
"Ayo, sekarang kita pergi!!"
"Hn. Kemana?"
"Game center! Ayo, cepat, Ryuu!" Izumi menarik tangan Ryuuga dengan cepat hingga Ryuuga sedikit kewalahan mengikuti langkahnya.
"Hn, sabarlah sedikit! Tempatnya tidak akan melarikan diri meskipun kau berjalan lambat." Ketus Ryuuga dan berhasil membuat Izumi cengengesan karena tak enak hati telah memaksa Ryuuga.
"Hihi gomen ne, Ryuu."
15 menit kemudian
Mereka telah sampai ditempat tujuan mereka, game center. Ryuuga awalnya heran tapi ia segera ingat bahwa sejak kecil pun, Izumi memang menyukai banyak hal yang biasa dilakukan oleh para lelaki kecuali merokok, salah satunya adalah bermain game. Kali ini, Izumi seperti tak dapat menahan rasa senangnya menginjakkan kaki di surga nya para penggemar game. Izumi sudah menariknya kemana-mana, mulai dari bermain game balap mobil. "Huwa, ayo Ryuu!!!!"
"Hn"
Sesekali Ryuuga memperhatikan betapa gembiranya gadis di sampingnya itu, senyum dan tawa nya terlihat begitu tulus dan tanpa sadar, ia pun ikut tersenyum. Menghabiskan waktu dengan gadis yang disukai sejak dulu, apalagi gadis itu yang mengajaknya lebih dulu, terdengar sederhana tapi itu mampu membuat hatinya senang. Mereka banyak menghabiskan waktu di game center dan memainkan hampir semua game yang tersedia sampai malam.
"Itu tadi sangat menyenangkan, Ryuu!" Seru Izumi dengan riang, ia meneguk soda di kaleng lalu menepuk bahu Ryuuga, "Arigatou ne!!"
"Hn? Untuk apa?"
"Semenjak kuliah, aku sangat sibuk dengan berbagai macam tugas dan skripsi, aku tidak punya waktu untuk refreshing. Aku pun selalu di pantau oleh ibu, aku tidak bisa berbuat apapun selain mendisplinkan diri." Izumi menunduk, sepertinya beban yang ia tanggung juga cukup berat mengingat ia adalah putri tunggal di keluarganya, sudah pasti dialah yang akan mengambil alih perusahaan kedua orangtuanya dan kemungkinan untuk memilih jalannya sendiri sangatlah tipis, Ryuuga sangat memahami itu. "Tapi, walaupun aku memaksamu untuk pergi bermain denganku, itu sangat membantuku. Terimakasih. Kau masih mau ikut denganku meskipun aku memaksa. Terimakasih, Ryuu." Izumi tersenyum dan kali ini senyumnya berbeda, seakan-akan bebannya tak lepas.
"Hn. Kau tidak seperti biasanya." Ujar Ryuuga
"Eh? Maksudmu? Kau ini!" Izumi memukul lengan Ryuuga dengan cukup keras hingga Ryuuga bergeming. "Kau pasti sudah lama tidak menemui ku, jadi kau tidak tahu bagaimana diriku yang lain!" Gerutunya.
"Ittai, bisakah kau jangan ringan tangan? Mendokusai."
"Cih, kau sendiri yang membuatku melakukannya!"
"Hn, kau kira siapa yang ingin di pukul terus, eh? Dasar brutal."
"Apa kau bilang?!"
Lalu mereka saling terdiam dan saling tatap. Beberapa detik setelahnya mereka tertawa ah ralat lebih tepatnya hanya Izumi yang tertawa dan Ryuuga cuma menunjukkan senyum yang nampak nyata ketimbang biasanya.
"Demo ne, arigatou.. kau menyelamatkan ku. Ah iya, bagaimana kehidupan mu?"
"Hn, pertanyaan macam apa itu? Tidak enak di dengar."
"Cih menyebalkan!" Izumi mendecih kesal lalu berkata "Hei, aku kan sedang bertanya padamu. Bagaimana dengan kehidupan mu sebagai seorang remaja?"
"Hn. Biasa saja."
"Pasti sangat menyenangkan sekali ya, kau begitu populer. Banyak orang-orang yang menyukaimu, kurasa hidupmu itu sangat enak. Beruntung sekali ya.." gumam gadis itu sambil menatap lurus ke depan. Ryuuga hanya diam menatap wajah manis gadis di sebelahnya itu, rasanya sedikit tersinggung atau terhina? Entahlah.
'Andai saja kau tahu, aku sangat membenci hidupku, marga Namikaze dan hidup menjadi Ryuuga. Rasanya seperti sebuah kutukan.'
•
•
•
•
Andai saja kau tahu..
"Ryuu!!"
Nampak seorang bocah lelaki berambut hitam kecoklatan dengan iris kelam yang sedang berjongkok dibawah pohon sambil menggambar di batang pohon pun menoleh ke sumber suara, seorang lelaki yang usianya lebih tua di banding dirinya sedang melambaikan tangannya.
