceritanya lebih baik tidak usah buat penawaran." ujar Reiji sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Hn"
"Hai' wakarimashita, Namikaze-sama." jawab Sienna sambil tersenyum lembut, ia membungkuk lalu menyiapkan makanan untuk Ryuuga.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Sienna kembali ke dapur untuk membantu Nanami mencuci perabotan kotor. Wanita itu tersenyum senang saat melihat Sienna berjuang keras membantu dirinya dan menyenangkan hati orang lain. "Ano, Sienna?"
"Eh? Hai' ba-san, doushita?"
"Ahaha iie'.. Sienna.. Arigatou.."
"Eh?"
"Kawaii~" Nanami memeluk Sienna secara tiba-tiba hingga membuat gadis itu merasa senang dan bingung dalam waktu bersamaan. Pelukan hangat dari Nanami membuat Sienna sedikit merindukan rumahnya, dimana ia bisa berkumpul bersama kedua adiknya dan juga ibunya. Tempat tinggal yang sangat menyenangkan, berbagi canda tawa bersama keluarganya, saling menguatkan satu sama lain, dirinya kini kembali mengingat masa lalunya.
•
•
•
•
"Kau tidak seperti biasanya, Naoki." kata Arata sambil melirik Naoki yang sedari tadi diam dan tidak berisik seperti biasa yang ia lakukan baik di pagi hari maupun malam hari. "Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanya Arata lagi namun Naoki hanya tersenyum. Senyuman yang tidak begitu menyenangkan dimata Arata, "Hah.. Terserah saja." gumam Arata pelan lalu kembali melihat arena lapangan yang akan mereka gunakan untuk bertanding. Bangku untuk para penonton pun sudah mulai ramai.
"Ne, Arata."
"Hm?"
"Ini.. Pertandingan ini terbuka untuk penonton selain siswa?"
"Huh? Aku juga tidak tahu tapi.. Sepertinya yang tidak memakai seragam adalah tamu khusus yang diminta untuk datang menyaksikan."
"Oi, bisakah kau ganti kata khusus mu itu dengan kata spesial? Ugh tidak enak di dengar." komentar Naoki sambil cemberut
"Maa na, siapa juga yang peduli. Pokoknya, yang terpenting kau harus fokus dengan pertandingan ini. Kau bisa kesampingkan dulu masalah pribadimu untuk urusan sekolah kan? Aku tidak mau tanggung jawab atas kekesalan mu nanti." omel Arata
"Ah iya iya, aku paham dan berhentilah mengomeli ku seperti ibu-ibu."
"Karena kau orang yang kadang tidak berpikir sebelum bertindak."
"Apa kau bilang?! Aku ini cukup pintar, tahu! Jangan meremehkan ku, kusso yarou!"
__ADS_1
*dasar sampah!
"Nan da, kono aho!"
*apa, dasar bodoh!
"Huh?!" mereka saling memberikan death glare satu sama lain lalu beberapa detik kemudian Arata tertawa dan membuat Naoki bingung.
"Kau ini kenapa?" tanya Naoki sembari menaikkan sebelah alisnya
"Hahaha syukurlah kau sudah kembali normal seperti biasa." jawabnya sambil tersenyum senang kearah Naoki. Naoki membelalakkan matanya tak percaya, ternyata Arata punya caranya tersendiri untuk menghibur dirinya dan ia pun ikut menertawakan dirinya sendiri. "Maa, sekarang kita harus bersiap-siap. Sebentar lagi pasti kita akan disuruh berkumpul oleh kaichou!"
*ketua
"Yosh!! Aku akan lakukan yang terbaik!!" seru Naoki dengan penuh semangat yang telah membara lalu ia mengepalkan tangannya keatas.
"Iya, iya tidak usah berlagak keren sekarang. Ayo kembali."
"Eh? Cih, dasar membosankan."
Sementara itu dirumah ah mansion milik Namikaze, Sienna masih sibuk mengurusi putra bungsu Namikaze itu yang juga baru menata barang-barang nya padahal dia sudah sangat terlambat.
"Ano, Namikaze-sama. Apa ini tidak terlalu banyak? Anda sudah terlambat sepuluh menit."
"Hn, diamlah. Aku akan cepat menyelesaikan ini."
"T-tapi..." Sienna memperhatikan Ryuuga yang sedang memilah barang yang akan ia bawa di atas ranjangnya.
"Apa lagi?"
