Nona Maid

Nona Maid
Ketidaktahuan


__ADS_3

Sienna sudah merapikan seisi kamar Ryuuga dan menyusun segala yang berantakan dengan rapi. Semuanya telah bersih berkilau, Sienna mengganti sprei ranjang Ryuuga dengan warna monochrome. Kini pekerjaannya hanya tinggal mencuci pakaian kotor atau lebih tepatnya seragam Ryuuga yang tadinya tergeletak di lantai.


"Huft.. Lelah sekali tapi aku sudah terbiasa mengerjakan ini sejak kecil." gumam Sienna sambil tersenyum senang, ia mengambil keranjang pakaian kotor lalu hendak membawanya ke bawah untuk ia cuci. Tapi Sienna tidak sengaja menyenggol sebuah pigura berukuran sedang. "Aduh!" Sienna segera mengambil pigura itu dan mengecek apakah ada yang pecah atau tidak. "Huft, untunglah foto ini masih baik— ini kan... Foto Nanami ba-san dan Ryuuga?" gumam Sienna sambil memperhatikan foto di dalam pigura tersebut. Ryuuga kecil yang tersenyum tulus dan terlihat sangat senang berada di pangkuan Nanami yang juga tersenyum lebar. Sebuah foto yang benar-benar membuat Sienna merasa aneh. "Foto ini sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Sepertinya begitu." Sienna segera meletakkan foto itu ditempat semula dan langsung turun untuk ke kamarnya.


          Setelah Sienna sampai dibawah, ia terkejut melihat Nanami yang sedang duduk di salah satu kursi di ruang makan dan sudah ada sebuah koper yang berdiri di sebelahnya. Sienna segera menghampiri Nanami.


"Ba-san, a-apa yang terjadi?" Sienna menjadi cemas setelah melihat koper itu dengan jarak yang dekat seperti ini.


"Ah Sienna, akhirnya kau turun juga. Aku sudah menunggu mu sejak tadi loh…" Nanami tersenyum lembut pada Sienna


"Menunggu ku? Ada apa ba-san? Apa ini koper milikmu? Kau akan pergi?" Sienna terus menjejalkan berbagai macam pertanyaan pada Nanami namun Nanami hanya terkekeh pelan.


"Bagaimana hari pertama mu menjalankan tugasmu sebenarnya? Sulit?" tanya Nanami tanpa menjawab salah satu pertanyaan Sienna


"Tidak juga, aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya saja.. Aku sulit berada dekat dengan Ryuuga-sama." ujar Sienna


"Eh? Kenapa? Apa dia bersikap dingin padamu?" tanya Nanami


"Ah tidak, bukan begitu. Aku sudah tahu sifatnya yang buruk itu. Tapi dia sering menjahili ku." jawab Sienna sambil cemberut


"Apa?! Jangan-jangan kalian sudah saling kenal?"


"Aku bermusuhan dengannya. Dia sering sekali mencari masalah denganku."


"Eh? Ahaha.. Kurasa kalian akan cepat akrab. Sama seperti Naoki-sama yang akrab dengan Ryuuga-sama." tutur Nanami


"Hah? Itu tidak mungkin. Orang yang seperti itu hanya akan membuatku mati muda."


"Hahaha lihat kan? Kalian punya cara tersendiri untuk akrab. Oh iya, Sienna. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Aku akan pergi dalam waktu tiga hari untuk pulang ke rumah."


"B-benarkah?! Souka.. Aku akan kesepian.."


"Haha betsu ni.. Kau justru akan semakin mengambil peran besar untuk bisa akrab dengan Ryuuga-sama. Aku sudah bilang pada Reiji-sama kalau kau yang akan mengambil tugas dapur selama aku tidak ada. Maafkan aku, aku menambah pekerjaanmu... Tapi aku benar-benar harus pulang.." ucap Nanami sambil memasang ekspresi sedihnya. Mengerti dengan keadaan wanita di depa nya, Sienna tersenyum teduh.


"Ba-san, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menggantikan mu sementara ya meskipun masakan ku tidak akan seenak masakan mu hehe.. Tapi tenang saja, pastikan kau pulang dengan selamat ya! Jangan sampai membuat keluargamu cemas." kata Sienna sambil menyemangati Nanami agar ia percaya pada Sienna.


"Arigatou, Sienna.." Nanami segera memeluk Sienna dan setelah itu Sienna mengantar Nanami sampai ke depan pintu mansion.