"Ryuu, kau sedang apa? Kenapa kau bermain disini?" Tanya bocah berusia 10 tahun itu, dia ikut berjongkok sambil memperhatikan gambar adiknya.
"Onii-san, apa kita tidak boleh keluar...?" Tanya bocah lelaki berumur 4 tahun itu dengan takut-takut, seperti menanyakan hal yang tabu.
"Eh? Gomen, Ryuu. Kurasa tidak hari ini, kau ingat? Kaa-san meminta kita untuk tetap diam dirumah sampai dia pulang."
"Kaa-san? Apa dia akan pulang?" Tanya bocah itu dengan girang hingga membuat kakaknya tertawa kecil dan mengangguk. "Tapi memangnya kaa-san dan tou-san bisa pulang?" Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sedih, kedua alisnya turun lalu menunduk.
"Pasti lah, ini kan rumah mereka. Kau hanya tidak melihatnya, kaa-san dan tou-san sudah pulang sejak kemarin malam. Kau hanya tidak sadar karena setiap mereka berdua pulang, kau sudah tidur atau terlambat bangun pagi." Ujar Reiji sambil tersenyum, "Oh iya, kaa-san juga bilang bahwa dia akan memberikanmu hadiah," timpalnya.
"Hontou ni?!"
"Hontou desu Yo!!"
"Permisi, Reiji-sama, Ryuuga-sama.. Sekarang waktunya kalian berdua untuk mandi karena sebentar lagi Tuan dan Nyonya Namikaze akan pulang." Kata Nanami yang membuat mereka terkejut dan menoleh ke belakang.
"Nanami.." Ryuuga segera menghampiri Nanami dan membentangkan kedua tangannya. Mengerti kode dari Ryuuga, Nanami segera menurunkan tubuhnya dan menggendong Ryuuga kecil dalam pelukannya.
"Kemarilah, Reiji-sama, ayo kita masuk ke dalam." Sebelah tangan Nanami terulur untuk menggandeng tangan putra sulung keluarga Namikaze itu. Reiji tersenyum lalu menyambut tangan Nanami dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
Kehidupanku sebelum bertemu denganmu terasa seperti sebuah mimpi buruk yang tak berujung....
"Okaerinasai, Otou-san, Okaa-san.." sambut Reiji sambil membungkuk, Ryuuga hanya mengikuti gerakan sang kakak.
"Tadaima, Reiji-kun, Ryuuga-kun~" jawab ibunya, Namikaze Sasaki. Lantas Ryuuga mendongak menatap wajah kedua orangtuanya, Ryuuga sendiri baru mengingat kembali seperti apa wajah orangtua kandungnya. Sasaki berjongkok di depan kedua putranya dan mengelus kepala mereka berdua dengan lembut, senyumnya begitu terasa hangat. Entah mengapa, bahkan ketika sang ibu sudah tepat berada di depannya seperti ada dinding pembatas diantara keduanya. "Ryuu-kun, kau sudah bertambah tinggi ya~ kurasa, nii-chan juga akan kalah denganmu haha.." ujar sang ibu, Reiji ikut tertawa tapi lain hal nya dengan Ryuuga. Dia malah diam dan menatap wajah ibunya dengan seksama. "Eh? Doushita, Ryuuga-kun?" Tanya Sasaki.
"Tidak ada waktu untuk mengobrol lagi, Sasaki. Kita harus bersiap." Suara baritone milik ayahnya memecah keheningan yang terjadi diantara istri dan putra bungsunya. Pria yang menjulang tinggi, berwibawa dan penuh kharisma itu memandangi kedua putranya lalu berhenti pada Reiji. "Reiji, ikutlah denganku." Sang ayah melangkah memasuki mansion lalu diikuti oleh Reiji. Ryuuga dan Sasaki menatap keduanya yang mulai menjauh, namun detik berikutnya Sasaki langsung berdiri dan menyusul suaminya dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan Ryuuga berdiri sendirian di depan pintu mansion. Bocah itu terdiam, ada banyak pikiran yang berkecamuk di otaknya.
Lalu, Ryuuga ikut masuk ke dalam kamar, mencari sosok kakak lelakinya dan telinganya mendengar sesuatu dari arah ruang baca. Pintu itu sedikit terbuka sehingga suara menjadi terdengar jelas. Ia mengintip ke dalam sana dan melihat ketegangan yang terjadi antara Reiji, ayahnya, dan ibunya yang nampak cemas. Ryuuga memutuskan untuk menguping pembicaraan ketiganya dari balik daun pintu.
".... Tapi Otou-san, bolehkah aku mengambil jalanku sendiri?"
Plaaak
Sebuah suara tamparan keras terdengar jelas. Mata Ryuuga membulat dan ia sangat terkejut atas kejadian itu, sementara Reiji juga sama terkejutnya namun ekspresi nya tetap biasa aja seakan tamparan itu bukanlah apa-apa. Sedangkan sang ibu berusaha menahan bahu suaminya tapi percuma saja.
"Kau yang akan mengambil alih perusahan ayah! Tak ada waktu bagimu untuk memikirkan hal lain. Mulai besok kau akan belajar apapun tentang perusahaan ini." Nada bicara Fuuga meninggi, menandakan betapa tidak sukanya ia atas pertanyaan putra sulungnya.
