
Naoki dan Ryuuga masih sibuk berkutat dengan handphone masing-masing hingga Naoki berulang kali mendengar Ryuuga menghela napas gusar, seperti orang yang sedang punya beban pikiran.
“Kau ini kenapa sih? Ada masalah?” Tanya Naoki sambil memperhatikan wajah tampan sahabatnya tersebut.
Masih sama, wajah dingin dan datar, tatapan tajam, juga rambut yang sedikit berantakan tertiup angin.
“Tidak.” Ryuuga menatap Naoki datar
“Ya sudah.” Naoki mengangkat bahu seakan tidak peduli dengan Ryuuga yang gelisah sejak keluar dari toko kue yang biasa mereka pesan. Tiba-tiba, muncul ide jahil dari Naoki, ia tersenyum jahil pada Ryuuga namun tak di sadari oleh sang empunya.
“Oi, Ryuu. Apa kau sedang memikirkan Onee-san yang tadi?” Naoki tersenyum menggoda.
“Tidak.” Ryuuga buru-buru melempar tatapan tajamnya pada Naoki yang asyik menahan tawa.
“Souka? Tapi dari tadi kau terlihat gusar setelah keluar dari sana~ kau masih memikirkan gadis itu, kan?” tebak Naoki yang dihadiahi death glare dari Ryuuga.
“Hentikan lelucon mu.” Ryuuga kembali fokus pada game nya.
“Oh ayolah, Ryu~ aku yakin kau tidak buta. Dia sangat cantik, dia juga berbeda dari gadis lain, hanya dia yang berani melawan mu. Kau penasaran dengannya, kan?” Goda Naoki sambil menyikut lengan Ryuuga.
__ADS_1
“Aku mau pulang.” Ryuuga beranjak dari kursi taman lalu pergi begitu saja tanpa mengajak Naoki.
“Oi, Ryuuga. Hati-hati dijalan.” Naoki melambaikan tangan pada sahabatnya itu, memasang ekspresi datar lalu kembali menatap layar handphone nya.
“Aku yakin dia punya banyak masalah, entahlah dia tidak pernah mau terbuka padaku. Memang dasar menyebalkan.” Gumam Naoki seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. “Sepertinya aku harus mencari tahu tentang gadis itu, mungkin saja dia berguna.” Tambahnya lagi, ia segera berdiri dan pergi ke suatu tempat.
•
•
Sienna merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa melepas kaus kaki nya, mencoba mengatur napas setelah satu jam penuh merapikan barang-barang bawaannya yang belum sempat ia bereskan karena sibuk mencari pekerjaan. Hampir saja ia terlelap namun suara dering handphone nya tak juga berhenti berdering, dengan cepat Sienna merogoh tas nya dan menjawab panggilan telepon itu.
“Onee-chan, bagaimana kabarmu?” Tanya Sora dengan suara imutnya membuat Sienna gemas, “Aku baik-baik saja~ bagaimana denganmu?” Tanya Sienna balik, ia menahan isak tangis ketika rindu melanda dirinya. Demi menafkahi keluarganya, ia harus rela tinggal jauh dari keluarganya, terlebih lagi ia harus mampu dan bersedia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendapatkan banyak uang. Seluruh perasannya membuncah hingga akhirnya ia menangis tanpa bersuara.
“Sienna nee-chan, aku sangat merindukanmu. Kapan kau akan pulang?” Pertanyaan Sora berhasil membuat air mata Sienna mengalir deras, ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan berusaha tidak menyuarakan tangisannya.
“Aku juga sangat merindukan Sora-kun, Haru-chan, dan Okaa-san.. setelah Nee-chan dapat uang yang banyak, Nee-chan pasti akan pulang dan mengajak Sora-kun membeli banyak mainan.” Sienna menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berharap Sora kecilnya tak mendengar tangisannya dari seberang telepon.
“Whoa benarkah?? Semoga nee-chan bisa dapat uang yang banyak dan aku akan beli mainan yang banyak hehehe~” Sora tertawa kecil memberi semangat pada kakak tertua nya yang jauh darinya.
__ADS_1
“Iya pasti nee-chan akan membelikan mainan untuk Sora, oh iya.. dimana Haru-chan? Bolehkah nee-chan berbicara dengannya?” Tanya Sienna
“Dia sedang ada dikamar kaa-chan. Tunggu sebentar ya, aku akan panggil Haru-nee.” Hening, tak ada suara disana. Sienna segera menarik bantal didekatnya dan menggigit bantal itu dengan kuat, berteriak dan menangis. Ia tak ingin meratapi hidupnya, ia bersyukur memiliki keluarga yang penuh dengan kehangatan. Meskipun pada akhirnya, ia tetap harus tegar dan tak boleh mengeluh.
“Sienna nee-chan? Moshi-moshi?” Terdengar suara Haru memanggil namanya, dengan cepat Sienna menyeka air matanya dan tersenyum.
“I-ya Haru-chan, bagaimana kabarmu?” Tanya Sienna.
“Aku baik-baik saja, nee-chan.” Jawab Haru singkat, memang seperti itulah sifat adik pertamanya itu. Walaupun bicaranya singkat, tapi dia sangat perhatian. Benar-benar tipe tsundere yang sebenarnya.
“Lalu bagaimana keadaan kaa-san? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Sienna dengan cemas. Ia tidak ingin meninggalkan beban pada adik-adiknya, tapi jika mereka tak punya uang untuk membeli obat milik ibunya, itu akan semakin membuatnya merasa tidak berguna. Mau tidak mau, ia harus meminta kedua adiknya untuk bekerja sama berbagi tugas.
“Kaa-san sudah tidur, dia sudah makan dan meminum obat.” Jawab Haru.
“Yokatta..” Sienna mengelus dada lega, akhirnya ia bisa bernapas lega mendengar semua anggota keluarga dalam keadaan baik.
“Sudah dulu ya, nee-chan. Aku mau mengajak Sora tidur, aku juga harus belajar. Jangan lupa istirahat, sampai jumpa.” Haru segera memutuskan sambungan teleponnya sebelum Sienna sempat menjawabnya.
Sienna menghempaskan tubuh langsing nya ke ranjang, menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya sedang sangat kalut hingga membuat kepalanya terasa sangat sakit.
__ADS_1
“Aku harus mencari pekerjaan sambilan. Aku tidak boleh bersantai. Besok aku akan meminta tolong pada Yui-chan.” Sienna mengepalkan tangannya dengan erat, ia sudah bertekad bahwa ia akan membahagiakan keluarganya, tak peduli apa kesulitannya yang jelas ia harus segera mengumpulkan uang.