"Selamat jalan ba-san!! Sampai jumpa lagi!!" Sienna melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi Nanami mulai berjalan. Nanami pun yang membalas nya dengan senyuman lebar nya.


        Saat ini Sienna sudah berada di kamar mandi miliknya untuk mencuci seragam Ryuuga. Ia mengambil seragam bagian atas nya lalu membeliak kaget.


"Lipstik? Ugh.. Apa dia benar-benar seorang badboy?" gumam Sienna, tiba-tiba ia juga mencium aroma alkohol yang masih menempel pada pakaian pemuda itu. "Wangi ini mengingatkanku pada sesuatu..." ujar Sienna yang mulai berpikir keras untuk mengingatnya dan bingo! Ia ingat kejadian dimana malam itu saat ia terpojok oleh lelaki yang tidak ia ketahui. Meskipun aroma maskulin itu lebih dominan, Sienna tetap bisa merasakan sedikit bau alkohol. Sienna menelan ludah dengan susah payah. "A-a-a-apa benar????!!! Duh, lupakan itu Sienna! Kau tidak usah mengingatnya lagi. Kejadian seperti itu benar-benar menyebalkan." akhirnya Sienna segera merendam seragam Ryuuga dan langsung mencuci bersih pakaiannya.






         Jam istirahat kedua telah tiba. Saat ini Ryuuga, Naoki, dan Arata kembali ke markas mereka— atap sekolah. Mereka menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa mereka dengan lembut.


"Ne, minna. Bukankah hari ini cuaca agak sedikit mendung?" tanya Naoki sambil berbaring telentang dengan kedua lengan yang ia jadikan bantal, menatap langit yang sedikit gelap dan awan-awan yang mulai menghalangi matahari untuk bersinar.


"Ya, kau benar. Aku tidak membawa payung." sahut Arata yang sudah menguap untuk ke sekian kalinya.


"Ne, Ryuu. Apa kau tidak mau menceritakan sedikit tentang masalah di ruang BK tadi?" tanya Naoki yang membuka topik pembicaraan


"Tidak ada yang perlu diceritakan."


"Cih, dasar. Apa kau di marahi juga?"


"Sudahlah Naoki, jangan meragukan kemampuan si nomor satu. Dia bisa menjawab semua pertanyaan yang menyudutkannya dengan mudah." sela Arata lalu mendengus pelan


"Ah, aku lapar.." gumam Naoki


"Hn, aku juga." sahut Ryuuga

__ADS_1


"Oh ya? Bagaimana kalau kita ke C caffe saja? Kita sudah lama tidak kesana lagi, kau mau?" ajak Naoki dengan antusias


"Hn"


"Arata kau ikut tidak?"


"Aku terlalu malas untuk berjalan ke seberang sekolah. Belikan aku sesuatu saja."


"Kau ingin tetap disini? Nanti kau sendirian.." ujar Naoki yang langsung di lirik tajam oleh Arata.


"Kau pikir aku anak kecil? Pergilah. Aku akan tetap disini tapi jika bel masuk sudah berbunyi dan kalian masih belum datang, aku akan ke kelas duluan." jawab Arata.


       Akhirnya Naoki dan Ryuuga pergi ke luar sekolah untuk datang ke C Caffe. Setelah sampai di sana, kebetulan Yui yang berada di depan untuk melayani para pelanggan. Yui tersenyum senang saat melihat kedua pemuda yang sudah lama tidak terlihat.


"Yo nee-san~!! Konnichiwa!!" sapa Naoki sambil melambaikan tangannya


"Konnichiwa mo, Naoki-san. Selamat datang!!"


"Ne, nee-san kami pesan menu yang biasa ya~"


"Wakarimashita!! Mau makan disini atau dibawa pergi?" tanya Yui dengan ramah


"Kami akan makan disini. Oh iya, siapkan satu untuk dibawa pergi ya nee-san."


"Baiklah."


"Ayo Ryuuga."


Mereka berdua pun sudah memilih tempat duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalanan besar. Ryuuga duduk sambil menopang dagu dan menghadap ke jendela. 10 menit kemudian, pesanan mereka pun datang.


"Ini, silahkan di nikmati," ujar Yui sambil meletakkan Nampan berisi menu pesanan Naoki dan Ryuuga.


"Waaah arigatou nee-san!!"


Yui hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia tak langsung pergi dan membuat Naoki menaikkan sebelah alisnya. Yui masih sibuk mengamati jalan masuk ke dalam, seperti orang yang bersembunyi. Setelah dirasa aman, Yui kembali menatap Naoki.