"Tapi Tou-san, Ryuu mung—"
"Aku tidak membutuhkannya!"
__ADS_1
Mendadak suasana menjadi sangat hening. Semua orang membeliak kaget. Ryuuga kecil yang mendengar pernyataan ayahnya hanya bisa diam, ia tak mungkin bisa melakukan apapun, hatinya sakit. Seperti ada ribuan jarum menusuk hatinya. Apa dia anak yang tidak diinginkan? Lalu untuk apa dia dilahirkan? Pertanyaan itu yang bersarang di otak Ryuuga kecil saat ini.
"Sayang, apa yang kau katakan...?" Sasaki juga ikut terkejut dengan perkataan suaminya, ia tahu suaminya sedang dalam suasana hati yang kurang baik, tapi..
"Reiji, kau putraku. Kau sudah cukup besar untuk mulai mempelajari semuanya. Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun." Ucap Fuuga dengan sangat tegas. Mau bagaimana lagi, tak ada yang bisa di negosiasi lagi. Apapun yang keluar dari mulut kepala keluarga itu adalah mutlak, baik bagi dia maupun siapa saja yang ada di dalam mansion itu.
"Hai' Otou-sama, wakatta desu." Balas Reiji sambil tersenyum seperti biasanya, ia membungkuk hormat di depan kedua orangtuanya. "Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku untuk bersiap-siap" Tanda kemerahan di pipinya sudah tak ia hiraukan, semua yang ia rasakan itu tidaklah penting. Sekarang yang ia pikirkan adalah bisnis ayahnya. Reiji beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan keluar. Ryuuga buru-buru bersembunyi dibalik guci besar yang ada di dekat pintu ruang baca. Ia mengintip lagi, ia melihat punggung sang kakak yang mulai menjauh. Bagaimana caranya untuk menolong kakaknya lepas dari rantai ayahnya? Ia tak tahu.
Ryuuga menyusul kakaknya dari jauh, ia terus memperhatikan punggung sang kakak yang tetap terlihat baik-baik saja setelah mendapat tamparan keras dan sebuah belenggu yang mengharuskannya mengikuti keinginan ayah mereka. Ryuuga pun jadi merasa kalau Reiji membuat ikatan yang semakin jauh dari ayahnya, terbukti dengan suffix yang ia sematkan di belakang panggilan untuk Fuuga. Suffix "-sama" biasanya digunakan untuk memanggil seorang atasan, bos, atau apapun yang statusnya lebih tinggi.
"Onii-san!! Onii-san!!" Panggil Ryuuga, ia berlari mengejar langkah Reiji. "Onii-san, matte!!" Tangannya seakan berusaha menangkap kakaknya yang tetap berjalan tanpa berbalik. "Onii-san!" Akhirnya Ryuuga dapat menggapai tangan Reiji hingga sang empunya terkesiap.
"O-oh, Ryuu. Ada apa?" Reiji masih memasang senyum ceria seperti biasa, dia tak tahu jika Ryuuga sudah mengetahui kejadian dimana ia kehilangan sebagian masa depannya yang ia inginkan.
"Onii-san, aku sudah memanggilmu daritadi. Kenapa kau tidak berhenti?" Gerutu Ryuuga sambil menggembungkan pipi kanannya, pipi kemerahan itu membuat Reiji gemas dan akhirnya Reiji mengacak-acak rambut Ryuuga.
"Gomen, aku tidak mendengar mu. Kenapa kau memanggilku?" Tanya Reiji masih dengan senyum palsunya.
"Onii-san, ayo bermain denganku. Kemarin kau berjanji padaku kalau kau akan mengajakku pergi." Rengek Ryuuga dengan manja sambil menggoyangkan tangan Reiji yang ia genggam.
"Eh? Tapi sepertinya tidak bisa. Gomen ne, hari ini kita akan kedatangan tamu Otou-sama, jadi kita juga harus menyambutnya."
"Tapi onii-san—"
"Ryuu, lain kali saja ya. Ayo, sekarang kau juga harus bersiap, mintalah Nanami untuk membantumu."
Reiji pergi begitu saja, tatapan kosong Reiji tak bisa menipu Ryuuga. Nanami kemudian datang dan membawanya pergi ke kamar. Nampak Nanami dengan telaten menggantikan baju Ryuuga dan menata rambutnya dengan sangat rapi namun wanita itu sedikit heran karena sedari tadi tuan mudanya hanya diam tak secerewet biasanya. Bocah cilik itu menunduk, matanya sudah berkaca-kaca. "Ryuuga-sama? Ada apa? Kenapa anda terlihat sedih?"
"Ne, Nanami. Apa orangtuaku menyayangiku?" Pertanyaan si kecil Ryuuga membuat Nanami tersentak kaget.
"Loh kenapa Ryuuga-sama menanyakan hal itu? Sudah pasti mereka menyayangimu dan Reiji-sama, kalian berdua adalah segalanya dan yang paling berharga daripada semua yang mereka miliki." Jawab Nanami dengan senyum lembutnya, tangan halusnya mengusap pucuk kepala Ryuuga dengan lembut tapi sepertinya tak mampu menghilangkan sesuatu di pikiran si bungsu Namikaze itu. "Ryuuga-sama?"