"Ah tidak, maafkan saya." balas Sienna sambil menggelengkan kepalanya, siku perempatan muncul di dahinya 'Kau hanya akan pergi ke sekolah bukan piknik, baka!' batin Sienna kesal. Sienna sudah tahu bahwa Ryuuga memang sengaja ingin menjahilinya dengan membawa banyak barang hari ini padahal dihari biasanya dia hanya membawa tas yang sangat ringan. "Sisanya biar saya yang urus, silahkan anda mandi saja dulu."
"Nanti saja."
"Tapi bagaimana bisa anda begitu santai? Ini sudah jam 07.20 pagi dan anda belum mandi."
"Hn. Jangan ributkan hal kecil." ucap Ryuuga yang membuat Sienna kembali naik darah, "Lagipula aku hanya menjadi pemain pengganti kalau-kalau ada salah satu anggota tidak bisa hadir." sambungnya sambil duduk di ranjangnya lagi. Ia hanya mengalungkan handuknya di leher tapi tak berniat menyentuh lantai kamar mandi sama sekali.
"B-bukankah.. Karena itu seharusnya anda berangkat lebih cepat? Anda di pilih untuk berjaga-jaga tapi anda seperti tidak niat pergi sama sekali." Sienna sudah sangat kesal dibuatnya. Selimut kotor yang masih ia genggam menjadi sasaran remasan kuat tangannya. Berbeda dengan wajahnya yang saat ini sedang memasang senyuman kesal.
"Hn aku memang tidak ingin menggantikan siapapun."
"Lalu kenapa anda menyusun begitu banyak barang disini? Apa anda ingin berlibur selama tiga hari?!" Sienna sudah tidak lagi sungkan memberikan penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan namun justru Ryuuga malah tersenyum kemenangan saat Sienna menunjukkan kekesalannya terhadap dirinya.
"Heh kau ini cerewet sekali ya, baka onna." ledek Ryuuga dengan seringai liciknya yang membuat Sienna naik pitam. Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan teratur untuk menahan emosinya pada musuhnya.
"Terimakasih atas pujiannya, Namikaze-sama. Saya akan merapikan semua barang ini jadi silahkan anda mandi sekarang juga." ucap Sienna sembari meletakkan selimut kotor di keranjang lalu kembali lagi ke tepi ranjang untuk merapikan baju-baju dan barang lainnya yang hendak di bawa Ryuuga.
"Hn. Aku akan mandi sekarang tapi kau harus memberikanku hadiah." ujar Ryuuga lalu beranjak dari tidurnya dan mendekat kearah Sienna hingga jarak mereka sangatlah dekat.
"Anda ingin apa?!"
"Aku ingin...." Ryuuga tak langsung melanjutkan ucapannya. Tangan kanannya mulai bergerak keatas kepala Sienna, mengacak rambut itu pelan lalu jari telunjuknya turun menuruni dahi menuju hidung mancungnya dan berhenti tepat di bibir Sienna, "Ini." lalu ia tersenyum miring setelah melihat ekspresi kaget Sienna.
"Pfft sekarang siapa yang berharap, eh?" Ryuuga kembali meledek Sienna yang tadi sudah memejamkan matanya erat, kini gadis itu kembali memperlihatkan iris sapphire nya. Ryuuga segera beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandinya.
"Ano kusso Ryuuga!" Sienna menggeram pelan. Ryuuga benar-benar membuat dirinya kesal, entah sudah yang ke berapa kalinya ia marah-marah.
"Yo, Sienna-san!!" panggil Reiji yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamar Ryuuga sambil melambaikan tangan. Sienna tersentak kaget lalu menoleh.
"Reiji-sama? Ada apa? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Sienna yang berlari kecil menghampiri Reiji.
"Ah iie iie, Sienna-san. Apa Ryuuga ada dikamar?"
"Ah etto.. Dia sedang mandi, anda mencarinya? Mungkin sebentar lagi dia keluar."
"Ano ne, Sienna-san aku ingin memberitahukan sesuatu loh."
"Hai'?"
"Aku akan ikut menonton pertandingannya Ryuuga~" jawab Reiji dengan senyum lebar.
"Hah?! Tidak usah!" tolak Ryuuga yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Sienna sendiri tetap memilih untuk menghadap Reiji daripada melihat Ryuuga yang masih mengenakan selembar handuk saja.
"Heee hidoi yo, Ryuuga~. Aku kan ingin melihat pertandingan adikku sendiri." ucap Reiji sambil memajukan bibirnya dan mengeluarkan nada sedikit manja yang terdengar aneh dan tidak begitu cocok dengan tampangnya yang sangat berwibawa.