"Ne, ne Naoki-san.." panggil Yui dengan suara yang pelan


"Er.. Ano, apa kau sudah melihat Sienna? Bagaimana kabar Sienna?"


"Oh nee-san itu ya? Eh tapi kenapa kau menanyakan kabarnya padaku?" dahi Naoki semakin berkerut dalam


"Jadi kau tidak tahu?" tanya Yui, ia menatap Ryuuga yang sedang sibuk dengan makanannya "Ryuuga-san, apa kau sudah melihat Sienna-chan?" tanya Yui pada Ryuuga, segera Ryuuga hentikan aktivitas makan siangnya.


"Hn. Dia baik-baik saja." jawab Ryuuga lalu ia kembali makan tanpa memperhatikan ekspresi Naoki yang tidak terkontrol. Mulutnya terbuka lebar dan matanya membulat sempurna.


"A-a-apa maksudnya ini?! Kenapa kau bisa tahu?" tanya Naoki yang sampai menunjuk wajah datar Ryuuga.


"Ku pikir kau cukup pintar."


"Hah?!"


"Hn, aku kan sudah meminta penjelasan padamu tadi pagi."


"A-ano..." entah kenapa Yui jadi merasa menyesal bertanya jika akhirnya kedua pemuda itu malah berdebat di meja.


"Apa sih? Jelaskan padaku dengan benar, Ryuu! Bicaralah menggunakan bahasa manusia jangan menggunakan teka-teki!" ujar Naoki dengan kesal, siku perempatan mulai muncul di dahi nya.


"Kurasa dia bisa bantu." Ryuuga melirik Yui yang masih berdiri di antara mereka "Aku mau makan." sambung Ryuuga yang sedetik kemudian sudah tidak peduli lagi dan lebih memilih untuk melanjutkan makan.


"Eh? Nee-san bisa jelaskan padaku?" Naoki menatap Yui penuh harap dan akhirnya Yui menghela napas panjang lalu mengangguk tanda senangnya


"Begini.. Aku menanyakannya karena Sienna sudah keluar dari sini."


"Apa?!"


"Saat itu dia mencari pekerjaan baru dan akhirnya mendapat lowongan pekerjaan yang dipasang di internet, lowongan menjadi maid di keluarga ternama Namikaze. Jadi.. Ku pikir disini hanya keluarga Ryuuga-san yang memiliki marga itu dan aku bertanya seperti itu." Naoki menganga setelah mendengar penjelasan Yui. Ia tidak percaya ternyata iklan yang dia pasang telah menarik gadis blonde itu yang sangat ia gemari.


"A-a-ano nee-san ga??!!" tanya Naoki dengan gemetar karena sangking senangnya.

__ADS_1


"A-ahaha, mungkin.. Aku juga tidak begitu mengerti." Yui hanya mengangkat bahu ringan "Kalau begitu aku permisi, maaf mengganggu waktu kalian." Yui membungkuk hormat lalu pergi menjauh dari meja tersebut.


"Hei, Ryuu! Kenapa kau tidak memberitahuku sama sekali?!"


"Salahku atau salahmu? Kau yang mencarinya. Harusnya kau yang bertanggung jawab sepenuhnya dan menjelaskan apa tugasnya." jawab Ryuuga dengan kalimat terpanjang miliknya, membuat Naoki melongo.


"S-sou, kau benar. Tapi.. Aku takjub mendengar mu bicara panjang lebar begitu.."


"Sudahlah. Cepat makan atau kita akan terlambat."


"Baik, baik. Kalau begitu, nanti aku boleh menginap dirumah mu lag—"


"Tidak. Kau punya rumah sendiri."


"Heee pelit." ketus Naoki sambil cemberut


"Kau sudah lama tidur dirumah ku. Kau terlihat seperti parasit padaku."


"Iya, iya. Tapi aku boleh mampir kan??"


"Tidak. Pulanglah ke rumahmu tanpa berbelok arah."


"Menyebalkan!"


"Hn"


               Sementara itu, di dalam ruang istirahat para pegawai toko, Aika dan Yui sedang duduk untuk beristirahat sebentar. Tak sengaja, Yui melihat Aika yang menunduk sedih, matanya sedikit berkaca-kaca seperti menahan tangis.