"..... Tapi tou-san hanya membutuhkan nii-san." Ryuuga menunduk dalam, kedua tangannya mengepal. "Apa aku dan nii-san tidak boleh memiliki cita-cita? Bukankah mereka menganggap kami hanya sebuah alat untuk meraup kesuksesan? Lalu—"
"Ryuuga-sama.. anda tidak boleh berpikir seperti itu kepada orangtuamu. Ne, Ryuuga-sama.. jika Fuuga-sama mengatakan bahwa Reiji-sama dan anda harus menjadi penerusnya dalam berbisnis, itu artinya beliau percaya pada kemampuan kalian berdua. Kalian kan putranya, lantas pada siapa lagi ia percayakan perusahaan-perusahaannya? Baik Reiji-sama atau Ryuuga-sama, kalian sangatlah cerdas, jadi tidak mengherankan jika Fuuga-sama menginginkan itu." Nanami menarik tubuh Ryuuga ke dalam pelukannya yang hangat, berharap agar Ryuuga tak terjebak semakin dalam oleh pikirannya yang sedang kalut.
"Sou...ka..." Lirihnya pelan
"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi. Pasti Reiji-sama sudah menunggu anda di luar." Nanami menggandeng tangan mungil itu keluar dari kamarnya.
Sore telah tergantikan oleh malam. Sekarang keluarga Namikaze sedang berkumpul di ruang keluarga, bersiap-siap menyambut tamu yang satu jam lagi akan datang ke dalam perjamuan makan bersama rekan bisnis Fuuga. Reiji dan Ryuuga bersenda gurau sembari menunggu waktu, mereka tertawa dan saling mengejek, pemandangan yang teduh bagi siapa saja yang melihat.
"Reiji." Panggil Fuuga. Hanya dengan mendengar suara tegas dari pria tersebut, kedua lelaki itu diam mematung seakan-akan takut jika sekali saja mereka membuka mulut maka mereka akan menerima hal buruk dari ayahnya.
"H-hai' Otou-sama, ada apa?" Tanya Reiji dengan senyuman meskipun suara bergetar menahan takut yang melanda dirinya.
"Persiapkan dirimu untuk menemui tamu-tamu ku. Sebentar lagi kita akan ke ruang tamu."
Lagi-lagi hanya Reiji yang diperhatikan Fuuga. Ya, Ryuuga juga manusia yang bisa merasakan rasa iri walaupun sebenarnya ia tak perlu merasakan itu untuk hal yang tidak menyenangkan seperti ini. Tapi, dia masih terlalu kecil untuk mengendalikan segala macam perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Sekali saja, ia ingin disebut dan di perhatikan oleh ayahnya sendiri tapi sepertinya tak bisa.
"Ryuuga sayang, kau ikutlah dengan kaa-san ya? Ada yang ingin kaa-san tunjukkan padamu." Ucap sang ibu dengan senyum lebar, ia menepuk pundak kecil putranya seolah wanita itu hendak menghiburnya.
"Baiklah." Jawab Ryuuga singkat. Mau bagaimana lagi? Memangnya apa yang bisa ia perbuat selain menuruti perintah dari kedua orangtuanya? Lalu sedetik kemudian ia merasa ingin mendapatkan perhatian dari sang ayah. "Otou-san, lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ryuuga kecil dengan penuh keberanian, ia menatap mata tajam milik ayahnya.
"Tidak ada. Akan lebih baik jika kau diam saja di kamarmu." Jawab Fuuga dengan singkat, padat, dan jelas.
Satu jam telah berlalu, kini halaman depan mansion keluarga Namikaze yang luas telah terisi oleh begitu banyak mobil mewah nan mahal dari berbagai jenis dan merk. Ramai sekali tamu yang datang, tak sedikit dari mereka yang membawa anak-anak mereka yang umurnya tak berbeda jauh dari Reiji maupun Ryuuga. Ryuuga hanya dapat melihat semuanya dari balik tirai kamarnya, seperti seseorang yang telah terisolasi dari dunia luar, ia bertanya-tanya dalam hati apakah dia akan membawa dampak negatif jika ia ikut keluar menyambut tamu, itu saja.
"Nanami," panggilnya pada wanita yang masih setia berdiri di belakangnya, menemani nya, dan memberinya perhatian layaknya seorang ibu.
"Hai' Ryuuga-sama, anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Nanami sambil tersenyum
"Aku.. apa aku boleh keluar dari kamar?" Tanya bocah itu dengan ragu, suara sangat lirih, hampir tak dapat di dengar dengan jelas.
"Ano, Ryuuga-sama.. tapi Sasaki-sama belum datang kemari."
"Memangnya kenapa? Aku ingin keluar dari sini. Aku tidak akan pergi atau mengintip ruang tamu, aku tidak akan mengganggu urusan Otou-san dan Okaa-san."
"Tapi Ryuuga-sama..."