*jahat sekali
"Siapa yang bertanding? Aku tidak akan bertanding." jawab Ryuuga dengan ketus
"Huh? Bagaimana mungkin berubah secepat itu. Kau pasti ingin menipu ku kan?"
"Siapa juga yang ingin menipu orang seperti mu? Buang-buang waktu." sahut Ryuuga dengan nada yang begitu menusuk.
"A-ano maaf mengganggu tapi.. Namikaze-sama, segeralah memakai seragam anda. Saya akan mem—"
"Ah sebelum itu, aku ingin mengatakan ini padamu."
"Nan desu ka?"
"Jangan pakai baju maid itu. Kotor. Gantilah dengan pakaian biasa yang kau punya. Aku akan memecat mu jika kau berpenampilan terlalu biasa." ancam Ryuuga di lengkapi tatapan tajam
"Eh?" Sienna menaikkan sebelah alisnya, ia memutar otaknya dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri 'Ini hanya pergi ke sekolah kan? Kenapa dia memintaku seperti seolah akan pergi ke pesta?! Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.' batin Sienna yang tak kunjung paham dengan tujuan utama Ryuuga.
"Ara ara.. Kau masih belum paham juga Sienna-san?" tanya Reiji sambil tersenyum. Lelaki ini benar-benar orang yang sangat murah senyum meskipun senyumannya kadang tidak mengenakkan dalam banyak arti. "Dia akan mengajakmu pergi bertemu teman-teman nya kan? Maa ne, dia pasti ingin memanfaatkan mu sebagai penangkal dari para gadis yang mengejarnya." pungkas Reiji dengan santainya sementara Sienna diam-diam mendelik tajam ke arah Ryuuga yang juga sedang menatapnya dengan tampang tidak berdosa. "Dou desu ka, Sienna-san?" tanya Reiji.
"E-eh?? A-ahaha jika saya bisa membantunya maka akan saya lakukan." jawab Sienna sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, kalau sekarang ayo kita keluar dan biarkan dia bersiap-siap." Reiji merangkul bahu Sienna lalu mengajaknya keluar dari kamar Ryuuga. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju lantai bawah.
__ADS_1
Situasi nampak hening dan kedua manusia berbeda gender tersebut kalut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya sebuah suara yang cukup keras menyadarkan mereka kembali.
"Ohayou gozaimasu, anata tachi!!" sapa gadis itu dengan penuh semangat, Sienna yang melihatnya langsung berbinar-binar dan segera memeluknya.
"Izumi~!!"
"Eh? Nani nani? Apa kau merindukanku? Hehehe,"
"Kau tidak pernah menghubungiku lagi.."
"Oh, halo para gadis sekalian, aku ada disini loh~"
"Maafkan aku, aku sibuk sekali Sienna. Hari ini aku hanya ada kelas disiang hari, jadi aku masih senggang."
Reiji menjadi suram, ia merasa hawa keberadaan nya telah tiada. Sienna dan Izumi asyik melepas kerinduan mereka tanpa memperhatikan Reiji yang sudah menangis dalam hati. 'Wah, perempuan sungguh mengerikan..' batinnya sambil menepi.
"Jadi, kau sedang apa?"
"Aku ingin bersiap-siap untuk ikut dengan Reiji-sama dan adiknya ke sekolah."
"Hah?! Untuk apa?!"
"Beliau akan ikut pertandingan basket jadi aku yang akan membawakan barang-barang nya."
"Ah Souka, tumben sekali. Oi, Onii-san. Kau sedang apa disana?"
"Eh? Akhirnya aku terlihat juga.." gumam Reiji sambil menangis, ia kembali mendekat kearah mereka berdua lalu tersenyum seperti biasa lagi, "Begini, Sienna-san harus segera bersiap-siap untuk ikut ke sekolah, mengobrolnya nanti saja ya, Izunya!!"
"Hee? Untuk apa?" tanya Izumi bingung lalu ia langsung mendapatkan jawabannya dengan mudah, "Ano saa, Onii-san, Sienna ini sangat cantik. Jangan sampai kaget melihat perubahannya ya~" ucap Izumi sambil menatap Sienna dengan jahil.
"I-i-i-itu tidak benar." Sienna tersipu malu saat Reiji malah menatapnya dengan tatapan polos, entah mengapa itu semakin terasa memalukan karena Izumi malah memuji- entah mengejek di depan majikannya.