"Aika-chan? Ada apa?" tanya Yui yang khawatir dengan Aika


"Ne.. Yui-chan.." panggil Aika sembari mengangkat wajahnya lalu memandang Yui, "Apa Sienna-chan tidak akan kembali?" pertanyaan Aika berhasil membuat Yui diam mematung. Entah saat ini ia harus menjawab apa. Yui tahu ini sangat tidak baik jika terus-menerus menyembunyikan kebenaran dari Aika. Tapi Yui juga sudah berjanji pada Sienna untuk tidak mengatakannya dan biarkan Sienna yang mengatakannya.


"Aku.. Juga tidak tahu, Aika-chan. Tapi, ku dengar ibunya sedang sakit dan Sienna harus merawatnya sampai ibunya sembuh. Tenanglah Aika-chan, suatu saat nanti dia pasti akan kembali, kita harus tetap menjalani hidup kita dengan baik. Dengan begitu, Sienna pasti akan sangat senang." ujar Yui sembari mengelus bahu Aika untuk menenangkannya.


"Kau benar... Sekarang Sienna-chan sedang apa ya?" gumam Aika pelan namun masih bisa di dengar oleh Yui.


Yui sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan dalam ketidaktahuan Aika, Yui juga sedang cemas pada teman cantiknya itu sebab Sienna sudah lama tidak menghubungi nya lagi. Yui tahu, berlarut-larut dalam ketidaktahuan dan hanya bisa bertanya-tanya pada diri sendiri adalah hal yang sangat menyakitkan. Belum lagi, yang bisa dilakukan hanyalah berharap.






              Sienna sudah mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Sekarang sudah hampir sore dan ia akan kembali sibuk di dapur. Kali ini, Sienna memilih untuk istirahat sebentar di kamarnya. "Aku sudah lama tidak menghubungi Yui dan Aika.." gumam Sienna sambil menatap layar ponsel nya. "Ku rasa mereka masih dalam jam kerjanya. Aku merindukan mereka." Sienna terus memandangi layar ponselnya, menatap wallpaper ponsel dimana ia sedang bermain bersama kedua adiknya di taman bersama ibunya yang hanya duduk di kursi taman. "Aku merindukan kalian." Sienna segera menelepon nomor telepon rumahnya untuk menghubungi adiknya.


"Moshi-moshi?"


"Sora-kun~!! Ini nee-chan, aku sangat merindukanmu~" ujar Sienna sambil tersenyum senang


"Huwaa nee-chan da!! Aku juga merindukan nee-chan, kapan nee-chan pulang?"


"Etto.. Nee-chan belum bisa pulang, Sora-kun.."


"Souka, padahal aku ingin bermain dengan nee-chan dan Haru nee-chan seperti dulu.." terdengar suara Sora yang sedih


"....Tunggu ya, Sora-kun, kita pasti akan berkumpul lagi! Sora-kun harus tetap rajin belajar ya, jangan menjahili Haru nee-chan!"


"Aku ingin nee-chan pulang!"


"Sora-kun... Gomen ne, nee-chan masih belum bisa membelikan Sora-kun mainan yang banyak..."


"Ne, nee-chan.. Apa nee-chan marah padaku? Kenapa nee-chan selalu beralasan? Apa nee-chan tidak ingin melihatku?"


"B-bukan begitu Sora-kun, nee-chan sedang bekerja untuk membayar biaya perawatan kaa-san, nee-chan sangat menyayangi Sora-kun!"


"Kalau nee-chan memang sayang pada Sora, nee-chan harus segera pulang!"

__ADS_1


Sambungan telepon langsung terputus begitu saja. Tanpa bisa menahannya, air mata Sienna mulai mengalir dengan lancarnya menuju dagunya lalu menetes di bajunya. Rasanya sakit, sakit sekali. Ia tidak marah dengan perkataan adik bungsu nya, ia juga tahu bahwa Sora masih terlalu kecil untuk bisa selalu mengerti keadaannya. Tapi.. Sienna merasa sedih karena takdir baik tidak berpihak padanya. Kali ini, dia terpuruk lagi. Dia jatuh lagi setelah berusaha keras mengembalikan hatinya yang tergores oleh banyak luka, ia sudah berusaha keras membuat pertahanan di hatinya tetapi langsung runtuh begitu saja. "Kami-sama... Sakit sekali..." gumam Sienna dengan mulut bergetar menahan suara tangisnya. Sienna meremas pakaian bagian dadanya, rasanya teramat sakit hingga ia merasa kesulitan bernapas.


__ADS_2