Pintu kamar Ryuuga terbuka dan sedikit demi sedikit mulai menampakkan sosok wanita anggun yang sedari tadi ditunggu oleh Ryuuga. Wanita itu melangkah dengan elegan mendekati putra bungsunya sembari memasang senyum terbaiknya tapi Ryuuga memandang itu sebagai senyum palsu dan tak memiliki perasaan apapun untuknya, senyum itu hanyalah sebuah formalitas, wanita itu hanya ingin menipu dirinya. Itu yang Ryuuga kecil simpulkan. Matanya menyipit tanda tak suka. Bahkan Ryuuga sebenarnya tak nyaman dengan suara yang keluar dari mulut ibu kandungnya sendiri.
"Ryuuga-kun, gomen ne membuatmu menunggu lama~" wanita itu berjongkok lalu memeluk tubuh mungil putranya dengan penuh kelembutan. "Apa kau sudah mengantuk?" Tanya nya dengan penuh perhatian.
"Aku bukan bayi lagi, kaa-san." Celetuk Ryuuga tanpa basa-basi, membuat Sasaki dan Nanami tersentak kaget.
"S-souka? Tapi ini sudah malam, apa kau tidak ingin tidur?"
"Untuk apa aku harus tidur? Okaa-san, apa hadiah yang ingin kau berikan padaku?" Tanya Ryuuga dengan to the point.
"Kaa-san senang kau mau menunggu~" mata Sasaki berbinar senang, ia kembali memeluk Ryuuga, "Tunggu sebentar, ya." Lalu Sasaki mengeluarkan sesuatu dari dompet branded nya yang tebal. "Tada~!!" Sasaki menyodorkan sebuah black card yang hanya di miliki oleh orang-orang tertentu saja ke depan wajah Ryuuga. Tentu saja bocah itu bingung, mana mungkin anak kecil berusia 4 tahun mengerti dengan barang-barang seperti itu? Yang dia tahu hanya mainan untuk anak-anak seusianya saja.
"Apa ini?" Ryuuga tak langsung mengambilnya, ia hanya memandanginya dengan keheranan.
"Ini hadiah untukmu karena kau telah menjadi anak yang pengertian~" Sasaki menarik tangan Ryuuga dan meletakkan kartu itu ke tangan mungilnya. "Kau bisa gunakan ini untuk membeli apa saja." Jelas Sasaki sambil tersenyum lebar.
"Apa saja?" Ulang Ryuuga dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya. Mata bercahaya, seperti sedang mendapatkan sebuah harapan besar.
"Iya, apa saja yang kau inginkan." Pungkasnya
"Kalau begitu, apa aku bisa membeli tou-san dan kaa-san?" Pertanyaan Ryuuga kecil membuat kedua wanita yang berada disana diam membeku, tak ada yang bersuara maupun bergerak. "Aku ingin membelinya agar aku bisa menghabiskan waktu bersama kalian, aku ingin bermain dengan kalian berdua dan onii-san. Apa aku bisa? Aku ingin kalian memiliki waktu untuk melihat pertumbuhan ku, aku hanya ingin itu. Bisakah aku membelinya?" Bibir Sasaki terkatup rapat, lidahnya terasa kelu. Entah bagaimana caranya mengeluarkan suara atau menjawab pertanyaan putra kecilnya itu. Nanami yang berdiri tak jauh dari majikannya pun menundukkan kepalanya, alisnya turun, bibirnya melengkung ke bawah menandakan bahwa ia juga ikut bersedih dan iba pada si bungsu.
"Ryuuga-kun... Waktu tidak bisa di beli, sayang." Ucap Sasaki dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi kaa-san bilang aku bisa membeli apa saja dengan kartu ini."
"Iya, kau benar tapi tidak untuk waktu. Sayang, dengarkan kaa-san... Kaa-san sangat menyesal harus mengatakan ini tapi... kami berdua tidak bisa menemanimu sepanjang waktu. Maafkan kami karena kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami sehingga tidak bisa melihatmu tumbuh dan berkembang, maafkan kami..." Sasaki tak mampu menahan air matanya lagi, kini pipi mulusnya telah dibanjiri oleh airmata yang sudah ia tahan dengan usaha keras. Hatinya sakit.
"Kalau begitu aku tidak mau kartu ini. Biarkan aku memiliki kalian berdua sepenuhnya."
"Maafkan kami, sayang..."
"Untuk apa kaa-san memberikan ini padaku jika dengan hadiah ini pun aku tetap tak bisa mendapatkan apa yang sangat aku inginkan? Apa aku boleh menukarnya dengan kasih sayangmu? Kaa-san, jawab aku dengan benar. Aku tidak ingin ucapan maaf mu." Ryuuga kecil berusaha mencari jalan agar hatinya terbebas dari beban yang sudah lama ia pendam dalam-dalam.
"....Tapi, kaa-san tidak bisa memberikan jawaban seperti yang kau inginkan.." Sasaki menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia tak lagi mampu menatap lurus mata putra bungsunya itu, dalam waktu yang bersamaan, Sasaki merasa miris dengan semua ungkapan buah hatinya.