"Baiklah sudah ku putuskan, aku akan—" Kalimat Izumi terhenti saat mendengar ponsel ya berdering cukup nyaring. "Tunggu sebentar, ya." Izumi merogoh tasnya lalu mengecek siapa gerangan yang meneleponnya. "Moshi-moshi, Aika?" mendengar nama Aika disebutkan, membuat Sienna sedikit kesulitan mengambil pasokan udara.
"Gomennasai, Izumi-san. E-etto.."
"Ada apa, Aika?! Kenapa berisik sekali disana?"
"Ano... Ada seseorang yang datang ke sini untuk mencarimu dan ia marah-marah tidak jelas karena kau tidak ada."
"H-hah? Majikayo?!"
"Sepertinya dia bisa mengamuk kapan saja jika kau tidak segera muncul."
"Siapa yang mencariku?"
"Ano kalau itu aku juga tidak tahu, dia tidak mengatakan apapun selain mencarimu."
"Ah iya iya, aku akan segera kesana! Bilang padanya untuk sabar menunggu."
Izumi mematikan sambungan teleponnya lalu memeluk Sienna dan berbalik menuju pintu keluar. Baik Reiji maupun Sienna, mereka sama-sama kebingungan pasalnya Izumi tak menjelaskan apapun pada mereka dan hanya melambaikan tangannya sebagai tanda berpisah. 'Aneh sekali..' batin keduanya.
"Apa yang sedang kalian lihat?" tanya Ryuuga yang sedang berjalan menuruni anak tangga, ia mengernyit bingung melihat kedua manusia itu.
"Tidak ada. Kau lama sekali, Ryuu." ketus Reiji mengalihkan pembicaraan
"Salahkan gadis itu yang memasukkan seragamku ke dalam tas." ujar Ryuuga dengan tajam setajam tatapannya saat ini pada Sienna, gadis itu sendiri tidak tahu jika sang majikan akan memakai seragam seperti biasanya bukannya kaos olahraga yang sudah ia sediakan.
"Gomennasai, Namikaze-sama. Saya tidak tahu jika—"
"Maa ne, jangan dipikirkan.. Sienna-san, segeralah bersiap-siap ya? Kami akan menunggumu di ruang tamu." Ujar Reiji dengan ramah
"Baik, saya mengerti. Permisi." Sienna segera berlari kecil menuju kamarnya yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.
Tersisa kakak beradik yang saling diam di sana. Ryuuga melangkahkan kakinya pergi dari bawah tangga menuju ruang tamu lalu disusul oleh sang kakak yang diam-diam sedang memperhatikan bahu adiknya. Setelah mereka duduk, Reiji segera membuka pembicaraan. "Ryuu, sudah lama kita tidak mengobrol berdua seperti ini." Ucap Reiji dengan senyum simpul di wajahnya.
"Lalu kenapa?" Ryuuga menatap Reiji dengan tatapan datar dan nada dingin yang khas. Reiji diam beberapa detik.
"Haha sifatmu ini buruk sekali ya, Ryuu. Sejak kapan kau jadi manusia es seperti ini?" Ledek Reiji yang membuat Ryuuga memicingkan matanya tidak suka.
"Bukan urusanmu, Onii-sama." Ryuuga menekankan embel-embel itu kepada Reiji yang membuat si sulung merasa sedikit tidak nyaman. Ya bagaimana tidak? Hubungan mereka tidak sejauh itu sampai-sampai Ryuuga harus memanggil nya dengan sangat formal.
"Jadi, bolehkah aku tahu siapa pacarmu saat ini?" Tanya Reiji dengan tatapan tak merasa bersalah sama sekali. Ryuuga menyipitkan matanya, rahangnya mengeras. Reiji pasti sudah membaca situasi, Ryuuga tak mungkin bisa pergi jika Reiji sudah bertanya hal privasi dengan dirinya.
"Cih jangan pura-pura tidak tahu." Ryuuga mendecih kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Hah, apa maksudmu? Jika aku tahu pasti aku tidak akan menanyakannya lagi. Hahaha aku tidak tahu bagaimana mungkin sikapmu sekeren ini tetapi otakmu tidak bekerja dengan baik? Ahahaha." Reiji tertawa sambil memegangi perutnya dan tangan sebelahnya mengangkat menunjuk-nunjuk Ryuuga. Ryuuga sendiri sudah teramat kesal, siku perempatan sudah muncul di dahinya. Ia sudah menggeram marah melihat kakaknya yang sedang sibuk menertawainya sekaligus merendahkannya.
"Bukan seperti itu! Naoki pasti sudah melaporkan segala yang ku lakukan padamu, kan?! Kau hanya berniat mendengarkan langsung dariku!" Bentak Ryuuga yang sudah kesal sepenuhnya, tawa Reiji terpaksa terhenti. Putra sulung Namikaze itu terdiam saat Ryuuga menunjukkan emosi pada dirinya. Lalu senyum simpul muncul di bibir sang kakak.