__ADS_1
"Apa aku bukan putra kandungmu? Jika aku putra kandungmu maka kau akan memperhatikan ku, sama seperti tou-san mengakui onii-san."
Plaaak
Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi ranum bocah itu. Nampak semakin merah setelah Sasaki menamparnya, bahkan sepertinya si pelaku pun terkejut dengan refleks tubuhnya. "Kenapa kau mengatakan hal konyol seperti itu?! Tentu saja kau putra kandungku, aku yang melahirkan mu." Nada bicara Sasaki sedikit meninggi. Tapi Ryuuga tak bereaksi apapun setelah mendapat tamparan keras dari wanita yang terkenal dengan keanggunannya.
"Aku hanya bertanya dan kaa-san hanya perlu menjawabnya, kan?"
"Aku sudah menjawabnya untukmu, Ryuuga."
"Kenapa aku dilahirkan jika kalian berdua tak membutuhkan ku? Kalian hanya membawaku ke dalam mimpi buruk tak berujung."
"Sayang, apa yang terjadi padamu?! Kami berdua sangat menyayangimu, kau lahir untuk melengkapi kebahagiaan keluarga ini."
"Kebahagiaan macam apa yang kaa-san bicarakan? Tolong beritahu aku, Otou-san tidak mengakui diriku, dia hanya melihat Reiji nii-san saja."
"Ryuuga, ayahmu tak bermaksud seperti itu. Dia mengatakannya karena Reiji adalah kakakmu dan Reiji sudah lebih besar dibandingkan dengan dirimu, jadi ayahmu merasa bahwa Reiji lah yang sudah mampu, bukan berarti dia tak menganggap mu sayang."
"Benarkah? Tapi sepertinya Otou-san hanya menjadikan putranya sebagai alat. Apakah Otou-san pernah menanyakan apa yang kami inginkan? Tidak."
Nanami sendiri merasa heran dengan perdebatan antara ibu dan anak ini karena Ryuuga mampu mendebatkan hal-hal yang seharusnya anak seusianya belum memahami sesuatu sampai sedalam itu, cikal bakal kejeniusan telah muncul padanya sejak usia dini. Bahkan dia sampai membuat ibunya kewalahan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan bocah tampan itu.
"Hah.. sudahlah, kaa-san sudah lelah." Sasaki memegang kepalanya sambil memijit keningnya, dia berbalik membelakangi putranya "Nanami, bisakah kau membantu maid lain dulu?"
"Hai' wakatta desu Sasaki-sama." Nanami membungkuk hormat, lalu mengikuti langkah majikannya itu keluar dari kamar Ryuuga.
Sebelum benar-benar menghilang dari pintu, Sasaki kembali memandangi putra bungsunya yang masih diam di tempat dengan ekspresi datar dan tatapan kosong. Terlihat seperti sebuah boneka. "Kau tetaplah disini. Jangan pernah keluar dari kamar jika belum ada yang memintamu untuk keluar." Ujarnya lalu menutup pintu kamar itu sekaligus mengunci pintunya dari luar.
Ryuuga tak bergeming, dia menunduk memandangi kartu yang akan semakin memanjakannya. Bocah itu berjalan mendekati laci meja di samping ranjangnya, mengambil sebuah kunci cadangan pintu kamarnya. "Aku ingin melihat onii-san. Aku harus memastikannya baik-baik saja." Gumamnya lalu segera membuka kunci pintu dengan perlahan agar tak ada yang menyadarinya. Setelah itu dia berjalan cepat sambil berjinjit agar tak menimbulkan suara yang keras karena beberapa pelayan yang berkeliling.
Setelah sampai di lantai bawah, ia mengintip keadaan ruang tamu yang sangat ramai seperti pasar. Tak jarang beberapa anak-anak rekan kerja ayah dan ibunya yang berlarian mengelilingi meja. Matanya menelisik seluruh ruangan dan mengamati semua orang dengan teliti hanya untuk mencari sosok kakak yang ia sayangi dan akhirnya ia menemukan sosok kakaknya yang sedang berbincang dengan seorang anak perempuan yang umurnya tak jauh beda dengannya. Mata kelam milik Ryuuga terus melihat dari jauh, sepertinya kakaknya takkan terlalu terbebani karena ia sudah punya teman yang sangat akrab. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Ryuuga hingga membuatnya terlonjak kaget, ia menengok ke belakang dengan takut-takut. "Ryuuga-sama, apa yang anda lakukan disini?" Tanya Nanami dengan suara berbisik. Ryuuga langsung menarik napas lega saat mengetahui bahwa yang memergokinya kabur adalah Nanami. "Ayo, kemari. Jangan sampai Fuuga-sama melihatmu atau anda akan terkena masalah besar." Nanami menyeret tangan Ryuuga menjauh dari ruang tamu demi menyelamatkan tuannya dari amukan sang ayah.
Nanami dan Ryuuga sudah berada di dapur. Wanita berseragam maid itu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ryuuga. "Jadi, yang anda lakukan diluar?" Tanya Nanami.
"Aku hanya ingin melihat onii-san saja. Nanami tolong jangan bawa aku kembali ke kamar." Pinta Ryuuga dengan wajah memelas dan membuat maid itu merasa tak tega.
"Wakarimashita, Ryuuga-sama. Tapi anda tidak bisa disini terus atau nanti Sasaki-sama melihat anda dan mengurung anda kembali."
"Aku akan pergi ke taman belakang."
"Eh? Apa? Di sana minim penerangan, Ryuuga-sama. Berbahaya."
"Tidak. Bukankah Yamato ada disana? Aku akan melihatnya."
"S-saya antarkan..."
Akhirnya mereka berdua mengendap-endap seperti seorang maling untuk pergi ke taman secara diam-diam agar kedua orangtua Ryuuga tak melihatnya. Setelah sampai, ternyata benar dugaan Ryuuga. Yamato sang tukang kebun sedang menanam tanaman baru di pot bunga berukuran sedang di bawah sinar lampu taman. Pria itu terlihat sangat menikmati kegiatannya sampai tak menyadari kemunculan dua manusia di belakangnya. "Apa menanam bunga sangat menyenangkan, Yamato?" Suara Ryuuga membuat pria itu terlonjak kaget. Ia sampai terjatuh sambil memegangi dadanya.
"Ryuuga-sama?! A-apa yang anda lakukan disini malam-malam begini?" Yamato membenarkan topinya yang miring lalu duduk bersila di rerumputan bersih yang ia rawat setiap hari.
"Aku ingin merasakan udara malam hari." Jawab Ryuuga singkat lalu ia mendongak untuk menatap wajah Nanami, "Kau kembalilah ke dalam sebelum kaa-san menyadari ketidakhadiran mu."
"Saya mengerti, Ryuuga-sama. Kalau begitu saya permisi." Nanami membungkuk hormat lalu kembali ke dalam, meninggalkan kedua laki-laki berbeda umur itu berdua ditemani temaramnya malam.
Ryuuga hendak ikut berjongkok tapi Yamato langsung menahan kedua bahu bocah itu dengan buru-buru. "A-apa yang anda lakukan?! Jangan duduk disini atau pakaian anda akan kotor. Mari duduk di kursi itu, saya akan temani anda.
"Iie da. Aku ingin melihatmu menanam bunga itu."
*Tidak mau
"Eh? Haha tumben sekali, tuan muda ingin melihat saya." Canda tukang kebun keluarga Namikaze itu, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil memberikan cengiran lebarnya.
"Aku bilang ingin melihatmu menanam bunganya. Aku tidak tertarik melihat pria menyebalkan seperti dirimu." Ujar Ryuuga sambil menatap Yamato dengan malas. "Kenapa kau begitu senang padahal kau hanya sedang menanam bunga?" Tanya Ryuuga dengan tatapan polosnya.
"Anda ingin tahu? Kalau begitu berikan pelukan hangat padaku~" Yamato membentangkan kedua tangannya terlebih dulu lalu memasang wajah senangnya yang membuat Ryuuga kecil berpikir kalau pria ini adalah seseorang yang tidak benar.
"Tidak mau dan tidak akan pernah aku lakukan." Tolak Ryuuga garis keras.
"Pfft baiklah, saya mengerti~" Yamato tertawa sambil memegangi perutnya, ia kembali menyibukkan dirinya dengan kegiatan keseharian nya "Anda tahu tidak? Mengapa saya senang sekali berkebun?"
"Tidak"
"Karena dengan ini saya bisa merasakan betapa nyamannya dekat dengan alam, saya menganggap tanaman-tanaman yang saya tanam ini adalah anak-anak saya yang harus saya rawat dan saya jaga hingga mereka semua tumbuh besar. Setelah besar, bukankah mereka akan terlihat sangat cantik?" Jelas Yamato sambil tersenyum tulus layaknya orangtua.
"Souka? Tapi aku masih terlalu kecil untuk memiliki anak." Ucap Ryuuga kecil dengan lugu nya dan membuat gelak tawa terdengar jelas. "Apa yang salah?" Tanya bocah lelaki itu sembari mencabut rumput panjang di samping bunga mawar yang sedang ditanam oleh Yamato.
"Tidak, tidak.. mari kita duduk disana, jika anda terus-terusan dibawah maka itu akan mengotori pakaian anda." Yamato melepas sarung tangannya lalu menggandeng tangan mungil tuan muda Namikaze.
Setelah Yamato mendudukkan Ryuuga di kursi taman, pria itu menangkap ekspresi wajah Ryuuga yang berubah. "Ryuuga-sama? Apa yang terjadi? Anda terlihat sedih.."
"Ne, Yamato. Apa kau memiliki saudara kandung?" Tanya Ryuuga sambil mendongak menatap wajah Yamato.
"Hm? Saya punya seorang adik, tapi dia bukan saudara kandung. Dia adalah anak angkat orangtua saya. Ada apa?"