"Sudah lama sekali kau tidak memarahiku, aku sangat merindukannya.." gumam Reiji tanpa menghilangkan senyumannya, tatapan Reiji melembut, sementara Ryuuga diam tertegun. Ia tidak tahu apa enaknya di bentak oleh orang lain? Ia berpikir jika kakaknya itu sudah tidak waras akibat terlalu stress mengurus pekerjaan kantor yang dia pegang sendiri tanpa bantuan ayahnya. "Oh iya, Naoki tidak memberitahu apapun loh. Jadi itu sebabnya aku bertanya padamu langsung. Aku berpikir mungkin ini bisa membantu kita menjadi kembali dekat seperti layaknya adik kakak, seperti dulu." Lagi-lagi Ryuuga diam membisu. Ia tak tahu harus menanggapi seperti apa ucapan kakaknya itu.
"Kita tidak akan bisa seperti dulu lagi. Kurasa semuanya sudah berbeda. Urusi urusanmu sendiri, aniki. Aku juga sudah cukup dewasa untuk melakukan semuanya sendiri." Ryuuga menunduk dalam, ia enggan untuk menatap wajah sang kakak. Entah kenapa, senyum getir tercetak di bibirnya.
"Souka, zannen desu ne... Padahal aku berharap masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubunganku denganmu."
*Begitu ya, sayang sekali
"......"
"......"
Mereka hanya saling tatap tanpa berucap. Arti dari tatapan mereka berdua pun berbeda, seperti layaknya hitam dan putih, terang dan gelap, bulat dan runcing, berbanding terbalik dan hanya mereka yang tahu pasti maksud dari itu. Atmosfir di ruangan itu mendadak berubah dan dipenuhi ketegangan. Lalu Sienna muncul dengan penampilan seperti orang-orang biasa tanpa mengikat rambut dan juga seragam maid nya. "Maafkan saya karena terlalu lama." Ucap Sienna sambil membungkuk 45 derajat. Kedua saudara itu pun mengalihkan tatapannya kepada Sienna. Gadis itu mengurai rambut panjangnya dan hanya ia jepit sebagian rambutnya ke samping, menampakkan dahi sempitnya. Ia memakai rok kotak-kotak pendek dengan kemeja berpita. Sienna hanya memoleskan make up tipis di wajah ayu nya, sedangkan ia hanya memakaikan lipgloss di bibir pink nya dan membuat kesan cantik natural pada dirinya. Merasa perhatian kedua majikannya tak teralihkan, akhirnya Sienna angkat bicara. "A-apakah saya terlalu berlebihan? Sa-saya akan segera mengganti penampilan saya. Tolong—"
"Ahaha tenanglah Sienna-san, apa kami membuatmu tidak nyaman? Kami hanya terkejut karena kami tidak pernah melihatmu dengan penampilan normal." Ujar Reiji sambil berdiri dan diikuti oleh si Ryuuga yang masih melayangkan tatapan intens pada gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu.
"H-hontou desu ka?! Saya akan segera mengga—"
"Jangan jadikan hal ini menjadi rumit! Aku sudah sangat terlambat. Lagipula itu bukan penampilan yang buruk." Kata Ryuuga yang membuat Reiji maupun Sienna menganga tak percaya. "Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?!" Tanya Ryuuga dengan ketus, sebelah alisnya naik saat ditatap dengan tidak biasa oleh kedua manusia di hadapannya itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin...." Gumam Reiji dan Sienna bersamaan, gadis itu menutupi mulutnya dengan telapak tangan, iris kebiruan nya melebar sempurna. 'Apa dia tersedak sesuatu? Bagaimana mungkin kalimat itu bisa keluar dari mulutnya?' tanya Sienna dalam hati.
"Apa sih? Kalian membuatku menjadi aneh. Sudahlah, aku sudah terlambat." Ryuuga berjalan melewati mereka berdua. Reiji sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap Sienna, lalu ia kembali memandang bahu Ryuuga yang mulai menjauh. Kali ini Reiji setuju dengan pemikiran Sienna. Sedangkan dalam pikiran Ryuuga, ia bertanya-tanya apakah dia mengatakan sesuatu yang aneh? Hal sekecil itu pun mampu membuatnya terngiang-ngiang. "Ah sekarang sudah jam 9." Gumam Ryuuga dengan sangat lirih.