Menyandang marga Namikaze bukanlah hal yang mudah. Meskipun terdengar simpel, tapi dengan marga itu, semua hal dapat berubah keluar jalur. Bagi Ryuuga, dia hanyalah bocah yang akan tumbuh menjadi besar dengan baik namun dia juga menyesali kenapa ia harus menyandang status sebagai putra bungsu seorang Namikaze Fuuga. Anak itu berpikir bagaimana mungkin ia bisa bertahan hidup seperti ini? Hanya ditemani harta yang melimpah ruah tanpa ada kehangatan sebuah keluarga.
"Apa kau sering menghabiskan waktu bersama nya?"
"Tentu saja. Baik saya maupun adik angkat saya, kami sama-sama mengetahui bahwa kami tak memiliki ikatan darah tapi itu tak mengurangi rasa sayang kami. Ah, bahkan ketika ibu memberikan kami Omelan, itu terasa menyenangkan saat berdua dengannya haha..."
"Apa yang biasanya kau lakukan bersama adikmu?"
"Hm? Saat pagi, kami akan pergi ke kebun untuk memanen sayuran lalu membantu ayah merapikannya. Siang hari akan kami habiskan ditepi sungai, biasanya kami memancing atau bahkan bermain-main saja di bawah pohon untuk sekedar menghabiskan waktu. Lalu sore harinya, kami akan membantu ibu membersihkan halaman rumah dan kami akan makan malam bersama setelah ayah pulang dari pasar untuk menjual sayur-sayuran hasil panen.." katanya. "Ah, maafkan saya. Cerita saya terlalu—"
"Terdengar sangat menyenangkan dan kau sepertinya sangat menikmatinya." Potong Ryuuga. Yamato sedikit tersentak saat menangkap tatapan sedih dari tuan mudanya.
"Lalu kenapa anda menanyakan hal itu? Apa anda ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Yamato dengan penuh perhatian.
"Tidak"
"Tidak apa-apa, Ryuuga-sama. Semua orang tidak mungkin selalu baik-baik saja, tidak apa-apa jika anda tidak baik-baik saja. Anda boleh menceritakan sesuatu yang mengganjal di hati anda. Saya akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesah anda." Ucap Yamato dengan lembut dan membuat Ryuuga kecil mulai berkaca-kaca. Bahu mungil yang sebelumnya nampak tegar kini mulai bergetar menahan semua rasa sedih, sakit, dan menyiksa. Yamato menatap iba putra bungsu Fuuga itu, ia masih sangat kecil untuk mendapatkan tekanan yang cukup memberatkan dirinya dan juga kakaknya. "Jika anda ingin menangis maka menangis lah, takkan ada yang menertawakan atau merendahkan anda. Menangis lah dengan keras jika itu memang bisa membantu anda, Ryuuga-sama.." dan di detik berikutnya Ryuuga kecil pun menangis dalam diam.
"Ne, Yamato. Aku sangat ingin hidup yang seperti dirimu. Aku iri." Ujarnya pelan, "Aku selalu ingin tumbuh dengan kasih sayang, aku ingin sekali menghabiskan banyak waktu bersama dengan onii-san, tapi itu hanyalah khayalanku saja."
Yamato terdiam. Pria itu paham dengan maksud perkataan bocah berumur empat tahun itu, dia juga menyadari betapa hampa nya mansion tempatnya bekerja. Walaupun ada begitu banyak orang-orang yang tinggal di dalamnya namun mereka seakan tak menyadari kehadiran masing-masing. Semua seakan hidup sendiri. Memang pantas bocah sekecil Ryuuga menyadari betapa sepinya tempat tinggalnya karena anak-anak seusia nya masih sangat suka bermain dan suka keramaian. Tangan besar pria itu terulur menggapai bahu mungil yang masih bergetar itu, menepuk dan mengelusnya dengan lembut mencoba memberikan ketenangan. "Saya paham, Ryuuga-sama." Yamato memberikan senyuman hangatnya, "Semua akan baik-baik saja... Tenanglah, anda tidak sendirian..."
__ADS_1
Lalu perlahan-lahan Ryuuga mulai menceritakan apa yang telah menjadi beban dipikirannya selama beberapa bulan terakhir. Ryuuga kecil memulainya dari kakak tercintanya, kakak satu-satunya yang ia milik, rasa sayangnya yang amat besar pada kakaknya membuatnya juga tersiksa. Bagaimana caranya mendapat perhatian onii-san? Sekarang dia sudah masuk SD sedangkan aku baru tahun depan masuk TK, pikirnya. Reiji selalu di sibukkan dengan tugas-tugas sekolahnya, belum lagi perintah ayahnya yang sudah dibebankan padanya beberapa hari lalu, pasti akan semakin membuatnya tak punya waktu. Ryuuga juga sedikit sakit hati akibat perilaku ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya seolah sangat jauh darinya, yang kepala keluarga lihat hanya putra sulungnya saja. Sementara ibunya memang baik tapi sama sekali tak memiliki niat mendalam untuk memberikan kasih sayang terhadap putra-putranya. Ryuuga berpikir semuanya adalah kebohongan, semua keluarga yang ia miliki juga palsu.
"Aku penasaran seperti apa rasanya memiliki cinta di dalam diri?"